"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Mobil Rolls-Royce hitam itu meluncur mulus membelah kemacetan Jakarta yang mulai bermandi cahaya lampu kota. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan menyelimuti Arvin dan Zoya.
Namun, kali ini keheningan itu tidak lagi terasa mencekik seperti hari-hari sebelumnya. Ada getaran aneh yang merayapi hati keduanya, sebuah rasa canggung yang manis setelah deklarasi besar-besaran di depan media tadi siang.
Arvin sesekali melirik Zoya dari sudut matanya. Wanita itu tampak tenang, menyandarkan kepalanya di jendela mobil, namun jemarinya terus meremas pelan tas kecil yang dipangkunya.
Arvin tahu, Zoya sedang tidak baik-baik saja sepenuhnya. Luka akibat ketidakpercayaannya kemarin tidak bisa sembuh hanya dengan satu konferensi pers, seberapa megah pun itu.
"Kita tidak langsung pulang ke apartemen," ucap Arvin memecah kesunyian.
Zoya menoleh, matanya yang jernih di balik cadar menatap Arvin bingung. "Tapi tadi kamu bilang Mbok Sum sudah masak?"
Arvin tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini mencapai matanya. "Itu untuk nanti malam. Sekarang, aku ingin membawamu ke suatu tempat. Anggap saja ini... perayaan kecil. Hanya kita berdua."
Zoya terdiam. Hatinya bergejolak. Di satu sisi, ia ingin lari dari pria di sampingnya ini, kembali ke pesantren dan melupakan segala kemelut harta dan tahta. Namun di sisi lain, sentuhan tangan Arvin yang protektif tadi siang masih menyisakan kehangatan yang sulit ia tepis.
Mobil berhenti bukan di depan restoran mewah, melainkan di depan sebuah butik eksklusif di kawasan Menteng yang sudah ditutup untuk umum. Arvin turun dan membukakan pintu untuk Zoya.
"Silakan, Nyonya Dewangga," ucap Arvin dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Zoya melangkah masuk dengan ragu. Di dalam butik, beberapa pelayan menyambut dengan hormat. Di tengah ruangan, berdiri sebuah manekin yang mengenakan gaun panjang berwarna emerald green (hijau zamrud) yang sangat indah.
Bahannya terbuat dari sutra premium yang jatuh dengan anggun, dihiasi sulaman tangan berwarna emas yang sangat halus di bagian manset dan ujung bawahnya. Di samping gaun itu, tersampir sebuah khimar dan cadar sutra dengan warna senada, tampak berkilau di bawah lampu kristal.
Zoya terpaku. Ia belum pernah melihat pakaian seindah itu.
"Ini untukmu," Arvin berdiri di belakang Zoya, suaranya rendah di dekat telinganya. "Aku ingin malam ini kau memakainya. Aku ingin dunia melihatmu dalam warna yang paling melambangkan ketenangan ini."
Zoya menyentuh bahan kain itu dengan ujung jarinya. "Ini terlalu berlebihan, Tuan. Aku hanya mahasiswi biasa."
Arvin menggeleng pelan. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Zoya. Ia mengambil cadar sutra emerald itu, lalu berbisik dengan nada yang membuat jantung Zoya berdegup kencang.
"Malam ini, bukan sebagai barang milikku yang harus kujaga integritasnya demi nama baik perusahaan. Bukan pula sebagai aset yang harus kupantau lewat GPS. Tapi malam ini, pakailah ini sebagai wanita yang ingin kujadikan ratu di hidupku."
Kalimat itu terasa seperti sengatan listrik bagi Zoya. Ia menatap mata Arvin, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang telanjang. Gengsi pria itu seolah luruh bersama senja yang hilang.
"Gantilah pakaianmu. Aku akan menunggumu di atas," Arvin mengecup dahi Zoya singkat, ciuman yang lembut, bukan lagi ciuman penuh klaim kepemilikan yang kasar lalu ia melangkah pergi.
~~
Satu jam kemudian, Zoya keluar dari ruang ganti. Gaun emerald itu melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan anggun sekaligus misterius. Khimar sutra yang ia kenakan jatuh dengan rapi, dan cadarnya terasa begitu ringan di kulit wajahnya. Ia merasa seperti orang yang berbeda. Ia merasa... dihargai sebagai seorang wanita.
Mereka naik ke lantai paling atas butik tersebut, yang ternyata tersambung dengan sebuah private rooftop garden. Suasananya luar biasa romantis.
Hanya ada satu meja bulat di tengah taman bunga mawar putih, dikelilingi oleh lampu-pelita kecil yang temaram. Dari sana, pemandangan lampu-lampu Jakarta terlihat seperti hamparan berlian.
Arvin sudah menunggu dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Ia tampak terpesona saat melihat Zoya melangkah mendekat. Untuk sesaat, sang CEO yang biasanya tak pernah kehabisan kata-kata itu hanya bisa terdiam.
"Kau... luar biasa," puji Arvin tulus sambil menarikkan kursi untuk Zoya.
Makan malam berlangsung dengan hidangan kelas dunia, namun Zoya nyaris tidak merasakan rasa makanannya.
"Zoya, kau melamun lagi," Arvin meletakkan garpunya, menatap Zoya dengan cemas. "Apa kau masih memikirkan kejadian di kampus? Aku janji, Nadia tidak akan pernah muncul lagi."
Zoya menarik napas panjang. Ia harus menanyakan ini, atau hatinya akan meledak. "Tuan... boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa pun, Zoya."
"Kenapa... kenapa sebenarnya kau memilih aku?" suara Zoya bergetar. "Dari ribuan wanita di luar sana yang lebih modern, lebih cantik, lebih cocok mendampingimu di depan wartawan... kenapa harus gadis pesantren yang membosankan seperti aku?"
Arvin terdiam. Ia menyesap wine non-alkohol di gelasnya, matanya menatap jauh ke arah cakrawala kota.
"Awalnya..." Arvin menjeda, seolah sedang menimbang kata-katanya. "Awalnya memang ada alasan yang tidak bisa kujelaskan sekarang. Ada amanah yang harus kujalankan. Tapi Zoya, kau harus tahu satu hal."
Arvin meraih tangan Zoya di atas meja, menggenggamnya erat. "Saat aku pertama kali melihatmu di depan gerbang pesantren, dengan tas ransel bututmu dan tatapan matamu yang begitu berani menantangku... aku sadar bahwa kau bukan sekadar 'tugas'. Kau adalah satu-satunya hal nyata di dunia palsuku."
"Tapi bagaimana jika pernikahan ini sebenarnya adalah tebusan atas sesuatu?" pancing Zoya, matanya berkaca-kaca.
Arvin tersentak sedikit, namun ia tetap tenang. "Zoya, jika hidup ini adalah tentang menebus kesalahan, maka aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk menebus setiap tetes air mata yang jatuh dari matamu. Bukan karena orang lain, tapi karena aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan sebagai aset, tapi sebagai belahan jiwaku."
Alunan musik instrumen biola mulai terdengar lembut dari pengeras suara tersembunyi. Arvin berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Maukah kau berdansa denganku? Tanpa ada wartawan, tanpa ada kamera. Hanya aku dan kamu."
Zoya ragu sejenak, namun ia menyambut tangan itu. Di bawah langit Jakarta yang bertabur bintang, Arvin menarik Zoya ke dalam pelukannya. Mereka bergerak pelan, mengikuti irama musik. Cadar emerald Zoya sesekali menyentuh dada Arvin.
"Tuan..." bisik Zoya.
"Panggil namaku, Zoya. Jika kita sedang berdua seperti ini, aku bukan Tuanmu. Aku suamimu."
"Arvin..." Zoya menyebut nama itu dengan canggung, namun Arvin tersenyum lebar.
Arvin memeluk pinggang Zoya lebih erat, sementara tangan Zoya bersandar di bahu kokoh suaminya.
Di momen itu, Zoya ingin sekali mempercayai Arvin. Ia ingin sekali melupakan segala kecurigaannya. Ia ingin menyerah pada rasa aman yang ditawarkan oleh pelukan ini.
"Zoya, berjanjilah padaku satu hal," bisik Arvin di puncak kepala Zoya. "Apa pun yang terjadi di masa depan, apa pun yang orang katakan tentang masa lalu keluarga kita... jangan pernah lepaskan tanganku. Aku mungkin pria yang penuh cacat, aku mungkin pria yang terlalu keras kepala, tapi cintaku padamu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah berubah."
Zoya terisak pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Arvin. Kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Suasana romantis itu begitu nyata, begitu indah, hingga terasa menyakitkan karena ia tahu ada rahasia yang masih berdiri di antara mereka.
Malam itu, Jakarta menjadi saksi bagaimana seorang singa yang kejam telah takluk di tangan seorang gadis pesantren. Namun, di saat yang sama, sebuah badai besar sedang bersiap menerjang dari balik amplop cokelat yang masih tersimpan rapat.
Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, Arvin tampak begitu bahagia. Ia terus menggenggam tangan Zoya, sesekali mencium punggung tangannya.
"Besok kita akan pergi berlibur. Hanya kita berdua. Tidak ada kuliah, tidak ada kantor. Aku ingin kita mulai dari awal lagi, Zoya," ujar Arvin penuh semangat.
Zoya tersenyum tipis. Ia ingin menikmati satu malam ini saja, malam di mana ia menjadi ratu, bukan aset. Ia ingin menyimpan kenangan manis ini sebagai bekal jika suatu saat nanti kenyataan di dalam amplop itu memaksanya untuk benar-benar pergi.
"Terima kasih untuk malam ini, Arvin," bisik Zoya saat mereka masuk ke dalam mobil.
Arvin menarik Zoya ke dalam dekapannya di kursi belakang. "Ini baru permulaan, Sayang. Baru permulaan."
Mobil pun melaju meninggalkan butik tersebut, membawa sepasang suami istri yang baru saja menemukan kembali jembatan menuju hati masing-masing, meski di bawah jembatan itu, arus rahasia masa lalu mengalir dengan sangat deras, menunggu waktu yang tepat untuk menghantam permukaan.
...----------------...
To Be Continue ....