Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mereka sedang asyik berjalan menuju kasir sambil mendorong troli yang sudah penuh, tiba-tiba dari arah lorong samping seseorang berjalan terburu-buru dan menabrak keras troli yang dipegang Suci.
Duar!
Suci dan Samantha tersentak kaget, troli itu terguncang hebat hingga beberapa barang di atasnya hampir jatuh. Mereka segera menoleh ke arah orang yang menabrak, dan seketika itu juga langkah kaki mereka terhenti.
Di hadapan mereka berdiri dua wanita yang berdandan sangat mencolok, mengenakan pakaian bermerek dan penuh perhiasan. Itu adalah Sania dan Siska—dua teman sekelas yang dulu paling sering merundung dan menghina mereka berdua saat masa sekolah dulu.
Sania dan Siska pun tampak tertegun sejenak, tak menyangka akan berpapasan dengan mereka di sini. Namun tak butuh waktu lama, wajah kaget mereka berubah menjadi senyum sinis dan tawa meremehkan.
"Wah, lihat siapa yang ada di sini!" seru Sania dengan suara lantang, menyilangkan tangan di dada sambil menatap Samantha dan Suci dari atas hingga ke bawah. "Bukan main kebetulannya. Ternyata orang yang dulu selalu pakai baju lusuh dan sederhana di sekolah, sekarang sudah berani masuk ke supermarket besar seperti ini ya?"
Siska pun ikut tertawa mengejek sambil menunjuk-nunjuk pakaian yang mereka kenakan. "Iya tuh. Jangan-jangan kalian cuma sekadar lihat-lihat saja, kan? Atau mungkin malah ke sini untuk memungut barang yang terjatuh? Ingat lho, di sini harganya mahal, bukan di warung dekat rumahmu dulu, Suci!"
Suci menunduk sedikit, refleks merasa tidak nyaman mendengar nada bicara yang persis sama seperti bertahun-tahun lalu. Namun Samantha segera merangkul bahu sahabatnya, memberi kekuatan, lalu menatap tenang ke arah kedua wanita itu.
"Kami sedang berbelanja untuk kebutuhan rumah kami," jawab Samantha dengan nada tenang namun tegas. "Tidak ada salahnya kami ada di sini, bukan? Supermarket ini terbuka untuk siapa saja yang berhak datang."
Sania mendengus kesal, merasa jawaban itu tidak seharusnya keluar dari mulut Samantha yang dulu selalu pendiam.
"Berbelanja katanya? Masih berani saja kalian berlagak!" potong Siska sinis. "Dulu kan kamu selalu terlihat tidak punya uang, Samantha. Apa sekarang kamu sudah menjadi asisten rumah tangga atau pembantu yang sedang belanja kebutuhan majikanmu? Atau mungkin kamu meminjam uang banyak-banyak hanya untuk pamer sedikit?"
"Sudahlah, Siska," timpal Sania sambil tertawa remeh. "Mereka memang tidak akan pernah berubah. Sekalipun mereka masuk tempat mewah, tetap saja terlihat seperti orang yang tidak biasa. Lihat saja tatapan matanya, masih terlihat canggung sekali."
Mereka berdua tertawa keras, menarik perhatian beberapa pengunjung lain di sekitar situ. Namun kali ini, Samantha dan Suci tidak lagi merasa kecil hati seperti dulu. Kini mereka berdiri tegak dengan harga diri yang utuh.
Samantha tidak langsung marah atau membela diri dengan panik. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang terasa menyeringai namun tenang, lalu menatap tajam ke arah Sania dan Siska bergantian. Suasana di lorong itu seketika hening, dan Samantha mulai berbicara dengan suara yang cukup jelas agar terdengar oleh orang-orang di sekitar.
"Memang benar, dulu saya sering berpakaian sederhana. Tapi setidaknya semua yang saya miliki adalah hasil kerja keras keluarga dan usaha yang halal. Tidak seperti kalian—yang dengan bangga memamerkan barang-barang mahal, padahal semua itu didapat dengan menjadi simpanan om-om hidung belang yang sudah beristri," ucap Samantha tenang namun menohok.
Seketika itu juga, pandangan semua pengunjung yang ada di sekitar beralih serentak ke arah Sania dan Siska. Mata mereka menatap penuh selidik, berbisik-bisik satu sama lain dengan wajah tidak percaya. Suci di sampingnya pun melongo takjub, tak menyangka Samantha akan berani bicara setegas itu.
Wajah Sania dan Siska seketika berubah pucat lalu memerah padam karena malu. Tubuh mereka kaku, salah tingkah tak tahu harus bersembunyi di mana.
"Kau... kau bicara apa sembarangan, Samantha!" seru Siska dengan suara gemetar, berusaha menutupi kegugupannya. "Kau jangan asal menuduh! Semua ini adalah uang hasil kerja keras kami sendiri!"
"Iya! Kamu pasti cuma iri hati melihat kami sukses dan hidup mewah seperti ini!" timpal Sania berusaha membela diri, meski matanya tak berani menatap lurus ke mata Samantha. "Kamu cuma tidak terima kalau kami lebih beruntung darimu!"
Samantha tertawa pelan, tertawa yang terdengar meremehkan kepura-puraan mereka. Ia melangkah selangkah mendekat, membuat kedua wanita itu mundur sedikit karena takut.
"Iri? Mengapa saya harus iri dengan hidup yang penuh kebohongan dan aib seperti itu?" tanya Samantha dengan nada dingin. "Semua orang di lingkungan lama sudah tahu siapa 'pemberi rezeki' kalian sebenarnya. Kalian bisa menyembunyikannya dari orang asing, tapi tidak dari kami yang sudah tahu kebenarannya sejak lama. Jangan mencoba memutarbalikkan fakta hanya karena kalian malu ketahuan."
" Dan asal kalian tahu , kalau hotel yang kalian sering buat ketemuan Dengan sugar Daddy kalian , adalah hotel milik keluargaku . hotel Alexander group ! Dan hotel itu aku lah pemiliknya ." sambung Samantha . mendengar perkataan Samantha membuat Sania dan Siska terkejut.
" jangan sembarangan kamu mengaku - ngaku itu hotel kamu . tidak mungkin orang miskin seperti kamu mempunyai hotel kelas bintang lima ." elak sania .
" Terserah kalian ...yang Kalian harus tau , kalau aku punya buktinya ."
Bisik-bisik di sekitar semakin keras. Sania dan Siska merasa seolah ribuan mata sedang menghakimi mereka. Rasa malu dan marah bercampur aduk di dada, namun mereka tak mampu membalas ucapan itu lagi karena tahu kalau Samantha tidak bicara kosong. Akhirnya, tanpa sanggup menatap siapa pun, mereka berbalik badan dan pergi bergegas menjauh dengan langkah terburu-buru, meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Suci baru menghela napas panjang setelah kedua perundung itu hilang dari pandangan. Ia menatap Samantha dengan mata berbinar kagum.
"Wah, Sam... aku tidak menyangka kamu akan bicara begitu tegas. Mereka benar-benar terdiam dan tak berkutik," ucap Suci pelan.
Samantha tersenyum hangat kembali ke arah sahabatnya. "Orang yang suka merendahkan orang lain harus diajarkan tempatnya. Kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi kita harus berani menjaga harga diri kita."
Mereka pun kembali melanjutkan belanja dengan hati yang lega, meninggalkan kejadian itu sebagai pelajaran berharga.
" Sam ...emang benar yang kamu katakan kalau kamu punya bukti , kalau mereka pernah ketemuan dengan om - om hidung belang di hotel kamu ?" tanya suci yang masih penasaran dengan apa yang di katakan sahabatnya .
Samantha menatap sahabatnya." Tentu benar dong ...aku tidak pernah berbicara tanpa bukti . kamu tidak lihat muka mereka yang pucat pasi ." ucap Samantha Dengan suara cekikikan .
Suci ikut tertawa . Samantha lalu mengajak suci untuk pergi ke kasir . setelah melakukan pembayaran selamatan suci langsung pergi pulang ke rumah. di rumah ternyata Bu lastri sudah menunggu . Bu Lastri sangat terkejut dengan belanjaan mereka Dia sangat banyak .
bersambung ,,,