NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencuri!

Hana berdiri membelakangi, matanya memanas merasakan pedihnya dikasihani.

"Aku berbaik hati padamu. Pikirkanlah, kuberi waktu dalam 4hari. Pergi." Hana mengangguk lalu beranjak pergi keluar tanpa berbicara sepatah kata pun.

Di dalam lift, air mata menetes tanpa seizinnya, namun segera ia hapus ketika pintu lift terbuka dan beberapa orang masuk bersamanya.

Kepalanya menyender di dinding lift sembari memikirkan tawaran pria Latin tersebut.

Mengingat hutang pada Pak Reno yang semakin berbunga, dan tambahan uang 70 juta di rentenir jelas tak bisa ia lunasi dalam setahun ke depan, kecuali ia memenangkan lotre.

Perempuan itu berkali-kali menghembuskan nafas berat. Hana berjalan lunglai melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

"Heh, kutu! Yang becus dong kerjanya, masa kerja males-malesan. Enak bener kelayapan dari lantai ke lantai." Hana semakin lelah mendengar ucapan yang membuat telinganya sakit.

Ia menatap lekat ke arah karyawan yang bernama Lilia itu.

"Apa lihat-lihat? Nantangin?" Lilia berkacak pinggang seraya matanya melotot ke arah Hana.

"Kau bisa tanyakan pada tuan Luca atas pertanyaanmu barusan." Lilia berdecih menatap sinis.

"Siapa kau? Sok nyuruh-nyuruh aku, emangnya kau bos? Tukang nyapu aja belagu!" Lilia berlalu sembari mengomel.

Hana hanya menggelengkan kepalanya lemah.

Hana terduduk di taman sembari menatap langit yang gelap tanpa bintang. Dirinya sudah di sana selama satu jam setelah pulang bekerja.

"Ibu, apa yang harus kulakukan? Jika aku menerima pria itu, apa hidupku akan lebih baik?" Hana berbicara seolah ibunya mendengar dari atas sana.

Ia memainkan kakinya yang terbalut sepatu baru. Matanya memanas membuat pandangannya memburam.

Perlahan air matanya menetes, ia terisak dalam sepinya taman.

Seolah mengeluhkan semua beban yang dipikulnya. Dari kabar yang ia dengar tuan Luca adalah seorang pria yang tak bisa menghargai perempuan.

Pria itu dikenal playboy, untuk apa pria itu menginginkan seorang istri? Hana tak mau menikah dengan orang yang tak bisa menghargai perempuan, namun hutang sang ayah membuatnya berpikir ulang.

Dering ponsel membuatnya berhenti menangis, tangan kurusnya merogoh ponsel yang berada di saku jaket.

Terlihat nama adiknya menelepon, ia mendesah pelan. Si beban pasti membawa masalah setiap kali menelepon dirinya.

"Halo? Kak, minta uang dong 3juta."

"Untuk apa?"

"Study tour. Seminggu lagi."

"Kau tak diberi uang oleh ayah? Dia baru saja mendapatkan uang 70juta."

"Sudah habis. Kirimkan uang ya, kutunggu."

Hana menatap panggilan yang terputus. Ia terkejut dengan uang yang begitu besar habis dalam sekejap.

Kedua tangannya meremas rambut dengan frustasi, ia berteriak kencang tak peduli jika ada yang mendengar teriakannya. Hana sungguh lelah menjadi sapi perah tanpa diperhatikan bagaimana hidupnya di sini.

Dari dulu, ayahnya lebih menyayangi Irza, adiknya dari pada dirinya. Bahkan, perlakuan ayahnya kepada mereka sungguh kentara pilih kasih.

Irza dengan liciknya sering memfitnah dirinya telah melakukan kesalahan, padahal Irza yang melakukannya. Akibat dari tuduhan tersebut, Hana seringkali mendapat hukuman dari sang ayah berupa cambukan, pukulan sapu dan di siram dengan air lalu dikurung di kamar mandi.

Ibunya bahkan tak bisa membela Hana, sebab diancam oleh sang ayah.

Ia membeli makanan sebelum pulang ke kos malam ini. Dengan mata sembab, Hana berdiri di samping gerobak nasi goreng, menunggu pesanannya selesai dibuatkan.

"Pak, pesan nasi goreng jangan pedas. Buruan ya!"

Seorang wanita dengan pakaian seadanya datang dengan tergesa-gesa.

"Sabar ya bu, saya bikinkan pesanan mbak ini dulu."

"Mbak, saya duluan ya. Anak saya nangis tuh." Hana melihat anak kecil di atas motor yang sedang anteng mengemut permen.

"Sebaiknya ibu periksa mata setelah ini."

"Heh, tidak sopan! Mata saya masih normal ya."

Hana membalas tatapan tajam itu, kali ini ia tak mau mengalah seperti biasanya.

"Tidak lihat itu anaknya anteng dibilang nangis. Coba dong belajar antre, sopan dikit jadi orang! Udah tua bukannya perbanyak amal malah bikin dosa!" Nada Hana meninggi melotot menatap wanita tersebut yang langsung terdiam kesal.

Penjual nasi goreng hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan pembelinya.

"Apasih, bicara baik-baik kan bisa. Nggak usah bentak gitu." Ucap wanita tersebut menggerutu.

"Ngomong yang nyaring! Tadi aja berani bentak saya duluan, giliran dibales langsung ciut." Hana segera pergi setelah pesanannya selesai.

Ia menghampiri anak kecil yang berada di atas motor.

"Ibumu jadi setan, tuh!" Sontak anak tersebut menangis melihat Hana yang menakutinya.

"Heh! Kamu apakan anak saya, hah? Sini kamu!"

"Ini anaknya nangis bu, buruan pulang!"

Hana berlalu pergi. Ia merasa sedikit puas menumpahkan semua emosinya malam ini.

Ketukan pintu kos di malam hari membuat Hana dengan terpaksa membuka mata, ia melihat jam di layar ponselnya menunjukkan pukul tiga dini hari.

Entah siapa yang mengetuk malam-malam begini.

Dengan setengah sadar ia menyeret kakinya menuju pintu, ia membuka kunci dan memutar knop dengan hati-hati.

Terpampang wajah Luca yang berantakan begitu juga dengan pakaiannya yang sudah tidak rapi, dua kancing kemeja nya yang terbuka, tercium alkohol dari nafas pria itu.

Hana mengerjapkan kedua matanya, ia begitu terkejut melihat bosnya berada di depan kos.

"T-tuan? Ada apa?"

"Hana.." Terdengar seperti gumaman, Luca mabuk tangannya menyangga tubuh di daun pintu, kakinya tanpa izin melangkah masuk dan membuat Hana melangkah mundur.

"T-tuan, a-apa yang ingin anda lakukan?" Kini kesadarannya sudah penuh, Hana menjadi siaga ketika bosnya menerobos masuk dan menutup pintu dari dalam.

"Hana, aku merindukanmu." Luca mengukung Hana di dinding, gadis itu gemetar ketakutan dengan sikap bosnya yang seperti ini.

"Tuan, sadarlah."

"Ya, aku sadar sedang berada di mana." Jari telunjuk itu mengangkat dagu gadis yang menatapnya waspada.

"Singkirkan tangan anda dan pergi dari sini."

Pria itu tak menjawab, kedua maniknya menatap lekat wajah Hana yang tanpa polesan.

Jakunnya naik turun ketika menatap bibir ranum Hana yang setengah kering dan bergetar.

Tanpa aba-aba, Luca mencium bibir Hana.

Gadis itu membelalakkan matanya, ia terkejut dengan gerakan Luca yang tiba-tiba dan tanpa seizinnya mencuri ciuman dirinya.

Otaknya sejenak berhenti merasakan bibir hangat dan tebal pria itu, lalu kedua tangannya berusaha mendorong tubuh besar Luca, namun tangannya cekal oleh pria itu.

Ciuman berlanjut dengan panas yang pastinya Luca mendominasi, gadis itu hanya diam tak memberi perlawanan.

Cukup lama Luca melumat puas bibir ranum Hana hingga akhirnya ia melepaskan pagutan.

Keduanya terengah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

PLAKK!!

Tanpa pikir panjang, Hana menampar Luca dengan tatapan marah, kedua matanya berkaca-kaca.

Pipi pria itu memerah akibat tamparan Hana yang cukup pedas menurutnya.

Hana tak mampu mengatakan sepatah kata pun untuk memaki pria ini, lidahnya seakan kelu untuk memprotes tindakan Luca.

"Cukup sepadan dengan ciuman tadi." Luca menampilkan smirknya sebelum pergi meninggalkan Hana yang termenung.

Gadis itu cukup lama berdiri mematung, ia syok dengan kejadian yang baru menimpanya.

Di tengah malam seorang pria mengetuk pintu lalu tiba-tiba menciumnya kemudian pergi begitu saja.

"Aarrghh!! Sialaaan kau Luca!!" Hana memekik menutup wajahnya dengan bantal.

Ia benci dengan pria arogan itu, ciuman pertamanya telah diambil tanpa seizinnya. Apa di mata pria itu dirinya sangat murahan hingga berani melakukan hal seperti tadi?

Esok harinya Hana bekerja di perusahaan A, begitu sampai di kantor. Ia di suguhkan dengan suasana yang begitu ramai.

"Ada apa?" Tanyanya pada sesama pekerja kebersihan.

"Kita di PHK. Perusahaan kita akan tutup, Na." Ucap perempuan yang lebih tua dengan raut wajah sedih.

DEG!

"Apa?!"

"Haduh, mana bayaran sekolah jadwalnya minggu depan pula." Keluh rekan yang lain.

Hana semakin bingung, apa yang ditakutkannya akhirnya terjadi.

Tiba gilirannya menerima uang pesangon selama beberapa bulan bekerja di perusahan A.

Ia berjalan lunglai keluar dari gedung. Beberapa raut wajah karyawan tak berbeda dengan rautnya yang lesu.

Hana menatap amplop yang ada di tangannya, dan membuka lalu menghitung isinya. Belum bisa melunasi semua hutang kepada Pak Reno, batinnya.

Segera menyimpan amplop tersebut ke dalam tas. Ia berjalan untuk kembali ke kosnya.

Tiba-tiba air hujan membasahi dirinya, Hana segera berlari menuju halte yang berada di depan sana untuk berteduh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!