NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit Kuala Lumpur

Aroma uap panas, rempah nasi lemak, dan bau aspal yang terbakar matahari menyambut kedatangan Emily Valencia begitu ia melangkah keluar dari Stasiun LRT Bandar Sunway. Udara tropis Kuala Lumpur yang lembap menghantam wajahnya, terasa begitu kontras dengan kedinginan angin es Zurich yang menyelimuti hidupnya selama setengah tahun terakhir.

Di sebuah apartemen studio sewaan yang terjangkau di kawasan Subang Jaya, Emily meletakkan dua koper hitamnya. Kamar itu sederhana, berisi satu tempat tidur single, meja belajar kayu yang agak terkelupas, dan jendela kaca kecil yang menghadap ke deretan menara pencakar langit di kejauhan.

Di atas meja belajar itu, hal pertama yang Emily keluarkan dari tasnya bukanlah buku teks kuliah, melainkan flashdisk hitam dari Sean dan jaket hoodie abu-abu yang warnanya mulai sedikit memudar. Emily memeluk jaket itu sejenak, menghirup sisa-sisa kenangan yang masih tertinggal, sebelum menyimpannya rapi di dalam lemari pakaian paling bawah.

"Aku sudah semakin dekat, Sean," bisik Emily pelan pada dinding kamar yang sepi. "Aku ada di langit yang sama denganmu sekarang."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sebagai mahasiswa baru (maba) jurusan International Finance and Investment di salah satu universitas swasta ternama di Kuala Lumpur, Emily memilih untuk hidup seperti bayangan.

Ia sengaja mengenakan pakaian paling sederhana. Kaus polos, celana jins longgar, dan kacamata berbingkai tipis yang memberinya kesan sebagai mahasiswi kacamata yang tidak berbahaya. Rambut hitam lurusnya sering diikat asal-asalan.

Ia tak pernah memakai perhiasan atau membawa tas branded, meskipun tabungan beasiswa dan investasi kecil-kecilan yang ia kelola dari Swiss sebenarnya lebih dari cukup untuk membeli gaya hidup mewah.

Di minggu-minggu awal masa orientasi kampus (orientation week), saat mahasiswa baru lainnya sibuk mencari kelompok pertemanan, berfoto untuk media sosial, atau berburu tempat nongkrong hits di kawasan Bukit Bintang, Emily selalu menghilang begitu acara formal selesai.

Ia memilih duduk sendirian di sudut perpustakaan lantai empat yang sepi. Di hadapannya, layar laptop tidak menampilkan tugas kuliah dasar, melainkan grafik pergerakan saham real-time dan struktur kepemilikan anak perusahaan Wijaya Group yang tersebar di Asia Tenggara.

"Hai, boleh duduk di sini?"

Sebuah suara memecah konsentrasi Emily. Seorang gadis berwajah ramah dengan gaya berpakaian santai khas mahasiswa lokal menyodorkan senyum manis. Di tangannya ada dua kaleng kopi dingin.

Emily mendongak pelan. "Oh... boleh. Silakan."

"Aku Mei Ling, anak jurusan Manajemen Keuangan juga. Kamu Emily, kan? Cewek Indonesia yang dapet nilai ujian masuk tertinggi semester ini?" tanya gadis itu antusias sembari mengulurkan kaleng kopi.

Emily ragu sejenak sebelum menerima kaleng kopi tersebut. "Terima kasih. Iya, aku Emily."

"Kamu dingin banget, tahu nggak?" Mei Ling terkekeh pelan, menyandarkan punggung ke kursi.

"Anak-anak maba yang lain pada ngomongin kamu. Katanya kamu pinter banget tapi tertutup. Banyak cowok senior anak-anak kaya dari Jakarta atau KL yang mau ngajak kamu kumpul, tapi kamu selalu nolak."

Emily tersenyum tipis, sebuah senyuman sopan namun membatasi jarak. "Aku cuma mau fokus kuliah, Mei. Nggak ada waktu buat main-main."

Mei Ling mengamati tumpukan buku tebal di meja Emily, buku-buku analisis pasar modal tingkat lanjut yang harusnya baru dipelajari oleh mahasiswa tingkat akhir. "Gila... kamu bener-bener beda ya. Tapi serius, kalau kamu butuh temen jalan atau sekadar cari makan malam murah di SS15, panggil aku aja. Kamu kelihatan capek banget."

Kata-kata sederhana itu membuat dada Emily berdesir aneh. Sudah lama sekali tak ada orang yang memandangnya sebagai manusia biasa tanpa motif tersembunyi.

"Makasih, Mei," ujar Emily lebih tulus kali ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Menjadi mahasiswi biasa di negeri orang ternyata menyimpan perjuangan fisiknya sendiri.

Emily harus membiasakan diri dengan pola hidup yang sangat disiplin. Setiap jam lima pagi, ia sudah bangun untuk memasak bekal makan siangnya sendiri demi menghemat pengeluaran. Setelah jam kuliah selesai pukul empat sore, Emily tidak langsung pulang ke apartemen. Ia bekerja paruh waktu sebagai asisten peneliti (research assistant) untuk seorang profesor analisis risiko keuangan di kampusnya.

Kerja keras itu kerap menyiksa fisiknya. Ada malam-malam di mana Emily berjalan pulang menuju apartemennya di bawah curahan hujan deras khas Kuala Lumpur. Hujan yang turun selalu mengingatkannya pada malam saat Sean menggenggam tangannya di dalam mobil dua tahun lalu.

Tiba di kamar yang dingin, Emily sering kali tersudut di lantai, memeluk lututnya sendiri sembari menahan lapar dan lelah yang luar biasa. Matanya kerap memerah, dan air mata yang ditahannya seharian akhirnya lolos juga.

"Aku kangen kamu, Sean..." isak Emily di tengah keheningan apartemennya.

Di saat-saat paling rapuh seperti itu, Emily akan membuka portal berita bisnis online dari Indonesia. Di sana, wajah Sean kerap muncul di sampul majalah finansial utama. Sean Anderson, CEO termuda dalam sejarah Anderson Group yang kini memimpin dengan tangan dingin. Di setiap foto, Sean selalu mengenakan setelan jas hitam kaku, dengan raut wajah yang membeku tanpa emosi.

Emily tahu persis, di balik penampilan Sean yang terlihat makin berkuasa dan tak tersentuh, cowok itu sedang membusuk di dalam sangkar emas yang diciptakan oleh pertunangan bisnisnya dengan Valerie.

"Tunggu aku sedikit lagi, Sean," bisik Emily sambil mengusap layar ponselnya yang menampilkan wajah Sean. "Aku nggak akan biarkan kamu menanggung penderitaan ini sendirian lebih lama lagi."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kehidupan Emily yang tenang sebagai maba yang tak terlihat mulai terusik di pertengahan semester pertama.

Dalam kelas mata kuliah Corporate Valuation, Dosen pengampu memberikan sebuah tugas kelompok besar: menganalisis laporan keuangan dan mencari celah kebangkrutan dari sebuah konsorsium perusahaan riil di Asia Tenggara.

Di depan kelas, sekelompok mahasiswa kaya asal Indonesia yang dipimpin oleh seorang cowok bernama Brandon, anak seorang pengusaha perkapalan di Jakarta tampak menyombongkan diri.

"Pak Dosen, kelompok kami mau ambil kasus Wijaya Group," ujar Brandon dengan gaya sombong, menyandarkan tubuh di kursinya. "Bapak tahu sendiri kan, Wijaya Group itu raksasa perhotelan dan properti di Indonesia. Saham mereka stabil banget dan nggak mungkin ada celah bangkrutnya. Tugas ini bakal gampang banget buat kami."

Beberapa mahasiswa di kelas mengangguk setuju, kagum dengan koneksi Brandon yang memang sering bergaul dengan anak-anak konglomerat Jakarta.

Namun di pojok belakang, Emily pelan-pelan mengangkat tangannya.

Seluruh isi kelas menoleh pada mahasiswi kacamata yang biasanya diam itu.

"Ya, Emily? Ada tanggapan?" tanya sang Dosen penasaran.

Emily berdiri perlahan. Suaranya tidak keras, namun nada bicaranya begitu tenang, jernih, dan tajam menyayat.

"Analisis Saudara Brandon salah besar," kata Emily datar. "Wijaya Group bukan perusahaan yang stabil. Kalau kita membedah laporan keuangan anak perusahaan mereka yang terdaftar di bursa saham Malaysia, Wijaya Resources Sdn Bhd, mereka memindahkan utang jatuh tempo sebesar empat ratus miliar rupiah ke skema offshore account di Shell Company."

Kelas mendadak hening seketika. Brandon membelalakkan matanya, wajahnya mendadak memerah karena terkejut sekaligus malu.

"Kamu tahu apa soal Wijaya Group, hah?!" bentak Brandon emosi. "Kamu cuma maba beasiswa yang nggak tahu apa-apa soal bisnis kelas atas! Jangan sok tahu!"

Emily menatap Brandon tanpa rasa takut sedikit pun. Tatapan matanya yang dingin membuat Brandon mendadak mengantupkan bibir.

"Saya tidak sok tahu," lanjut Emily santai. "Laporan audit internal mereka kuartal ketiga menunjukkan bahwa cadangan kas mereka hanya cukup untuk bertahan enam bulan ke depan. Jika ada satu investor saja yang menarik dana akuisisi mereka di bursa efek Kuala Lumpur besok pagi... Wijaya Group di Indonesia akan mengalami krisis likuiditas yang parah."

Sang Dosen melangkah mendekati meja Emily dengan mata berbinar kagum. "Luar biasa... Analisis risiko yang sangat mendalam, Emily. Bagaimana kamu bisa menemukan celah di laporan offshore itu?"

Emily menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius. "Saya hanya membaca apa yang berusaha mereka sembunyikan, Pak."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, kabar tentang kejeniusan Emily Valencia dalam membedah kelemahan Wijaya Group menyebar cepat di lingkungan Fakultas Ekonomi universitas tersebut.

Emily berjalan menyusuri trotoar kampus yang mulai sepi menuju halte bus. Namun, saat ia melintasi area taman yang remang, sebuah mobil sedan hitam mewah ber-pelat nomor diplomatik mendadak berhenti tepat di sampingnya.

Pintu belakang sedan itu terbuka.

Seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas ala bangsawan Eropa melangkah keluar. Pria itu memegang tongkat kayu berukir emas, memandang Emily dengan senyuman tipis yang sangat berkuasa.

Emily menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali wajah pria itu dari majalah-majalah bisnis internasional di Swiss.

Gabriel Vance. Pemilik utama Helios Capital Global.

"Analisis yang sangat mengesankan di kelas tadi siang, Miss Valencia," suara Gabriel mengalun berat dalam bahasa Inggris berkulit dingin.

Emily membetulkan posisi kacamatanya, tetap berdiri tegak meski dadanya bergemuruh. "Mr. Vance... apa yang membuat pria sekelas Anda terbang jauh-jauh dari Zurich hanya untuk menemui seorang mahasiswa baru di Kuala Lumpur?"

Gabriel terkekeh pelan, melangkah satu titik mendekati Emily. "Aku tidak pernah membuang waktu untuk hal kecil, Emily. Aku datang untuk menagih janji."

Gabriel merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah map hitam tebal berlogo khusus dan menyodorkannya pada Emily.

"Empat tahun kamu belajar di Swiss dan beberapa bulan kamu bersembunyi di kampus ini. Keterampilanmu sudah matang," ujar Gabriel dengan mata menyala oleh dendam lama. "Di dalam map ini ada dokumen penyertaan modal sebesar lima puluh juta dolar atas nama kamu di Helios Capital cabang Malaysia."

Emily menatap map hitam itu dengan pernapasan yang tertahan.

"Gunakan uang itu," bisik Gabriel tajam. "Beli seluruh saham anak perusahaan Wijaya Group di bursa Kuala Lumpur minggu ini, dan hancurkan benteng pertahanan pertama mereka. Ini saatnya kamu memulai serangan balasanmu, Emily."

Emily menatap map hitam di tangannya, lalu menatap lurus ke mata Gabriel. Ia tahu betul, menerima uang ini berarti ia resmi melangkah masuk ke dalam permainan berbahaya yang tak bisa ia tinggali lagi. Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk membongkar kejahatan Wijaya Group dan membebaskan Sean dari cengkeraman mereka.

Dengan jemari yang mantap, Emily menggenggam erat map hitam tersebut.

"Saya terima," tegas Emily.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!