Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Aku gak tau apa yang terjadi setelah hari itu karena pihak keluarga Galang tidak memberitahu ku sampai hari ini aku tahu sendiri dan itu dari neneknya Galang.
"Aku heran apa sih bagusnya kamu sampai-sampai mamanya Galang dan mama nya Doni membela kamu, " ucap nenek saat dia datang ke rumah orang tuanya Galang dan posisi mereka sedang tidak di rumah dan hanya ada aku.
"Maaf nek aku gak ngerti maksud nenek? " tanya ku karena bingung.
"Kejadian malam itu pasti itu ulah kamu yang godain Doni karena kamu masih punya perasaan sama dia. Harusnya kamu bersyukur Galang mau nikahin kamu, " ucap Nenek dan aku tau kenapa nenek bilang seperti itu.
"Nek, buat apa godain pria yang jelas-jelas udah selingkuh di belakang ku dan aku sangat bersyukur karena bang Galang mau nikahin aku dan memikirkan nama baik semua keluarga tapi nenek kenapa punya pikiran seperti itu? " ucap ku sedikit kesal.
"Berani ya kamu bantah saya, " bentaknya gak Terima aku lawan.
"Dasar gak punya sopan santun, " bentaknya lalu mengangkat tangannya dan langsung mendarat di wajah ku.
"Nenek, " teriak Galang lalu menghampiri ku.
"Kamu gak apa-apa? " tanya Galang sambil menyentuh wajah ku dan membuat aku kaget karena Galang memperlakukan ku dengan lembut.
"Nek, kalau nenek kesini cuman ingin cari masalah lebih baik pulang saja, " ujar Galang membuat aku kaget.
"Berani kamu sama nenek? " bentak nya.
"Karena nenek salah, mungkin aku udah bisa di perlakukan berbeda sama nenek, tapi kalau Alika yang di perlakukan sepeti itu aku gak akan tinggal diam, " kata Galang dengan nada menahan emosi.
"Galang sudah, " tegur papa karena dia gak mau jika sang nenek semakin emosi.
"Aku bawa dulu Alika masuk kamar, " ucap Galang lalu menarik tangan ku.
Tibanya di kamar Galang mengambil air es lalu menempelkannya ke pipi ku bekas tamparan nenek.
"Nenek dia lebih sayang Doni karena dia anak dari tante ku, sedang kan aku anak papa, anak yang tidak terlalu dia sayang, " beritahu Galang.
"Seharusnya abang yang lebih di sayang nenek bukan Doni, " balas ku.
"Harusnya tapi dulu papa nikah sama mama tanpa restu nenek jadi nenek tidka terlalu sayang sama kami, " ucap Galang dan sekarang aku tau.
Aku terdiam karena Galang mulai bicara lembut biasnya dia dia selalu kasar tapi sekarang panggilannya aku kamu bukan lo gue membuat aku senang.
"Kamu istirahat saja, aku ke bawah lagi, " titah Galang dan aku pun mengangguk. Aku turun saat makan malam dan nenek masih ada.
Aku pun makan dalam diam dan entah kenapa suasana makan malam sedikit dingin entah apa yang terjadi karena aku tidak tahu.
"Kalian sudah menikah hampir tiga bulan, kenapa kamu belum hamil juga? " tanya Nenek membuat aku tersedak dan Galang langsung memberikan air minum pada ku.
"Nek, kita lagi makan bisa gak jangan bahas seperti itu? " tanya Galang dengan nada kesal.
"Nenek kan cuman tanya gak ada niat lain, " balas nenek dengan santai.
"Aku udah kenyang, " ucap Galang lalu menarik tangan ku dan aku pun ikut berdiri lalu pergi bersama Galang.
"Bang, " panggil ku dan Galang menghentikan langkah nya dan berbalik melihat ke arah ku.
"Abang jangan marah, nenek gak salah kok tanya gitu, " ucap ku.
"Gak salah kalau hubungan kita baik-baik saja tapi lo tau sendiri hubungan kita kaya gimana, " ucap Galang kesal dah bahkan ucapannya sedikit kasar.
"Aku tau bang, " jawab ku.
"Ya udah kamu masuk kamar aja, aku keluar " ucap nya lalu pergi dan aku langsung naik ke kamar ku.
Aku gak tau Galang pulang jam berapa karena saat aku bangun pagi-pagi Galang sudah tidur di samping ku bahkan aku masih bisa mencium bau minuman. Aku pun melepaskan sepatunya dan memperbaiki tidur nya. Setelah itu aku masuk kamar mandi
Aku pun turun untuk membuat sarapan namun di meja makan sudah ada nenek yang duduk sambil menikmati teh manis.
"Baru bagun kamu? " tanya nenek pada ku.
"Iya nek, " jawab ku padahal aku bangun dari tadi cuman batu turun saja karena dulu sempat bangun pagi malah di suruh tidur lagi oleh para ART di rumah ini.
"Harusnya bangun lebih pagi siapkan sarapan bukannya tinggal makan aja, " omelnya membuat aku kaget dan melirik mama namun mama cuman mengangguk saja.
"Baik nek, " jawab ku dengan sopan.
"Tari, kamu perlakukan menantu mu jangan di manja suruh dia kerja, " omel nenek pada mama.
"Buat apa ma, lagian di rumah ini ada ART jadi buat apa aku suruh dia kerja kan aku udah bayar ART, " jawab mama dengan santai.
"Ya kamu pecat saja ART kamu, lagian ngapain banyak-banyak, " omel Nenek.
Aku pun langsung memegang tangan mama agar mama tidak berdebat lagi dengan nenek dan mama melirik ke arah ku.
"Baik nek, Alika bakal bantu-bantu di ruang ini, mulai besok Alika bakal bangun lebih awal, " ucap ku menegaskan.
Setelah sarapan aku pun membereskan meja makan dan ikut membantu di dapur.
"Aduh neng, gak usah biar bibi aja, " ucap ART.
"Gak apa-apa bi, aku gak mau nenek cari masalah lagi, " balas ku.
"Neng Alika emang baik den Galang beruntung dapat neng Alika. Bibi harap neng Alika bisa Terima den Galang apa adanya, " ucap bibi.
"Maksud bibi? " tanya ku bingung.
"Gak apa-apa nanti juga neng Alika bakal tau, gak baik kalau bibi yang kasih tau, " jawab bibi membuat aku bingung.
"Ya udah kalau bibi gak mau ngasih tau nanti aku tanya langsung sama bang Galang, " ucap ku.
"Jangan neng, nanti den Galang marah sama bibi, " ucap bibi dan aku pun tersenyum.
"Iya bi, aku gak akan tanya ko, lagian aku gak berani juga , " ucap ku tertawa.
"Ah si neng bikin takut aja, " ujar bibi.
Selesai membantu di dapur aku pun kembali ke kamar dan bang Galang dia masih tidur, namun ponselnya berdering dan aku tak berani mengangkatnya. Aku pun sibuk dengan ponsel ku sampai tiba-tiba Galang bangun.
"Jam berapa sekarang? " tanya nya.
"Jam sebelas bang, " jawab ku.
"Kenapa lo gak bangunin gue? " ucapnya lalu turun dari tempat tidur dan masuk kamar mandi.
"Siapain baju kantor gue, " teriak nya dan aku pun segera menyiapkannya.
Galang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja bahkan rambutnya masih basah membuat aku terdiam karena ini pertama kalinya aku melihat Galang seperti itu.