NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Bel Pintu Cempreng, Ledakan Misterius, dan Permintaan Tolong

Drop-ship Kargo Alpha akhirnya mendarat dengan bunyi desis hidrolik yang panjang. Kaki-kaki pendarat berbahan baja menancap kuat di atas tanah lembap Planet Gun'Mar, melepaskan kepulan uap panas yang langsung berbaur dengan kabut tebal hutan.

Pintu palka perlahan terbuka. Sesuai prosedur keamanan, Razor melangkah keluar lebih dulu. Pria kadal itu mengarahkan laras senapannya ke berbagai sudut, memindai semak-semak berduri yang mengelilingi mereka.

Ketika mesin pendorong pesawat akhirnya mati sepenuhnya dan hanya menyisakan dengungan halus, barulah Pipi dan Harry ikut turun.

"Gimana? Aman?" tanya Pipi sambil meregangkan pinggangnya yang pegal.

Razor menurunkan senapannya sedikit. "Aman."

Belum sempat Pipi melangkah lebih jauh, suara bariton Arka langsung menggema dari alat komunikasi di telinganya.

"Pi!"

"Ya, Bos?" sahut Pipi santai.

"Anter Harry langsung ke depan pintu rumah pelanggannya. Tempel terus, jangan ditinggal sendirian sedetik pun!" perintah Arka dengan nada tegas.

"Iya, iya, bawel amat," gerutu Pipi. Ia menoleh ke arah si kurir botak yang sedang memeluk kotak VIP dengan wajah tegang. "Har, ayo. Biar aku jalan duluan."

Harry mengangguk cepat. Matanya terus melirik ke arah pepohonan gelap di sekitar mereka. Ia berjalan mengekor di belakang Pipi, sementara Razor berjaga di posisi paling belakang.

​Hutan liar itu menyeramkan, tetapi bentuk rumah pelanggan di depan mereka jauh lebih aneh. Rumah itu berupa kubah dari cangkang mutiara putih kebiruan, tampak mencolok dan terlalu bersih di tengah lumpur Gun'Mar yang suram.

Sambil berjalan menaiki teras rumah, ekor Razor bergerak pelan. "Bukannya di planet ini ada beberapa kota maju di ekuator ya? Kenapa pelanggan ini memilih tinggal sendirian di tempat mematikan seperti ini?"

Dari kokpit kapal kargo, Arka langsung menyahut cepat. "Nggak usah kepo urusan privasi pelanggan! Fokus saja jaga nyawa Harry."

"Maaf, Kapten," balas Razor datar, kembali fokus pada radar di pergelangan tangannya.

Mereka akhirnya berdiri di depan pintu rumah yang berbentuk bulat sempurna. Pipi melangkah maju, lalu mengetuk permukaan pintu itu dengan pelan namun cukup keras.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi!! Paket!!" teriak Pipi.

Tidak ada jawaban. Pipi mengetuk sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras. Tetap hening.

Harry yang berdiri di belakangnya menunjuk dengan dagu. "Pi, itu di sebelah pintunya ada bel."

Pipi menoleh ke arah panel kecil di dinding. "Oh, iya. Hehehe, nggak kelihatan."

Gadis Grovax itu pun menekan tombol bel tersebut.

Alih-alih melodi elektronik yang sopan, suara yang keluar dari rumah itu justru jeritan burung raksasa yang luar biasa melengking dan memekakkan telinga.

KUAAK! KUAAK! KUAAK!

Pipi langsung meringis dan menutup kedua telinganya dengan rapat. Harry bahkan sampai berjongkok karena kaget.

"Buset!" Pipi berseru sebal setelah suara itu berhenti. "Kapten, ini alien ras apa sih?! Aneh bener selera bel pintunya, bikin kaget orang aja."

Dari alat komunikasi, Arka menjawab dengan nada santai. "Nanti juga kamu tahu sendiri kalau orangnya udah buka pintu."

Beberapa menit berlalu. Angin dingin Gun'Mar berembus meniup tengkuk mereka, namun pintu cangkang itu tidak kunjung terbuka.

"Nggak ada orang ini kayaknya," keluh Pipi sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Tolong dihubungi dong kontaknya, Kapten!"

Di kapal induk, Arka mengangguk. "YUI, coba hubungi nomor penerima paketnya. Buka speaker biar mereka di bawah juga dengar."

"Siap, Bos," sahut YUI.

Terdengar nada sambung statis antar-galaksi selama beberapa detik.

Tuuut... tuuut... tuuut...

Lalu, sebuah suara operator mesin yang sangat kaku terdengar merata di kokpit Andromeda dan di alat komunikasi tim darat.

​"Perhatian. Kanal komunikasi target sedang sibuk atau berada di luar jangkauan galaksi. Mohon lakukan panggilan ulang beberapa rotasi planet lagi."

Arka mengerutkan keningnya. "Lah, nomornya nggak aktif. Hmmm."

Di teras rumah, Pipi menatap kotak di pelukan Harry. "Ini paket VIP nggak bisa ditinggal aja di depan pintu ya? Daripada kita nungguin orang yang lagi ke luar galaksi."

"Nggak boleh!" tolak Harry mentah-mentah. "Tapi... beneran ini kan alamatnya, Kapten?"

Arka menatap layar manifest di depannya, lalu melirik YUI. Asisten gotik itu mengangguk mengonfirmasi koordinatnya. "Bener sih, itu rumah orangnya," jawab Arka.

Pipi mulai mengepalkan tangannya, membunyikan buku-buku jarinya. "Dobrak aja kali pintunya ya? Biar kita taruh di dalam."

"JANGAN!!!!" teriak Arka panik dari radio, membayangkan surat tuntutan ganti rugi properti yang akan dikirim ke perusahaannya.

Arka menghela napas panjang, menenangkan diri. "Ya sudah, kalian balik dulu aja ke dropship. Masih ada empat titik pengiriman lagi di tata surya ini. Kita selesaikan yang lain dulu, nanti kita mampir balik lagi ke sini sebelum pindah tata surya."

"Oke, Kapten," jawab Pipi dan Harry serempak, terdengar agak lega karena tidak perlu berlama-lama di hutan menyeramkan itu.

Ketiganya berbalik, meninggalkan teras rumah dan berjalan kembali menuju dropship yang diparkir tidak jauh dari sana.

Namun, belum sampai mereka di tengah halaman...

DHUAAAAR!

Sebuah ledakan keras tiba-tiba meletus dari kedalaman hutan di sebelah kanan mereka. Suaranya mengguncang tanah dan menerbangkan sekawanan burung liar ke udara.

Harry langsung melompat bersembunyi di balik punggung Razor. "Hiiiii! A-apa itu?!"

Razor bahkan tidak berkedip. Matanya tetap fokus mengawasi arah suara. "Paling-paling hanya hewan lokal bermassa besar yang sedang berburu."

Di kokpit Andromeda, Arka yang ikut mendengar suara ledakan itu dari mikrofon timnya mendadak merasa ada yang tidak beres. Firasatnya memburuk.

"YUI," panggil Arka cepat. "Apa ada makhluk atau hewan yang tubuhnya mengandung sulfur atau bahan peledak di planet ini?"

Mata mekanik YUI berkedip biru sejenak, memproses data. "Berdasarkan database GPS, tidak ada. Seluruh hewan dan fauna di planet ini murni makhluk biologis organik biasa. Berbahaya, iya, tapi tidak ada satu pun yang bisa menghasilkan efek ledakan sintetis seperti itu."

Mata Arka membulat. Kalau itu bukan hewan, berarti itu adalah senjata artileri.

"Pipi! Cepat naik ke dropship sekarang juga dan tinggalkan planet itu..."

Belum sempat Arka menyelesaikan perintah daruratnya, ledakan kedua terjadi, kali ini posisinya jauh lebih dekat dengan tepi hutan.

DHUAAAAR!

Pohon-pohon tumbang. Dua sosok alien tiba-tiba melesat keluar dari semak belukar lebat menggunakan sebuah sepeda motor gravitasi yang melayang berkecepatan tinggi.

Di belakang mereka, sebuah kendaraan lapis baja anti-gravitasi menerobos pepohonan, berisikan beberapa alien berwajah beringas yang terus menembakkan senjata laser blaster ke arah motor tersebut.

Pew! Pew! Pew!

Tembakan laser merah membakar udara di sekitar mereka.

Orang yang mengendarai motor itu menyadari keberadaan Pipi, Razor, dan Harry di dekat dropship. Tanpa ragu, ia membanting setir motornya, berbelok tajam ke arah mereka.

Mereka berdua adalah alien dari ras akuatik. Kulit mereka berwarna biru pucat dengan sirip tipis di lengan dan telinga, sangat kontras dengan planet daratan ini. Sang pengemudi adalah laki-laki, sementara penumpang yang diboncengnya adalah seorang perempuan ras ikan yang gaunnya sudah compang-camping akibat pertempuran.

"Tolong!!" jerit alien perempuan itu dengan suara serak. "Tolong kami!!"

Mobil lapis baja di belakang mereka semakin mendekat, kembali memuntahkan tembakan laser brutal yang menghancurkan tanah di sekitar motor.

Arka yang mendengar rentetan tembakan itu langsung berteriak di radio. "Pipi, cepat naik ke pesawat!! Kita tidak bisa mengurusi hal itu! Nanti kita panggil saja Galactic Patrol setempat, itu urusan polisi!"

"Heee?" Pipi memiringkan kepalanya, menatap baku tembak di depannya dengan mata merah mudanya yang berbinar antusias. "Tapi Kapten, aku bisa saja menolong mereka lho. Kasihan kan?"

"Bos, mereka sudah makin dekat," lapor Razor dingin, senapannya sudah terangkat sejajar dada, siap menembak jika peluru nyasar mengarah ke mereka.

Cit!!

Motor gravitasi itu mengerem mendadak, berhenti tepat hanya dua meter di depan kelompok Pipi. Mesinnya berasap parah akibat terserempet laser.

Alien perempuan ras ikan itu terhuyung turun dari motor. Napasnya tersengal, gaunnya robek berdarah. Namun saat matanya menangkap sosok Pipi, rasa takutnya berubah jadi kejutan besar.

​"K-kau..." ucapnya terengah-engah, menatap tanduk dan rambut merah muda Pipi. "Kau ras Grovax, kan?"

​Pipi berkacak pinggang sambil menunjuk tanduk di dahinya. "Ya iyalah! Nggak lihat nih tanduk?"

​Tanpa diduga, perempuan itu langsung jatuh berlutut dan menangkupkan tangan. "Kumohon... bantu kami!"

​Suasana mendadak hening.

​Harry melongo, Razor tetap siap tembak, dan Arka di kapal induk cuma bisa menepuk jidat. Pipi memang ras petarung paling mengerikan di galaksi, tetapi saat ini mereka cuma rombongan kurir paket yang dikejar deadline!

​Sementara dari balik semak-semak, raungan mesin mobil pengejar makin mendekat, bersiap melindas siapa saja yang menghalangi jalan.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena HIATUS
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!