**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar
Tatapan mereka kepada Kevin berubah tajam. Penuh kecurigaan. Semua tatapan langsung beralih kepada Kevin yang masih berdiri dengan wajah kebingungan.
“Jadi kamu yang mengikuti perempuan ini?” Salah seorang pria bertubuh gempal dengan aura kebapakan melangkah maju. Tatapannya tajam, penuh kemarahan.
“Oh, jadi kamu laki-laki mesum, ya?” tudingnya lantang.
“Bukan,” sanggah Kevin cepat. “Ini salah paham.” Namun penjelasannya tenggelam di tengah emosi yang telanjur membara.
“Masih berani mengelak!” Pria itu mendorong bahu Kevin dengan keras. Dalam hitungan detik, beberapa warga lain ikut mendekat.
“Bugh!”Sebuah pukulan menghantam wajah Kevin. Disusul pukulan lain. Lalu tendangan.
Kevin terhuyung, tetapi tidak melawan. Ia hanya mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala dan wajahnya. “Bugh! Bugh! Bugh!” Tubuhnya dihujani pukulan dari berbagai arah. Bibirnya kembali pecah, sudut matanya memar, dan darah mulai mengalir dari pelipisnya.
Haselyn berdiri terpaku. Amarah yang semula memenuhi dadanya perlahan bercampur dengan rasa gelisah.
Ia memang ingin Kevin pergi. Ia memang ingin pria itu berhenti mengikutinya. Tetapi melihat Kevin hanya diam menerima pukulan tanpa berusaha membalas membuat hatinya diliputi kebingungan.
Kenapa dia tidak melawan?
Kenapa dia tidak lari?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Kevin sudah nyaris tidak mampu berdiri ketika sebuah suara keras menggema di tengah kerumunan.
“Sudah cukup!” Suara itu membuat semua orang menoleh.
Pak RT berlari menghampiri dengan wajah tegang. “Berhenti! Jangan main hakim sendiri!”
Beberapa warga akhirnya mundur, meskipun napas mereka masih memburu karena emosi. Pak RT menatap Kevin yang babak belur, lalu mengedarkan pandangan kepada warga yang mengerumuninya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya dengan nada tegas.
Tatapannya berubah jengkel. “Kalian ini kenapa langsung memukul orang? Kalau memang ada masalah, laporkan baik-baik. Bukan menghakimi seperti ini.” Suasana yang semula ricuh perlahan berubah sunyi.
Hanya suara napas Kevin yang terdengar berat di tengah lingkaran warga yang kini saling berpandangan. Salah seorang warga yang ikut memukuli Kevin segera angkat bicara sambil menunjuk ke arahnya.
“Tadi adik ini bilang kalau dia terus diikuti orang itu, Pak. Makanya kami pukuli laki-laki mesum ini,” ucapnya dengan nada masih dipenuhi emosi.
Pak Rahmat, selaku ketua RT, mengangguk pelan. Ia kemudian berjalan mendekati Haselyn dengan wajah yang jauh lebih tenang. “Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanyanya lembut.
Haselyn mengangguk pelan, meski wajahnya masih tampak pucat. “Benar dia mengikuti kamu?” tanya Pak Rahmat sekali lagi.
Haselyn menundukkan kepala sejenak, lalu mengangguk. “Iya, Pak.”
Pak Rahmat mengembuskan napas berat. Tatapannya beralih kepada Kevin yang kini terduduk di pinggir jalan dengan wajah babak belur. “Kalau begitu, kita bawa dia ke kantor polisi saja,” putus Pak Rahmat tegas. “Biar diproses sesuai hukum.”
“Jangan, Pak!” Suara Haselyn terdengar begitu cepat hingga membuat semua orang menoleh kepadanya. Ia sendiri terkejut dengan reaksinya.
Entah mengapa, melihat Kevin dalam kondisi seperti itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Kebenciannya masih ada, tetapi ia tidak pernah membayangkan keadaan akan sejauh ini.
Pak Rahmat mengernyit bingung. “Loh, kenapa tidak boleh, Nak? Kalau memang dia mengganggu kamu, justru harus diproses. Jangan sampai dia melakukan hal yang sama kepada perempuan lain.”
Haselyn meremas jemarinya. Bibir bawahnya ia gigit pelan, sementara pikirannya berputar mencari jalan keluar. Jika Kevin dibawa ke kantor polisi, semuanya bisa menjadi rumit. Dan ia belum siap menghadapi semua itu.
Dengan napas yang tidak beraturan, Haselyn akhirnya berkata pelan, “Sebenarnya… dia pacar saya.” Suasana mendadak hening.
Mata Pak Rahmat membelalak. “Pacar kamu?”
Haselyn memejamkan mata sejenak. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya, tetapi hanya itu yang terpikirkan saat ini. “Iya, Pak,” jawabnya lirih.
Pak Rahmat menatap Haselyn dan Kevin bergantian dengan ekspresi semakin bingung. “Kalau dia pacar kamu,” katanya perlahan, “lalu kenapa kamu tadi berteriak minta tolong?”
Pertanyaan itu membuat Haselyn terdiam. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia tahu, mulai detik ini, ia harus mempertanggungjawabkan kebohongan yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Kami sedang bertengkar, Pak,” ucap Haselyn pelan. “Saya sudah minta putus, tapi dia terus mengikuti saya untuk meminta maaf.”
Pak Rahmat mengembuskan napas panjang sambil mengusap dahinya. “Astaga…”
Tatapannya beralih kepada Kevin yang masih terduduk di pinggir jalan dengan wajah babak belur. Darah di sudut bibirnya belum berhenti mengalir, sementara salah satu pelipisnya tampak memar.
“Ya sudah,” ujar Pak Rahmat akhirnya. “Bawa pacarnya ke rumah sakit dulu. Kasihan, wajahnya sudah babak belur seperti itu.”
Beberapa warga yang tadi memukul Kevin mulai saling berpandangan. Amarah mereka perlahan berubah menjadi rasa bersalah setelah mengetahui bahwa persoalan itu ternyata adalah masalah pribadi.
Kevin dibantu berdiri dan dibawa menuju mobil salah seorang warga. Haselyn hanya bisa berdiri terpaku sebelum akhirnya ikut menyusul ke rumah sakit.
Sebelum pergi, ia berkali-kali membungkukkan tubuhnya kepada Pak Rahmat. “Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf,” ucapnya penuh penyesalan.
Pak Rahmat mengangguk pelan. “Lain kali kalau sedang bertengkar, bicarakan baik-baik. Jangan sampai seperti ini.” Ia melirik Kevin yang sedang dibantu masuk ke dalam mobil. “Kasihan pacar kamu, sampai dipukuli begitu.”
“Dia bukan…” Haselyn baru saja hendak membantah ketika Pak Rahmat tersenyum tipis dan memotong ucapannya.
“Iya, iya. Kalian kan sedang bertengkar dan sudah putus, jadi sekarang bukan pacar kamu lagi.” Nada suaranya terdengar mengalah, seolah tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Haselyn hanya bisa terdiam. Kebohongan yang ia ciptakan beberapa menit lalu kini justru menyeretnya ke situasi yang semakin rumit.
Ia menoleh ke arah Kevin yang duduk lemah di dalam mobil dengan wajah penuh luka. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak dua minggu terakhir, kemarahan yang terus membakar dadanya mulai bercampur dengan rasa bersalah yang perlahan menggerogoti hatinya.
“Kalau begitu, Bapak pulang dulu. Sudah malam juga,” ujar Pak Rahmat sambil bersiap pergi. “Kamu urus pacarmu sampai sembuh, ya. Kasihan, gara-gara ulah kalian, wajah tampan pacarmu jadi babak belur begitu.”
Haselyn memaksakan senyum tipis. “Iya, Pak.”
Ia memilih mengiyakan saja. Semakin banyak ia membantah, semakin panjang pula urusan yang harus ia jelaskan.
Setelah seluruh administrasi selesai, Kevin dipindahkan ke ruang rawat kelas dua. Haselyn yang mengurus semua biayanya memilih kelas itu karena masih sesuai dengan tabungan yang ia miliki.
Meski hatinya terasa berat. Meski ada bagian dari dirinya yang tidak rela mengeluarkan uang untuk pria itu. Namun ia sadar, kejadian malam ini juga terjadi karena keputusannya meminta pertolongan warga.
Haselyn duduk diam di samping tempat tidur, memandangi wajah Kevin yang penuh luka. Pelipisnya diperban, bibirnya pecah, dan kedua tangannya juga dibalut perban akibat pukulan yang diterimanya.
Wajah yang dulu mungkin tampan itu kini nyaris tidak berbentuk. “Ah…” Kevin mengerang pelan saat kelopak matanya mulai terbuka. Ia mengedarkan pandangan perlahan, lalu menemukan Haselyn duduk beberapa langkah darinya.
“Sudah sadar?” ucap Haselyn datar. “Kalau sudah, hubungi keluargamu. Suruh mereka datang merawatmu. Aku harus pulang.”
Kevin menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng pelan. “Aku tidak bisa memberi tahu keluargaku.”
“Kenapa?” Haselyn heran kenapa Kevin tidak ingin mengabari keluarganya terkait Kevin yang harus di rawat di rumah sakit
“Aku tidak ingin mereka tahu tentang kejadian ini.” Ia mengembuskan napas pelan. “Kamu pulang saja. Aku tidak apa-apa di sini sendirian.”
Haselyn terdiam. Ia tahu Kevin sedang berbohong. Tidak mungkin seseorang yang babak belur seperti itu benar-benar baik-baik saja. Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. Kevin mengira Haselyn benar-benar akan pergi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Haselyn berjalan ke arah sofa di sudut ruangan, meletakkan tasnya, lalu merebahkan tubuh dengan wajah yang jelas menunjukkan keterpaksaan.
Kevin menatapnya bingung. “Kamu tidak jadi pulang?”
Haselyn memejamkan mata, enggan menatap Kevin. “Aku tidak ingin nanti perawat menemukanmu pingsan lagi karena tidak ada yang menjaga.” Jawabannya terdengar dingin. Seolah ia sedang menjaga orang asing. Bukan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya.
Kevin menatap Haselyn dalam diam. Ia tahu perempuan itu tetap membencinya. Namun fakta bahwa Haselyn memilih tinggal malam itu, meski dengan wajah penuh keterpaksaan, membuat dadanya dipenuhi perasaan yang sulit ia jelaskan.
Sementara Haselyn hanya memalingkan wajah ke arah lain. Ia tidak sedang memaafkan Kevin. Ia hanya tidak sanggup membiarkan seseorang terluka sendirian karena keputusan yang ia buat.