NovelToon NovelToon
Cinta Di Atas Logika

Cinta Di Atas Logika

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: najmun_huda

yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CP: 6 Rumah Sakit

Tiba-tiba di saat Yovada mulai menangis, seseorang dengan ikat pinggang dan juga sebuah sapu lidi. Mereka adalah orang tua Yovada yang dulu sering memarahinya. Anak kecil yang melihat itu langsung menangis hebat di pelukan Yovada. Yovada yang melihat itu berusaha untuk menenangkan anak kecil itu namun usahanya tetap saja sia-sia. Dirinya berusaha meyakinkan anak itu bahwa semua akan baik-baik saja jika ia ada di sini. Anak itu menatap kepada Yovada dengan penuh harapan setelah mendengar perkataan tadi. Ia pergi bersembunyi di belakang Yovada dan kemudian memeluknya dari belakang seakan dirinya berlindung dari seseorang yang membahayakannya.

“kamu ini bukannya belajar malah tiduran. PERGI KE KAMARMU LALU BELAJAR!!!” Ucap ayahnya Yovada kepada anaknya dengan suara yang keras yang membuat anaknya ketakutan namun tidak dengan Yovada.

“kamu itu tidak malu sama anak-anak yang lain? Mereka saja bisa juara kelas dan lainnya. Sedangkan kamu sendiri saja tidak pandai dalam menulis. Liat tulisanmu yang seperti cacing kepanasan itu. APA KAMU TIDAK BISA MENJADI ANAK YANG LEBIH BERGUNA!!!” Ucap ibunya dengan kasar pada anaknya. Anak kecil itu menangis namun Yovada yang melihat itu langsung merasa jengkel dan marah. Ia mengingat semua kejadian ini dalam dirinya seakan dirinya selalu terperangkap di kejadian yang sama.

“KALIAN SENDIRI APA TIDAK BISA MENJADI ORANG TUA YANG LEBIH MENGHARGAI SEBUAH USAHA MENJADI LEBIH BAIK? KALIAN SENDIRI APA SUDAH CUKUP BAIK MENJADI ORANG TUA?” ucap Yovada dengan marah kepada orang tuanya. Ia menatap mereka seperti seseorang yang hanya membuatnya menderita. Dengan penuh dendam dan amarah, ia memutuskan untuk melawan orang tuanya.

“kamu itu masih kecil. JADI KAMU TAHU APA SOAL ORANG DEWASA HAH???” Ucap ayahnya dengan kasar. Tangannya semakin erat memegang ikat pinggang yang terbuat dari kulit berwarna hitam itu. Matanya melotot berusaha membuat Yovada merasa di intimidasi.

“ibu mengandungmu 9 bulan 10 hari dan ini yang kamu berikan pada ibu? Kamu memang anak durhaka. MEMANG SEPANTASNYA AKU GUGURKAN SAJA KAMU KETIKA MENGANDUNGMU. BAHKAN KARENA KAMU KITA JADI MISKIN!!!” ucap ibu Yovada dengan marah kepadanya. Tangannya memegang sapu lidi itu semakin kuat. Ia seakan sudah siap melepaskan serangan kepada Yovada karena sikap membangkangnya.

“kalau begitu... AKU JUGA TIDAK BERHARAP MENDAPAT ORANG TUA SEPERTI KALIAN!!!” Ucap Yovada dengan kencang kepada mereka. Seketika ikat pinggang ayahnya menghantam pipinya Yovada hingga wajahnya berpaling dan meninggalkan bekas memar ungu di pipinya.

“KURANG NGAJAR, ANAK SEPERTIMU LAYAK DI BERI PEMBELAJARAN.” Ucap ayahnya dengan penuh amarah kepada Yovada. Mendengar hal itu, Yovada memalingkan wajahnya ke arah mereka. Ia menatap mereka dengan penuh dendam seakan tidak senang dengan apa yang di lakukan Yovada.

“kamu seperti tidak pernah di kasih paham masalah sopan santun oleh orang tuamu. APA KATA TETANGGA MELIHAT INI HAH!!!!” Ucap ibunya kepada Yovada dengan marah. Ia langsung mengayunkan sapu lidi itu ke Yovada berkali-kali. Pukulan itu membuat Yovada pukulan kecil yang pedih di kulit Yovada. Ia menahannya dengan lengannya. Ia menunduk untuk melindungi wajahnya. Namun di bawahnya ia melihat anak tadi memeluk kaki Yovada dengan erat. Ia merasa takut karena serangan itu akan mengenainya. Yovada yang melihat itu langsung marah, giginya merapat seakan siap melawan balik mereka. Anak itu masih memeluk kakinya Yovada dengan erat dan ia berkata dengan gemetar.

“kakak... to... tolong aku...” ucap Yovada kecil dengan ketakutan.

Ia yang melihat itu langsung marah beras. Ia memutuskan untuk melawan. Ia bangkit dan akhirnya menahan alat yang mereka pakai untuk memukulinya dan melemparnya ke belakang. Melihat senjata mereka di ambil dan di buang, wajah mereka mulai ketakutan. Mereka yang melihat wajah Yovada yang sudah memerah, membuat mereka mulai ketakutan. Ayahnya mencoba mendekat perlahan namun baru selangkah mendekat, Yovada dengan kencang langsung meninjunya di wajah ayahnya.

Seketika Yovada terbangun di rumah sakit dengan kepala yang di balut perban dan juga tangan yang di impuls. Dirinya langsung bangun dan terduduk di atas kasur, namun tidak lama kemudian dirinya merasakan nyeri yang membuatnya kesakitan yang tidak dapat ia tahan. Ia langsung kembali terbaring di kasur karena tidak dapat menahan rasa sakitnya. Ia melihat tempat sekitarnya dengan matanya yang tanpa kaca mata. Matanya buram dan karena ia mengidam mata silinder, ia semakin pusing dan semakin membuatnya tidak ingin melihat sekitarnya. Ia menutup matanya dan juga dengan leganya, ia meraba meja di sebelahnya dan seseorang mengambilkan kaca mata itu dan kemudian menegur Yovada.

“angkat tanganmu, kamu tidak bisa melihat tanpa ini.” Ucap seseorang yang Yovada sendiri tidak dapa mengenali suaranya. Yovada menyingkirkan tangannya dan ia melihat seseorang yang dengan rambut panjang dan ia memegang sesuatu di tangannya. Ia menatap dengan pandangan yang tidak jelas kemudian benda itu mendekati wajahnya dan kini ia melihat dengan jelas. Seorang wanita dengan mata yang begitu manis menatapnya dengan penuh perasaan. Dirinya berdiri di sebelah Yovada dan ia memegang tangannya dengan penuh perasaan dan juga penuh kehangatan.

Yovada yang melihat itu langsung menarik tangannya seperti merasa aneh dengan sikap wanita itu. Ia menatap wanita itu dengan aneh karena di saat ia terbangun dan dirinya sudah sedekat ini. Wanita itu berusaha mendekat dan membujuk Yovada namun tetap saja Yovada merasa tidak nyaman dengan wanita itu. Wanita itu tidak menyadari bahwa sikap Yovada sendiri sudah menunjukkan bahwa dirinya sangat tidak tertarik dengan dirinya yang baru ia tamui. Melihat itu Yovada sudah tidak tahan lagi hingga ia sendiri mengatakan hal ini.

“astaga... kamu siapa sih. Jangan terlalu mendekat denganku. Aku muak dengan sikapmu ini.” Ucap Yovada kepada wanita itu dengan tatapan yang sangat aneh.

“hey, apakah ini hal yang kamu ucapkan kepada seseorang yang baru saja menolongmu. Setidaknya kamu mengucapkan terima kasih. Lagi pula... masa sih kamu tidak mengenaliku sebagai seseorang yang rajin dan juga sangan menonjol di sekolah? Aku Aulia, pasti kamu sering mendengarku kan?” ucapnya kepada Yovada dengan suara lembutnya. Ia berusaha membuat Yovada tertarik dengan penampilannya dan juga sikap kepeduliannya. Ia menatap Yovada dengan keinginan penuh untuk mendekatinya.

“Aulia.... oh, aku ingat. Kamu orang yang sering membenarkan nilai teman-temanmu di kelas, kamu juga kalau marah juga tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, kamu juga yang kalau olah raga juga sering menggosip dan juga kamu yang sering bikin drama di sekolahan bukan? Ya, aku mengingatmu dan juga kamu kakak kelasku. Walau aku bingung kenapa aku punya kakak kelas seaneh ini di sini.” Ucap Yovada kepada Auli dengan tatapan aneh dan juga merasa semakin tidak nyaman dengannya.

Melihat sikap Yovada dan juga hal yang ia ketahui tentang dirinya, wajahnya pun memerah dan mulai marah, ia mulai marah dan kemudian ia mulai memarahi Yovada degan suara yang keras. Suaranya membuat pasien yang lain merasa terganggu dan membuat Yovada juga tidak nyaman. Beberapa pasien lain pun membuka tirai di sebelahnya lalu menegur mereka.

“hey anak muda, apakah kalian menghinaku karena kalian masih muda dan bisa semena-mena di rumah sakit? Aku harap malaikat mencabut nyawa kalian terlebih dahulu sebelum aku agar aku bisa memukul kepala kalian” ucap seseorang kakek tua pada mereka dengan suara yang sangat renta namun berusaha tetap marah.

Salah satu pasien pun menjawab sekalian menegur mereka. “kakek, sudahlah. Kita tidak tahu bahwa wanita ini adalah perawat baru di sini. Setidaknya ada hal yang bisa kita katakan pada orang tuanya nanti ketika datang kesini untuk melihatnya adalah mereka orang tua yang payah karena anak aku dengan umur setengah darinya saja sudah memiliki moral dan etika yang baik” ucap salah satu pasien yang lain. Mereka pun akhirnya marah dan memutuskan untuk menyuruh Yovada memencet tombol untuk memanggil perawat dan menyuruh wanita itu keluar.

Yovada mematuhi hal itu dan ia memencet tombol itu. Seorang perawat datang dan menarik Aulia keluar dari ruangan itu. Para pasien bertepuk tangan dan juga bersorak-sorak dengan keberanian Yovada dan merayakan kesunyian yang akhirnya mereka dapatkan kembali. Mereka mulai menutup tirai masing-masing dan mulai sibuk dengan diri mereka sendiri.

Tiba-tiba seseorang rambut pendek masuk ke dalam ruangan itu. Kali ini hawanya berbeda, seperti ketenangan dan juga kekuatan yang sangat dominan. Yovada yang merasakan itu langsung membuka tirai dan menemukan bahwa orang itu adalah Kesya yang menemuinya dengan sekeranjang buah. Matanya menatap Yovada dengan dingin namun kali ini ada sedikit rasa kepedulian dan kecemasan yang ia rasakan. Yovada yang melihat Kesya hanya terdiam ban dia menatap balik Kesya dengan dingin pula.

Kesya yang melihat itu hanya mengangguk kecil sambil bergumam. Ia menarik kursi yang ada di sebelahnya untuk duduk di sebelah Yovada. ia menaruh keranjang buah tadi di atas meja sebelah ranjang Yovada dan kemudian ia mulai mengeluarkan piring dari dalam tas belanjanya dan juga pisau kecil. Ia mengambil satu buah pir yang ada di keranjang lalu kemudian mengupaskannya untuk Yovada. Ia mengupaskannya dengan pelan-pelan dan membuang setiap sisi kulitnya dengan perlahan agar tidak membuang terlalu banyak bagian dagingnya. Ia perlahan menaruh di setiap potongan buah pir itu di atas piring kecil berwarna putih dengan pinggiran berwarna emas. Ia memotongnya menjadi potongan yang bisa Yovada makan dengan sekali suap tanpa perlu usaha mengunyah yang lebih besar.

Matanya sangat teliti dalam mengupasnya dan bahkan dirinya juga sangat tenang ketika di sisi Yovada. Aroma parfumnya pun juga sama dan aromanya dapat di cium Yovada dengan jelas. Ia mau menghindar dari aromanya itu namun dirinya tidak bisa dan ia terpaksa harus mencium aroma ini selama Kesya ada di sebelahnya.

Kesya yang baru saja selesai mengupas buah pir tai langsung memulai pembicaraan dengan Yovada. “aku minta maaf karena tadi aku tidak sengaja mendorongmu dan juga membuatmu pingsan tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu berada di rumah sakit namun jujur saja aku merasa berasa sedikit bersalah denganmu. Kali ini aku akan menebusnya untukmu” ucap Kesya dengan lembut dan penuh perhatian.

Ia mengambil sebuah garpu kecil dan menusukkannya di Buah Pir tersebut. Ia mengangkatnya kemudian mengarahkannya ke mulut Yovada.

“baiklah, sekarang buka mulutmu. Biar aku suapin....”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!