NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lastri Meminta Bantuan Pekerjaan dan Tempat Tinggal Sementara

Sudah hampir seminggu Sulis dan kedua anaknya berada di kampung.

Awalnya Irwan merasa biasa saja, tetapi semakin hari rumah itu terasa semakin kosong. Tak ada suara anak-anak bertengkar di ruang tamu. Tak ada aroma masakan Sulis saat ia pulang malam.

Yang tersisa hanya rumah sunyi dan rutinitas kerja yang melelahkan.

Pagi itu Irwan baru saja membuka ruko ketika melihat Lastri datang dengan wajah pucat. Wanita itu tampak terburu-buru dan matanya sedikit sembab seperti habis menangis.

“Pak Irwan...” panggilnya pelan.

Irwan langsung berdiri dari kursinya.

“Loh Bu Lastri, kenapa?”

Lastri menggenggam tali tasnya erat-erat seperti sedang menahan gugup.

“Saya boleh ngobrol sebentar?”

“Iya, silakan duduk.”

Lastri duduk perlahan di kursi depan meja kerja Irwan. Beberapa kali ia tampak ingin bicara, tetapi ragu-ragu.

Irwan mulai merasa tidak enak.

“Ada masalah?”

Lastri tersenyum tipis, tetapi jelas dipaksakan.

“Kontrakan saya nunggak dua bulan.”

Irwan terdiam.

“Warung lagi sepi?” tanyanya pelan.

Lastri mengangguk kecil.

“Anak saya juga lagi sakit kemarin... jadi uangnya kepake buat berobat.”

Nada suaranya terdengar lirih dan penuh rasa malu.

“Saya sebenarnya malu cerita beginian sama Bapak.”

Irwan memandang wanita itu beberapa detik. Entah kenapa ia merasa iba melihat Lastri yang tampak berusaha kuat sendirian.

“Terus sekarang gimana?”

“Pemilik kontrakan nyuruh saya keluar minggu ini kalau belum bayar.”

Irwan menghela napas pelan.

Lastri cepat-cepat menunduk.

“Tapi nggak apa-apa kok, Pak. Saya cuma mau tanya... di sini lagi butuh pegawai nggak?”

Irwan sedikit terkejut.

“Kerja di ruko?”

Lastri mengangguk cepat.

“Saya bisa bantu catat pesanan atau bersih-bersih. Yang penting saya bisa dapat tambahan uang.”

Irwan berpikir beberapa saat. Sebenarnya ia memang mulai kewalahan mengurus administrasi karena pesanan makin banyak.

“Kalau bantu admin sederhana mungkin bisa,” jawabnya akhirnya.

Wajah Lastri langsung berubah lega.

“Serius, Pak?”

“Iya. Tapi gajinya nggak besar dulu.”

“Nggak apa-apa. Terima kasih banyak.”

Wanita itu terlihat hampir menangis karena terlalu bersyukur.

Dan sejak hari itu, Lastri mulai sering berada di ruko milik Irwan.Awalnya semua masih terlihat normal.Lastri membantu mencatat pembayaran pelanggan, membalas pesan pesanan sederhana, dan sesekali membuat kopi untuk para pegawai.Namun tanpa sadar, hubungan dirinya dan Irwan mulai menjadi lebih dekat.Irwan mulai terbiasa mendengar suara Lastri sejak pagi.Mulai terbiasa makan siang bersama wanita itu di sela pekerjaan.Dan mulai terbiasa bercerita hal-hal kecil yang bahkan tak pernah ia ceritakan pada orang lain.

“Mas Irwan capek ya?” tanya Lastri suatu siang sambil memberikan segelas kopi.

Irwan terkekeh kecil.

“Kelihatan banget ya?”

“Soalnya dari tadi belum duduk.”

Irwan menerima kopi itu lalu menatap Lastri sekilas.

“Terima kasih.”

Lastri tersenyum kecil.

Senyum sederhana itu entah kenapa terasa menenangkan.

Sore harinya ruko mulai sepi. Beberapa pegawai sudah pulang lebih dulu.

Lastri masih duduk sambil menghitung nota pesanan.

“Bu Lastri...” panggil Irwan.

“Iya?”

“Anak kamu sekarang gimana?”

“Udah mendingan.”

“Syukurlah.”

Lastri menunduk kecil sebelum berkata pelan,

“Kalau nggak ada Mas Irwan saya bingung harus gimana.”

Kalimat itu membuat Irwan sedikit terdiam.

Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang begitu bergantung padanya selain keluarga sendiri.

Dan sebagai laki-laki, rasa dibutuhkan itu perlahan membuat hatinya goyah.

Ponsel Irwan tiba-tiba berbunyi.

Nama Sulis muncul di layar.

Irwan langsung mengangkat telepon itu.

“Hallo?”

“Mas lagi sibuk?” tanya suara Sulis dari seberang.

“Lumayan.”

“Kapan jemput aku sama anak-anak?”

Irwan melirik Lastri sekilas yang masih duduk diam di dekat meja.

“Mungkin beberapa hari lagi ya. Kerjaan lagi banyak banget.”

“Oh... yaudah.”

Nada suara Sulis terdengar sedikit kecewa.

Irwan sebenarnya sadar ia mulai menikmati rumah yang kosong. Tak ada pertanyaan, tak ada kerepotan mengurus anak, dan kini ada Lastri yang selalu menemaninya di ruko.

Perasaan itu membuatnya sendiri merasa bersalah,namun ia terus membiarkannya tumbuh.

Malam mulai turun ketika hujan deras kembali mengguyur kota.Lastri terlihat gelisah sambil memegang ponselnya.

“Kenapa?” tanya Irwan.

Lastri tampak ragu menjawab.

“Pemilik kontrakan saya datang tadi.”

“Terus?”

“Besok saya harus keluar.”

Irwan mengernyit.

“Mau tinggal di mana?”

Lastri menggeleng pelan.

“Saya belum tahu.”

Beberapa detik suasana menjadi hening. Hanya suara hujan yang terdengar dari luar ruko.

Hingga akhirnya Lastri berkata lirih dengan wajah penuh rasa malu.

“Pak Irwan... saya boleh numpang sementara nggak?”

Kalimat itu membuat Irwan langsung terdiam.

Irwan tidak langsung menjawab.

Tatapannya tertahan pada wajah Lastri yang terlihat benar-benar cemas. Wanita itu menunduk dalam-dalam sambil menggenggam ujung jilbabnya gelisah.

“Saya tahu ini nggak pantas,” ucap Lastri cepat. “Bapak juga udah punya keluarga. Saya cuma bingung harus ke mana.”

Suara hujan di luar semakin deras, membuat suasana ruko terasa sempit dan sunyi.

Irwan mengusap tengkuknya pelan. Dalam pikirannya muncul bayangan Sulis dan anak-anak yang masih berada di kampung. Rumah mereka memang kosong sekarang.

Namun tetap saja...

Ada sesuatu yang terasa salah.

“Anak kamu gimana?” tanya Irwan akhirnya.

“Lagi di rumah tetangga.”

“Kalau keluarga?”

“Saya nggak punya siapa-siapa di sini.”

Lastri tersenyum kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Saya cuma numpang beberapa hari sampai dapat kontrakan baru. Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa, Pak.”

Irwan menghela napas panjang.Dan rasa iba itu perlahan mulai bercampur dengan rasa nyaman yang sejak beberapa hari terakhir tumbuh diam-diam.

“Rumah saya kosong sementara,” ujar Irwan pelan. “Istri sama anak-anak lagi di kampung.”

Lastri langsung mendongak cepat.

“Tapi...” Irwan kembali bicara sebelum wanita itu salah paham. “Cuma sementara sampai kamu dapat tempat lain.”

Wajah Lastri langsung berubah lega.

“Terima kasih banyak, Pak Irwan.”

“Nanti kamu tinggal di kamar depan aja.”

Lastri mengangguk berkali-kali.

“Saya nggak tahu harus balas gimana.”

Irwan tersenyum tipis.

“Nggak usah dipikirin.”

Padahal jauh di dalam hatinya, Irwan tahu keputusan itu berbahaya.Malam itu, untuk pertama kalinya Lastri menginjakkan kaki ke rumah Irwan.

Rumah yang biasanya ramai kini terasa begitu sunyi tanpa Sulis dan anak-anak.

Lastri berdiri kikuk di ruang tamu sambil memegang tas kecil miliknya.

“Rumahnya bagus...” gumamnya pelan.

Irwan meletakkan kunci mobil di meja.

“Biasa aja.”

Lastri memperhatikan beberapa foto keluarga yang terpajang di dinding. Foto Irwan dan Sulis saat ulang tahun pernikahan. Foto Dito memakai seragam sekolah. Dan foto keluarga kecil mereka yang tampak bahagia.

Entah kenapa dada Lastri terasa sedikit sesak melihatnya.

“Saya jadi nggak enak,” bisiknya.

Irwan menoleh.

“Kenapa?”

“Saya takut ganggu rumah tangga Bapak.”

Kalimat itu membuat Irwan terdiam sesaat.

Namun pria itu akhirnya tersenyum kecil.

“Nggak segitunya.”

Padahal tanpa mereka sadari, batas antara kasihan dan kenyamanan perlahan mulai menghilang.

Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin intens,Lastri mulai terbiasa menyiapkan kopi pagi untuk Irwan sebelum berangkat ke ruko,wanita itu juga memasak makanan sederhana di rumah kosong tersebut,hal-hal kecil yang dulu selalu dilakukan Sulis.

“Mas Irwan suka masakan pedes ya?” tanya Lastri suatu malam sambil meletakkan piring di meja makan.

Irwan sedikit terkejut mendengar panggilan itu.

“Mas?”

Lastri langsung salah tingkah.

“Eh maaf... kebiasaan.”

Namun Irwan justru tertawa kecil.

“Nggak apa-apa.”

Sejak saat itu panggilan “Pak Irwan” perlahan berubah menjadi “Mas Irwan”.

Dan perubahan kecil itu terasa jauh lebih intim dari yang seharusnya.

Sementara itu di kampung, Sulis sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Wanita itu sibuk menemani ibunya ke pasar dan membiarkan anak-anak menikmati liburan mereka.

Malam hari Sulis masih rutin menelepon suaminya.

“Kamu sehat kan, Mas?”

“Sehat.”

“Makannya dijaga.”

“Iya.”

“Rumah sepi nggak ada aku?”

Irwan sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab singkat,

“Lumayan.”

Sulis terkekeh kecil dari seberang sana.

“Makanya cepet jemput kita.”

“Iya nanti.”

Setelah telepon ditutup, Irwan memandang ruang tamu rumahnya yang kini tidak lagi kosong.

Lastri sedang tertidur di sofa sambil menemani anaknya bermain mobil-mobilan kecil di lantai.

Suasana itu terlihat hangat,dan tanpa Irwan sadari, ia mulai menikmati kehadiran perempuan lain di dalam rumahnya sendiri.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!