Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Hati Yang Terluka
Bab 6 - Hati Yang Terluka
Apa yang terjadi di antara Raisa dan Kelvin tak luput dari sepasang mata yang menatap marah kearah mereka. Ia merasa di permainkan. "Raisa...?" Suaranya memanggil dengan nada kesal. "Apa yang kamu lakukan dengan pria ini?" Lanjutnya menarik tangan Raisa dari pelukan Kelvin.
"Akhh, sakit Tuan, lepaskan saya?" Berusaha melepaskan cengkraman tangan pria yang saat ini menatapnya penuh amarah lalu berbalik ke arah Kelvin.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Tuan saya, saya hanya ingin bertemu dengan Kelvin untuk terakhir kalinya." Raisa berusaha menjelaskan dengan nada ketakutan.
"Apa masalah Anda? Raisa adalah kekasih saya, bukankah wajar jika kami berpelukan?" Kelvin tak kalah marahnya melihat sang kekasih di tarik secara paksa.
"Masalah, dia adalah calon istri saya. Sekarang saya minta jauhi dia." Setelah mengatakan itu, Senopati menarik tangan Raisa keluar dari cafe.
"Raisa... Raisa tunggu?" Namun yang di panggil tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya terus di tarik.
Saat tiba di parkiran, Raisa sudah melepaskan pergelangannya dari Senopati. "Kenapa Anda, melakukan itu? Saya hanya ingin berpamitan untuk yang terakhir kalinya." Lagi-lagi air mata itu jatuh tampa bisa ia tahan, dunianya telah hancur semua yang ia miliki hari ia relakan begitu saja, bahkan seorang pria yang sangat ia cintai.
"Bagus ya kamu, mentang-mentang saya keluar kota dalam dua hari ini kamu bisa bebas melakukan apapun yang kamu mau termaksud menemui pria itu?" Ucapan Senopati pelan tapi terdengar sangat dingin dan penuh penekanan. "Kamu calon istri saya, bagaiamana jika ada yang melihat kamu lalu mau taroh di mana wajah saya, jika orang tau kamu calon istri dari Senopati Aditama?"
Raisa hanya bisa terdiam mendengar ucapan Senopati, apa yang di katakan pria itu sepenuhnya benar, tapi Raisa juga berasal harus menemui Kelvin untuk mengatakan semuanya, agar Kelvin tak pernah lagi berharap darinya.
"Radit, saat tiba nanti jangan biarkan di keluar dari rumah?"
Radit, Asisten kepercayaan Senopati yang sudah mengikuti tuannya bertahun-tahun, hanya mengangguk patuh tanpa berani bertanya lebih lanjut. Ia bisa melihat betapa panasnya suasana di antara keduanya saat itu.
Sementara itu, Raisa memeluk kedua lengannya sendiri, tubuhnya sedikit gemetar bukan hanya karena dinginnya angin sore, tapi juga karena campuran rasa takut, bersalah, dan sakit hati yang berkumpul menjadi satu. Ia tahu Senopati punya hak untuk marah, tapi hatinya terasa semakin sempit seolah tak ada lagi ruang untuk bernapas.
Mobil melaju meninggalkan area kafe dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap, mereka menaiki mobil yang berbeda karena Raisa rak ingin semobil dengan Senopati. Senopati tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras menahan amarah yang masih meluap. Di matanya, ia melihat pemandangan tadi seolah Raisa sengaja mengkhianati nya, padahal mereka belum menikah tapi ia sudah berlebihan seperti itu. Di sisi lain ia juga tak bisa mengabaikan rasa sesak yang muncul di dadanya saat melihat wanita itu dipeluk orang lain.
Sementara itu, di dalam mobil yang membawanya kembali ke rumah besar itu, Raisa menatap ke luar jendela. Angin sore menerpa wajahnya yang basah air mata. Ia tahu, keputusan ini adalah akhir dari masa lalunya dan awal dari hidup baru yang belum ia ketahui seperti apa bentuknya—terutama dengan sosok Senopati yang memiliki sifat yang masih penuh teka-teki baginya.
Sesampainya di rumah besar itu, Senopati turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil yang Raisa tumpangi dengan gerakan yang terasa kasar.
"Masuk dan kunci dirimu di kamar. Jangan sampai aku mendengar kabar apa pun lagi bahwa kamu keluar tanpa izinku, mengerti?" perintahnya dengan nada yang sama dinginnya seperti udara di luar sana.
Raisa menunduk dalam, air matanya kembali menetes jatuh ke lantai. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk samar lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju tangga. Begitu sampai di dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat, barulah ia merosot terduduk di belakang pintu itu, menangis sejadi-jadinya.
Ia memeluk lututnya, pikirannya melayang ke arah Kelvin—wajah pria itu yang terlihat hancur dan bingung tadi terus terbayang di kepalanya. Lalu terbayang pula tatapan tajam Senopati yang seolah melihatnya sebagai wanita yang tidak tahu diri. Rasanya dunia ini terlalu berat untuk ia pikul sendirian.
Di ruang kerjanya, Senopati berdiri di depan jendela besar, tangannya menggenggam erat gagang gelas berisi minuman keras. Wajahnya masih terlihat tegang. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia marah hanya karena menjaga nama baiknya dan perjanjian yang sudah disepakati, bukan karena hal lain. Namun semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin ia sadar bahwa amarahnya jauh lebih besar daripada yang seharusnya.
Mengapa ia merasa begitu tersinggung melihat Raisa bersama pria lain? Mengapa rasanya ingin segera menariknya pergi dan memastikan tidak ada orang lain yang berani mendekatinya lagi?
Pikirannya terus berkecamuk hingga suara ketukan lembut di pintu menyadarkannya.
"Tuan, ada pesan dari luar," suara Radit terdengar dari balik pintu.
"Masuklah," jawab Senopati singkat.
Radit membuka pintu dan melangkah masuk dengan hati-hati. "Tadi ada seseorang yang datang ke sini. Pria bernama Kelvin ia adalah pria yang bertemu dengan nona di cafe tadi. Ia ingin bertemu dengan Nona Raisa, tapi sudah saya usir dan katakan bahwa Nona tidak bisa menerima tamu."
Rupanya Kelvin tadi diam-duam mengikuti mobil yang di tumpangi Raisa hanya untuk mengetahui dimana wanitanya akan di bawah pergi. Namun yang Kelvin tidak menyangkal bahwa rumah yang di tempati Raisa adalah rumah yang sangat mewah dan besar, bahkan penjagaan yang sangat ketat luar biasa.
Namun yang pria itu dapatkan hanya penolakan ia tak di izinkan bertemu dengan Raisa, Kelvin berpikir bahwa jalannya untuk bertemu tidak akan terjadi lagi.
Mendengar nama itu disebut kembali, amarah yang sempat sedikit mereda seolah menyala lagi. Senopati memutar badannya, tatapannya tajam.
"Katakan pada penjaga gerbang. Mulai hari ini, jangan biarkan siapa pun yang tidak berwenang masuk atau bahkan bertanya tentang Raisa. Dan pastikan dia tidak bisa keluar dari pagar rumah ini tanpa didampingi orang yang saya percayai. Mengerti?"
"Baik, Tuan."
Setelah Radit pergi, Senopati kembali berdiri mematung. Ia melangkah mendekati pintu kamar Raisa, berhenti tepat di depan sana. Ia bisa mendengar samar suara isak tangis dari balik pintu kayu itu. Ingin rasanya ia mengetuk dan menegurnya lagi, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah lebih dekat.
Untuk pertama kalinya, Senopati merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tahu ia telah mengurung kebebasan Raisa, tapi ia merasa itu satu-satunya cara agar wanita itu tetap aman dan tak terjebak dalam kesalahan yang bisa merusak masa depan mereka berdua.
Malam itu, di dalam kamar masing-masing, keduanya sama-sama terjaga hingga larut malam—masing-masing menyimpan luka, keraguan, dan perasaan yang belum mereka pahami sepenuhnya.
"Aku harap, tak menyimpan perasaan terhadapnya. Aku hanya takut kehilangan?"
Keesokan paginya Senopati berangkat ke perusahaan grup Aditama, tanpa bertemu dengan Raisa, pernikahannya hanya dalam hitungan hari lagi, ia akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum acara pernikahannya.
Sesampainya di kantor ia di sambut para karyawan dan menyapanya penuh hormat. Hari ini banyak agenda yang akan ia lakukan termaksud bertemu beberapa klien, termaksud klien dari Eropa.
***
Tinggalian komentar kalian tentang bab ini.