Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Karena kamu terlihat berantakan, Nayla.
SEMINGGU KEMUDIAN***
Restoran Garden, Jakarta
Ethan Spencer melangkah masuk ke ruang VIP restoran itu, tempat di mana ia telah menyepakati pertemuan dengan seseorang yang sama sekali tak ingin ia temui. Pria itu berdecak sinis saat melihat sosok yang telah menunggunya sejak tadi, duduk tenang di dalam ruangan.
"Mengajakku bertemu untuk apa? Cih, aku malas berlama-lama di sini. Katakanlah dengan cepat agar aku bisa segera pergi," ujar Ethan dengan nada angkuh. Ia duduk tepat di hadapan Nayla Atmaja, melipat kedua lengan di atas meja sambil menatap sinis penampilan gadis itu yang tampak seadanya dan tak terurus seperti biasanya.
Sungguh gadis yang tak menarik, sama sekali bukan tipenya.
"Soal rencana pernikahan kita, kita harus membicarakannya dengan serius sekarang," ujar Nayla tenang.
"Untuk apa membahas hal itu? Aku tetap tidak setuju. Sampai kapan pun aku takkan pernah sudi menyetujui rencana konyol keluargaku. Ah, sungguh keterlaluan haruskah aku menikah dengan gadis yang penampilannya seadanya begitu..."
"DIAMLAH!" potong Nayla tajam. "Aku baru saja berbicara sedikit, dan mulutmu sudah berisik seperti mobil tanpa rem, Tuan Spencer! Tidakkah kau sadar suaramu itu sungguh tak enak didengar?"
Ethan melotot garang. Baru kali ini dia bertemu perempuan yang berani memakinya seakan-akan ia tak berharga.
"Apa katamu?!"
"Aku akan melanjutkan rencana mereka. Kita tetap akan menikah. Tiga bulan lagi, sesuai dengan apa yang dikatakan ayahmu kemarin," tegas Nayla.
"APA?!"
Ethan nyaris melonjak kaget hingga rahangnya terasa lepas. Nayla segera menutup telinga mendengar suara cempreng itu yang terdengar sangat memekakkan telinga.
"Hei, apa maksudmu?! Aku TIDAK MAU menikah denganmu! Aish, sialan! Haruskah seumur hidupku memiliki istri yang bertingkah kasar seperti ini?!"
"Cih, pria menyebalkan! Kau pikir aku juga sudi? Jika bukan demi menjaga nama baik keluargamu dan keluargaku agar tidak dipermalukan..." Nayla seketika terdiam, menahan ucapannya. Hampir saja ia membocorkan alasan sesungguhnya—bahwa dia bersedia menikah demi menyelamatkan perusahaannya dari kehancuran. Jika pria kejam di hadapannya ini mengetahui hal itu, pasti ia akan semakin bersikap sombong dan angkuh.
"Demi apa? Katakanlah!"
"Tidak ada... demi menjaga kehormatan keluarga kita. Bukankah kedua orang tuamu sangat menginginkan aku menjadi menantu mereka?"
"Sialan!" Ethan kembali duduk dengan wajah merah padam menahan amarah. Benar juga kata ibunya—dua hari lalu ia dipaksa menjalani kencan buta dengan gadis berpenampilan seadanya ini, bahkan ibunya dengan antusias menunjuk butik pakaian untuk persiapan gaun pengantin mereka. Yang lebih membuatnya murka, ibunya bahkan sudah menentukan tanggal pemotretan pra-nikah.
Sungguh neraka baginya!
"AKU TIDAK SETUJU!" seru Ethan menatap tajam. "Aku lebih baik kehilangan nama baik keluargaku daripada dipaksa menjadi suamimu!"
Wajah Nayla memerah, namun ia tetap diam menahan diri. Ethan berdiri, merapikan jas hitamnya sambil tersenyum sinis penuh penghinaan.
"Kau itu hanya gadis yang penampilannya seadanya... ah, sudahlah. Aku bahkan meragukan apakah kau benar-benar seorang perempuan. Pakaianmu saja terlihat seperti preman. Bagaimana aku bisa mempertaruhkan nama baikku memiliki istri sepertimu? Simpan saja harapanmu itu."
Nayla meremas tangannya erat, menahan diri agar tak menyiram wajah pria yang terlalu memuja dirinya itu. Ethan berjalan pergi tanpa pamit sedikit pun.
"Ini terakhir kalinya kita bertemu, wanita aneh!" Nayla terpaku di tempat, tak mampu berkata-kata lagi.
"Apa?!!"
Stela dan Revo serentak berseru kaget, hingga Revo tersedak minuman cokelatnya. Mereka segera menutup mulut karena menyadari suara mereka menarik perhatian pengunjung lain. Setelah tenang, mereka kembali menatap sahabatnya yang baru saja melontarkan hal yang tak masuk akal.
"Kau serius mau menikah?" tanya Stela tak percaya.
"Dengan siapa?" tambah Revo sambil mengerjap heran. "Bukan dengan mantanmu itu kan?"
"Nayla, ini bukan bercanda kan? Lalu dengan siapa?" Stela kembali bertanya sambil meremas gelas minumannya cemas.
Nayla menarik napas panjang. "Aku serius. Aku akan menikah."
"Kau benar-benar akan menikah?!"
"Hei Revo, apa kau pikir aku bercanda begitu saja?" sahut Nayla kesal.
"Kau masih terlihat seperti anak kecil!" ejek Revo.
"Siapa anak kecil?!"
"Anak kecil yang tingkahnya suka lari-lari! Suka kabur dan bikin masalah"
"Ah, dasar menyebalkan!"
"Sudah... diamlah kalian! Kepalaku sudah pening mendengar pertengkaran kalian!" Nayla membentak kesal.
Revo melepas topinya, menatap serius wajah sahabatnya. "Baiklah, dengan siapa kau akan menikah? Apakah kakakmu menjodohkanmu lagi?"
Nayla menghela napas panjang. "Kau ingat pria yang kemarin aku bentak dan kutuk begitu hebat?"
"Pria yang bersama bang Marcus waktu itu dengan temennya ya, eum namanya Ethan kalau nggak salah? Bagaimana kabarnya?"
"Dia calon suamiku."
"APA?!!"
Stela dan Revo serentak melotot tak percaya. "Pria yang menghinamu dan menyebutmu wanita jadi-jadian dan penampilan berantakan itu?!"
"Iya..."
"Astaga... ini pasti balasan dari kutukan kamu sendiri kemarin..." Revo mengusap tengkuknya geli sekaligus tak habis pikir.
"Maksudmu balasan apa?" tanya Nayla bingung.
"Dia itu teman dekat bang Marcus, sepupunya. Kau pernah berselisih paham dengannya, dan sekarang malah dijodohkan dengannya begitu?" jelas Revo.
"Kau kenal dengan pria menyebalkan itu?" tanya Nayla kian heran.
"Tentu saja kenal. Dia sepupu dari Marcus."
"Jadi semakin rumit urusannya..." gumam Nayla pelan.
"Memang sudah rumit. bang Denis sendiri yang memohon padaku agar aku bersedia menerima perjodohan ini," keluh Nayla.
"Kalau begitu terima saja dulu. Setelah beberapa bulan kamu bisa minta cerai. Mudah bukan?" saran Revo santai.
Nayla mendengus kesal. "Kau pikir aku ini apa? Menikah lalu minta cerai sesuka hati?!"
"Maaf... aku hanya sekadar memberi saran saja," Revo tersenyum canggung.
"Dia juga menolak. Dia bahkan menghinaku dengan sebutan wanita aneh, wanita penampilan berantakan, dan meragukan apakah aku benar-benar perempuan. Dasar orang gila! Apa dia pikir dirinya begitu tampan? Wajahnya saja menyebalkan begitu!"
Stela dan Revo saling berpandangan sambil tersenyum, seakan memahami maksud dari sikap pria itu. "Kenapa kalian tersenyum begitu? Menatapku tak jelas begitu?" tanya Nayla kesal.
Revo terkekeh sambil menggaruk kepalanya. "Mungkin maksudnya penampilanmu memang terlihat sedikit... unik, jadi dia ragu apakah kamu perempuan sungguhan atau bukan," ujarnya sambil menahan tawa
"Yak Revo!!" teriak Nayla kesal setengah mati