NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Hari Senin selalu punya cara sendiri untuk merusak suasana hati, terutama bagi para penghuni bangku sekolah. Setelah dua hari mencicipi kebebasan, mereka harus kembali berhadapan dengan rutinitas yang menjemukan: bangun pagi buta, seragam yang kaku, dan tentu saja, ritual upacara bendera yang terasa seperti uji ketahanan fisik di bawah panggangan matahari.

​Bagi Ziva, hari Senin adalah musuh bebuyutan. Baginya, jarak dari hari Senin menuju hari Minggu kembali terasa seperti perjalanan antar galaksi—jauh, melelahkan, dan penuh rintangan.

​Pukul setengah enam pagi, matahari bahkan belum benar-benar menampakkan diri dengan utuh.

Namun, di dalam kamarnya, Ziva masih bergelung nyaman. Ia tidur tengkurap, tubuhnya terbungkus rapat oleh selimut tebal layaknya kepompong. Tak ada tanda-tanda kehidupan atau semangat untuk menyambut hari yang baru. Baginya, dunia luar bisa menunggu.

​Drett... drett...

​Ponsel di atas nakas bergetar hebat, merusak keheningan pagi. Ziva hanya mengerang kecil. Tangannya meraba-raba permukaan meja dengan mata yang masih terpejam rapat.

​"Em... halo," ucap Ziva dengan suara serak khas orang yang baru saja ditarik paksa dari alam mimpi.

​"ASTAGA ZIVA BANGUN! UDAH JAM ENAM!"

​Ziva tersentak. Refleks, ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Teriakan melengking dari seberang telepon sukses membuat jantungnya berdegap kencang seketika.

​"Biasa aja dong, masih pagi teriak-teriak!" gerutu Ziva kesal. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar. Suasana hatinya langsung mendung.

Kemarin tidurnya terganggu oleh polah ibu tirinya yang tak habis-habis mencari kesalahan, dan sekarang, sahabatnya sendiri melakukan hal yang sama.

​"Sekolah! Sana mandi, gue otw ke apartemen lo," perintah Karlota tegas sebelum langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

​Ziva mendengus, Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan dongkol. Padahal ia merasa baru saja memejamkan mata sebentar. Namun, menyadari statusnya yang masih seorang pelajar, ia terpaksa menyeret tubuhnya menuju kamar mandi. Ia tahu Karlota bukan tipe orang yang suka menunggu lama.

​Beberapa saat kemudian, Karlota sudah berdiri di depan pintu apartemen Ziva dengan wajah yang ditekuk. Begitu Ziva muncul, rentetan protes langsung meluncur.

​"Lama banget sih lo? Mandi apa semedi? Cuma mandi aja lama bener kayak orang nunggu undian haji!" cerocos Karlota.

​Ziva mengabaikan omelan itu. "Udah ah buruan, gue udah laper banget," sahutnya cuek sembari melosor masuk ke dalam mobil Karlota tanpa rasa bersalah.

​"Untung lo temen gue," gumam Karlota lirih sambil mulai menjalankan mobilnya.

​Di kursi penumpang, Ziva kembali memejamkan mata. Kepalanya bersandar pada kaca jendela, menikmati getaran mobil yang justru membuatnya kembali mengantuk. Karlota melirik sahabatnya itu dengan heran.

​"Tidur jam berapa sih lo tadi malem?" tanya Karlota.

​"Jam delapan," jawab Ziva singkat tanpa membuka mata.

​Karlota hampir saja menginjak rem mendadak karena terkejut. "Lah, tidur jam delapan sekarang masih ngantuk? Waras lu? Gue yang tidur jam dua belas malem aja bangun setengah enam badan gue masih fresh, mata gue bening kayak ikan di pasar. Lah elo? Jam delapan tidur, pagi ini muka udah kayak cucian belum dijemur."

​"Capek," bisik Ziva.

​"Capek kenapa lo? Bukannya kemarin lo di apartemen seharian?"

​"Biasa... jadi babu," ucap Ziva getir.

​Karlota terdiam sejenak. Ia tahu persis apa yang dimaksud Ziva. Di balik sifat Ziva yang terlihat tangguh dan terkadang bar-bar, ada beban berat yang ia tanggung di rumah ayahnya. Ibu tirinya bukan tipe wanita yang manis jika tidak ada sang ayah di rumah.

​"Kenapa lo nggak lawan mereka sih, Ziv? Lo kan bisa. Lo punya mulut buat bicara, punya tenaga buat nolak," ujar Karlota prihatin.

​Ziva menghela napas berat, akhirnya ia membuka matanya dan menatap jalanan yang mulai padat. "Gue nggak mau jadi anak durhaka, Kar. Gue cuma punya Ayah di dunia ini. Kalau gue ngelawan istrinya, Ayah bakal makin benci dan jauh dari gue. Gue nggak mau kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa, meski rasanya sekarang dia udah kayak orang asing."

​Karlota mengulurkan satu tangannya, menepuk bahu Ziva pelan. "Sorry, Ziv. Gue nggak bisa bantu banyak. Tapi gue percaya suatu saat nanti sahabat bar-bar gue ini bakal bahagia. Entah sama siapa pun itu, entah lewat jalan apa pun."

​"Makasih, Kar. Lo sama keluarga lo udah banyak banget bantu gue. Suatu saat nanti gue bakal balas semua kebaikan kalian," ucap Ziva tulus.

​"Nggak perlu. Kita ikhlas nolong lo. Keluarga gue udah anggap lo kayak anak sendiri. Kalau lo butuh sandaran, lo masih punya gue. Jangan pernah merasa sendiri, oke?"

​Ziva tersenyum kecil. Ia benar-benar bersyukur. Bersama keluarga Karlota, Ziva mengenal apa itu kehangatan sebuah pelukan dan kasih sayang tulus yang tak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri sejak ibu kandungnya tiada.

​Setibanya di SMA CAKRA BUANA, suasana sudah mulai ramai. Namun, Ziva dan Karlota masih enggan beranjak dari mobil. Mereka asyik memperhatikan gerombolan siswa yang mulai memenuhi lapangan.

​"Eh Ziv, gue denger-denger nih ya, katanya hari ini sekolah kita bakal kedatangan siswa baru," ujar Karlota mulai membuka sesi gosip pagi.

​Ziva yang tadinya lesu langsung menoleh. "Murid baru? Kata siapa lo? Kok gue nggak tahu sih?"

​"Gue baru tahu tadi pagi dari Angga. Katanya ada beberapa orang sekaligus."

​"Cewek apa cowok, Kar?" tanya Ziva penuh minat.

​"Kalau itu gue kurang tahu." ​Ziva mendesah kecewa. Namun, rasa kecewa itu tak bertahan lama. Sebuah deruman mesin yang menggelegar tiba-tiba membelah kebisingan sekolah. Dari arah gerbang, tiga motor sport hitam mengkilap masuk dengan kecepatan yang cukup menarik perhatian.

​Brumm... brumm!

​Ketiga motor itu berhenti dengan gagah di area parkir khusus. Para pengendara yang mengenakan jaket kulit dan helm full face itu langsung menjadi pusat perhatian. Pekikan histeris dari para siswi mulai terdengar saat mereka satu per satu melepaskan helm.

​Muncullah wajah-wajah yang seolah keluar dari sampul majalah fashion.

Terutama pria yang berada di posisi paling depan, Mahendra. Wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh dan tatapan mata yang tajam namun menawan.

​"Gila... ganteng banget!"

​"Omo omo, spek pangeran kerajaan ini mah!"

​"Mati gue, gantengnya nggak ada obat!"

​Histeris massa tak terbendung. Sementara itu, dari balik kaca mobil, Ziva dan Karlota menonton adegan itu dengan ekspresi berbeda. Ziva tampak melongo.

​"Itu murid barunya, Kar?" tanya Ziva tanpa berkedip.

​"Iya, kayaknya mereka orangnya," sahut Karlota yang juga sedikit terpukau.

​"Gila, mereka ganteng banget! Kalau kayak gini gue jadi bingung mau pilih yang mana. Semuanya eye candy banget!" seru Ziva antusias.

​Karlota langsung menjitak pelan dahi Ziva. "Heh! Lo itu harus naikin standar. Jual mahal dikit kek. Inget, gue nggak mau lo ngejar-ngejar cowok apalagi sampai ngemis. Kodratnya cowok yang ngejar cewek, bukan sebaliknya. Ngerti?"

​Ziva mengerucutkan bibirnya. "Ck, nggak seru lo. Kan cuma buat penyegar mata doang."

​"Ngerti nggak?!" tegas Karlota.

​"Iya, iya, ngerti. Galak amat sih."

​Karlota melirik jam tangannya. "Udah ah, ayo ke kelas. Bentar lagi bel upacara."

​Ziva langsung memasang wajah melas. "Kar, kita bolos aja yuk? Ini Senin, Kar. Panas. Apalagi kalau yang pidato nanti Pak Kepsek, bisa-bisa kita jadi kerupuk dijemur. Lama banget pasti."

​"Nggak! Sekarang kita ke kelas," putus Karlota dengan suara yang tak bisa dibantah.

​Dengan berat hati, Ziva keluar dari mobil sambil menghentak-hentakkan kakinya. Wajahnya cemberut maksimal, pipinya dikembungkan, dan bibirnya maju beberapa senti karena kesal. Ia berjalan di koridor dengan gaya seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.

​Meskipun dikenal sebagai gadis yang bar-bar dan galak jika diganggu, Ziva seolah memiliki dua kepribadian. Di satu sisi ia bisa sangat keras kepala, namun di sisi lain, ia sangat takut jika Karlota sudah marah. Baginya, kemarahan Karlota lebih menakutkan daripada amukan ayahnya.

​Sepanjang jalan menuju kelas, tingkah lucu Ziva yang sedang ngambek itu justru mengundang perhatian banyak orang. Wajahnya yang cantik alami terlihat sangat menggemaskan saat sedang kesal seperti itu.

​Tanpa Ziva sadari, di area parkir, Mahendra—si murid baru—sempat menangkap siluet gadis yang berjalan dengan kaki dihentak-hentakkan itu. Ia melihat bagaimana kedua pipi Ziva mengembung lucu sebelum gadis itu menghilang di balik belokan koridor.

​Mahendra menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat oleh siapa pun.

​"Menggemaskan," batinnya singkat sebelum ia kembali dengan ekspresi datarnya, mengikuti langkah teman-temannya menuju ruang kepala sekolah. Hari Senin yang awalnya ia kira akan membosankan, tiba-tiba terasa sedikit lebih menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!