NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

   Setelah berselang 30 menit dari waktu ustadz Jamal menelpon Farhan dia pun sampai di rumah ustadz Jamal.

"Bukankah tadi ayah yang memintaku untuk pergi, lalu sekarang kenapa meminta aku untuk kembali? Benar-benar aneh." ucap Farhan dalam hati saat berada di depan pintu rumah ustadz Jamal.

"Tok....tok...tok... assalamualaikum ayah, saya sudah sampai." ucap Farhan sambil mengetuk pintu.

"Ckleeek." ustadz Jamal pun membukakan pintu.

"Waalaikumsalam, ayo Farhan mari masuk."

"Ayah sebenarnya ada apa, kenapa ayah meminta aku kembali?."

"Farhan, ayah sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Karisa."

Tubuh Farhan langsung lemas mendengar penuturan ayah mertuanya itu. Tapi dia sama sekali tidak menyalahkan ustadz Jamal, karena bagaimana pun juga hal ini tidak mungkin di simpan selama, cepat atau lambat Karisa pasti tau juga.

"Lalu bagaimana reaksi Karisa?" Tanya Farhan dengan suara pelan.

"Dia sangat terpukul dan sepertinya masih tidak dapat menerimanya. Tapi ayah yakin Karisa pasti bisa melewati ini semua. Kita hanya perlu lebih sabar untuk menghadapinya saat ini. Dan ayah mohon kamu bisa lebih sabar seandainya Karisa bertingkah berlebihan dan menyinggung perasaan kamu."

Ustadz Jamal pun beranjak dari duduknya lalu menepuk pundak Farhan.

"Pergilah temani dia, saat ini dia pasti sangat membutuhkan kamu."

"Hmmm" Farhan mengangguk lalu pergi menuju ke kamar Karisa.

Diluar dugaan. Saat ini Karisa tidak sedang menangis atau pun duduk termenung di tempat tidurnya. Tapi dia sedang duduk di atas sajadah dengan memakai mukenah dan sedang membaca ayat Al-Qur'an dengan suara yang pelan seolah sedang berbisik namun sangat menikmati setiap bait ayat suci tersebut.

Farhan hanya berdiri diam di depan pintu kamar Karisa yang sudah ia buka sedikit ikut menikmati lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sedang di baca oleh istrinya tersebut. Tanpa sadar sudah hampir 15 menit Farhan hanya berdiri diam di depan pintu kamar Karisa hingga akhirnya terdengar kalimat.

"shadaqallahul adzim." Tanda Karisa sudah mengakhiri bacaan ayat suci Al-Qur'an nya.

Barulah Farhan masuk dan menghampiri Karisa.

"Mas Farhan" Ucap Karisa sedikit kaget, karena setau Karisa Farhan sudah pulang ke rumah mereka sejak tadi.

Farhan langsung duduk di samping Karisa lalu di peluknya erat tubuh Karisa. "Maaf" bisiknya di telinga Karisa.

"Mas tidak perlu minta maaf, bukan salah mas Farhan. Aku tau mas Farhan melakukan semua ini karena takut aku sedih."

Karisa menjeda ucapannya, lalu di pandangnya wajah suaminya itu. "Walaupun awalnya aku sangat kecewa tapi aku sadar semua ini sudah ketentuan Allah untukku dan pasti ada kebaikan dibalik ini semua."

Air mata Farhan luruh begitu saja mendengar ucapan istrinya itu.

"Laki-laki kok nangis, cengeng." ucap Karisa sambil menghapus air mata di pipi suaminya.

"Tapi lain kali tidak boleh ada kebohongan lagi di antara kita, apapun alasannya, oke? Karisa sedikit memelototkan matanya pada suaminya itu. Dan mereka pun sama-sama tertawa.

"Aku janji" Farhan kembali memeluk tubuh Karisa. "Kamu memang anugrah terindah dalam hidupku, bidadari surgaku."

"Dasar gombal!"

Karisa memukul pelan bahu Farhan.

"Tapi mas aku lapar dan mau kamu yang siapin makanan untuk aku."

"Siap tuan putri!" Farhan mengangkat tangan memberi hormat lalu segera pergi menuju dapur.

"Ya Allah ikhlaskan lah hatiku" Ucap Karisa sambil melepas mukenah yang masih ia gunakan kemudian merapikannya.

Setelah semua masalah terselesaikan, Karisa dan Farhan tidak pulang ke rumah mereka, mereka memutuskan untuk tetap menginap di rumah ustadz Jamal.

Tanpa terasa malam pun berlalu berganti dengan pagi dan saat ini Farhan, Karisa dan ustadz Jamal sedang berada di meja makan untuk sarapan. Setelah itu mereka akan pergi mengajar seperti biasa.

"Apa kalian mau pergi liburan, kenapa mendadak mau liburan? Kapan berangkatnya?" Ustadz Jamal sedikit terkejut mendengar rencana mendadak Farhan dan Karisa yang mereka ucapkan saat menyantap sarapan buatan Farhan, karena saat ini Karisa sedang menghukum Farhan karena sudah tidak jujur padanya dan hukumannya adalah harus menyiapkan sarapan setiap pagi sampai batas waktu yang tidak di tentukan.

"Iya ayah, sebenarnya nggak mendadak juga sih ayah, sudah ada rencana sejak sebelum aku menjalani operasi. Namun tertunda karena aku tiba-tiba sakit dan harus operasi waktu itu. Semalam aku dan mas Farhan sudah berunding Minggu depan kami mau pergi liburan melanjutkan niat yang tertunda, mumpung anak-anak sekolah juga belum memasuki waktu ujian jadi kami masih bisa ambil cuti."

"Benar juga, kalian memang butuh liburan setelah semua yang terjadi. Terus rencananya kalian mau liburan ke mana?"

"Rencananya kami mau berlibur ke kampung halaman Abi dan umi, kata Farhan di sana pemandangannya sangat indah dan kampungnya juga masih asri."

Karisa tersenyum membayangkan tempat yang akan mereka kunjungi nanti.

"Tapi nak di sana signal masih susah, dan jalannya juga belum beraspal. Kalian yakin mau liburan ke sana?" Ustadz Jamal sedikit khawatir, karena dia tau anaknya itu tidak bisa sehari saja tanpa handphone.

"Ayah tenang saja kalau dulu aku kan masih sendiri jadi tidak bisa tanpa handphone, tapi sekarang kan sudah ada Mas Farhan ya beda dong." Karisa melirik Farhan sambil tersenyum.

"Kamu ini bisa aja." Farhan mengacak kepala Karisa.

"Mas Farhan lihat ni hijab aku jadi miring." Protes Karisa.

"Iya maaf, pergi rapikan dulu biar kita berangkat."

Karisa mengangguk lalu pergi kembali ke kamarnya untuk merapikan hijabnya.

"Apa kamu benar-benar yakin mau membawa Karisa berlibur ke kampung halaman Kedua orang tuamu Farhan." Ustadz Jamal kembali bertanya setelah Karisa menghilang di balik pintu kamarnya.

"Sebenarnya aku juga ragu untuk membawa Karisa ke sana, tapi Karisa maksa ingin ke sana katanya dia ingin suasana yang asri untuk menenangkan pikiran, aku jadi tidak enak untuk menolak. Tapi ayah tenang saja sekarang tidak lagi musim hujan, jadi walaupun jalannya masih belum di aspal masih bisa di lalui mobil."

Farhan mengerti apa yang di khawatirkan oleh ayah mertuanya itu.

Kampung halaman Abi dan uminya itu benar-benar masih sangat tertinggal karena memang masyarakatnya yang menolak pembangunan-pembangunan yang mereka anggap bisa merusak keasrian desa mereka. Bahkan listrik pun belum ada disana, masyarakat di sana hanya mengandalkan lampu teplok saat malam hari. Dan jalanannya pun akan sangat becek saat musim hujan. Tapi kalau untuk pemandangannya desa ini benar-benar bisa memanjakan mata setiap yang melihat. Itu sebabnya walaupun kalau musim hujan Medan yang di lalui sulit dan internet pun tidak ada tetap banyak orang yang ingin berkunjung ke desa ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!