“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tangis Pertama, Kabar Terakhir
Suasana rumah itu makin tegang. Suara teriakan dari dalam kamar membuat siapa pun yang mendengar menahan napas.
"Tarik napas," suara Seroja kembali terdengar. "Dorong."
"Aaahhh..."
Jordi tanpa sadar memeluk lengan Ryu. "Bos," bisiknya nyaris tak terdengar. "Aku baru kali ini ikut nungguin orang lahiran. Badanku jadi panas dingin. Ikut nahan napas, ngejen pula."
Ryu memelototinya. Bibirnya bergerak mengucapkan kata "diam" tanpa suara. Wajahnya datar, tapi tangannya tanpa sadar berkeringat dingin.
"Roja...aku gak kuat lagi. Sakit..."
Suara dari dalam kamar yang terdengar tersengal dan nyaris putus asa itu membuat semua orang makin tegang dan panik.
"Bos, aku jadi mules, nih," gumam Jordi dengan wajah pucat.
Ryu melihatnya tanpa mengatakan apapun, karena kali ini ia tak tahu harus tertawa atau kasihan melihat kondisi Jordi. Ia bahkan tak menepis tangan Jordi yang memeluk lengannya erat.
"Tahan sedikit lagi. Kepalanya sudah terlihat," ucap Seroja tenang. "Ayo, tarik napas lagi. Kumpulkan tenaga. Sawahmu bentar lagi panen. Apa kamu gak mau beli kalung emas? Nanti dipakai Mas Topo kawin lagi loh."
Kata-kata Seroja sesaat membuat ketegangan sedikit ambyar. Namun --
Tiba-tiba suara lantang terdengar dari dalam kamar. "Tidak akan kubiarkan. Aaaaakkkkhhh..."
Suara ngejen itu begitu kuat hingga semua orang tanpa sadar membeku dan menahan napas.
"Oek...oekk..."
"Alhamdulillah..."
Semua orang refleks mengucap hamdalah saat suara tangis bayi itu memecah ketegangan.
Yang berdiri tiba-tiba terduduk. Yang duduk tanpa sadar bersandar.
Pak Nurdin mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Kelegaan jelas terpancar di matanya.
Jordi terduduk lemas di lantai semen. Ryu tetap berdiri tegak, tapi bahunya sedikit turun.
Dan ayah si bayi yang sejak tadi mondar-mandir di teras depan spontan berlari masuk. Ia hampir menerobos ke dalam kamar.
"Eh, Topo jangan masuk dulu," cegah Bu Rami.
"Laki-laki dilarang masuk," ucap Seroja dari dalam dengan suara tegas.
"Akhirnya lahir juga," gumam Jordi mengusap air matanya. Entah sejak kapan pemuda itu menangis.
"Kamu.. kenapa nangis?" tanya Ryu heran.
Ia sudah mengenal Jordi selama bertahun-tahun, tapi tak pernah melihatnya menangis. Bahkan saat putus cinta karena diselingkuhi pun pemuda itu masih bisa tertawa.
Jordi yang masih terduduk di lantai mengusap ingusnya. "Bos, sekarang aku tahu. Kenapa emak marahnya kayak gunung meletus kalau aku melawan."
Jordi terisak pelan. "Ternyata melahirkan itu susah, sakit. Hamil sembilan bulan, perut gede gak bisa ditaruh. Jadi wajar emak murka kalau aku bikin kesel."
Orang-orang di tempat itu seketika terdiam. Bahkan beberapa orang nampak menunduk.
Ryu berdiri kaku di tempatnya. Apa yang dikatakan Jordi memang benar. Dan satu hal yang rasanya menghujam jantungnya. Ia belum sempat membahagiakan ibunya, karena orang tuanya meninggal saat usianya sepuluh tahun.
Bu Rami akhirnya membantu Jordi bangun, lalu mendudukkannya di kursi.
"Bukan cuma melahirkan yang berat, Nak," katanya lembut. "Waktu hamil, makan kadang susah, tidur pun nggak nyenyak. Pas perut makin besar, napas sesak, bergerak pun serba salah."
Wanita itu tersenyum tipis. "Tapi meski capek, ibu kita tetap begadang saat kita sakit, tetap gendong kita waktu nangis, tetap nyuapin kita meski dirinya sendiri belum sempat istirahat, bahkan tak sempat makan."
"Iya, Bu," sahut Jordi masih sedikit terisak. "Saya nggak mau jadi anak durhaka. Takut dikutuk jadi batu. Mana badan saya udah keras begini."
Seketika Ryu memutar bola matanya malas. "Keras apanya? Perut aja masih kendor gak ada otot gitu," cibirnya.
"Bos, jangan buka aib dong," protes Jordi membuat beberapa menahan tawa. "Aku kurang olahraga juga gara-gara, Bos."
Ryu berdecak. "Kamu aja yang kerjanya kurang gercep," katanya enteng.
"Dasar bos kolonial," gerutu Jordi dengan wajah ditekuk. "Tugas dari Bos datangnya lebih rajin daripada chat mantan."
Seorang wanita muda terkikik pelan, tak bisa menahan tawanya.
Tapi Jordi belum selesai mengeluarkan unek-uneknya.
"Semua kerjaan penting ujung-ujungnya masuk ke meja aku juga. Hampir tiap hari aku lembur. Rasanya perusahaan Bos berdiri setengahnya pakai tenaga aku."
Ryu menatap datar. "Setengahnya?"
Jordi mengangguk mantap.
"Iya. Setengah tenaga, setengah drama."
Kali ini beberapa orang di ruangan itu benar-benar tertawa.
Pak Nurdin yang sedari tadi diam akhirnya menggeleng kecil.
"Nak, jadi laki-laki harus kuat. Jangan kayak tetangga desa sebelah."
Jordi langsung menoleh. "Emang kenapa, Pak?" tanyanya penuh rasa penasaran.
"Dia gak kuat gendong istri yang lagi hamil besar. Hampir saja istrinya jatuh."
Sebelum percakapan berlanjut lebih jauh, pintu kamar terbuka dan semua orang refleks menoleh.
Seroja keluar dengan bayi mungil dalam pelukannya. "Bayinya laki-laki. Sehat. Sempurna," ujarnya dengan senyum lembut, meski kelelahan jelas terlihat di wajahnya.
Topo, Pak Nurdin dan Bu Rami bergegas mendekat.
"Alhamdulillah. Cucu pertama," ucap Bu Rami penuh syukur.
"Nanti ari-ari dan obat rebusannya akan diurus Mbak Sri," kata Seroja sambil menyerahkan bayi itu pada Bu Rami.
"Terima kasih, Seroja," ucap Bu Rami tulus.
"Sama-sama, Bu," sahut Seroja. "Saya pulang dulu, Bu," pamitnya.
Namun sebelum Seroja berbalik menuju pintu--
"Bu Dhe minta aku menjemputmu." kata Ryu dengan nada terkontrol.
Seroja menoleh ke arah suara itu berasal. Keningnya berkerut samar. Ia belum pernah melihat pemuda itu.
Kulitnya bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung, garis rahangnya tegas. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya, sepatu kulitnya mengilap. Jelas bukan orang desa.
"Kamu siapa?" tanya Seroja.
"Itu gak penting," sahut Ryu. "Yang penting sekarang, kamu harus pulang." Suara Ryu berubah serius. "Nenekmu meninggal dunia."
"Inalillahi wa innailaihi raji'un," ucap orang-orang di ruangan itu hampir bersamaan.
Beberapa orang menutup mulut.
Mata Seroja melebar. Wajahnya seketika kehilangan warna.
"A-apa..?"
Suaranya hampir tercekat di tenggorokan. Tubuhnya goyah.
Namun sebelum ia jatuh, sebuah tangan lebih dulu menahan tubuhnya.
Ryuhan.
Dari jarak sedekat itu, Ryu mencium aroma minyak telon dan ramuan tradisional yang masih melekat pada tubuh gadis itu.
Untuk pertama kalinya, Ryu melihat wajah Seroja dari jarak sedekat ini.
Dan anehnya... di tengah kekacauan itu, ia justru kehilangan kata-kata.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang dalam satu hari, hidup mengajarkan dua hal sekaligus: seseorang datang ke dunia, sementara seseorang yang lain memilih pergi meninggalkannya."...
..."Di balik tangis pertama seorang bayi, selalu ada perjuangan panjang seorang ibu yang sering terlupakan."...
..."Takdir sering datang tanpa mengetuk; mempertemukan, memisahkan, lalu mengubah segalanya dalam waktu yang bersamaan."...
..."Hari itu Ryuhan melihat dua hal sekaligus: betapa berat perjuangan seorang ibu, dan betapa cepat hidup bisa berubah."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.
Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.
Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.
Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.
Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.
Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.
Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏