Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
Paginya, saat udara dingin menyelimuti kediaman megah keluarga Ziko. Tanpa menyadari tiga lembar kertas analisis rahasia yang telah diselipkan Mahira di dalam tas kerjanya, Ziko berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Pria itu menyambar tasnya begitu saja tanpa sepatah kata pun menyapa sang istri. Sementara itu, rumah megah berarsitektur modern tersebut sudah disibukkan oleh rentetan perintah Bu Rani yang tak berhati nurani.
"Mahira! Cepat tata buah-buahan ini di piring kristal! Jam sepuluh teman-teman arisan sosialita saya mau datang!" perintah Bu Rani dengan suara melengking keras dari lorong dapur. "Awas ya kalau ada makanan yang tidak enak atau sajian yang terlambat. Kamu bikin malu saya di depan teman-teman, saya coret nama kamu dari rumah ini dan saya suruh Ziko ceraikan kamu sekalian!"
Mahira menurut tanpa membantah. Sejak pukul lima pagi, tatkala mentari belum sepenuhnya terbit, ia sudah bergulat di dapur. Jemarinya yang halus telah membuat puluhan kue basah tradisional hingga pastry modern, menyeduh teh melati berkualitas tinggi, serta menata ruang tamu utama agar terlihat mengkilap dan sempurna. Semua tugas berat itu ia selesaikan sendirian tanpa bantuan asisten rumah tangga satu pun.
Pukul sepuluh tepat, deru mobil-mobil mewah terdengar berhenti di halaman depan. Gelak tawa nyaring dan riuh merambat masuk saat pintu jati terbuka. Bu Rani menyambut lima orang wanita paruh baya berpenampilan mencolok dengan pakaian branded, tas kulit impor puluhan juta, serta perhiasan emas dan berlian yang menyilaukan mata.
"Duh, Rani... Rumahmu bagus sekali ya. Bersih sekali lantainya, kinclong seperti marmer istana," puji salah satu temannya, Bu Siska, seraya menghempaskan tubuhnya yang berbalut gaun sutra ke sofa empuk.
"Tentu saja, rumah harus selalu mengkilap," sahut Bu Rani bangga, menepuk dada dengan angkuh. Lalu ia berbalik dan berteriak ke arah dapur dengan nada persis seperti memanggil seorang pelayan murah. "Hira! Keluarkan minumannya! Lambat sekali kamu. Dasar lelet!"
Mahira keluar dari dapur membawa nampan kayu besar berisi cangkir-cangkir porselen dan piring kue yang disusun rapi. Ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana, atasan kaos polos yang sedikit melar dan rok kain yang agak kusam karena memang tak pernah dibelikan pakaian baru oleh Ziko maupun Bu Rani. Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan ruang tamu itu.
Saat Mahira membungkuk dan menyajikan teh satu per satu di meja kaca, teman-teman Bu Rani memperhatikan penampilan Mahira dari atas sampai bawah dengan pandangan aneh dan tatapan merendahkan.
"Rani, ini... pembantu barumu ya? Kok tidak pakai seragam khusus?" tanya Bu Siska polos, memicu senyum penuh ejekan di wajah tamu lainnya.
Bu Rani tertawa sinis, menyilangkan kakinya dengan angkuh di atas sofa. "Pembantu? Bukan, Jeng. Ini istrinya Ziko."
Sontak para wanita sosialita itu saling berpandangan dengan wajah terkejut, lalu tertawa kecil sembari menutupi mulut mereka menggunakan kipas tangan dan jemari berhias cincin.
"Astaga, Rani! Ini mantumu?" timpal Bu Yanti terheran-heran. "Kok penampilannya kusam dan dekil sekali? Beda jauh sama Ziko yang rapi, tampan, dan necis. Katanya Ziko pengusaha sukses yang wara-wiri di koran bisnis, kok istrinya seperti orang baru pulang dari pasar begini?"
"Ya mau bagaimana lagi, Jeng Yanti," ujar Bu Rani dengan suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar jelas oleh Mahira yang masih berlutut menata cangkir. "Dulu Ziko itu salah pilih. Dia cuma kasihan saja sama wanita ini. Dulu dibawa dari kampung, tidak punya latar belakang keluarga terpandang, tidak berpendidikan tinggi, dan yang paling parah... sampai sekarang pun tidak bisa kasih Ziko keturunan. Jadi ya di rumah ini tugasnya memang cuma mengurus rumah dan melayani kita. Hitung-hitung tahu diri karena sudah dibiayai hidupnya!"
Hati Mahira rasanya seperti dihantam batu besar yang hancur berkeping-keping. Tangan Mahira yang memegang nampan gemetar pelan, menahan dentum amarah dan rasa perih yang begitu menikam. Ia berdiri kaku di samping meja, dipermalukan secara terang-terangan di hadapan orang luar oleh ibu mertuanya sendiri demi memuaskan rasa gengsi sosialita palsu.
"Hira! Kenapa malah berdiri melamun seperti patung di situ?" tegur Bu Rani galak, menatap menantunya dengan mata mendelik. "Pijit kaki saya! Tadi pagi saya pegal-pegal gara-gara mengawasi kamu kerja yang lelet itu!"
Bu Siska dan teman-temannya saling berbisik sambil tersenyum mengejek, menikmati pemandangan Mahira yang diperlakukan tak lebih dari seorang budak di rumah suaminya sendiri.
Mahira menarik napas panjang. Tatapan matanya yang biasa teduh kini memancarkan aura dingin yang membekukan. Ia meletakkan nampan kayu di atas meja kecil dengan sedikit hentakan yang tegas.
"Bu, tugas saya menyajikan teh dan kue sudah selesai. Saya mau permisi ke belakang," ucap Mahira mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. Suaranya terdengar bergetar, namun menyimpan ketegasan dan martabat yang tak bisa digoyahkan.
"Kurang ajar kamu ya! Berani melawan dan menolak perintah di depan teman-teman saya." Bu Rani berdiri murka dengan wajah memerah padam, tangannya terangkat tinggi di udara hendak melayangkan tamparan keras ke wajah Mahira.
Namun, tepat sebelum telapak tangan Bu Rani mendarat di pipi Mahira, suara nada dering telepon genggam di atas meja membahana nyaring. Nama Ziko tertera jelas di layarnya. Bu Rani seketika menghentikan tangannya. Ia menghembuskan napas gusar, lalu segera mengangkat panggilan itu dan memasang mode speaker agar bisa memamerkan kehebatan putranya di depan rombongan arisan.
"Halo, Ziko sayang! Bagaimana rapat lima puluh miliarmu? Lancar, Nak? Sudah kamu marahi tim tidak becusmu itu?" tanya Bu Rani dengan nada penuh percaya diri.
Dari balik speaker telepon, suara Ziko terdengar sangat gemetar, campur aduk antara kaget, takjub, dan kelegaan yang luar biasa hingga suaranya serak.
"Bu... Perusahaan Ziko selamat! Rapat direksi sukses besar!" teriak Ziko dari seberang telepon, hampir menangis karena kegirangan. "Tadi pagi ada dokumen analisis ajaib yang terselip rapi di tas Ziko. Analisisnya sangat jenius, Bu. Pemetaan risikonya sempurna sampai investor asing langsung menandatangani kontrak investasi seratus miliar rupiah seketika."
Bu Rani melotot kaget, disusul sorak-sorai gembira dari para tamu sosialitanya. "Luar biasa! Seratus miliar, Ziko? Siapa yang kasih dokumen ajaib itu, Nak? Pasti kenalan pengusaha kaya atau kolega hebat kamu, kan?"
"Ziko belum tahu pasti, Bu. Tapi tulisan tangan di kertas itu sangat berkelas dan profesional sekali. Nanti malam Ziko pulang untuk syukuran," jawab Ziko dengan nada congkak dan euforia yang membumbung tinggi.
Di sudut ruang tamu, Mahira berdiri mematung dalam hening. Senyum tipis yang amat dingin, misterius, dan penuh kepahitan terukir di bibirnya yang pucat. Ia menatap ibu mertua dan para tamu yang sedang bersorak-sorai mengagumi "kemenangan ajaib" Ziko.
Mereka sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang baru saja mereka injak-injak, mereka sebut dekil, dan mereka permalukan sebagai "pelayan tak berguna" itulah sosok jenius di balik layar yang baru saja menyelamatkan hidup anak kebanggaan mereka dengan nilai seratus miliar rupiah.