kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menuju pintu neraka
BAB 6: Menuju pintu neraka
Indra berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sempat tercecer sejak melewati gerbang tadi. Ia memaksakan sebuah senyum kaku.
"Maaf, Mbah... maksud kedatangan kami ke sini, sebenarnya kami ingin bertemu dengan Mbah," suara Indra bergetar di ujung kalimatnya. Ia berusaha tetap tenang, meski setiap tatapan tajam lelaki tua itu seolah membedah setiap helai dosa yang tersimpan di sudut hatinya.
Sementara itu, Agus yang berdiri tepat di belakang Indra, hanya bisa celingak-celinguk gelisah. Matanya bergerak liar menyisir kegelapan di balik punggung mereka. Ia memperhatikan setiap jengkal halaman dan rimbunnya pepohonan yang seolah perlahan bergerak mendekat. Indra mungkin hanya fokus pada sosok di depannya, namun Agus berbeda; instingnya terus berteriak bahwa bahaya sedang mengintai mereka dari balik pekatnya malam.
Mendengar ucapan Indra, lelaki tua itu tidak marah. Sebaliknya, sebuah senyum perlahan terukir di wajahnya yang penuh guratan zaman. Senyum yang samar namun menyimpan seribu makna.
"Sudah, masuklah... jangan hanya diam berdiri di situ," sahut si Mbah. Suaranya kini terdengar lebih ringan, seakan ia sudah lama menunggu kedatangan kedua tamu tak diundang ini.
Meski kaki mereka bergetar hebat seolah enggan melangkah, keduanya tetap memaksa diri bergerak mendekat. Namun, baru satu langkah kaki Indra masuk, tangan kurus dan keriput si Mbah bergerak cepat, menghadang tepat di dada Agus.
"Kau jangan ikut masuk. Rumah ini tidak menerima orang yang terlalu menaruh curiga. Kau diamlah di bale itu, dan jaga halaman ini," ucap si Mbah dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
Langkah mereka serentak terhenti. Agus menelan ludah, rasa takutnya memuncak.
"Ta...tapi, Mbah?" sahut Agus terbata-bata.
Seketika Indra menoleh. Ia memegang bahu sahabatnya, berusaha tampak tegar meski hatinya sendiri dirundung ragu.
"Sudahlah Gus, kamu tunggu di sini saja sambil merokok. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Lagipula aku tidak akan lama," seru Indra, meyakinkan Agus sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.
Agus ingin berteriak, ingin menarik kerah baju Indra dan lari sekencang mungkin menembus pagar bambu itu. Namun lidahnya seolah kelu dan berat. Ia hanya bisa menatap punggung Indra yang perlahan hilang di balik kegelapan ruangan, meninggalkannya sendirian di teras sunyi.
Kini Agus terpaku kaku di atas bale bambu yang berderit nyaring setiap kali ia bergerak. Di hadapannya, hutan gelap seakan menjelma menjadi mulut raksasa, dengan deretan pohon sebagai taringnya yang siap menerkam siapa saja yang lengah. Ia enggan menoleh ke samping, sebab dari sudut matanya, ia menangkap bayangan hitam yang diam tak berpindah di balik pohon beringin tua itu. Sesuatu sedang mengawasinya, menunggu ia berbuat salah sedikit saja.
Angin dingin kembali bertiup, menusuk sampai ke tulang sumsum. Ia menunduk melihat ujung kakinya yang mulai membiru kedinginan.
"Duh, dingin sekali di sini... Kaki pegal, bajuku basah kuyup kena hujan tadi. Andai saja Simbah mengizinkan, pasti di dalam lebih hangat. Mana tenggorokan ini mulai haus, perut pun mulai keroncongan..." gumamnya dalam hati.
"Setidaknya kalau boleh masuk, aku bisa minta air minum..."
Agus tidak tahu, bahwa di balik dinding kayu tebal itu, pintu menuju neraka dunia baru saja terbuka lebar untuk sahabatnya.
Di sisi lain, Indra melangkah masuk ke sebuah ruangan pengap. Setiap langkah kakinya disambut derit pilu dari papan lantai tua yang lapuk, seolah kayu-kayu itu berbicara memberi peringatan terakhir padanya. Udara di sana mendadak pekat oleh aroma yang menyesakkan; perpaduan antara wangi dupa yang menyengat, semerbak bunga kamboja, dan bau amis darah yang menguar samar namun tajam.
Di atas sebuah altar kecil di bagian tengah ruangan, berjejer perlengkapan mistis yang membuat darah berdesir: cawan tanah liat berisi rendaman bunga tujuh rupa yang masih segar, kepulan asap tebal dari pembakaran dupa, sebuah keris kecil yang sarungnya terbalut kain kuning kusam, serta tumpukan tulang belulang yang tidak jelas asal-usulnya — entah milik hewan liar, atau potongan kerangka manusia yang dikeringkan.
Indra duduk tegang di atas tikar anyaman yang telah disiapkan. Ia berhadapan langsung dengan Simbah; hanya sebuah meja kayu rendah yang retak di beberapa sisi memisahkan mereka, namun rasanya seperti ada jurang tak kasat mata yang sangat dalam dan gelap membentang di antara keduanya.
“Simbah sudah menunggumu sedari tadi, Nak,” ucap lelaki tua itu. Suaranya datar, namun getarannya memenuhi seluruh ruangan dengan wibawa yang menyesakkan dada.
"Iya, Mbah... maaf. Tadi ada sedikit gangguan saat perjalanan ke sini," sahut Indra dengan suara yang sedikit bergetar, teringat kembali kejadian tersesat dan cahaya yang menjauh itu.
"Ha ha ha!"
Simbah tertawa lepas, suara tawanya bergema berulang kali di dinding ruangan kosong. Namun matanya tetap dingin, tajam, tanpa sedikit pun senyum sampai ke sana.
"Itu semua perbuatan peliharaan Simbah. Mereka hanya ingin menyapa tamu barunya... dan menguji seberapa besar keinginanmu untuk datang ke sini."
Indra menelan ludah mendengarnya. Artinya, sejak awal mereka sudah diawasi. Semua bahaya tadi bukan kebetulan, melainkan ujian.
Indra baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan maksud kedatangannya lebih lanjut... namun lelaki tua itu mengangkat tangan, memotong ucapannya.
"Tak perlu kau jelaskan panjang lebar... Simbah sudah tahu segalanya jauh sebelum kakimu melangkah masuk ke sini. Mbah tahu rasa sakit yang kau pendam bertahun-tahun. Mbah tahu bagaimana hatimu hancur berkeping-keping saat apa yang menjadi milikmu direnggut paksa."
"Kamu tidak salah, Nak. Yang salah adalah mereka yang mengambil bagianmu. Kamu hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi milikmu."
Seketika itu juga, beban berat yang bertahun-tahun diletakkan di pundak Indra luruh tanpa sisa. Selama ini, tak ada satu pun yang berdiri di tempat itu—bahkan mereka yang disebut sahabat sejati. Namun kini, Indra merasa di atas angin. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mampu menyelami perasaannya dan membenarkan tindakannya tanpa syarat.
"Benar... aku tidak salah. Mereka yang salah. Aku hanya menuntut apa yang menjadi hakku," batinnya. Hati Indra kini telah membatu, tertutup rapat oleh keangkuhan.
Simbah hanya menyuguhkan senyum tipis yang sarat akan tipu daya. Seolah mampu membaca setiap jengkal pikiran Indra, ia tahu pemuda itu telah sepenuhnya masuk ke dalam jeratannya.
"Jadi, mau kau apakan perempuan itu?" tanya Simbah dengan nada tegas dan dingin. "Kau ingin dia mati, atau menderita seumur hidup?"
Lantaran hatinya telah dikuasai dendam dan ego yang meluap-luap, Indra menjawab tanpa keraguan sedikit pun.
“Tidak, Mbah. Aku hanya ingin dia kembali ke pelukanku,” sahut Indra cepat. Sebuah senyuman puas tersungging di bibirnya saat ia melanjutkan, "Soal balas dendamku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya."
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁