Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesum!
"... Aku hanya ingin pulang." Suara Li Yunru terdengar lebih pelan.
Pria tua itu menghela napas kecil. "Tapi, Nak. Itu tidak mungkin. Kamu ditakdirkan dengan dunia ini."
"Mengapa?"
Pria tua itu menatapnya cukup lama sambil mengelus janggut panjangnya. Seolah sedang menimbang sesuatu.
"Aku yakin kamu akan menyukai dunia ini," katanya. "Di sini, kamu bisa mewujudkan keinginanmu untuk menjadi seorang koki spiritual."
Li Yunru tertegun. "Koki … spiritual?"
"Ya, jadilah koki spiritual. Aku yakin kamu bisa melakukannya."
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, tubuh pria tua itu perlahan memudar seperti asap putih. Sosoknya kemudian berubah menjadi bayangan cahaya, sebelum akhirnya menjelma menjadi seekor naga putih raksasa transparan yang melayang di langit ruang spiritual.
Auranya yang agung langsung memenuhi seluruh ruang spiritual. Naga putih itu perlahan menoleh. Matanya yang besar menatap Li Yunru.
"Nak, ingat saja, namaku Bai Shenzhen. Dan lelaki tua ini benar-benar minta maaf karena menyeretmu ke dalam masalah."
Sosok naga putih transparan mulai berubah menjadi partikel cahaya. Sebelum menghilang, ia kembali berkata pada Li Yunru.
"Sekali lagi, tolong jagalah dia. Dengan begitu, lelaki tua ini yakin bahwa dia tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama ...."
Dalam sekejap mata, sosok naga putih transparan itu menghilang dari pandangan.
Li Yunru hanya bisa berdiri terpaku. Apa maksud semua ini? Masih harus menjaga seseorang?
Apakah dia ... benar-benar bertransmigrasi?
Li Yunru akhirnya berseru. "Tunggu! Tunggu dulu!"
Namun tidak ada jawaban. Ruang spiritual itu kembali sunyi. Li Yunru menggaruk kepalanya dengan frustasi. Ia kemudian mulai melihat-lihat sekeliling. Lalu tatapannya tertuju pada rak kayu kecil yang dipenuhi buku usang.
"Mungkin aku bisa mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi."
Li Yunru bergumam sambil berjalan mendekati tumpukan buku itu. Tanpa sadar, ia menyentuh dahinya. Ternyata luka lecet akibat terbentur batu tadi sudah lama sembuh tanpa meninggalkan bekas luka.
"Lalu mengapa naga tua itu membenturkan kepalaku ke batu?"
Melemparkan pertanyaan yang tak bisa terjawab itu, Li Yunru menarik salah satu buku usang dari rak kayu tua di depannya. Begitu dibuka, huruf-huruf di atas kertas terasa hidup dan mengeluarkan cahaya samar.
Li Yunru mengucek matanya, merasa salah lihat. Melihat sekali lagi ke isi buku, semuanya normal.
"Sepertinya memang salah lihat," gumamnya.
Isi buku memiliki tulisan yang tidak bisa dia mengerti. Bukan bahasa yang diketahuinya. Terlihat seperti tulisan kuno.
Li Yunru mengambil buku yang lainnya tapi isinya sama. Dia benar-benar bisa gila! Apakah semua buku ini berbahasa alien?
Kemudian terdengar suara benda kecil yang terlempar ke air. Li Yunru buru-buru meletakkan buku ke tempat semula dan menghampiri kolam kecil di tengah ruang spiritual.
Tapi permukaan kolam masih tenang, tidak ada tanda-tanda sesuatu jatuh ke dalamnya. Namun ia tak sengaja melihat bayangan seekor kelinci putih yang sangat lucu yang memantul di air kolam. Mirip dengan Ruu tapi sedikit kurus dan tidak memiliki pita di lehernya.
Li Yunru membelalakkan mata dan mencoba melihat lebih dekat, tapi kemudian ia hanya melihat bayangannya sendiri.
Apakah dia salah?
"Apakah aku mulai berhalusinasi?" gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di salah satu kamar tamu Istana Yayue, Li Yunru yang pingsan telah dibaringkan di atas tempat tidur.
Bai Muzhi duduk di kursi kecil di samping ranjang, tampak santai seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun Hei Sanfeng dan Ruu masih berdebat tanpa henti.
"Mengapa kamu menyalahkanku?! Aku membawanya karena dia sendiri terlihat begitu mencolok! Ini bukan salahku!"
Hei Sanfeng, yang masih dalam wujud elang hitam, melebarkan sayapnya dan menatap tajam ke arah Ruu.
"Kamu pikir dia ayam yang bisa kamu ambil untuk dimakan?!" Ruu memasang kuda-kuda, tubuh gemuknya merendah, siap menerjang kapan saja.
Elang hitam itu langsung waspada. Ia buru-buru terbang pendek dan bersembunyi di dekat Bai Muzhi, seolah menjadikannya perisai. Puncak kepalanya yang botak tampak semakin mencolok di bawah cahaya ruangan.
"Itu lebih baik daripada aku menjadikanmu santapanku! Dagingmu kecil sekali, tidak mungkin mengisi celah gigiku!"
"Elang tidak punya gigi! Dasar burung bodoh!" Ruu hampir memutar bola mata merahnya karena kesal.
"...."
Tanpa sadar, elang hitam itu menutupi paruhnya dengan kedua sayapnya. Ia selalu menganggap dirinya seekor harimau, jadi ucapan tadi terlontar begitu saja tanpa dipikir.
Bai Muzhi melipat kedua tangannya di dada, jelas mulai jengah dengan pertengkaran itu. "Hei Sanfeng, berapa umurmu? Masih saja berdebat dengan seekor kelinci?"
"Heh! Kamu membela kelinci gendut itu karena kamu adalah tuannya!"
"Aku bukan lagi tuannya. Gadis itu adalah tuannya sekarang," timpal Bai Muzhi datar, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Hah? Bagaimana mungkin? Apakah karena gadis manusia itu pasanganmu, jadi kelinci gendut itu juga menjadi tawanannya?"
"...."
Ucapan itu terdengar seolah-olah Bai Muzhi dan Li Yunru sedang mengeksploitasi seekor kelinci. Sudut mulut Bai Muzhi berkedut tipis, antara kesal dan tak ingin menanggapi.
Memang sulit berbicara dengan seekor elang yang sedang kesal. Pandangannya sempat jatuh pada kepala botak Hei Sanfeng—godaan untuk mencabut beberapa helai bulu yang tersisa sempat terlintas di benaknya.
Bai Muzhi akhirnya menghela napas panjang. "Seriuslah. Mengapa kamu tiba-tiba membawa gadis itu ke sini?"
"Apakah kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Apa yang harus kutahu?"
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng itu memekik kesal, lalu berteriak, suaranya menggema di dalam kamar.
"Dia itu pasanganmu! Bagaimana mungkin kamu tidak tahu bahwa aura spiritual hijau di tubuhnya sangat menggoda iman!"
Bai Muzhi mendengus pelan. "Kedengarannya seolah-olah kamu makhluk yang sangat taat dan patuh pada dewa."
"Aku ini memang memuja Dewa Binatang! Huh! Dasar tidak peka, selalu saja seperti ini!" gerutunya.
Elang hitam itu lalu mengibaskan sayap dengan kesal sebelum melanjutkan dengan nada bosan, "Dia memakai cincinmu, belum lagi kamu sudah menandainya sebagai pasanganmu. Kalau itu aku, aku pasti sudah mengikatnya ke istana dan menjadikannya ratuku!"
Bai Muzhi sedikit mengernyit. Memang ada sesuatu yang terasa aneh sejak Li Yunru datang dari udara kosong begitu saja. Tanpa sadar, tangannya bergerak ke arah kerah Li Yunru.
Ini mengejutkan Hei Sanfeng dan Ruu. Bai Muzhi benar-benar berinisiatif untuk menyentuh lawan jenis? Masih membuka kerah bajunya?
Bai Muzhi sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Hei Sanfeng dan Ruu. Pandangannya terfokus pada tato kecil berbentuk naga putih di dada kiri gadis itu.
"Ini benar-benar merepotkan," gumamnya pelan, nada suaranya nyaris tak terdengar.
Pikirannya masih tenggelam pada tanda kepemilikan itu hingga ia tidak menyadari bahwa Li Yunru perlahan mulai siuman.
Kelopak mata Li Yunru bergerak perlahan. Pandangannya masih buram namun ia menangkap sosok putih muncul di sampingnya. Tangan pihak lain sedang menarik kerah bajunya.
Tunggu dulu ... Kerah baju?!
Tuhan! Baj*ngan mana yang hendak memanfaatkan tubuhnya?!
Kesadaran Li Yunru langsung terkumpul sempurna. Tanpa berpikir panjang, ia berteriak marah. Sebagai pemegang sabuk hitam dalam bela diri, kekuatan tamparannya jelas tidak bisa dianggap remeh.
"Ahhhh!! Dasar mesum! Beraninya macam-macam denganku!"
Plakk!
Suara renyah tamparan bergema di ruangan itu. Bai Muzhi tidak siap—ia hanya sempat melihat bayangan tangan kecil melayang sebelum akhirnya mendarat di wajahnya. Kepalanya sedikit terdorong ke samping, diikuti rasa panas dan nyeri yang langsung menjalar di pipinya.
Hah! Gadis manusia itu bukan hanya jatuh menimpanya dan mencuri ciuman, sekarang bahkan berani menamparnya?
Bai Muzhi menyentuh pipinya yang memerah, matanya yang merah darah sedikit menyipit. Tatapannya tertuju pada Li Yunru, dalam dan sulit dibaca.
"Manusia, sekarang kamu berani memukul wajahku?" Suaranya rendah, menahan amarah yang jelas muncul di balik ketenangannya.
Li Yunru mengambil posisi duduk dan sama sekali tidak terlihat takut pada Bai Muzhi. Dia melotot tajam padanya, sementara kedua tangannya refleks menutupi dada. Seolah-olah pria di depannya benar-benar akan melakukan sesuatu yang tidak etis kapan saja.
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan dengan menarik bajuku? Aku tahu aku cantik, tapi aku tidak suka pria narsistik!"
Ekspresi Bai Muzhi tidak banyak berubah. "Dada kecil seperti itu, siapa yang menginginkannya?" tanyanya pelan, seolah itu hanyalah pernyataan biasa tanpa maksud menyinggung.
"Apa—apa katamu?!" Li Yunru langsung tersinggung. Wajahnya memerah antara marah dan malu. "Humph! Punyamu saja yang kecil!"
Kali ini, Bai Muzhi benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menyeringai. Sudut bibirnya terangkat tipis, terlebih saat tatapan gadis itu tanpa sadar meluncur ke arah bawah tubuhnya sebelum buru-buru dialihkan kembali.
"Wanita, apa kamu sedang mempertanyakan kejantanan raja ini?"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih