Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Satu minggu telah melarutkan ketegangan yang sempat membeku di koridor sekolah. Waktu berjalan seperti detak jarum jam yang konstan, perlahan namun pasti membawa perubahan pada dinamika mereka.
Bumi dan Aery kini bergerak dalam ritme yang semakin selaras. Kedekatan mereka bertumbuh tanpa banyak suara, seperti tunas yang tumbuh di sela batu. Tenang, namun nyata. Mereka sering terlihat bertukar buku di koridor atau sekadar duduk bersama di kereta senja saat pulang sekolah.
Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi Jasver. Hubungannya dengan Aery masih tertahan di zona abu-abu. Mereka tidak lagi saling melempar tatapan permusuhan seperti hari pertama, tapi kecanggungan tebal masih membentang di antara keduanya. Setiap kali berpapasan, Jasver hanya mampu melempar senyum kaku sekaku papan gilasan, sementara Aery membalas dengan anggukan super hemat yang membuat Jasver selalu buru-buru mengecek resleting tasnya.
"Gue bilang juga apa, Ver. Muka lo tuh emang muka-muka pembawa trauma buat dia," ledek Ren siang itu saat mereka bertiga berjalan menuju kantin.
"Diem lo, Ren. Yang penting Clara ngga tau apa-apa," sahut Jasver ketus.
Langkah kaki trio itu terhenti tepat di pembatas antara lapangan tengah dan koridor kantin. Suasana siang yang terik itu mendadak dipecahkan oleh sebuah lengkingan suara yang sangat familier bagi mereka, sekaligus seruan heboh dari arah berlawanan.
"AERY!!! YA AMPUN BESTIE KESAYANGAN GUEE!"
Seorang siswi dengan seragam yang sedikit berantakan dan rambut potongan wolf-cut pendek tampak berlari kencang dari arah ruang piket. Di pundaknya bertengger sebuah tas olahraga besar, dan kulitnya terlihat sedikit lebih eksotis dari biasanya.
Gadis itu adalah Farah. Dia baru saja menginjakkan kakinya kembali ke SMA Astra Nova setelah lima hari penuh berjuang di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional cabang karate tingkat provinsi.
Aery yang sedang berjalan membawa binder dari arah kelas X-A langsung menoleh. Matanya yang biasa sedatar air telaga mendadak berbinar cerah. "Farah?!"
Bruk!
Farah langsung menerjang Aery dengan pelukan erat yang hampir membuat binder Aery terlempar. "Gila, Ry! Gue kangen banget sama lo! Lima hari di hotel karantina rasanya kayak di penjara, ngga ada temen ghibah yang sefrekuensi!" cerocos Farah dengan suara cempreng khas cewek tomboy.
"Selamat ya atas medalinya," ucap Aery sambil terkekeh geli, menepuk-nepuk punggung Farah yang tertutup jaket kontingen.
Di seberang lapangan, tiga pasang mata melotot sempurna. "Loh? Itu kan... si Farah? Kok dia udah balik?" Ren menunjuk dengan telunjuknya yang gemetaran.
"Ya iyalah, Ren! Kan dia lombanya cuma lima hari," ujar Jasver, otaknya mendadak loading. "Tunggu... dia... kok bisa seakrab itu sama Aery?"
Bumi tidak bersuara, namun seulas senyum tipis penuh arti terbit di wajahnya. "Dunia ternyata sesempit itu."
Farah yang sedang melepas pelukannya dari Aery mendadak menangkap siluet tiga cowok jangkung yang sedang mematung di pinggir lapangan. Mata elang Farah langsung mengenali mereka.
"WEH! TRIO CURUT!" teriak Farah tanpa urat malu, melambaikan tangannya heboh ke arah Jasver, Ren, dan Bumi. Dia langsung menarik lengan Aery untuk ikut melangkah menghampiri ketiga cowok itu. "Ry, kebetulan banget! Sini, gue mau kenalin lo sama temen-temen les gue yang otaknya agak gesrek!"
Aery hanya pasrah ditarik oleh Farah. Namun, begitu langkah mereka semakin dekat dan Aery menyadari siapa "temen les" yang dimaksud Farah, langkahnya sempat tertahan. Mata Aery bertemu dengan mata Bumi, lalu beralih ke Jasver yang sudah memasang wajah super canggung.
"Kalian ngapain berdiri di situ kayak manekin toko baju?" tegur Farah blak-blakan begitu sampai di depan mereka.
"Sialan lo, Far. Baru balik lomba langsung ngajak gelut," gerutu Ren, tapi tangannya tetap terulur untuk melakukan fist bump ala cowok dengan Farah. "Selamat ya, atas kemenangan medali perak!"
"Yo, thanks!" balas Farah bangga. Dia lalu menepuk pundak Aery dengan keras hingga Aery sedikit terhuyung. "Oh iya, kenalin. Ini Aery, sahabat sejati gue sejak zaman SMP, tetangga sebelah rumah gue, sekaligus belahan jiwa gue!"
Jasver menelan ludah dengan susah payah. Sahabat SMP? Tetangga sebelah rumah?! batinnya menjerit. Mati gue. Kalau si Farah sampai tahu cerita dari Aery, rahasia gue bisa digoreng jadi konsumsi publik di tempat les!
"Kita udah saling kenal kok, Far," ucap Bumi tenang, memecah keheningan yang mulai merayap diantara Jasver dan Aery.
Farah mengerjap, matanya bolak-balik menatap Bumi dan Aery dengan pandangan menyelidik. "Hah? Serius lo, Bum? Sejak kapan si cewek kuper ini bisa kenal sama lo?"
"Tepatnya seminggu yang lalu," sahut Aery datar, melirik Jasver dengan sudut matanya yang berkilat jail. "Gara-gara ada cowok ceroboh yang buat masalah di sekolah."
Jasver langsung memalingkan wajahnya ke arah langit-langit koridor, mendadak sangat tertarik menghitung jumlah lampu yang mati di sana, sementara Ren mati-matian menggigit bibir bawahnya agar tawa ngakaknya tidak meledak di depan Farah yang mulai menaruh curiga.
♧♧♧
Bel istirahat pertama baru saja berdentang nyaring. Aery baru selesai memasukkan alat tulisnya ke dalam tas ketika sebuah ketukan bertubi-tubi di pintu kelas X-A mengalihkan perhatian anak-anak kelas.
Di sana, berdiri Farah dengan gaya berdirinya yang santai, menyandarkan bahunya ke bingkai pintu sambil melipat tangan. Begitu matanya menemukan Aery, senyum lebar khasnya langsung mengembang.
"Aery! Ke kantin kuyy! Gue laper banget nih belum sarapan!" seru Farah tanpa peduli dipandang heran oleh beberapa anak kelas Aery.
Aery hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat masa putih birunya itu, lalu berjalan menghampiri Farah. "Suara lo bisa dikecilin dikit ngga, Far?"
"Hehe, maap. Yuk!" Farah merangkul bahu Aery santai, lalu menariknya menyusuri koridor lantai satu.
Baru beberapa meter melangkah mendekati belokan tangga, dari arah berlawanan muncul Jasver, Ren, dan Bumi yang sedang asyik mengobrol. Jasver yang tadinya sedang tertawa lepas mendadak langsung membeku di tempat begitu matanya menangkap sosok Farah dan Aery.
"WOY! TRIO CURUT!" teriak Farah heboh, melambaikan tangan tanpa ragu. "Mau ke kantin juga, kan? Pas banget, bareng kuyy!"
"GASS!!" seru Ren sedikit melompat tanpa sadar.
Atmosfer kantin siang itu cukup bising. Beruntung, mereka masih mendapat satu meja panjang kosong di pojok dekat pepohonan. Farah dan Ren langsung menawarkan diri untuk memesan makanan, meninggalkan Bumi, Aery, dan Jasver di meja.
Jasver yang merasa atmosfernya terlalu canggung bagi jiwa penakutnya, akhirnya menyusul Ren untuk membeli es teh. Kini, tinggal Bumi dan Aery yang duduk berhadapan.
Bumi melirik Aery yang sedang berusaha merapikan kucir ekor kudanya yang agak melonggar akibat ditarik-tarik Farah tadi. Beberapa helai anak rambut Aery tampak menjuntai berantakan di sekitar dahi dan pelipisnya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Bumi menjangkau tangan kanannya ke depan.
Jemari Bumi yang hangat dan panjang dengan sangat lembut menyelipkan beberapa helai anak rambut Aery yang berantakan itu ke belakang daun telinga gadis itu. Gerakannya begitu natural, tenang, dan sangat hati-hati, seolah-olah Aery adalah barang antik yang mudah pecah.
Aery mematung seketika. Sentuhan singkat jemari Bumi di dekat telinganya membuat napas gadis itu tertahan beberapa detik. Pipinya yang biasanya pucat, merona merah dalam sekejap. Dia menatap Bumi dengan mata sedikit membelalak.
"Rambut kamu agak berantakan tadi," ucap Bumi santai, menyunggingkan senyum tipis yang sangat tulus tanpa rasa canggung sedikit pun, lalu kembali menarik tangannya.
Aery refleks memegang daun telinganya yang terasa panas, lalu menunduk dalam-dalam sambil bergumam pelan, "M-makasih, Bumi..."
Mata tajam Farah yang terlatih sebagai atlet karate tak sengaja menangkap seluruh pemandangan itu dari kejauhan. Mulai dari gerakan tangan Bumi yang mengusap lembut rambut Aery, wajah Bumi yang begitu teduh, hingga meronanya pipi Aery yang sangat langka terjadi.
Bentar... Apa yang baru saja terjadi? Gue... ngga salah liat, kan? Aery sahabat gue yang dingin kayak es batu itu... dan Bumi yang biasanya lempeng banget kalau sama cewek... Mereka... ARGHH!! LUCUU BANGETT SIALL!! batin Farah berteriak heboh.
Namun, alih-alih langsung memergoki atau berteriak heboh seperti biasanya, Farah memilih menahan diri. Dia memicingkan matanya, mengunci rapat mulutnya, lalu menyunggingkan senyum miring penuh arti yang disimpannya rapat-rapat di dalam hati.
"Nih mie ayam lo, Ry!" ujar Farah santai begitu meletakkan mangkuk di depan Aery, berpura-pura tidak melihat apa-apa, meskipun matanya sesekali melirik Bumi dan Aery bergantian dengan tatapan 'gue-tau-rahasia-kalian'.
Jasver yang baru kembali membawa minuman sama sekali tidak menyadari gejolak manis yang baru saja terjadi di mejanya. Sementara Bumi tetap menikmati es jeruknya dengan tenang, tidak sadar bahwa radar seorang Farah baru saja merekam momen berharga itu.
"Sumpah ya, beneran deh, dapet medali perak aja gue serasa habis tarung lawan naga," buka Farah heboh sambil menusuk baksonya dengan garpu. "Musuh gue di final dari SMA Galaxy, badannya kekar amat buset, udah kayak petarung WWE!"
"Tapi lo bisa nahan sampai babak akhir, kan?" tanya Bumi, menyendokkan sambal ke mangkuk baksonya dengan gerakan santai.
"Bisa lah! Kalau ngga nahan, bisa remuk tulang rusuk gue," kekeh Farah. Dia lalu melirik Aery yang dari tadi masih sibuk mengaduk-aduk es tehnya dengan sedotan, mukanya masih agak merona tipis. Farah menyenggol lengan Aery pakai sikunya. "Nih cewek satu juga ngga ada nanya-nanyanya sama gue. Biasanya lo paling kepo kalau gue selesai tanding, Ry."
Aery tersentak kecil dari lamunannya, refleks memegang gelas es tehnya lebih erat. "E-eh? Nanya kok... tadi kan udah ngucapin selamat."
Ren yang sedang mengunyah kerupuk langsung menatap Aery heran. "Lah, si Aery kenapa dah? Kok kayak orang gagap gitu? Muka lo agak merah, Ry. Kepanasan kah habis liat setan kantin?"
"Ngga," potong Aery cepat, suaranya berusaha dibikin sedatar mungkin walau matanya melirik Bumi sekilas. "Cuma... kantinnya emang panas."
Jasver yang merasa 'aman' karena obrolan tidak membahas soal kejadian salah rangkul di depan sekolah, ikut-ikutan menimpali sambil membusungkan dada sok keren. "Halah, baru panas gini aja melilit. Makanya Ry, latihan ketahanan fisik kayak gue dong. Gue mah mau panas kayak gimana juga tetep adem."
Farah langsung memutar matanya malas menatap Jasver. "Halah, pret! Lo adem apaan, orang tadi pagi pas di koridor muka lo udah kayak kerupuk kesiram kuah bakso... pucat kuyu gitu!"
Jasver refleks tersedak es tehnya sendiri. "Uhuk! Woi, Far! Ngga usah bawa-bawa muka gue kenapa sih!"
"Lah, kan emang kenyataan!" ledek Farah. Matanya lalu melirik Bumi yang sedang terkekeh pelan sambil menggeser tempat tisu ke dekat Aery tanpa bersuara.
Farah yang dari tadi menyimpan rahasia manis antara Bumi dan Aery cuma bisa senyum-senyum tahan tawa. Duh, nih dua manusia halus banget mainnya, sedangkan si dua bego lainnya kagak peka samsek, batin Farah gemas sendiri.
"Btw, Bum," panggil Farah dengan nada sengaja dikencangkan. "Nanti sore lo balik naik kereta jam berapa?"
"Jam empat lewat lima belas, biasanya," jawab Bumi tenang. "Kenapa, Far?"
"Ngga apa-apa, nanya aja," sahut Farah dengan cengiran penuh arti. Dia lalu menyikut Aery lagi. "Ry, lo balik jam segitu juga kan?"
Aery mengangguk. "Kenapa emangnya?"
Senyum Farah melebar. "Nanti titip Bumi ya, Ry. Dan pastikan kalian ngga pulang larut malam," bisik Farah yang langsung dihadiahi tendangan pelan dari Aery di bawah meja.
"Aduh! Sakit, Ry!" ringis Farah sambil tertawa puas.
Ren menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi mereka. "Gue bingung deh. Ini si Farah baru balik tapi suasana kantin rasanya kayak habis kedatangan rombongan sirkus."
"Tapi seru, kan?" sahut Jasver, lalu menatap Bumi dan Farah bergantian. "Yaudah, nanti sore kita balik barengan aja ke stasiunnya! Berlima kan makin rame!"
Mendengar ajakan Jasver, Farah langsung menepuk jidatnya sendiri. Duh, Jasver... polos atau bego sih? Orang mah biarin Bumi sama Aery jalan berdua, malah diajakin rombongan! gerutu Farah dalam hati.
"Gue ngga bisa," potong Farah cepat demi menyelamatkan momen Aery dan Bumi nanti sore. "Gue ada evaluasi sama pelatih sampai jam lima. Ren, lo mau nungguin gue ngga?"
"Ogah amat nungguin lo enam puluh menit," tolak Ren mentah-mentah. "Gue mau langsung mabar di rumah Jasver."
"Nah, cakep!" seru Farah sambil melirik Bumi dan Aery, melemparkan kode 'tugas-gue-selesai'. "Berarti nanti sore yang naik kereta jam empat-an cuma Aery sama Bumi doang kan? Sip, aman. Bum, titip Aery ya!"
Bumi hanya tersenyum tipis, paham betul kemana arah pembicaraan Farah, lalu menatap Aery yang kini berpura-pura sibuk memakan mie ayamnya. "Nanti aku tunggu di gerbang perpus ya, Ry," ucap Bumi pelan.
Aery hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban.