NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 3

Seminggu berlalu tanpa kejadian berarti. Bagi murid-murid SMA Seiran, Lucy hanyalah gadis kutu buku yang duduk di dekat jendela, selalu membaca, tidak pernah bicara kalau tidak perlu. Keberadaannya seperti tanaman hias—ada, tapi tidak ada yang benar-benar peduli.

Dan itu persis seperti yang Lucy inginkan.

Setiap hari, dia mengamati. Di kelas, dia pura-pura membaca buku tebal sementara telinganya menangkap setiap percakapan di sekitarnya. Di kantin, dia duduk di pojok sendirian, menyendok nasi bento murahan sambil mendengarkan gosip-gosip yang berputar di meja-meja lain. Di koridor, di perpustakaan, di lapangan dan di mana pun manusia berkumpul, di situ Lucy berada. Diam. Mendengarkan. Mengumpulkan. Kek jelangkung ae ini Dewi satu ya.

"Kudengar OSIS lagi rapat sampai malam. Kasihan ya, jadi anggota OSIS itu."

"Ketua OSIS sih enak aja, dia kan dingin banget. Masa bodoh sama omongan orang."

"Aku dengar ayahnya Ren itu pengusaha besar. Keluarga Arisugawa punya setengah dari properti di distrik bisnis."

"Pantas saja dia selalu sempurna. Pasti tekanan dari keluarga."

"Kata orang, adiknya lebih santai. Cantik, manja, beda banget sama kakaknya yang kayak robot."

"Eh, jangan ngomongin Ren sembarangan. Nanti ada yang lapor."

"Bener. Dia mungkin dingin, tapi anak buahnya setia banget."

Potongan-potongan informasi itu Lucy simpan dalam benaknya, menyusunnya seperti puzzle. Tapi ada satu hal yang mengganggunya sesuatu yang tidak bisa dia pahami hanya dari menguping di sekolah.

Ren Arisugawa selalu pulang terlambat.

Setiap hari, setelah jam pelajaran selesai, Ren tidak langsung pulang. Dia menghadiri rapat OSIS, memeriksa laporan, berkeliling sekolah untuk memastikan semuanya beres. Ketiga temannya sering menemaninya sampai jam enam atau tujuh malam. Tapi setelah itu, mereka pulang. Dan Ren?

Ren tetap tinggal.

Lucy memperhatikannya selama seminggu. Kadang Ren duduk sendirian di ruang OSIS sampai jam delapan malam, hanya ditemani lampu meja dan setumpuk dokumen. Kadang dia berdiri di balkon sekolah, menatap langit malam dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

Tidak normal. Seorang siswa SMA, bahkan ketua OSIS, tidak akan tinggal di sekolah sampai selarut itu kecuali ada sesuatu yang dia hindari di rumah.

Dan malam ini, Lucy memutuskan untuk mencari tahu.

Jam 19.45. Koridor sekolah sudah gelap, hanya diterangi lampu darurat yang redup. Lucy berdiri di sudut, tubuhnya diselimuti bayangan, menunggu. Dia sudah memberitahu Lili untuk tetap di rumah karena misi malam ini hanya untuk mengamati, dan kucing putih mencolok akan merepotkan.

Tepat pukul delapan kurang lima menit, pintu ruang OSIS terbuka. Ren melangkah keluar, tas di bahunya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dia berjalan menyusuri koridor, menuruni tangga, dan keluar lewat gerbang samping yang sudah sepi.

Lucy mengikutinya.

Dia menggunakan sedikit kekuatan ilahinya bukan untuk menghilang, tapi untuk tidak terdeteksi. Langkah kakinya tidak bersuara. Keberadaannya seperti angin yang lewat. Bahkan dengan insting tajam yang Lucy tahu dimiliki Ren, pemuda itu tidak akan bisa merasakan kehadirannya. Dewi Rubah tidak bisa dideteksi oleh manusia biasa, setajam apa pun naluri mereka.

Ren berjalan kaki. Rumahnya ternyata tidak terlalu jauh dari sekolah sekitar dua puluh menit berjalan kaki melewati jalanan perumahan elite. Pohon-pohon besar berjajar di kanan-kiri jalan, rumah-rumah di sini semuanya megah dengan pagar tinggi dan taman luas.

Ketika Ren akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang, Lucy bersiul pelan dalam hati.

Rumah keluarga Arisugawa bukan sekadar rumah. Itu adalah mansion. Dua lantai dengan arsitektur modern minimalis, dinding kaca di beberapa bagian, taman depan dengan air mancur kecil, dan lampu-lampu taman yang menyala hangat. Tapi ada sesuatu tentang tempat ini yang terasa... dingin. Terlalu rapi. Terlalu sempurna.

Seperti sebuah etalase.

Lucy mencari tempat strategis. Di seberang jalan, ada pohon sakura tua dengan dahan-dahan kokoh yang cukup rendah untuk dipanjat. Dalam sekejap, dia sudah berada di salah satu dahan terkuat, menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Posisinya sempurna dia bisa melihat langsung ke ruang tamu mansion itu melalui jendela kaca besarnya.

Dia menjentikkan jarinya. Sebuah layar hologram kecil muncul di depannya, menampilkan gambar yang lebih jelas seperti kamera pengintai canggih yang memperbesar setiap sudut ruangan. Sementara itu, tangan satunya meraih ke dalam saku blazernya dan mengeluarkan... sekantong anggur.

Tentu saja dia membawa anggur.

"Tontonan dimulai," gumamnya, memasukkan sebutir anggur ke mulutnya.

Di dalam rumah, Ren melepas sepatunya di genkan. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar langkahnya di lantai marmer. Tapi begitu dia melangkah ke ruang tamu—

"Kau pulang jam berapa sekarang?!"

Suara itu keras, menggelegar, memecah keheningan malam. Seorang pria setengah baya berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya merah padam. Posturnya tinggi, tegap, dengan rambut hitam yang mulai memutih di pelipis. Pakaiannya rapi dengan kemeja putih lengan panjang dan celana bahan meskipun sudah malam. Seperti dia tidak pernah melepas topeng profesionalnya.

Ayah Ren.

"Jam delapan," jawab Ren datar. "Aku sudah memberitahu supir untuk tidak menjemput."

"Jam delapan?! Kau seharusnya sudah di rumah sejak jam tiga siang! Di mana kau?!"

"Di sekolah. Ada rapat OSIS."

"OSIS!" Ayahnya mengibaskan tangannya dengan marah. "Aku sudah bilang berapa kali, hentikan semua organisasi tidak berguna itu! Itu hanya membuang waktumu! Fokus pada studimu! Itu satu-satunya yang penting!"

"Organisasi itu tidak tidak berguna. Aku ketua OSIS. Aku punya tanggung jawab—"

PLAK.

Tamparan itu mendarat di pipi kiri Ren. Kepalanya menoleh ke samping, tapi tubuhnya tidak bergerak. Tidak goyah. Hanya diam.

"shhh, sakit sekali itu pasti " Di atas pohon, tangan Lucy berhenti di udara dan merasa ngilu sendiri diwajah nya, anggur yang baru setengah jalan ke mulutnya terlupakan.

"Jangan membantahku!" bentak ayah Ren. "Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi ketua organisasi bocah-bocah! Kau adalah penerus keluarga Arisugawa! Pemimpin masa depan! Aku tidak akan membiarkan kau membuang potensimu hanya untuk mengurus pesta sekolah dan lomba-lomba tidak berguna itu!"

Seorang wanita muncul dari balik pintu. Ibunya, mungkin. Wajahnya cantik dan terawat, tapi ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan di matanya. Dia buru-buru mendekati suaminya, menyentuh lengannya.

"Sayang, sudah cukup. Dia sudah pulang. Jangan terlalu keras padanya."

"Dia butuh keras! Kau terlalu memanjakannya!"

"Aku tidak memanjakannya. Aku hanya..." Wanita itu melirik Ren sekilas, lirikan yang anehnya lebih mirip permintaan maaf daripada dukungan. "Ren, kau dengar ayahmu. Sekarang, pergi ke kamarmu. Istirahat."

Ren tidak menjawab. Pipinya memerah bekas tamparan, tapi wajahnya tetap datar. Kosong. Seperti patung yang menolak untuk menunjukkan retakan.

Dia berbalik dan berjalan menaiki tangga.

Di ruang tamu, ayahnya masih mengomel pada ibunya. "Dia seharusnya sudah di level yang lebih tinggi sekarang. Aku sudah mengatur kursus tambahan, les privat, koneksi dengan universitas dan dia malah sibuk dengan OSIS! Apa gunanya semua itu untuk masa depannya?!"

"Iya, sayang. Aku akan bicara dengannya besok."

"Bicara saja tidak cukup! Dia harus patuh! Dia harus sempurna! Dia satu-satunya putra kita dan satu-satunya harapan untuk meneruskan semua ini!"

Lucy memasukkan anggur itu ke mulutnya, mengunyah perlahan. Matanya masih terpaku pada layar hologram. Ren sudah sampai di lantai dua, berjalan menyusuri koridor menuju kamarnya. Tapi sebelum dia masuk, sebuah pintu di seberang kamarnya terbuka.

Seorang gadis muncul. Lebih muda mungkin sekitar kelas delapan atau sembilan SMP. Rambutnya panjang berwarna hitam legam, tergerai bebas. Wajahnya manis, dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Dia mengenakan piyama bermotif kelinci.

"Kakak!" Gadis itu adik Ren berlari menghampirinya. "Kakak baru pulang? Papa marah lagi, ya? Aku dengar dari kamar."

Ren berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya sedikit melunak. Hanya sedikit. "Tidak apa-apa. Kau sudah belajar?"

"Sudah! Tadi Mama bantuin. Tapi Kakak..." Adiknya menatap pipi Ren yang masih merah. "Pipi Kakak..."

"Hanya sedikit merah. Tidak sakit." Ren mengusap kepala adiknya dengan gerakan singkat. "Sekarang, kembali ke kamarmu. Sudah larut."

"Tapi Kakak—"

"Yui." Suara Ren tegas, tapi tidak kasar. "Tidur."

Yui adiknya menggembungkan pipinya sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Iya... Selamat malam, Kakak."

"Selamat malam."

Pintu kamar Yui tertutup. Ren masuk ke kamarnya sendiri. Dan di layar hologram Lucy, gambar itu meredup saat Ren menutup pintu di belakangnya.

Lucy menatap layar yang kini hanya menunjukkan koridor kosong. Dia memasukkan anggur terakhir ke mulutnya, mengunyahnya perlahan, membiarkan rasa manisnya menyebar di lidah.

"Menarik," bisiknya pada malam.

Jadi ini rahasia di balik topeng dingin Ren Arisugawa.

Dia bukan sekadar ketua OSIS yang dingin dan ditakuti. Dia adalah seorang putra yang dipukul karena menjalankan tanggung jawab yang dia pilih sendiri. Seorang kakak yang meskipun terluka masih menyempatkan diri mengusap kepala adiknya. Seorang pewaris yang dibebani harapan kesempurnaan oleh ayahnya, sementara adik perempuannya dimanjakan tanpa tuntutan apa pun.

Dan yang paling menarik: dia tidak melawan.

Bukan karena dia lemah. Bukan karena dia takut. Tapi karena dia... sudah terbiasa. Atau mungkin, dia sudah berhenti berharap.

Lucy melipat layar hologramnya, lalu bersandar di dahan pohon. Angin malam menerpa wajahnya, memainkan kepang kembarnya yang hitam.

"Jadi di balik kristal yang dingin dan kokoh itu," gumamnya, "ada retakan-retakan kecil yang tidak terlihat orang lain."

Matanya menatap jendela kamar Ren yang kini menyala redup. Dia bisa membayangkan pemuda itu di dalam sana, sendirian, mungkin duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang akhirnya runtuh karena tidak ada yang melihat.

Atau mungkin tidak. Mungkin dia sudah begitu terbiasa memakai topeng sampai-sampai dia memakainya bahkan saat sendirian.

"Lili," panggilnya dalam hati. Dia tahu sistemnya bisa mendengar dari mana saja.

"Ya?" Suara Lili terdengar di kepalanya.

"Kau mencatat semua yang kulihat?"

"Tentu saja. Aku sudah merekamnya."

"Bagus." Lucy tersenyum tipis. "Karena aku baru saja menemukan strategi pertamaku."

"Strategi?"

"Ren Arisugawa tidak butuh seseorang yang takut padanya. Dia tidak butuh seseorang yang mengaguminya dari jauh. Dia juga tidak butuh seseorang yang mencoba mengubahnya." Lucy melompat turun dari pohon, mendarat tanpa suara di trotoar. "Dia butuh seseorang yang melihat retakan di balik kristalnya... dan tidak menganggapnya sebagai cacat."

Lili terdiam sejenak. "Kau akan menggunakan kelemahannya?"

"Bukan kelemahan." Lucy mulai berjalan, tangan di saku blazer, matanya menatap bintang-bintang. "Aku akan menggunakan... kejujurannya. Dia menghabiskan seluruh hidupnya berpura-pura sempurna. Tapi di depanku? Dia tidak perlu berpura-pura apa-apa."

"Kau akan mendekatinya?"

"Tidak sekarang. Dua minggu belum berakhir. Hana Himura belum datang. Akane masih di luar negeri." Lucy menguap kecil. "Aku masih punya waktu untuk menyusun rencana yang lebih matang. Tapi setidaknya sekarang aku tahu apa yang kuhadapi."

Dia menoleh sekali lagi ke arah mansion keluarga Arisugawa sebelum berbelok di tikungan.

"Ren Arisugawa," bisiknya pada malam, "kau mungkin tidak tahu aku ada. Belum. Tapi percayalah... suatu hari nanti, kau akan datang padaku dengan sukarela."

Dan dia tersenyum dengan senyuman seorang Dewi Rubah yang baru saja menemukan mangsa yang sangat, sangat menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!