Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Selama berada dilingkungan kerja, Vania bersikap seperti biasa pada Sandi hingga tak seorangpun yang akan menduga jika keduanya merupakan pasangan suami-isteri, termasuk manager hotel.
"Vania, buatkan segelas teh untuk tuan Bara!." Perintah pak manager dengan nada setengah berteriak, di depan ruangan kerja Vania.
"Baik, pak." Jawab Vania dengan sopan. Kalau ingin mengikuti kata hati, mungkin Vania sudah berteriak untuk menolak perintah tersebut. Pegawai di hotel tersebut bukan hanya dirinya, lalu mengapa pak manager silih berganti memberikan pekerjaan untuknya. Mengapa tidak meminta pada pegawai lainnya untuk melakukan tugas tersebut, mengingat saat ini ia sedang sibuk menyusun laporan pembukuan bulanan, dan tugas itupun merupakan perintah dari pak manager.
"Jangan berlama-lama! Saya tidak ingin sampai pimpinan berpikir kita tidak menjamu tamunya dengan baik." Lanjut pak manager sebelum berlalu.
"Sepertinya pak manager sengaja melakukan semua ini untuk menekan mu, Vania." Komentar Cika yang kebetulan sedang berada di ruangan Vania.
Vania tak mengomentari perkataan Cika. Hanya hembusan napas berat yang mewakili suasana hati wanita itu sekarang ini.
Vania berlalu menuju pantry. Setelah selesai membuat segelas teh, Vania langsung mengantarkannya ke ruangan pimpinan. Ya, hanya satu gelas saja karena sepengatahuan Vania, pimpinan hotel tidak suka mengkonsumsi minuman manis dengan alasan demi menjaga kesehatan.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Vania lantas memasuki ruangan pimpinan.
"Permisi, tuan."
"Bukannya sudah beberapa kali saya katakan kalau saya tidak suka mengkonsumsi minuman manis." Kata Sandi yang menyadari nampan ditangan Vania melalui ekor mata. Ya, ekor mata, sebab saat ini Sandi tengah sibuk menatap layar laptopnya.
"Maaf tuan. Teh ini buat tuan Bara."
Sandi sontak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya, berganti memandang pada Vania yang kini nampak menyajikan segelas teh di hadapan Bara.
"Apa dia kurang kerjaan sampai repot-repot membuatkan teh segala." Batin Sandi masih dengan memandang ke arah Vania.
"Silahkan di minum tehnya, tuan." Setelah menyajikan teh tersebut Vania lantas mempersilahkan Bara untuk menikmatinya.
"Terima kasih untuk tehnya, Nona Vania." Ujar Bara seraya mengukir senyum terbaiknya.
Jujur, ada rasa malu dihati Sandi karena terlalu percaya diri jika teh tersebut hendak diantarkan Vania untuknya.
Merasa telah menyelesaikan tugasnya, Vania lantas pamit undur diri.
"Ehem...." Deheman Sandi berhasil mengalihkan perhatian Bara dari benda persegi panjang di mana tubuh Vania baru saja menghilang.
"Aku baru sadar kalau nona Vania itu sangat cantik dan juga menarik." Puji Bara sambil senyum-senyum tak jelas.
"Jangan bilang kau tertarik padanya."
"Kalau aku bilang Iya, bagaimana?."
Sandi yang awalnya hanya asal bicara saja, kini langsung berubah mimik wajahnya.
"Jangan macam-macam! Dia sudah menikah." Tutur Sandi yang kini kembali memfokuskan pandangan pada layar laptopnya.
"Sotoy..... Lagian kau tahu darimana kalau Nona Vania sudah menikah?." Nampaknya Bara tak percaya dengan ucapan Sandi.
Sandi yang kini tengah duduk di kursi kerjanya lantas melipat laptopnya, lalu memandang pada Bara.
"Bukankah sejak tadi kau begitu penasaran pada sosok wanita yang aku nikahi kemarin."
"Tentu saja." Bara baru teringat akan maksud dan tujuan utamanya hingga rela mendatangi Sandi di hotel pagi-pagi begini.
Sandi nampak menegakkan posisi duduknya.
"Wanita yang tadi kau puji cantik dan juga menarik itu, dialah istriku, wanita yang telah aku nikahi kemarin."
"Seriously?." Bara membelalak. "Bukannya waktu itu kau mengatakan bahwa calon istrimu bersatus single mom?." Akal sehat Bara seakan menolak percaya jika wanita muda secantik dan semenarik Vania telah memiliki seorang putri.
"Benar, sebelum menikah denganku, dia bersatus single mom. Vania adalah ibu dari gadis kecil yang saat itu bersamaku di mall."
Melihat wajah tak percaya Bara, Sandi lantas berkata. "Sama sepertimu, awalnya aku juga sulit untuk percaya jika mamahnya Sesil ternyata adalah Vania, salah seorang pegawaiku sendiri." Usia Vania saat ini menjadi salah satu faktor mengapa sampai Sandi sulit percaya jika kenyataannya wanita itu telah memiliki seorang putri. Dan sepertinya hal itu pula yang kini tengah dialami oleh sahabatnya, Bara.
"Aku harap kau tidak sampai berpikir membuatnya menyandang status janda untuk kedua kalinya, karena aku yakin tidak sedikit yang akan menyambut wanita secantik istrimu itu, kawan." Kata Bara seraya melebarkan senyumnya.
Sandi tak dapat menepis perkataan Bara, mengingat faktanya Vania memiliki paras yang cantik dan juga bentuk tubuh yang indah, ditambah lagi dengan penampilannya yang menarik.
Menyaksikan jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Bara lantas berpamitan karena setengah jam lagi ia ada meeting bersama kliennya.
Waktu terus bergulir hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba. Vania dan Cika beranjak menuju ruangan yang diperuntukkan bagi semua pegawai untuk mengisi perut. Ya, pihak hotel memberikan fasilitas makan siang dan makan malam bagi semua pegawainya, semacam kantin gratis lah. Itu salah satu kebijakan hotel setelah berpindah kepemilikan ke tangan Admodjo Group. Menurut Sandi apapun profesi dan kedudukan seseorang dalam bidangnya, semua pasti bekerja dengan satu tujuan utama yakni memenuhi kebutuhan perut. Lalu, apa salahnya melakukan kebijakan untuk para pegawainya yang sudah bekerja sepenuh hati.
Satu persatu pegawai hotel memasuki ruangan yang berada di lantai dasar tersebut. Mulai dari pegawai yang menduduki departemen housekeeping hingga mereka yang menduduki posisi petinggi di hotel tersebut berbaur tanpa ada perbedaan status. Itu termasuk perintah dari Sandi selaku pimpinan hotel, ia tidak ingin ada di antara para pegawainya yang saling merendahkan.
Suasana yang awalnya bising oleh obrolan antar sesama pegawai yang tengah menikmati makan siang, seketika sunyi senyap saat menyadari kedatangan pimpinan hotel yang ditemani oleh asisten pribadinya. Tidak sedikit dari mereka yang berpikiran bahwa kedatangan Sandi dikarenakan ada pegawai yang telah melakukan kesalahan, mengingat pada jam makan siang hampir semua pegawai akan berkumpul di ruangan tersebut.
Semuanya mencoba mengingat-ingat kesalahan diri sendiri yang mungkin saja terjadi tanpa disadari. Namun beberapa saat kemudian semua keresahan dihati para pegawai sirna seketika melihat Sandi menempati salah satu meja di ruangan itu kemudian menikmati makan siangnya. Tak seorangpun yang berekspektasi bahwa Sandi akan berbaur bersama para pegawainya di ruangan tersebut, termasuk Vania dan juga Cika sekalipun.
"Tumben tuan Sandi makan siang di sini." Cika terheran-heran.
"Lagi pengen kali." Balas Vania sekenanya, tanpa mau terlalu ambil pusing.
"Apa mungkin tuan Sandi_." Cika merasa lidahnya tercekat saat menyadari pandangan Sandi tertuju ke arah meja mereka.
"Kamu kenapa sih?." Tanya Vania melihat Cika tiba-tiba berhenti berbicara dan menundukkan kepalanya.
"Tuan Sandi memandang ke sini, Vania."
"Nggak mungkin, itu pasti hanya perasaan kamu saja." Balas Vania sebelum kembali melanjutkan makannya.
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆