NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman

“Hei, kenapa belakangan ini kau tidak pernah ikut makan bersama kami?”

Tubuh Violet langsung menegang.

Cedric yang tadi memeriksa tangannya kini berdiri jauh lebih dekat. Saat Violet merasa gugup dan mencoba menjauh, Cedric malah menggenggam tangannya erat dan tidak melepaskannya.

“Kau tidak sampai kelaparan, kan?”

“Ah, kenapa kau tidak menjawab? Membosankan.”

Ia kesal lalu melepaskan tangan Violet dengan kasar. Cedric menatapnya dengan wajah cemberut.

Violet sulit memahami perubahan suasana hati Cedric yang begitu cepat. Ia hanya berpikir, Mungkin semua bangsawan memang seperti ini.

Saat itulah ia kembali merasa takut.

“Cedric.”

Violet mengangkat kepala. Seorang anak laki-laki berambut pirang berdiri di sana. Ia tersenyum lebar sambil menyebut nama Cedric. Meski senyumnya terlihat ramah, entah kenapa kehadirannya justru terasa mengintimidasi.

Cedric langsung terkejut dan bersembunyi di belakang Violet seperti kucing yang ketakutan.

“Salam hormat kepada Utusan Tuhan.”

Anak laki-laki itu tersenyum dan hendak berlutut di hadapan Violet.

“Tidak perlu berlutut di hadapanku. Sekarang tidak perlu seperti itu lagi.”

Sesuai ajaran Nyonya Viscountess, Violet membolehkan kakaknya memberikan salam dengan cara yang lebih sederhana. Meski tentu saja, hal itu tidak banyak berguna untuk Cedric yang bahkan tidak mau memberi salam sama sekali.

“Permisi sebentar.”

Kakak keduanya—Ledian—kemudian menghampiri Cedric yang bersembunyi di belakang Violet.

“Cedric, kali ini kau benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya kau memasukkan beberapa kelabang ke dalam pakaianku. Apa kau ingin menjadi pembunuh termuda di antara saudara-saudaramu, hah?”

“Bukankah aku masih cukup baik? Aku bahkan tidak memasukkan kalajengking!”

Cedric berteriak.

Violet tidak begitu memahami apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi kedengarannya cukup mengerikan.

“Pantas saja aku mencarimu ke mana-mana tidak ketemu. Ternyata kau sedang mengganggu Saintess?”

“Me-mengganggu? Bukan begitu!”

Cedric membela diri mati-matian.

Violet bahkan ingin menutup telinga karena suara Cedric yang melengking.

“Aku rasa aku harus memberi tahu Ayah atau Kakak. Mereka pasti akan memberimu hukuman yang sangat bagus. Benar, kan?”

“Huaa! Ampun, Kak! Aku salah!”

“Sekarang, sebaiknya kau kerjakan tugasmu. Dan kembali ke kamar, sekarang!” ucap Ledian tegas.

Cedric pun langsung berlari pergi.

Violet memandangi punggungnya yang tergesa-gesa. Mungkin dia kabur dari tugasnya hanya untuk datang ke sini.

Saat itulah suara Ledian yang lembut terdengar.

“Kau sudah banyak berkembang.”

Apakah yang dimaksud adalah dirinya? Violet ragu-ragu lalu menoleh. Di sana, Ledian terlihat sedang tersenyum. Pemuda yang biasanya berbicara dengan bahasa formal itu kini berbicara dengan santai.

“Apa kau tidak suka kalau aku berbicara santai? Kalau kau merasa tidak nyaman, aku bisa kembali berbicara formal.”

Begitu cara bicaranya kembali berubah, Violet buru-buru menggeleng. Sebelum terbangun sebagai Saintess, seumur hidupnya ia tidak pernah sekalipun diperlakukan dengan bahasa hormat. Karena itu, justru cara bicara formal yang ditujukan kepadanya terasa sangat canggung.

“Ti-tidak. Aku tidak keberatan kalau Tuan Muda berbicara santai kepadaku—”

Terdengar suara tawa kecil.

Ledian tersenyum tenang, tetapi kali ini terselip sedikit seringai jahil di wajahnya. Violet tidak tahu harus mengarahkan pandangan ke mana. Tawanya tidak terdengar sembrono, tetapi juga tidak menyiratkan sesuatu yang mencurigakan. Justru tawa itu terasa seperti contoh yang tepat dari tawa sopan yang pernah diajarkan sang Viscountess.

“Aku tidak menyangka akan dipanggil ‘Tuan Muda’ oleh Saintess.”

Violet menundukkan kepala karena malu. Melihatnya, Ledian berkata dengan lembut,

“Sekarang kau adalah adikku. Memangnya kau memanggil kakakmu sendiri ‘Tuan Muda’? Kalau begitu, haruskah aku memanggilmu Nona Muda?”

Violet buru-buru menggeleng. Ledian tertawa kecil.

“Nah, lihat? Kau malu, kan? Jadi jangan saling memanggil dengan sebutan seperti itu.”

Violet mengangguk. Kalau begitu, harus memanggilnya apa? Ia hendak bertanya, tetapi Ledian lebih dulu menjawab.

“Panggil aku Kakak atau Ledian.”

“Kakak?”

“Iya. Kau kan adikku.”

Violet tertegun. Memangnya boleh mengatakan hal seperti itu dengan begitu mudah? Bagaimana mungkin ia bisa begitu akrab dengan seorang gadis kecil yang berasal dari kalangan rakyat jelata?

Namun, pemuda itu hanya tersenyum ramah kepadanya.

“Namamu Violet, kan?”

“Iya.”

Ternyata sosok itu juga mengingat namanya, padahal Violet belum pernah memberitahukannya. Violet tahu betul tatapan orang-orang setiap kali menyebut namanya. Namun, Ledian memanggilnya begitu saja, tanpa merasa canggung sedikit pun.

Tiba-tiba Violet merasakan sesuatu menyentuh kepalanya. Ledian sedang mengusap rambutnya dengan sentuhan yang begitu lembut.

“Ini pasti sangat sulit, bukan?”

Entah kenapa, kata-kata itu seolah menjadi pemicu. Tenggorokan Violet tercekat dan matanya mulai berkaca-kaca hingga air mata jatuh satu per satu. Ledian tampak sedikit panik melihat reaksi tersebut.

“Ma-maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Kau tidak apa-apa, Violet?”

Kalau dipikir-pikir, tidak ada seorang pun di sekitarnya yang pernah menanyakan apakah dirinya baik-baik saja.

Violet hanya menangis dalam diam. Ia sendiri tidak mengerti apa arti air mata itu. Hanya saja, ketika seseorang akhirnya menanyakan apakah dirinya baik-baik saja, semua beban yang selama ini menumpuk di dalam hatinya seakan mencair begitu saja.

“Maaf. Seharusnya aku mendekatimu sejak awal. Ternyata selama ini kau benar-benar kesulitan.”

Kata-kata lembut itu terasa hangat di dalam hatinya.

Mendengar permintaan maaf Ledian yang sangat tulus, Violet menggeleng pelan. Sosok di hadapannya ini benar-benar baik dan perhatian.

Ada seseorang yang mau menyebut gadis rakyat jelata sepertinya sebagai adik. Untuk pertama kalinya, Violet merasa benar-benar diterima di tempat ini.

Ternyata, ada juga Tuan Muda bangsawan yang benar-benar baik.

......................

“Seina, Tuan Muda kedua... maksudku, Kakak kedua itu orangnya seperti apa?”

Sesampainya di kamar, Violet bertanya kepada Seina yang sedang menyisir rambutnya.

“Oh, Anda bertemu Tuan Muda Ledian?”

“Iya. Aku juga bertemu Tuan Muda ketiga... maksudku, Kakak ketiga.”

“Begitu rupanya, menurut Anda? Dia orang yang sangat baik, bukan?”

“Ya.”

Mendengar jawaban Violet, Seina tersenyum kecil. Ujung jarinya yang menyentuh rambut Violet pun sedikit bergetar.

“Beliau paling mirip dengan Nyonya. Sifatnya juga paling lembut dan penuh perhatian. Katanya, sebelum saya datang, tubuh beliau cukup lemah. Kalau bukan karena Tuan Muda Ledian, entah siapa yang akan mengurus Tuan Muda Cedric yang nakal itu. Mungkin sekarang beliau akan jauh lebih sulit diatur.”

“Benarkah?”

Violet teringat bagaimana Ledian dengan mudah menghadapi Cedcric yang tadi bersembunyi di belakangnya. Jelas sekali Cedric takut kepadanya. Padahal Violet sama sekali tidak mengerti apa yang menakutkan dari wajahnya yang selalu tersenyum lembut seperti malaikat.

“Beliau juga sangat pandai belajar sampai sering disebut anak jenius. Katanya, beliau kelak akan memegang peranan penting di negeri ini. Bahkan, kemampuan belajarnya sudah melampaui tingkat yang biasanya dicapai orang dewasa.”

“Benarkah?”

Hebat sekali.

Memiliki kakak seperti itu membuat Violet merasa sedikit bangga.

“Sepertinya Saintess mulai tertarik dengan keluarga ini. Apa itu karena Tuan Muda Kedua.”

Violet terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Bukan karena ia tidak tertarik. Hanya saja, ia merasa dirinya tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga ini. Ia sebenarnya ingin menjelaskan hal itu, tetapi takut akan kembali ditegur. Pada akhirnya, Violet memilih untuk diam.

Kemudian, ia teringat pada seseorang dan bertanya, “Kalau begitu, bagaimana dengan Tuan Muda pertama?”

“Ya ampun, Saintess. Bukan Tuan Muda, tapi Kakak.”

Namun, Violet sama sekali tidak merasa pria itu seperti seorang kakak. Sejak kejadian itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Sekarang mereka bahkan tidak makan bersama. Ia tidak pernah mengajaknya berbicara dengan hangat dan selalu sulit ditebak. Bagaimana mungkin Violet menganggap orang seperti itu sebagai kakaknya?

“Kalau Tuan Muda Carlisle, beliau adalah putra yang paling mirip dengan Tuan Marquis.”

"....."

“Saintess, Anda tahu, kan? Keluarga Rivera terkenal sebagai keluarga yang telah melahirkan banyak Pedang Raja, bahkan para panglima perang dari generasi ke generasi.”

Violet mengangguk. Itulah hal pertama yang dijelaskan Viscountess Bourne kepadanya.

“Beliau adalah pewaris keluarga. Menjadi putra sulung saja tidak cukup untuk menentukan siapa yang akan menjadi pewaris. Tuan Muda Carlisle telah diakui sebagai pewaris sejak berusia tiga belas tahun dan mulai dididik untuk menjalankan tugasnya. Kini, di usianya yang kelima belas, beliau bahkan berhasil bergabung dengan Ordo Kesatria Kerajaan Pertama.”

“Ordo Kesatria Pertama?”

“Ya. Baru berusia lima belas tahun, tetapi beliau sudah berhasil masuk ke dalam ordo yang hanya beranggotakan para kesatria pilihan. Hebat sekali, bukan?”

Seina terus memuji Carlisle, seolah sedang membanggakan anaknya sendiri. Ia bahkan menambahkan bahwa kemampuan akademiknya juga tidak kalah dari siapa pun. Meski pendiam, sebenarnya Carlisle adalah orang yang cukup baik.

Bagi Violet, sosok Tuan Muda pertama yang ia kenal hanyalah seorang anak laki-laki yang wajahnya mirip Marquis. Ekspresinya datar dan sulit ditebak, sementara cara bicaranya juga dingin.

Di mana sisi baiknya?

Violet terus memikirkannya.

......................

Violet terkejut melihat gaun-gaun yang disiapkan untuknya. Beberapa pakaian cantik tergantung rapi di sana. Warnanya cerah dan beraneka ragam, persis seperti gaun indah yang dulu ia impikan saat masih kecil.

Bahkan Sera, orang terkaya di desa mereka, tidak pernah memiliki pakaian semewah ini. Setiap helai gaun tampak begitu indah hingga Violet hanya bisa memandanginya dalam diam. Ia bahkan tidak berani menyentuhnya karena takut gaun-gaun itu akan kotor jika terkena tangannya.

“Lihat, Tuan membelikannya untuk Anda.”

Ini semua milikku?

Violet tidak bisa mempercayainya. Ia menatap Seina.

“Benarkah ini semua milikku?”

“Tentu saja. Anda juga mengenakan salah satunya saat menghadap Yang Mulia Raja, kan?”

Seina lalu bertanya pelan, “Mau mencoba salah satunya?”

Violet mengangguk. Saat menghadap raja, pikirannya masih kacau karena perubahan hidupnya yang terjadi begitu tiba-tiba. Ia bahkan tidak menyadari pakaian apa yang dikenakannya saat itu. Ia hanya mengikuti orang-orang yang membawanya ke sana kemari dalam keadaan linglung.

Seina memilihkan gaun kuning muda dengan hiasan renda yang cantik. Violet mengenakannya lalu berdiri di depan cermin.

Gaun itu memang indah. Persis seperti gaun mewah yang dulu ia impikan.

Namun, saat dikenakan, ternyata sangat tidak nyaman. Bagian pinggangnya dibuat mengikuti lekuk tubuh perempuan dewasa, membuat tubuh Violet yang masih kecil terasa sesak. Roknya juga panjang dan menjuntai hingga berkali-kali tersangkut di kakinya setiap kali berjalan.

Violet baru teringat bahwa itulah alasan ia terus tersandung saat berada di istana.

“Wah! Saintess, Anda cantik sekali. Sekarang Anda benar-benar terlihat seperti seorang Nona bangsawan.”

Seina memandangnya dengan kagum.

Benarkah?

Violet justru merasa murung.

Gaun itu sama sekali tidak terasa cocok untuknya. Mengapa Marquis membelikannya pakaian seperti ini? Semakin banyak gaun yang diberikan kepadanya, semakin terbebani perasaannya.

Bagaimana para putri bangsawan bisa mengenakan pakaian seperti ini tanpa merasa kesulitan?

Lalu Violet menyadari sesuatu.

Berarti aku harus tumbuh lebih besar agar bisa mengenakan gaun-gaun ini.

“Sebentar lagi Viscountess akan datang. Saya akan meminta mereka menyiapkan teh.”

Seina mengatakan itu lalu keluar dari kamar.

Violet masih memandangi gaun-gaun tersebut cukup lama. Di sampingnya terdapat sebuah cermin besar dan mewah, yang memantulkan sosok dirinya dalam balutan gaun.

Gadis di dalam cermin itu masih terasa asing baginya. Ketika Violet berkedip, gadis di dalam cermin pun ikut berkedip. Wajah yang berbeda dari sebelumnya membuatnya benar-benar terlihat seperti seorang putri bangsawan.

Namun, rasa kagum yang tadi sempat muncul sebelum mengenakan gaun itu perlahan menghilang. Sekarang, membayangkan dirinya harus selalu mengenakan pakaian seperti ini justru terasa suram.

Mengenakan gaun seperti ini tidak akan membuatku benar-benar menjadi bangsawan.

Violet memejamkan mata.

Pintu terbuka dan sang Viscountess masuk. Begitu melihatnya, Violet mengangkat wajah. Viscountess Bourne memang selalu memperlakukannya dengan sopan, tetapi sikapnya terhadap Violet terkadang cukup tegas.

Begitu melihat Violet mengenakan gaun itu, sang Viscountess memberikan salam dengan enggan.

“Apa yang sedang Anda kenakan?”

Nada bicaranya terdengar tajam. Violet bisa merasakan ketidaksukaan yang terselip di balik pertanyaannya.

“Marquis yang memberikannya.”

Kini Violet sudah mampu menjawab dengan suara yang jelas, seperti yang diajarkan sang Viscountess, tanpa lagi berbicara lirih seperti sebelumnya. Namun, sang Viscountess tetap mengernyitkan dahi. Kerutan di sekitar matanya pun semakin terlihat.

“Anda tentu tahu mengapa beliau memberikan ini kepada Anda, bukan?”

“Sepertinya agar saya belajar lebih giat.”

“Ya, itu benar. Setidaknya Anda sudah mulai berpikir.”

Viscountess Bourne berkata dengan wajah masam. Ia kemudian berjalan menuju gaun-gaun yang tergantung di dinding.

Bahkan sebagai seorang bangsawan, ia sempat mengagumi kemewahan gaun-gaun tersebut. Namun, begitu menyadari bahwa semua pakaian itu diperuntukkan bagi Saintess, wajahnya kembali mengeras.

Violet langsung merasa takut saat melihat tatapan sang Viscountess yang tertuju kepadanya. Wanita itu memang selalu dingin, tetapi entah mengapa kali ini sepertinya benar-benar marah kepadanya.

Sang Viscountess melepaskan gaun yang sedang disentuhnya, lalu berkata dengan tegas,

“Sekarang kita ulangi latihan berjalan.”

Cara berjalan Violet masih belum sepenuhnya diperbaiki.

Wajah Violet seketika memucat. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengikuti perintah sang Viscountess.

Violet berdiri di hadapannya yang duduk di sofa, lalu mulai berjalan dengan tubuh sedikit menegang. Satu langkah demi satu langkah, ia berusaha berjalan tegap sambil menatap lurus ke depan, menjaga punggung tetap lurus, dan sedikit mengangkat dagu.

Meski sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, rupanya sang Viscountess masih belum puas.

“Cukup! Berhenti!”

Melihat wajahnya yang kesal, Violet langsung ketakutan.

Sang Viscountess mengambil sebuah tongkat rotan.

Hal yang paling ditakutkan Violet akhirnya terjadi.

Jantungnya berdegup kencang.

“Angkat rok Anda.”

Violet dengan susah payah mengangkat rok gaunnya yang berat. Setelah melepas kaus kaki sutranya, tampak betisnya yang kurus. Kulit putih itu sudah dipenuhi garis-garis merah, seolah tak pernah sehari pun luput dari bekas cambukan. Suara pukulan kembali terdengar, meninggalkan satu garis merah baru di kulitnya.

Viscountess Bourne adalah orang yang sangat tegas. Sedikit saja Violet melakukan kesalahan, ia akan memukul betisnya, dan Violet hanya menerimanya dalam diam. Sebenarnya, Violet memang menjadi lebih baik berkat hukuman itu.

Sejak kecil, Violet selalu mendengar bahwa dirinya baru akan bisa melakukan sesuatu dengan benar setelah dipukul. Karena itu, ia menganggap hukuman semacam ini sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan, ketika melihat tongkat rotan di tangan sang Viscountess, ia justru merasa sedikit lega.

Ternyata bangsawan juga mengenal hukuman seperti ini.

Entah kenapa, hal itu bahkan membuatnya merasa sedikit lebih dekat dengan mereka.

Meski pukulannya sangat sakit, tongkat rotan yang tipis ini masih lebih baik daripada tongkat kayu besar yang biasa digunakan Nenek Ruth. Setidaknya, Violet masih bisa menghibur dirinya dengan pikiran itu.

“Sudah kuduga, darah rendahan membuatmu lambat belajar. Namun, aku tidak menyangka akan selama ini.”

Mendengar perkataan itu, Violet menundukkan kepala dalam-dalam.

“Sekarang kita ulangi dari etika makan.”

Karena etika makan adalah bagian yang paling sulit bagi Violet, sepertinya sang Viscountess benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Violet memandangnya dengan takut dan penuh harap, tetapi wanita itu hanya menatapnya dengan dingin.

Para pelayan kemudian menghidangkan makanan sederhana untuk latihan.

Sebelum menyentuh garpu dan pisau, Violet melirik Viscountess sekilas. Tatapan wanita itu begitu tajam, sekali saja ia melakukan kesalahan, tongkat rotan itu akan kembali menghantam betisnya.

Dengan tangan gemetar, Violet mulai makan sesuai dengan apa yang telah diajarkan.

Namun, belum lama berselang, sang Viscountess menjatuhkan pisaunya ke meja dengan kesal hingga terdengar suara dentingan.

Violet tersentak dan menatapnya.

“Harus berapa kali aku mengatakannya?!”

Bentakan sang Viscountess membuat Violet terkejut hingga pisaunya terlepas dari tangan. Suaranya tidak terlalu keras, tetapi sang Viscountess melihat kesalahan itu dengan jelas.

“Angkat roknya!”

Violet perlahan turun dari kursinya lalu mengangkat rok.

Suara pukulan kembali terdengar. Betis yang sudah bengkak dipenuhi bekas pukulan baru. Hari ini pukulannya terasa lebih keras dari biasanya.

Namun, Violet menganggap semua ini pantas diterimanya karena dirinya memang belum cukup baik. Lagipula, pukulan ini masih lebih ringan dibandingkan pukulan yang dulu diterimanya dari Nenek Ruth di Flower Street.

Meski begitu, kedua betisnya kini sudah membengkak parah, seolah kulitnya bisa hancur kapan saja.

“Saya akan melaporkan kepada Marquis bahwa Anda telah menerima hukuman.”

Violet menggigit bibir karena merasa bersalah telah mengecewakan Marquis.

Bagaimanapun juga, dialah orang yang telah membawanya pergi dari tempat itu. Bahkan, ia sudah membelikannya gaun-gaun yang cantik. Jika Marquis sampai mendengar bahwa Violet kembali dipukul berkali-kali hari ini, pria itu mungkin akan kembali menghela napas dan menggelengkan kepala seperti sebelumnya.

“Menurut Anda, apakah gaun yang sedang Anda kenakan itu cocok untuk seorang Saintess?”

Violet tidak mampu menjawab.

Sang Viscountess kemudian berkata, “Seperti biasa, jangan sampai para pelayan melihat bekas luka itu. Itu memalukan, mengerti?”

Violet mengangguk.

“Saintess, menganggukkan kepala juga tidak sesuai dengan etiked. Gerakan seperti itu hanya dilakukan kepada orang yang kedudukannya lebih rendah.”

“Baik. Saya mengerti, Viscountess.”

Violet menundukkan kepala. Sepertinya pelajaran hari ini akhirnya selesai. Setelah Viscountess pergi, Violet mengembuskan napas panjang lalu duduk di tempat tidur. Betisnya yang bengkak terasa sakit.

Marquis pasti tahu soal ini, kan? pikirnya sambil menggigit bibir.

Ia ingin mengalihkan pikirannya.

Andai Ledian ada di sini.

Ledian selalu menghiburnya dengan lembut. Violet merasa malu untuk mengatakan bahwa dirinya dipukul, tetapi Ledian selalu mengatakan dengan penuh perhatian bahwa ia sudah semakin baik. Violet merindukan kehangatan itu.

Sebenarnya, karena Ledian seorang bangsawan, ia masih merasa canggung berada di dekatnya. Namun, setelah Seina, Ledian adalah orang yang paling bisa membuatnya merasa tenang.

Betis Violet semakin lama semakin bengkak akibat hukuman rotan yang terus berlanjut. Ia bahkan kesulitan berjalan. Namun, dulu ia pernah menerima hukuman yang jauh lebih parah dan masih bisa berjalan seperti biasa, jadi rasa sakit seperti ini masih sanggup ditahannya.

Seina sepertinya sedang mengurus sesuatu dan belum kembali. Akhirnya Violet pergi keluar sendirian. Ia ingin mencari Ledian.

Menjelang malam, angin sejuk berembus melewati kediaman Marquis. Saat sampai di taman, Violet justru berpapasan dengan Cedric yang berjalan santai ke arahnya. Begitu melihat Violet, Cedric membulatkan mata lalu memperhatikannya dari atas ke bawah.

Seharusnya Violet sudah buru-buru kabur begitu melihatnya. Namun, Cedric lebih cepat, sementara gaun yang dikenakannya terlalu berat sehingga Violet bahkan tidak berani mencoba melarikan diri.

“Hei, rakyat jelata!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!