Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6.
Setelah sarapan kedua kakak beradik berangkat pergi ke tujuan masing-masing dengan menggunakan motor yang mereka miliki untuk bepergian.
“Nanti kalau pulang jangan kemalaman, takutnya ada yang jahat di luar sana," kata Jayanti mengingatkannya.
"Iya, Kak, terimakasih!" jawabnya kemudian menyalakan mesin motornya.
Mereka berpisah di jalan utama karena arah tujuan berbeda. Hari ini Salindra akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang ditawarkan oleh Hafsah temannya. Ia sangat bersemangat dan hatinya merasa senang.
Saat berhenti di lampu rambu lalu lintas di sebelahnya mobil mewah berhenti dengan kaca depan terbuka. Salindra tanpa sengaja menoleh melihat ayahnya duduk di kursi kemudi sedangkan di sampingnya duduk seorang perempuan cantik. Mereka terlihat sangat bahagia, mata Salindra menangkap sosok anak remaja duduk di belakang ikut bicara.
Pemandangan pagi itu membuat dada Salindra terasa nyeri, matanya terasa panas. "Bisa-bisanya mereka bahagia diatas derita kami anak kandungnya sendiri," batin Salindra sambil senyum miris.
Tiiiiinn
Salindra tersadar dari lamunannya segera melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Salindra sampai di depan perusahaan kemudian memarkirkan motornya dan turun berjalan masuk dengan langkah dan hati yakin.
"Permisi, Kak! Kenalkan saya Salindra, Saya ingin melamar pekerjaan dan ini CV saya," sapa Salindra di depan Resepsionis.
"Tunggu sebentar ya, saya hubungi dulu pihak HDR, " Kata petugas Resepsionis
Salindra mengangguk kemudian Resepsionis menghubungi lewat interkom dan tidak lama kemudian datang seorang perempuan cantik dengan pakaian khusus berjalan dengan anggun menghampiri Salindra sambil tersenyum ramah.
"Apakah anda yang bernama Salindra?" tanya Perempuan tersebut.
“Iya benar, Kak," jawab Salindra.
"Mari ikut saya," ajaknya berjalan lebih dulu. Salindra mengikuti dari belakang.
Mereka masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dua puluh. Selama berada di dalam lift Salindra banyak pertanyaan di kepalanya yang penasaran dengan tempat dan apa pekerjaannya. Ia akan bertanya nanti ketika sudah selesai melakukan interview.
Pintu lift terbuka mereka berjalan keluar perempuan itu berhenti di depan ruang Direktur sambil mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam menyuruh mereka masuk.
Begitu membuka pintu mereka masuk berjalan dan berdiri di depan meja Direktur. "Selamat pagi, Pak Haikal. Saya datang bersama calon karyawan yang bapak suruh,"
Direktur bernama Haikal melihat Salindra dengan lekat tanpa berkedip kemudian berkata. "Kamu siapkan ruangan untuknya, karena hari ini dia akan mulai bekerja,"
"Vita, tempatkan dia di ruangan sebelahku," katanya lagi kemudian melanjutkan membaca laporan.
Vita terkejut mendengar pernyataan Haikal yang tidak biasa membuatnya heran. Biasanya Bosnya akan melakukan interview lebih dahulu tapi berbeda dengan Salindra.
"Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi," kata perempuan bernama Vita.
“Tunggu,"
Kedua perempuan itu menoleh sebelum melangkah menatap Haikal heran. “Iya, Pak. Ada apa?" tanya Vita.
“Siapa nama kamu?" tanya Haikal menunjuk Salindra.
"Nama saya Salindra, Pak," jawab Salindra sambil menunduk hormat.
“Salindra, hmm.. Kalian boleh keluar," katanya sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir mereka.
Vita dan Salindra berjalan keluar dari ruangan Direktur. Setelah berada di luar Vita mengajak masuk ke ruangan sebelah dari ruangan Direktur tepatnya ruang untuk Sekertaris.
Deg
Salindra terkejut ketika melihat tulisan di pintu bagian atas tertulis sebuah nama jabatan di perusahaan SEKRETARIS. Hatinya merasa haru baru awal masuk kerja sudah di tempatkan sebagai sekretaris, airmatanya hampir saja jatuh segera menghapus dengan cepat agar tidak diketahui Vita.
"Selamat ya, Salindra, baru masuk langsung di tempatkan sebagai sekretaris, jarang loh yang lolos interview saat melamar pekerjaan di sini. Kami berharap kamu bisa bekerja dengan Profesional dan konsisten, kalau begitu aku pergi. Selamat bekerja," kata Vita memberi arahan kepada Salindra.
“Tunggu_" Salindra merasa sungkan
"Ada apa?" Vita melihat Salindra mengernyitkan dahi.
"Terimakasih anda sudah membantu saya, kalau boleh tahu nama anda siapa tadi?" tanya Salindra dengan malu.
“Panggil saja Vita biar lebih akrab," jawab Vita dengan senyum ramah.
“Vi.. ta... Vita... Aku akan mengingat namamu, terimakasih banyak," sahut Salindra.
“Sama-sama," jawabnya kemudian meninggalkan Salindra.
Salindra masuk ke dalam ruangan dengan degup jantung sangat cepat, ia merasakan udara dingin di dalam ruangan ber AC sambil berjalan masuk. Lalu, duduk dengan ragu, karena baru pertama kali duduk di kursi sekertaris.
"Syukur Alhamdulillah aku di terima dan langsung bekerja saat ini juga, sungguh di luar dugaan, apakah aku harus menghubungi kak Jayanti... Nanti saja kalau istirahat atau pas pulang, kan ketemu di rumah," kata Salindra pada dirinya sendiri.
Tok
Tok
Tok
Salindra terkejut melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Sepersekian detik keduanya diam saling pandang, pria itu berjalan masuk dengan canggung karena baru pertama kali melihat karyawan baru. Ia membawa beberapa map di tangannya dan meletakkan di atas meja kerja Salindra.
"Kamu pelajari beberapa pokok penting mengenai perusahaan dan kamu harus hapal aturan yang ada di perusahaan, semua ada di sini. Kamu jadi sekertaris punya tanggung jawab penuh atas pekerjaan dan resikonya, jika keberatan kamu boleh angkat kaki dari sini," ucapnya dengan tegas.
Salindra melihat tumpukan map kepalanya berdenyut, matanya menatap lekat dan terasa perih kemudian melihat pria di depannya.
“Baiklah, saya akan mempelajari semua ini, mohon bimbingan dari anda karena saya baru pertama kali bekerja di perusahaan ini jadi saya butuh waktu untuk belajar mengerjakan semuanya," kata Salindra dengan perasaan tidak menentu.
Pria itu menatap Salindra lekat, ia tersenyum smirk memperhatikan sikap dan gaya bicara Salindra. Seakan ada yang aneh pada dirinya, Salindra melihat tubuhnya sendiri merasa malu dan membetulkan letak pakaiannya.
"Kenalkan namaku Rayan, aku Asisten pribadi Pak Haikal. Jika kamu butuh sesuatu panggil saja Vita atau Elis, mereka adalah orang suruhan," kata Pria bernama Rayan kemudikan berjalan keluar dengan langkah lebar.
Salindra bernapas lega saat pintu di tutup rapat dari luar. Kemudian membuka map berwarna kuning, di sana tertulis beberapa peraturan perusahaan yang harus ia taati. "Banyak sekali peraturannya, apakah tidak bisa di singkat?" gumamnya.
Di divisi lain para karyawan sedang membicarakan karyawan baru. Mereka penasaran dengan karyawan baru yang langsung menduduki kursi sekretaris tanpa interview. Banyak yang tidak setuju dengan keputusan Direktur yang tidak adil terhadap pelamar kerja lain apalagi terhadap karyawan lama.
"Bagaimana kalau kita protes Pak Haikal, karena tidak adil dengan karyawan lama yang tidak naik jabatan. Sedangkan yang baru melamar langsung menduduki kursi sekretaris," kata Citra sambil mengetuk meja menggunakan ballpoint.
"Aku tadi pagi lihat ada satu pelamar seorang perempuan berjalan bersama Vita, wajahnya sih lebih cantik dia daripada Vita, maaf loh ini cuma pandanganku saja. Tapi tidak tahu kalau soal skill," kata Dila mengingat pagi tadi saat melihat Salindra.
"Apa katamu... Lebih cantik dari Vita, jadi penasaran secantik apa orangnya," sahut Citra tersenyum sinis pikirannya menerawang ingin tahu wajah Salindra.
Semua yang mendengar perkataan Citra waspada karena bisa cepat menyebar sampai bos mereka. Mulut Citra memang tajam kalau urusan adu domba.