Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Dot
Setelah makan malam selesai dan Aretha kembali disusui oleh Adira, Areksa membawa putrinya ke kamarnya.
Sementara itu, Soraya menghampiri Adira yang masih berada di ruang keluarga.
“Adira, ini alat pumping-nya. Nanti kamu bisa memompa ASI-mu.”
Soraya menyerahkan alat tersebut kepada Adira.
“Iya, Nyonya.”
“Kalau begitu, kamu istirahat saja lagi. Maaf ya, kalau kamu harus terbangun setiap dua jam sekali untuk memompa ASI.”
Adira tersenyum kecil. “Iya, Nyonya. Saya mengerti.”
Soraya mengangguk. “Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan bilang. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.”
“Terima kasih, Nyonya.”
Adira kemudian membawa alat pumping tersebut menuju kamar yang telah disiapkan untuknya.
Di dalam kamar, Areksa memastikan putrinya sudah tertidur pulas di dalam boks bayi yang berada tidak jauh dari ranjangnya.
Ia berdiri cukup lama di samping boks tersebut. Tatapannya sendu menatap wajah mungil Aretha.
Bayi kecil itu bahkan belum genap seminggu mengenal dunia, tetapi sudah harus kehilangan sosok ibunya.
Areksa mengembuskan napas panjang.
Seharusnya, saat ini ia sedang berduka atas kepergian istrinya.
Seharusnya ia punya waktu untuk menangisi Aruna, mengingat semua kenangan mereka, dan menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah pergi untuk selamanya.
Namun sejak Aruna meninggal, pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Aretha.
Putrinya membutuhkan ASI. Karena itu, bahkan sebelum sempat benar-benar merasakan kehilangan, Areksa sudah harus mencari seseorang yang bisa membantu memenuhi kebutuhan putrinya.
Ia bahkan belum sempat menangisi Aruna dengan layak.
Areksa akhirnya duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih sebuah foto Aruna yang berada di atas meja samping tempat tidur.
Ia menatap wajah istrinya dalam foto tersebut. Seketika matanya kembali berkaca-kaca.
“Sayang...” Suaranya bergetar.
“Kenapa kamu pergi ninggalin aku?”
Jemarinya mengusap perlahan permukaan foto tersebut.
“Aretha masih kecil.”
Napasnya mulai tidak beraturan. “Dia masih butuh kamu.” Bahu laki-laki itu bergetar.
Selama dua hari ini, Areksa berusaha terlihat kuat di depan semua orang. Namun kini, ketika hanya ada dirinya dan foto istrinya, pertahanannya runtuh.
“Aku bahkan belum sempat bilang kalau aku masih butuh kamu.”
Satu tetes air mata jatuh. “Aku belum siap kehilangan kamu, Aruna.”
Areksa menundukkan kepala sambil memeluk foto tersebut erat di dadanya. Isak tangisnya akhirnya pecah.
Di luar kamar, Soraya yang hendak menuju kamar putranya tanpa sengaja melihat pintu kamar Areksa yang tidak tertutup rapat.
Ia hendak mengetuk. Namun suara tangisan membuat langkahnya terhenti.
Soraya perlahan membuka pintu. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat putranya duduk di tepi ranjang sambil memeluk foto mendiang istrinya.
“Reksa...”
Areksa tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Ma...”
Soraya berjalan mendekat dan duduk di samping putranya. “Tidak perlu kamu sembunyikan tangismu dari Mama.”
Areksa menundukkan wajah. “Aku nggak apa-apa, Ma.”
Soraya menggeleng pelan. “Tidak. Kamu sedang tidak baik-baik saja.”
Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. “Kamu kehilangan istri yang kamu cintai. Wajar kalau kamu menangis. Wajar kalau kamu merasa hancur.”
Areksa menggigit bibirnya, berusaha kembali menahan tangis.
“Mama tau kamu ingin terlihat kuat karena Aretha.”
Soraya menggenggam tangan putranya. “Tapi menjadi kuat bukan berarti kamu tidak boleh menangis, Nak.”
Areksa akhirnya kembali menitikkan air mata.
“Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Keluarkan semua kesedihanmu.”
Soraya memeluk putranya. “Aruna memang sudah tidak bisa kita peluk lagi, tapi cintanya kepada kalian tidak akan pernah hilang.”
Areksa terisak dalam pelukan ibunya.
“Sekarang kamu punya Aretha. Dan kamu juga masih punya Mama dan Papa.”
Soraya mengusap punggung putranya perlahan. “Kita akan melewati semua ini bersama-sama.”
Ia kemudian berbisik lembut. “Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian, ya, Nak. Kamu boleh bersedih. Kamu boleh lemah. Tapi setelah itu, kita bangun lagi bersama.”
Areksa memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak Aruna pergi, ia membiarkan dirinya menangis dalam pelukan ibunya.
Sementara di dalam boks, Aretha masih tertidur pulas Tidak mengetahui bahwa malam itu, ayahnya sedang menangisi kepergian ibunya.
***
Seperti kebanyakan bayi yang baru lahir, Aretha kembali terbangun di tengah malam.
Tangisannya terdengar begitu nyaring hingga membuat Areksa yang tertidur di ranjang langsung terjaga.
“Nak... kenapa?”
Areksa mengusap wajahnya yang masih mengantuk, lalu segera bangkit dari ranjang.
“Retha lapar?”
Ia mendekati boks bayi dan menggendong putrinya. “Coba papa kasih susu, ya.”
Areksa segera mengambil ASI yang sebelumnya sudah dipompa oleh Adira. Ia menghangatkannya terlebih dahulu sebelum menuangkannya ke dalam botol.
Setelah memastikan suhunya cukup, ia kembali menghampiri Aretha.
“Nah, Sayang. Minum dulu.”
Areksa mencoba memberikan dot ke mulut putrinya. Namun Aretha justru memalingkan wajah. Tangisannya malah semakin keras.
“Nak?”
Areksa mencoba sekali lagi. Tetap ditolak.
“Kenapa lagi?”
Ia mulai panik.
“Papa sudah kasih susu, lho.”
Areksa benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Ia baru menjadi seorang ayah.
Tidak ada pengalaman menghadapi bayi yang menangis tengah malam seperti ini. Sementara suara tangisan Aretha membuat dadanya semakin tidak tega.
“Sudah, sudah...”
Karena tidak sanggup melihat putrinya terus menangis, Areksa menggendong Aretha keluar dari kamar.
Ia sempat berjalan menuju kamar orang tuanya. Tangannya bahkan sudah terangkat hendak mengetuk pintu. Namun ia mengurungkan niat.
Papa dan Mama pasti kelelahan.
Sejak kemarin, kedua orang tuanya juga sudah banyak membantu mengurus Aretha.
Areksa tidak ingin membangunkan mereka. Akhirnya, ia turun ke lantai bawah.
Satu-satunya orang yang terpikir olehnya adalah Adira.
Ia melangkah menuju kamar yang ditempati Adira, lalu mengetuk pintunya pelan.
Tok... tok...
Belum sempat mengetuk untuk kedua kalinya, pintu terbuka. Adira muncul dengan wajah sedikit mengantuk. Namun begitu melihat bayi dalam gendongan Areksa, rasa kantuknya langsung hilang.
“Loh, non Aretha kenapa, Tuan?”
“Saya juga nggak tau.”
Areksa terlihat benar-benar kebingungan. “Dia tiba-tiba menangis. Saya pikir lapar, jadi saya kasih ASI yang sudah dipompa. Tapi dia nggak mau minum dari dot.”
Adira memperhatikan Aretha yang masih menangis. “Tuan belum tidur?”
“Belum lama tadi tidur.”
Kemudian Areksa balik bertanya, “Kamu belum tidur?”
“Sudah.” Adira mengangguk.
“Saya tadi habis memompa ASI. Baru saja selesai, ingin tidur kembali dan langsung mendengar tangisan Non Aretha."
Adira mengulurkan kedua tangannya. “Boleh saya gendong?”
“Silakan.”
Areksa menyerahkan Aretha kepada Adira.
Begitu berada dalam gendongan Adira, tangisan Aretha masih terdengar.
Adira mengusap lembut punggungnya. “Cantik... kenapa menangis, hm?”
Ia kemudian mendekatkan wajahnya.
Beberapa detik kemudian, Adira mengernyit.
“Wah...”
Areksa langsung memperhatikan. “Ada apa?”
“Sepertinya Aretha pup.”
Adira tersenyum kecil. “Pantas saja dia menangis. Yuk, kita periksa dulu ya, Sayang.”
Adira kemudian beralih kepada Areksa. “Tuan, bisa tolong bawakan perlengkapan Aretha?”
“Ah, iya. Bisa.”
Areksa langsung berbalik. “Tunggu, saya ambilkan.”
Ia melangkah cepat menuju kamar.
Sementara Adira membawa Aretha kembali masuk ke kamarnya.
“Sudah, Sayang. Sebentar lagi kita bersihkan.”
Anehnya, meskipun masih terdengar sesenggukan kecil, Aretha mulai tenang dalam pelukan Adira.
Adira tersenyum. “Begini toh ternyata... ternyata kamu cuma tidak nyaman.”
Tak lama kemudian, Areksa kembali membawa perlengkapan putrinya. “Nah, ini.”
“Terima kasih, Tuan.”
Areksa menyerahkannya kepada Adira. Kemudian ia berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan wanita itu dengan cermat.
Malam itu, Areksa menyadari satu hal. Adira bukan hanya bisa membuat Aretha kenyang.
Wanita itu juga seolah tau apa yang dibutuhkan putrinya hanya dengan melihat dan mendengarkan tangisannya.
“Nah, sudah selesai.”
Adira mengangkat tubuh Aretha sedikit setelah selesai membersihkannya.
Areksa yang sejak tadi memperhatikan langsung bertanya, “Jadi dia menangis karena pup?”
“Iya. Dia merasa tidak nyaman.”
Adira tersenyum kecil. “Bayi seusia Aretha memang belum bisa mengatakan apa yang mereka rasakan. Jadi biasanya mereka menangis kalau merasa lapar, tidak nyaman, atau ada sesuatu yang mengganggu.”
Areksa mengangguk-angguk, berusaha mengingatnya.
“Berarti sekarang sudah nggak apa-apa?”
“Sepertinya begitu.”
Adira menatap wajah mungil Aretha. “Tapi mungkin sebentar lagi dia menangis lagi.”
“Kenapa?”
“Bisa jadi lapar.”
Belum sempat Areksa menjawab, tangisan Aretha kembali terdengar nyaring.
“Ngeee...”
Areksa langsung menatap putrinya. “Itu kenapa lagi?”
Adira tersenyum kecil. “Sepertinya benar. Dia lapar.”
“Ya sudah, biar saya yang kasih susu.”
Areksa mengambil alih Aretha dari gendongan Adira. Ia kemudian mengambil botol ASI yang tadi sudah dihangatkan.
“Nah, Sayang. Minum dulu.”
Areksa mencoba menyodorkan dot ke mulut Aretha. Namun bayi itu justru memalingkan wajah.
Tangisannya kembali terdengar.
“Kok dia nggak mau ya?” Areksa mulai bingung.
Adira menahan senyum. “Maaf, Tuan. Sepertinya Non Aretha ingin menyusu langsung.”
“Maksudnya?”
“Langsung dari saya.”
“Oh begitu...” Areksa baru memahami maksudnya.
Ia kemudian menyerahkan Aretha kembali kepada Adira.
Adira menerima bayi itu dan menggendongnya dengan posisi yang nyaman.
Beberapa saat kemudian, Aretha berhenti menangis.
Areksa masih berdiri di sana sambil memperhatikan keduanya.
Areksa mengerutkan kening karena Adira belum juga menyusui anaknya. “Kenapa kamu diam?"
Adira tampak sedikit canggung. “Maaf, Tuan...”
“Iya?”
“Bisa Tuan keluar sebentar?”
Areksa masih belum memahami.
“Saya ingin menyusui Non Aretha.”
Barulah Areksa tersadar.
“Oh...” Ia langsung merasa salah tingkah.
“Ya ampun, maaf. Saya benar-benar lupa.”
Adira hanya mengangguk kecil. “Iya, Tuan.”
Areksa segera berbalik dan keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Adira mengembuskan napas lega.
Ia kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil menenangkan Aretha yang kembali mencari sumber makanannya.
“Sudah, Sayang...”
Adira mulai menyusui bayi tersebut.
Sementara itu, Areksa berjalan menjauh dari kamar.
Begitu sampai di ruang keluarga, ia berhenti. Baru sekarang ia menyadari betapa bodohnya dirinya tadi.
Ia bahkan sempat berdiri begitu saja di dalam kamar tanpa menyadari bahwa Adira membutuhkan privasi.
“Bodoh banget,” gumamnya pelan.
Areksa mengusap wajahnya. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga.
Ia memilih menunggu di sana sampai Adira selesai menyusui Aretha.
Namun entah mengapa, pikirannya justru kembali pada satu hal.
Aruna. Istrinya telah tiada.
Dan kini, seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya malam ini sedang menyusui putrinya.
Areksa menatap kosong ke depan. Semua ini terjadi begitu cepat.
Terlalu cepat hingga dirinya sendiri belum sempat memahami bagaimana hidupnya bisa berubah dalam hitungan hari.
***
Dua jam kemudian, Areksa terbangun di sofa ruang keluarga. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari bahwa dirinya tertidur saat menunggu Aretha.
“Aretha...”
Areksa langsung teringat bahwa putrinya masih berada di kamar Adira.
Ia melirik jam dinding. Pukul tiga pagi.
Areksa segera bangkit dan berjalan menuju kamar Adira. Ia mengetuk pintu sekali, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
“Adira?”
Tidak ada sahutan.
Karena khawatir terjadi sesuatu, Areksa membuka pintu perlahan.
Pemandangan di dalam kamar membuat langkahnya terhenti.
Adira ternyata tertidur dalam posisi bersandar di kepala ranjang. Wajahnya terlihat lelah. Di pangkuannya, Aretha juga tertidur pulas dengan bantuan bantal penyangga.
Areksa mengembuskan napas lega. “Syukurlah...”
Namun ketika pandangannya kembali tertuju kepada Adira, ia sontak terkejut.
Adira rupanya tertidur sebelum sempat merapikan pakaiannya setelah menyusui. Bagian atas pakaiannya masih terbuka sehingga tubuhnya belum tertutup dengan sempurna.
Deg!
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰