NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Pandang yang Berubah

Ketegangan yang tertahan di antara mereka berlanjut hingga hari kerja berikutnya di Rumah Sakit Medika Adiwijaya. Di koridor rumah sakit, mereka benar-benar tampil sebagai dua orang asing yang profesional. Jika berpapasan, mereka hanya saling mengangguk formal, membuat para perawat mengira bahwa desas-desus kedekatan mereka hanyalah gosip bisnis belaka. Nayla merasa lega karena Narendra benar-benar menepati janjinya untuk menjaga jarak. Namun, sebuah kejadian di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) pada hari Selasa sore mengubah segalanya.

Suasana di dalam ruang intensif anak itu mendadak mencekam ketika monitor hemodinamik salah satu pasien anak perempuan berusia enam tahun berbunyi darurat. Pasien tersebut baru saja menjalani operasi rekonstruksi katup jantung kompleks kemarin. Nayla berdiri di samping brankar dengan wajah tegang, sibuk memeriksa saluran pernapasan dan ventilator karena ada indikasi penumpukan cairan di rongga dada yang membuat saturasi oksigen anak itu terus merosot hingga angka delapan puluh delapan.

Pintu kaca otomatis PICU terbuka dengan desisan pelan, dan dr. Narendra masuk dengan jubah steril hijaunya setelah dihubungi oleh dokter residen yang panik.

Melihat kedatangan Narendra, rasa kesal lama Nayla tentang kebijakan pemotongan anggaran bangsal anak mendadak naik ke permukaan. Ia langsung menghadang langkah Narendra sebelum pria itu mendekati brankar pasien.

"Dokter Narendra, Anda memotong anggaran renovasi halaman bermain terapeutik kami demi efisiensi alat robotic surgery baru Anda yang mahal. Dan sekarang lihat, pasien anak ini mengalami distres pasca-operasi karena lingkungan intensif yang terlalu kaku dan menakutkan bagi usianya. Pendekatan klinis Anda terlalu dingin dan mekanis!" protes Nayla dengan suara tertahan namun tajam, meluapkan seluruh kekesalannya di depan beberapa residen yang langsung mematung ketakutan. Mereka mengira sang putra mahkota yang terkenal kejam akan mengamuk detik itu juga.

Namun, Narendra tidak membalas tuduhan itu dengan bentakan. Pria itu hanya menatap mata Nayla dengan ketenangan yang dalam selama dua detik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah melewati tubuh Nayla, langsung mengambil rekam medis pasien dan memakai stetoskopnya.

Nayla memperhatikan dengan saksama. Tangan kekar Narendra yang biasanya mengintimidasi, kini bergerak dengan kehati-hatian yang luar biasa lembut saat melakukan auskultasi pada dada kecil anak perempuan itu. Pria itu bahkan sempat mengusap kening sang anak dengan ibu jarinya, menenangkan pasien kecil itu yang mulai gelisah. Sentuhan itu begitu hangat, bertolak belakang dengan tuduhan "dingin" yang baru saja dilontarkan Nayla.

Dengan instruksi yang sangat taktis dan presisi, Narendra melakukan penyesuaian minor pada parameter ventilator dan memberikan terapi diuretik darurat. Dalam waktu lima belas menit yang menegangkan, monitor kembali stabil. Angka saturasi merangkak naik ke sembilan puluh tujuh persen, dan napas anak itu kembali teratur.

Narendra meletakkan stetoskopnya, lalu melirik Nayla. "Ikut saya ke koridor luar," ucapnya rendah.

Nayla mengekor di belakang Narendra menuju lorong sepi di samping ruang PICU. Jantungnya berdegup kencang, bersiap untuk menerima teguran keras karena telah mengkritik konsulen senior di depan residen.

Narendra bersandar di dinding lorong, melipat tangan di depan dada sambil menatap Nayla yang sedang berdiri dengan sisa-sisa pertahanannya.

"Tuduhan kamu tentang pemotongan anggaran itu tidak salah, Dokter Nayla," ucap Narendra tenang, suaranya terdengar berat di lorong yang sunyi. "Tapi ada satu sudut pandang yang tidak kamu lihat. Saya bersikeras memprioritaskan teknologi robotic surgery baru itu karena dengan alat tersebut, waktu operasi toraks anak-anak dengan kasus darurat bisa dipangkas hingga setengahnya. Risiko pendarahan dan infeksi pasca-operasi bisa ditekan sampai tingkat minimal. Itu adalah cara saya untuk memastikan mereka bisa bertahan hidup di atas meja bedah agar bisa kembali ke bangsal kamu dengan selamat."

Nayla tertegun. Kalimat Narendra menghantam kesadarannya dengan telak. Rasa bersalah langsung menjalar di dadanya. Selama ini ego dan prasangka buruknya telah membutakan matanya; ia mengira Narendra hanya peduli pada reputasi departemen bedah, tanpa tahu bahwa pria ini memikirkan keselamatan pasien anak dengan cara yang jauh lebih krusial.

"Lalu... soal taman bermain itu?" tanya Nayla lirih, suaranya mencicit kecil. Untuk pertama kalinya, benteng ketusnya runtuh total.

Narendra menegakkan tubuhnya, melangkah satu blok lebih dekat namun tetap menghormati batas dengan tidak menyentuh fisik Nayla. "Saya sudah menandatangani dokumen pengalihan dana pribadi dari yayasan keluarga Adiwijaya kemarin sore. Proyek renovasi halaman bermain terapeutik kamu akan tetap berjalan penuh dengan dana itu, tanpa memotong anggaran medis mana pun."

Nayla membelalakkan matanya, kehilangan kata-kata. "Naren... kamu... kenapa melakukan itu?" Untuk pertama kalinya, dalam kondisi syok, Nayla lupa menggunakan gelar formal pria itu. Narendra menatap lurus ke dalam sepasang mata Nayla, tatapannya kini melunak, memancarkan ketulusan yang murni tanpa topeng dingin lagi. "Karena saya serius dengan hubungan ini, Nayla. Ini bukan lagi sekadar formalitas bisnis untuk menyelamatkan kontrak orang tua kita. Saya ingin menunjukkan kepada kamu, dengan tindakan nyata, bahwa saya adalah pria yang bisa kamu percayai. Baik sebagai rekan sejawat di rumah sakit ini, maupun sebagai seseorang yang... benar-benar ingin bersanding dengan kamu di masa depan."

Narendra memberikan satu anggukan kecil yang sopan, lalu berbalik dan berjalan menjauh menelusuri koridor. Nayla tetap membeku di tempatnya, menatap punggung tegap pria itu yang perlahan menghilang di belokan lorong. Rasa benci, kesal, dan gengsi yang selama sebulan ini ia pelihara dengan ketat, mendadak runtuh tak bersisa malam itu, digantikan oleh debaran asing yang luar biasa kencang dan manis di dalam dadanya. Pria sedingin es itu baru saja menaklukkan hatinya dengan cara yang paling terhormat.

1
tata
thor up nya jangan lama²+ banyakin ya 🤭
Macyooo: Wkwkwk, terima kasih sudah mampir friends😚
total 1 replies
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak friends
Macyooo
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends
Macyooo
Haloooo Friendsss!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, happy reading 😍😍
Macyooo
Halooo friendsss!!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, yang punya kritik dan saran boleh nihh disampaikan🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!