Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mencintaimu
"Aku tidak akan memaksa orang-orang atau staf kantor ini menyapamu sebagai Nyonya Adhitama jika itu hanya membuatmu takut dan tertekan. Jika kau ingin menyembunyikannya selama setahun, lima tahun, atau bahkan selamanya... aku akan mengikutimu."
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Alvaro?" suara Hana bergetar, menahan rasa sesak di dadanya.
"Kenapa kamu begitu menurut padaku? Aku ini cuma petugas kebersihan yang kamu...." ucapnya terpotong.
"Jangan teruskan kalimat itu!" pangkas Alvaro cepat, suaranya naik seraya melangkah mendekat dan berlutut di atas satu kakinya di depan sofa tempat Hana duduk.
Hana tersentak hebat, bersandar ke sandaran sofa. Sosok CEO yang paling ditakuti dan dihormati di seluruh jajaran bisnis Adhitama Group... kini berlutut di hadapannya, mendongak menatap matanya dengan pandangan sejujur air jernih.
"Jangan pernah merendahkan dirimu lagi di depanku, Hana Anindita," kata Alvaro, suara nya bergetar oleh emosi murni yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
"Aku melakukan semua ini bukan karena bersalah semata. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu." terus nya.
Dunia Hana seolah berhenti berputar seketika.
Kata itu cinta menggema hebat di dalam ruang sanubarinya, meruntuhkan sebagian benteng pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
"Aku mencintaimu," ulang Alvaro, menyuarakan rasa itu untuk pertama kalinya dengan penuh keberanian.
Jemari kekarnya bergerak pelan, melayang sebentar di udara sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam jemari dingin Hana yang bertengger di pangkuan.
"Aku tahu rasa bersalah atas malam kelam itu akan terus mengejarku sampai mati. Tapi perasaanku padamu hari ini... bukan lagi soal penyesalan. Ini tentang ingin melindungimu, ingin bersamamu, dan ingin menjadi pria yang layak mendapatkan maafmu."
Hana membeku di tempat. Rasa hangat dari genggaman tangan Alvaro menjalar merayapi lengannya, membawa aliran desir aneh yang membakar seluruh sarafnya. Air mata menetes pelan dari pelupuk mata Hana, jatuh membasahi telapak tangan Alvaro yang menggenggamnya.
"Alvaro..." bisik Hana terbata, suaranya tenggelam dalam tangis halus.
Alvaro menyapu air mata di pipi Hana menggunakan ibu jarinya dengan kelembutan yang teramat sangat.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Hana. Kau tidak perlu membalas perasaanku hari ini. Cukup izinkan aku berada di sisimu, menjagamu dari jauh, dan membuktikan ucapan ini setiap harinya." ujar nya.
Hana menundukkan kepalanya, membiarkan tangannya tetap berada di dalam genggaman hangat Alvaro. Ia tidak menarik tangannya lagi.
Ketakutan yang selama ini membayangi sosok Alvaro perlahan-lahan luruh, berganti oleh kebingungan yang dipenuhi secercah harapan baru.
Pintu luar ketukan halus dua kali, memutus momen hening di antara mereka.
"Pak Alvaro, mobil jemputan Anda dan Mbak Hana sudah siap di basemen B3," suara Nakula terdengar dari balik intercom meja.
Alvaro menghembuskan napas panjang, tersenyum amat tulus pada Hana seraya melepaskan genggaman tangannya dengan sangat perlahan dan penuh rasa hormat. Ia berdiri tegak kembali, mengulurkan tangannya pada Hana.
"Jam kerja sudah selesai, Hana," kata Alvaro lembut.
"Mari kita pulang ke rumah." ajak Alvaro.
Hana menatap uluran tangan pria itu sejenak, lalu menyambutnya pelan untuk berdiri dari sofa.
Di bawah hamparan senja ibu kota yang memerah di balik jendela raksasa, langkah mereka berdua melangkah keluar dari ruangan itu bukan lagi sebagai bos dan bawahan yang terpisah jarak kasta, melainkan sebagai dua jiwa yang mulai belajar saling menyembuhkan luka.
Suasana di lorong parkir privat basemen B3 terasa begitu hening dan dingin. Hanya deru halus mesin sedan hitam milik Alvaro yang menyala, membiaskan pendar lampu rem merah ke dinding beton di sekitarnya. Nakula telah berdiri siap di samping pintu penumpang belakang, menanti kedatangan sang atasan bersama istrinya.
Hana melangkah agak tertahan di samping Alvaro. Meski keduanya berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan, kehadiran Alvaro yang rapat di sisinya memberikan perlindungan yang tak kasat mata.
"Masuklah duluan, Hana," bisik Alvaro sangat pelan saat mereka tiba di samping mobil.
Matanya menyapu sekeliling area basemen yang sepi, memastikan tak ada staf biasa yang melintas.
"AC di dalam sudah kunyalakan."
"Terima kasih, Pak... maksudku, Alvaro," jawab Hana canggung. Ia menyunggingkan senyum tipis, merapikan tas ransel lusuhnya, lalu membungkuk untuk melangkah masuk ke dalam kabin belakang sedan yang harum dan hangat.
Namun, sebelum Nakula sempat menutup pintu mobil, suara gesekan sepatu hak tinggi yang nyaring dan cepat mendadak memecah kesunyian lorong basemen.
KLAK! KLAK! KLAK!
"Alvaro! Tunggu!" teriak seseorang.
Denting suara wanita yang melengking dan bernada manja itu memantul di dinding-dinding beton basemen B3.
Jantung Hana mendadak meloncat ke tenggorokan. Ia refleks membelalakkan matanya dari dalam mobil, menatap langsung ke arah sumber suara melalui pintu yang masih terbuka separuh.
Seorang wanita muda berparas jelita melangkah lebar-lebar mendekati mereka. Pakaiannya adalah gaun rancangan desainer ternama berwarna merah menyala yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Lembaran rambut cokelatnya yang terurai indah bergoyang seirama dengan langkah anggunnya. Tas tangan mewah berlogo merek ternama melingkar cantik di lengannya.
Dia adalah Clarissa Vanea, putri tunggal dari pemilik Vanea Group, salah satu mitra bisnis terbesar Adhitama Group.
Wanita yang selama ini terang-terangan menunjukkan ambisinya untuk bertakhta sebagai Nyonya Adhitama, memanfaatkan kedudukan dan harta keluarganya untuk terus menempel pada Alvaro.
"Clarissa?" gumam Alvaro, alis tebalnya seketika bertautan rapat. Aura wajahnya mendadak membeku, memancarkan ketidaksenangan yang amat nyata.
Melihat bahaya besar yang baru saja tiba, refleks bertahan hidup Hana bekerja dalam hitungan detik. Kepanikan murni membakar dadanya.
Jika Clarissa melihat seorang office girl berseragam kusam duduk santai di kursi belakang mobil pribadi sang CEO, hancurlah sudah seluruh penyamarannya dalam sekejap!
Hana buru-buru melepaskan tas ranselnya, lalu meluncur turun dari kursi ke bawah lantai mobil yang dilapisi karpet tebal. Ia memiringkan tubuhnya, meringkuk ketakutan di sela-sela leganya area kaki penumpang belakang. Ia menarik selimut tipis yang biasanya tersedia di mobil untuk menutupi tubuhnya, bersembunyi sepenuhnya di bawah bayangan kegelapan kabin bawah.
Nakula yang sangat sigap dan berotak cerdas langsung memahami situasi darurat itu. Dengan gerakan alami tanpa kepanikan, Nakula menutup pintu belakang sedan dengan bunyi klik yang rapat, menyembunyikan posisi Hana sepenuhnya di balik kaca film berteknologi tinggi yang tak tembus pandang dari luar.
Nakula lalu berdiri tegap di depan pintu mobil, membentengi area penumpang.
"Selamat sore, Nona Clarissa." sapa Nakula.
Clarissa sama sekali tidak mengindahkan Nakula. Matanya yang tajam dan terbiasa mendapat semua keinginannya langsung terkunci sepenuhnya pada sosok Alvaro. Ia menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Alvaro, lalu memamerkan senyuman manis yang paling memikat.
"Alvaro! Ya ampun, untung saja aku belum terlambat!" seru Clarissa dengan suara mendayu-dayu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....