Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
Senin pagi terasa berbeda bagi Nadira.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan juga karena proyek baru yang mulai berjalan.
Melainkan karena sejak bangun tidur, ibunya sudah tiga kali mengingatkan.
"Jangan lupa nanti sore."
"Iya, Ma."
"Datang yang rapi."
"Iya."
"Terus jangan telat."
Nadira memijat pelipis.
"Mama..."
"Ini ulang tahun tetangga, bukan wawancara kerja."
"Tapi kenapa aku yang deg-degan?"
Ibunya tersenyum penuh arti.
"Entahlah."
---
Di kantor, Arga tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.
Beberapa kali ia menerima telepon dari ibunya.
"Iya, Ma."
"Kuenya sudah diambil?"
"...Sudah."
"Balonnya?"
"...Sudah juga."
"Jangan lupa jemput Papa."
"Iya, Ma."
Begitu telepon ditutup, Nadira yang duduk di seberangnya menahan tawa.
"Kamu kelihatan stres."
"Aku?"
"Iya."
"Padahal yang ulang tahun mamamu."
Arga menghela napas panjang.
"Kalau Mama lagi bikin acara..."
"...seluruh keluarga otomatis jadi panitia."
Nadira tertawa.
"Kasihan."
"Kamu jangan ketawa."
"Nanti sore kamu juga kena."
"Hah?"
"Mama pasti nyuruh kamu bantu."
Nadira mendadak berhenti tertawa.
"Jangan-jangan benar."
---
Sore harinya, Nadira datang bersama kedua orang tuanya ke rumah Arga.
Rumah yang biasanya sederhana kini tampak lebih meriah.
Lampu-lampu kecil menghiasi teras.
Balon berwarna putih dan emas dipasang di beberapa sudut.
Di halaman belakang sudah berkumpul beberapa tetangga.
"Selamat datang!"
Mama Arga langsung menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Terima kasih sudah datang."
"Selamat ulang tahun ya."
"Semoga sehat selalu."
Suasana terasa akrab.
Bahkan ayah Nadira langsung bergabung mengobrol dengan para tetangga lain.
---
"Dir."
Suara Arga terdengar dari belakang.
Nadira menoleh.
Pria itu mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung sampai siku.
Sederhana.
Tetapi justru membuatnya terlihat lebih dewasa.
"Kamu cantik."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Nadira membeku.
"Hah?"
Arga baru sadar apa yang ia ucapkan.
"Maksudku..."
Ia langsung menggaruk tengkuk.
"...bajunya bagus."
Nadira menahan senyum.
"Tadi bilang cantik."
"Itu..."
"Wah."
"Kamu mulai nggak bisa nyari alasan ya?"
Arga menutup wajahnya sebentar.
"Kenapa tiap ngomong sama kamu selalu keceplosan?"
"Karena kamu kebanyakan ngomong."
"Kayaknya iya."
Mereka sama-sama tertawa.
---
Belum lama mengobrol, Mama Arga datang menghampiri.
"Gar."
"Iya, Ma?"
"Tolong ambil minuman di dapur."
"Oke."
"Dir."
"Iya, Tante?"
"Bantuin Arga ya."
"Tuh kan..."
bisik Arga pelan.
"Aku udah bilang."
Nadira mendengus geli.
---
Di dapur, mereka sibuk menuangkan minuman ke dalam gelas.
Arga membawa nampan.
Nadira menyusun gelas.
Sesekali tangan mereka bersentuhan.
"Kamu capek?"
tanya Arga.
"Sedikit."
"Kalau capek bilang."
"Memangnya kenapa?"
"Nanti aku kerjain sendiri."
Nadira tersenyum kecil.
"Kalau semua kamu kerjain sendiri..."
"...aku nanti dikira tamu."
"Kamu memang tamu."
"Tapi juga tetangga."
"Nah."
"Berarti boleh bantu."
Arga mengangguk sambil tertawa.
"Oke, aku kalah."
---
Acara inti dimulai setelah salat Magrib.
Semua tamu berkumpul di halaman belakang.
Mama Arga meniup lilin sederhana di atas kue ulang tahun.
Tepuk tangan memenuhi halaman.
Tak lama kemudian, acara berubah menjadi santai.
Beberapa tetangga mulai bernyanyi menggunakan karaoke.
Rina yang ternyata juga diundang karena sudah akrab dengan keluarga Arga, langsung mengambil mikrofon.
"Ayo!"
"Nadira sama Arga duet!"
"Nggak!"
Jawaban mereka kompak.
Justru karena terlalu kompak, semua orang tertawa.
"Kan cocok."
"Wuuu..."
Nadira menatap Rina tajam.
"Kamu memang cari masalah."
Rina hanya terkekeh.
"Masa pasangan proyek nggak bisa duet?"
"Rin!"
Arga tertawa sambil menggeleng.
"Aku nyerah."
Akhirnya, demi menghentikan sorakan, mereka naik ke depan.
"Lagu apa?"
tanya operator karaoke.
Nadira dan Arga saling berpandangan.
"Nggak tahu."
Operator tersenyum jahil.
"Ya sudah, saya pilih."
Beberapa detik kemudian, musik mulai mengalun.
Mereka langsung saling menoleh.
"Lho..."
"Lagu cinta?"
Seluruh tamu langsung tertawa.
"Wuuuu!"
Arga menutup wajahnya.
"Ini pasti kerjaan Rina."
Rina mengangkat kedua tangan.
"Bukan aku!"
Meski sempat salah tingkah, akhirnya mereka tetap menyanyikan lagu itu dengan canggung.
Beberapa kali suara mereka bertabrakan.
Beberapa kali mereka salah masuk nada.
Namun justru itu yang membuat semua orang tertawa.
Saat lagu selesai, tepuk tangan meriah terdengar.
Mama Arga tersenyum puas.
"Bagus."
Ayah Nadira berbisik pelan kepada istrinya.
"Kalau begini terus..."
"...kita tinggal nunggu siapa yang duluan jujur."
Ibunya hanya tersenyum.
"Saya rasa..."
"...nggak lama lagi."
---
Menjelang acara selesai, listrik di halaman sempat padam beberapa detik.
Dalam suasana gelap itu, seseorang tanpa sengaja menyenggol meja.
Sebuah vas bunga jatuh.
Brak!
Nadira yang berdiri di dekatnya refleks mundur.
Namun tumit sepatunya tersangkut kabel dekorasi.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Dir!"
Arga yang berada tak jauh langsung meraih pinggang Nadira sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.
Lampu kembali menyala.
Suasana mendadak hening.
Nadira masih berada dalam pelukan Arga.
Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang berbicara.
Sampai terdengar suara seseorang berdeham keras.
"Ehem..."
Mereka buru-buru menjauh.
Yang berdiri di depan ternyata...
Ayah Nadira.
Semua orang langsung menoleh ke arah mereka.
Wajah Nadira memerah seketika.
Sementara Arga tampak sama gugupnya.
Namun yang mengejutkan, Ayah Nadira tidak marah.
Beliau hanya tersenyum tipis, lalu berkata santai,
"Hati-hati."
"Kalau jatuh..."
"...kasihan yang nangkap."
Sontak seluruh halaman dipenuhi gelak tawa.
Arga dan Nadira saling berpandangan, lalu sama-sama menunduk malu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, bukan hanya mereka yang menyadari perasaan yang mulai tumbuh.
Kedua keluarga pun mulai melihat bahwa kedekatan itu bukan lagi sekadar hubungan rekan kerja atau tetangga.
Dan tanpa mereka sadari...
Seseorang yang baru datang ke acara itu memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu menatap Nadira cukup lama sebelum tersenyum tipis.
"Akhirnya ketemu juga."
Kalimat pelan itu menjadi awal dari masalah baru yang belum diketahui siapa pun.
**Bersambung ke Episode 18...**