SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
...
Seminggu sudah Aira menginvasi apartemen mewah milik Gala. Tujuh hari penuh diisi dengan senam jantung, dan daster batik Tanah Abang yang dimodifikasi sedemikian rupa. Gala pikir dia sudah mulai terbiasa dengan taktik nakal Yaya. Dia pikir benteng pertahanannya aman.
Sampai hari itu, di hari kedelapan, sebuah mobil sport putih yang suaranya tak kalah bising dari motor balap berhenti tepat di depan lobi apartemen.
Dari dalam apartemen, Gala yang sedang bersiap ke lokasi syuting mengernyit tajam melihat Yaya keluar kamar tidak menggunakan seragam daster sapinya. Hari ini Yaya luar biasa cantik. Dia memakai crop top putih dilapisi jaket denim, jins mini yang memperlihatkan kaki jenjangnya, dan aroma stroberi yang merebak ke seluruh ruangan.
Tiiit! HP Yaya berbunyi. Sebuah chat masuk.
"Om, Yaya berangkat kampus dulu ya," pamit Yaya santai sambil memakai sepatunya.
Gala melangkah ke jendela balkon, mata elangnya menangkap sosok cowok tinggi, modis, dan berwajah tampan—spek brand ambassador internasional—sedang bersandar di kap mobil putih bawah sambil melambaikan tangan ke arah balkon. Cowok itu bernama Zion. Teman sekelas Yaya di kampus. Dan yang pasti, dia kaya raya.
Gala berbalik, tatapannya mendadak sedingin es batuan kutub utara. "Siapa cowok di bawah, Yaya? Jemput kamu sampai ke depan lobi segala?" tanya Gala dengan suara baritonnya yang ditekan, mencoba menahan gemuruh aneh di dadanya.
Yaya menghentikan gerakannya, senyum miring andalannya langsung mengembang sempurna begitu melihat rahang Gala yang mengeras. Umpan baru siap dilempar.
"Oh, itu Zion, Om. Temen sekelas Yaya di kampus," jawab Yaya dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin. Dia melangkah mendekati Gala, menatap mata sang aktor dengan berani. "Dia naksir Yaya dari semester lalu. Makanya, Om... jangan sok jual mahal gitu deh sama Yaya. Kapan aja Yaya bisa loh diambil cowok lain. Stok berondong ganteng di kampus Yaya tuh antre!"
Deg! Dada Gala serasa tidak nyaman sama. perasaannya sendiri. Darahnya mendesir hebat, suhu tubuhnya yang tadi normal mendadak naik drastis. Ada rasa panas membakar yang sangat asing dan menyakitkan di ulu hatinya. Cemburu? Seorang Galasky cemburu pada bocah kuliahan? Gila! itu gak mungkin.
Gala langsung melangkah maju, memangkas jarak mereka dan menatap Yaya dengan pandangan yang sangat tajam dan mengintimidasi.
"Belajar yang benar, nggak usah kecentilan ya, Yaya!" bentak Gala ketus, dengan suara parau yang menahan emosi. "Urusan kamu ke kampus itu kuliah, bukan pacaran! Jam kelas habis langsung pulang, jangan keluyuran! Atau... Om telepon Papa kamu detik ini juga!"
Yaya bukannya takut, dia malah ketawa kecil, puas banget melihat akting cool Om-Om matang ini retak total gara-gara nama Zion. "Iya, iya, Om Posesif... Yaya berangkat dulu ya. Jangan kangen!" Yaya langsung ngibrit keluar apartemen, meninggalkan aroma stroberi yang sukses bikin otak Gala makin semrawut.
Gala ambruk di sofa, memijit pelipisnya yang mendadak pening. Tangannya gemeteran menahan rasa kesal yang luar biasa. "Sialan... kenapa hati gua rasanya kepanasan begini? Gua kenapa sih?!" rutuk Gala frustrasi, melupakan fakta bahwa dia harusnya buru-buru ke lokasi syuting.
...----------------...
Sementara itu di kampus, suasana area kantin outdoor yang teduh mendadak ramai dengan tawa sirkelnya Yaya. Yaya sedang duduk santai sambil menyeruput es Americano-nya, dikelilingi oleh Zion, Rakel, Mela, dan Ami.
"Gila ya, Ya. Lu seminggu ini susah banget diajak nongkrong malam. Biasanya lu garda terdepan kalau urusan keluyuran," celetuk Rakel sambil mengunyah kentang gorengnya.
"Hooh, bener kata Rakel. Lu diculik ke mana sih?," timpal Mela sambil sibuk merapikan riasan wajahnya.
Zion yang duduk di sebelah Yaya langsung menggeser kursinya agak mepet, menatap Yaya dengan pandangan penuh perhatian. "Kalau lu ada masalah atau kesepian di mansion, bilang ke gua, Ya. Gua siap 24 jam nemenin lu. Mau keliling Jakarta jam berapa aja ayok."
Ami yang melihat pergerakan Zion langsung bersiul menggoda. "Ciyee... gerak cepat ya Pak Ketua. Senggol dong, Ya!"
Yaya cuma tertawa kecil, melirik Zion sekilas. Di otaknya saat ini bukan bayangan wajah tampan Zion, melainkan wajah dingin Gala yang tadi mengamuk di apartemen. Sumpah, Yaya ngerasa menang telak hari ini.
"Mansion gua kosong, bokap nyokap lagi ada proyek buka hotel baru di China selama tiga bulan," jelas Yaya ke teman-temannya.
"HAH?! Tiga bulan?!" Mela langsung melotot heboh, matanya berbinar-binar. "Wah, gila! Berarti bebas dong?! Ya, kapan nih Ayah sama Bunda lu pulang? Kita harus bikin rencana party besar-besaran di mansion lu sebelum mereka balik!"
"Setuju banget gua!" Rakel langsung antusias, menepuk meja. "Kita undang anak-anak sirkel motor juga, kita bikin BBQ party atau pesta dansa sekalian di halaman belakang lu yang segede lapangan bola itu!"
Zion tersenyum, tangannya dengan berani terulur untuk mengacak rambut Yaya dengan gemas. "Nanti gua yang urus semua logistik dan minumannya, Ya. Lu tinggal terima beres aja. Gimana?"
Yaya tersenyum manis, tapi matanya menyipit licik ngebayangin sesuatu. "Boleh aja sih... tapi kayaknya party-nya jangan di mansion gua deh."
"Terus di mana?" tanya Ami bingung.
"gimana kalau di rumah Zion aja" usul yaya
Zion langsung mengangguk setuju. toh rumah nya emang selalu sepi orang tuanya jarang dirumah dan selalu di luar negri
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘