Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 | Day One
"Pengen gue gampar sumpah."
Luna mengembuskan napas kasar. Tangannya sudah terkepal sejak tadi. Ia harus bersabar dalam menghadapi pasiennya yang satu itu. Mungkin Orion memiliki trauma berbicara dengan orang makanya hingga saat ini ia masih diam seribu bahasa. Tapi, Luna tidak mempermasalahkan bagian itu. Yang jadi masalah adalah sejak Orion menginjakkan kakinya di ruangan ini, pria itu terus menatapnya. Dan itu membuat Luna risih.
Setelah mengecek layar, pandangan Luna langsung tertuju pada mata pasien dihadapannya. "Anda sejak tadi liatin saya terus itu kenapa, ya? Jujur saja saya sedikit risih ditatap begitu," ujar Luna memecahkan keheningan diantara mereka.
Dan ya, Orion masih menutup mulutnya dan menatap Luna. Bahkan mungkin tatapan Orion semakin dalam. Ia mengembuskan napas pelan. Baiklah. Mungkin hari ini memang bukan harinya.
"Kalau anda belum siap untuk berbicara, tidak masalah," ujar Luna sambil meraih mouse di sampingnya. "Kita bisa melanjutkan sesi ini lain kali."
Luna hendak menutup data milik Orion di layar komputer ketika suara rendah itu akhirnya terdengar.
"Kamu cantik."
Jari Luna mendadak berhenti tepat diatas mouse. Tubuhnya membeku seketika. Perlahan, Luna mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan matanya langsung bertemu dengan tatapan dalam itu. Tatapan yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman.
"Apa? Anda bilang sesuatu tadi?" tanya Luna tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu cantik," ulang Orion.
Luna berkedip sekali. Ralat, dua kali. Dari sekian banyak kemungkinan yang ia bayangkan akan keluar dari mulut Orion Grimm, ini adalah yang paling tidak masuk akal. "Terima kasih," jawabnya akhirnya, setelah beberapa detik berusaha mengumpulkan profesionalismenya yang hampir runtuh. "Tapi itu tidak ada hubungannya dengan sesi konsultasi kita."
Psikiater bergender wanita itu hendak berdiri tapi sedetik kemudian tangannya ditahan oleh Orion. "Jangan pergi, Nanae."
Tubuh Luna langsung membeku. Kedua netranya beradu dengan mata pasien yang menahan tangannya. Untuk pertama kalinya sejak pria itu memasuki ruangan, Luna baru menyadari betapa menawannya wajah pasiennya. Rahang Orion terlihat tegas, bulu matanya panjang, dan tahi lalat kecil di bawah bibirnya entah mengapa justru membuat wajah pria itu semakin mudah diingat.
Astaga.
Kenapa dia baru sadar kalau pasiennya ini ternyata cukup menarik? Dirinya langsung menarik tangannya pelan dari genggaman Orion.
"Anda panggil saya Nanae?" tanyanya untuk memastikan. Setelah berhasil mengembalikan ekspresi wajahnya, ia kembali duduk di kursinya.
"Kamu keberatan kalo aku panggil Nanae?" Orion justru balik bertanya.
Luna langsung kehilangan kata-kata. Tentu saja ia keberatan. Masalahnya, ia sendiri tidak tau harus menjelaskan kenapa. Lalu berdeham pelan, lalu buru-buru mengenakan kembali wajah profesionalnya.
"Panggil saya Luna saja," ujarnya tegas. Setelah jeda sesaat, ia menambahkan, "Atau lebih baik, Dokter Luna. Karena di ruangan ini, saya adalah psikiater anda."
Orion terdiam sesaat. Matanya masih menatap Luna. "Oke."
Untuk pertama kalinya sejak sesi itu dimulai, Luna merasa sedikit lega. Ia sampai hampir tidak percaya bahwa Orion akhirnya mau mendengarkan ucapannya. Dalam hati, ia bahkan sudah memuji dirinya sendiri karena berhasil mempertahankan kesabaran dan profesionalismenya selama menghadapi pasien seperti Orion. Mungkin, pikirnya, hari ini tidak akan berakhir seburuk yang ia bayangkan.
"Nanae," ucap Orion pelan diakhiri dengan senyum miring yang nyaris tidak terlihat.
"Damn it."
☆☆☆
Luna menutup map pasien terakhirnya lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ia meregangkan tubuhnya lalu menghela napas panjang sebelum melirik jam di pergelangan tangan. Setelah merapikan beberapa berkas, Luna keluar dari ruang konsultasinya. Ia berniat membeli kopi sebelum lanjut rapat bersama timnya.
Saat Luna hendak menuju koridor, matanya menangkap Maya yang sedang duduk sambil memegang tablet di ruang diskusi. Alis wanita itu bertaut, seolah sedang memikirkan sesuatu. Mau tak mau, Luna akhirnya menghampiri sahabatnya.
"Lun," panggil Maya begitu menyadari keberadaan sahabatnya.
"Hm? Kenapa?"
"Kamu udah isi laporan observasi Orion?"
Deg.
Tubuh Luna langsung menegang. Maya yang menunggu jawaban Luna akhirnya mengalihkan pandangannya dari tablet. "Bagian observasinya masih kosong," ucap Maya seraya membalikkan tablet sehingga layarnya menghadap Luna.
"Ng... itu... aku lupa, hehe," jawab Luna dengan sedikit terbata-bata.
Tapi bukan Maya namanya kalo langsung percaya. Ia menaikkan satu alisnya lalu menatap Luna dengan tatapan tajam. "Lun, aku kenal kamu sejak masa koas. Dulu kamu pernah begadang sampai jam tiga pagi cuma buat benerin satu catatan pasien. Jadi alasan 'lupa' itu ngga berlaku buat kamu," semprot Maya dengan penuh tekanan dibagian 'lupa'. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
Luna hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimanapun juga, Maya lebih senior darinya. Terlepas dari profesinya sebagai psikolog, pengalaman Maya di rumah sakit itu jauh lebih banyak dibandingkan dirinya.
"Alasan aku ngosongin bagian observasi punya Orion karena... emm..." Luna tidak yakin apakah pilihannya untuk menceritakan yang sebenarnya sudah tepat atau belum.
Haruskah ia terus terang pada seniornya? Mengingat-ingatnya pun Luna tidak mau. Karena baru pertama kali ia bertemu pasien seperti Orion.
"Lun? Kok diem? Aku nungguin loh ini," ucap Maya sambil menyenggol pundak juniornya itu.
"Dia ngga mau jawab pertanyaan aku, May. Selama hampir satu jam, aku ngoceh sendiri," terangku sambil berjalan mondar-mandir.
Maya yang mendengar langsung kembali bertanya. "Dia ngga ada buka suara samsek, Lun?"
Kaki Luna berhenti melangkah. Ia terdiam sejenak untuk memutuskan apakah dirinya harus jujur atau bohong. Masalahnya jika ia jujur bahwa Orion memuji dirinya cantik dan memanggilnya Nanae, bagaimana reaksi Maya nanti?
"Ada sih..."
"Dia bilang apa?" tanya Maya to the point.
"Dia... muji aku sama... bikin nama panggilan buat aku. Mana ngga pake embel-embel dokter lagi," gerutu Luna sambil mengacak rambutnya frustrasi.
Maya mengedipkan mata sekali. Dua kali. Firasat Luna mendadak tidak enak. "Emangnya... Orion manggil kamu apa, Lun?"
Luna menghela napas. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Maya. "Nanae," lirihnya sambil mengalihkan pandangan.
Suasana mendadak hening. Suhu ruangan juga tiba-tiba menjadi lebih dingin. Luna sama sekali tidak ingin melihat ekspresi Maya. "Pfttt..."
Psikiater muda itu langsung memejamkan matanya. Ia tau ini akan terjadi. Firasatnya sedang akurat hari ini. Dalam hitungan detik, tawa Maya pasti akan menyembur.
"HAHA–" Maya buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya mulai bergetar hebat.
"May."
"T-tunggu..." Maya mengangkat satu tangan, meminta waktu untuk memulihkan diri. Sayangnya, itu tidak membantu sama sekali. "N-Nanae?!"
Suara tawa milik Maya kembali menggelegar di ruang diskusi. Atau mungkin menggelegar ke seluruh penjuru Silver Oak. "May, please stop!" rengek Luna yang sudah hampir kehilangan sisa harga dirinya.
Suara tawa Maya perlahan mulai mereda. Wanita itu mengusap sudut matanya yang sedikit berair akibat terlalu banyak tertawa. "Oke, oke," ujarnya sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Aku berhenti."
"Bohong. Lima detik lagi kamu pasti ketawa lagi."
Maya mengatupkan bibirnya, berusaha terlihat serius. Namun, begitu matanya bertemu dengan ekspresi kesal sekaligus malu milik Luna, sudut bibirnya kembali bergetar.
"May..."
"Oke! Beneran. Kali ini beneran."
Luna mendengus pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku nyesel cerita," gumamnya sembari menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Yaa... habisnya ngide banget tuh pasienmu manggil Nanae nanae," balas Maya. Setelahnya, wanita itu kembali menyeruput kopi dinginnya yang sudah setengah hambar.
Melihat kopi yang diminum sahabatnya membuat Luna sadar bahwa ia belum membeli kopi favoritnya. "Kita bahas lain waktu aja. Aku mau beli kopi, ngecek jadwal pasien buat besok terus pulang," ucap Luna sembari berdiri.
Sahabatnya mengangguk sebagai jawaban. "See you tomorrow bestie!"
Luna menghela napas panjang sebelum meninggalkan ruang diskusi. Ia segera masuk ke lift, lalu begitu keluar dari gedung Silver Oak, langkahnya otomatis mengarah ke kafe langganannya. Bagaimanapun juga, setelah hari yang melelahkan ini, ia merasa berhak mendapatkan segelas kopi.
Luna langsung menuju kasir. Hari ini, ia memutuskan untuk membeli segelas iced caramel macchiato favoritnya. Dirinya butuh manis-manis setelah seharian menghadapi pasien barunya.
Dengan satu tangan memegang iced caramel macchiato dan tangan lainnya memegang ponsel, Luna melangkah masuk ke lift Silver Oak.
Ia menekan tombol lantai empat. Pintu lift perlahan menutup. Di dalam lift, Luna menghela napas lega.
"Akhirnya..." Setelah seharian menghadapi pasien, ditambah sesi interogasi dari Maya, Luna merasa dirinya berhak menikmati setidaknya lima menit ketenangan. Namun, sepertinya alam semesta tidak merestui.
Saat lift berhenti di lantai dua, pintunya kembali terbuka. Dunia Luna kembali runtuh begitu melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Nanae."
Jantung Luna mendadak berdetak lebih kencang. "Ah, Orion... Selamat sore," jawabnya seprofesional mungkin.
Orion kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Psikiater muda sedikit bergeser agar mereka masih tetap ada jarak. Luna berusaha mengalihkan pandangan. Tidak apa-apa, pikirnya. Orion mungkin hanya akan turun di lantai tiga atau lima. Pokoknya bukan lantai empat.
Luna menunggu Orion menekan tombol lantai tapi ternyata pria itu hanya diam dan sesekali melirik ke arahnya. "Anda ngga mencet tombolnya?"
"Tujuan kita sama, Nanae," jawabnya singkat.