(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Klan Shen
Pusaran Ketiadaan berputar dengan kebuasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah sinar matahari siang Kota Kuno Bintang Jatuh, sebuah pembunuhan tingkat tinggi berlangsung tanpa ada satu pun orang yang berani menghentikannya.
Penatua Hukuman Klan Shen, seorang ahli Alam Raja Fana Tahap Awal yang biasanya menjadi hakim atas hidup dan mati jutaan orang, kini menggelepar tak berdaya di udara. Tangan kanan Chu Chen mencengkeram wajahnya bagaikan rahang naga yang tak bisa dilepaskan.
"T-Tidaaaak... Leluhur... tolong..." rintih Penatua Hukuman, suaranya semakin mengecil seiring dengan mengeringnya darah dan Qi di dalam meridiannya.
Saripati kehidupan dan hukum ruang dari seorang Raja Fana ditarik paksa, mengalir deras melalui telapak tangan Chu Chen menuju Dantiannya. Di dalam sana, Api Teratai Merah bekerja layaknya tungku surgawi, membakar kotoran fana dari energi tersebut dan memurnikannya menjadi cairan Qi keemasan yang luar biasa padat.
Hanya dalam waktu belasan tarikan napas, tubuh Penatua Hukuman menyusut menjadi sekam keriput, lalu hancur menjadi debu kelabu yang tertiup angin dingin.
BUMMM!
Sebuah ledakan tumpul bergema dari dalam tubuh Chu Chen. Gelombang kejut tak kasat mata menyapu pelataran Puncak Dalam, menghancurkan sisa-sisa pilar giok di sekitarnya.
Lautan Qi di dalam Dantiannya meluas kembali, cairan energinya menjadi semakin kental hingga nyaris menyerupai kristal cair.
Alam Inti Emas Tahap Akhir!
Chu Chen menghembuskan napas pelan, mengeluarkan uap panas yang membakar sisa debu di udara. Hanya dengan menyerap satu Raja Fana, ia berhasil mendobrak batas Tahap Menengah Puncak. Kekuatannya kini berlipat ganda; ia bisa merasakan setiap hembusan angin dan aliran Qi di seluruh penjuru kota.
"Siapa yang berani membunuh Penatuaku dan menghancurkan gerbangku?!"
Sebuah raungan yang terdengar seperti guntur dari langit ke-sembilan meledak dari kedalaman Puncak Dalam Klan Shen.
Gunung bebatuan di belakang kompleks klan itu retak terbelah dua. Seberkas cahaya keemasan melesat ke langit, membelah awan musim dingin. Dari dalam pilar cahaya itu, sesosok pria tua dengan rambut dan jenggot seputih salju melayang turun. Ia mengenakan jubah emas bersulam sembilan naga, dan matanya memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Aura yang dipancarkannya membuat udara di seluruh Kota Bintang Jatuh terasa membeku. Ratusan ribu orang di kota itu seketika jatuh berlutut, tak sanggup menahan tekanan mutlak yang turun dari langit.
Alam Raja Fana Tahap Akhir!
"Itu... Leluhur Klan Shen! Shen Wuya!" Bai yang masih berada di bawah tangga berbisik dengan wajah pucat pasi. "Dia telah mengasingkan diri selama seratus tahun! Chu Chen benar-benar telah membangunkan monster tua itu!"
Shen Wuya melayang di atas pelataran yang hancur. Matanya yang tajam menyapu sisa-sisa debu Penatua Hukuman, mayat ratusan penjaga Istana Jiwa, dan akhirnya terkunci pada pemuda berjubah abu-abu yang berdiri dengan sepasang sayap tulang hitam legam di punggungnya.
"Seorang iblis Inti Emas..." Shen Wuya menggertakkan giginya, Niat Membunuh memancar dari setiap pori-pori kulitnya. "Kau menghancurkan fondasi klanku yang telah dibangun selama ribuan tahun! Hari ini, aku akan mencabut jiwamu dan membakarnya di lentera klan selama sepuluh generasi!"
Chu Chen menatap Leluhur yang sedang murka itu dengan pandangan sedatar permukaan cermin es.
"Ribuan tahun? Tampaknya waktu yang lama itu tidak digunakan untuk mengajari anjing-anjing kalian cara menggonggong dengan benar," ejek Chu Chen santai. Ia mengepakkan sayap tulangnya, perlahan melayang naik hingga posisinya sejajar dengan Shen Wuya di udara.
"Mati!"
Tanpa membuang waktu lagi, Shen Wuya merentangkan kedua tangannya. Ia melepaskan Hukum Raja Fananya secara penuh.
Hukum Raja Fana: Bintang Jatuh Penindas Dewa!
Langit di atas Chu Chen mendadak menggelap. Gejolak Qi Langit dan Bumi dalam jangkauan puluhan mil tersedot ke satu titik, memadatkan sebuah perwujudan bayangan batu bintang jatuh raksasa berwarna emas yang selebar seratus tombak. Bintang jatuh ilusi itu memancarkan panas dan tekanan yang cukup untuk meratakan seluruh kawasan kota ini menjadi tanah datar.
"Hancurlah bersama kesombonganmu!" Shen Wuya mengayunkan tangannya ke bawah.
Batu raksasa itu menukik turun dengan kecepatan mematikan, menargetkan langsung kepala Chu Chen. Gesekan udara membuat batu itu terbakar, menciptakan suara siulan yang memekakkan telinga.
Di bawah sana, Meng Fan memeluk tanah, mengira kiamat benar-benar telah tiba.
Namun, di udara, Chu Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak repot-repot menarik kembali sayap tulangnya.
"Bintang jatuh?" Chu Chen mendongak, celah emas vertikal di matanya menyala terang. "Biar kutunjukkan padamu apa yang bisa membelah bintang."
Chu Chen mengangkat tangan kanannya. Di dalam Dantiannya, Lautan Qi Lapis Akhir yang baru saja ia capai bergemuruh hebat. Ia mengalirkan seluruh Api Teratai Merah dan Niat Pedang Purba ke lengan kanannya, memusatkannya hingga ke titik batas mutlak.
Telapak Penghancur Matahari: Sabit Pembelah Bintang!
Alih-alih meninju, Chu Chen menebaskan telapak tangannya ke atas.
Sebuah gelombang cahaya perak yang dilapisi oleh api merah darah meledak dari tangannya. Tebasan itu membesar dengan kecepatan gila, membentuk sebuah bilah sabit raksasa yang menyongsong batu emas tersebut.
SRAAAAAATTTTT!!!
BUMMMMMMM!!!
Pertemuan dua kekuatan mutlak itu tidak menciptakan ledakan yang menghempaskan Chu Chen ke tanah. Sebaliknya, bilah pedang api merah perak milik Chu Chen membelah batu bintang jatuh emas raksasa itu tepat di tengahnya, bagaikan pisau panas memotong balok mentega!
Batu yang terbelah dua itu meleset dari Chu Chen, menghantam pelataran Klan Shen di bawah dan meledak menjadi dua kawah raksasa yang menelan puluhan paviliun mewah.
"M-Mustahil!" Mata Shen Wuya nyaris melompat keluar dari rongganya. Hukum mutlaknya... serangan terkuatnya... dibelah oleh seorang ahli Inti Emas?!
Sebelum Shen Wuya bisa mencerna kengerian yang menentang nalar itu, sayap tulang Chu Chen mengepak dengan keras.
WUUUSH!
Kecepatan Chu Chen di Tahap Akhir Inti Emas dengan dukungan sayap naga telah melampaui batas pandangan Raja Fana. Ia menembus sisa-sisa ledakan batu raksasa itu dan muncul tepat di depan wajah Shen Wuya.
Tangan kiri Chu Chen melesat, mencengkeram leher Leluhur yang sudah hidup ratusan tahun itu.
"Satu klan penuh dengan sampah yang sombong," bisik Chu Chen, wajahnya sedingin dewa maut. "Sudah waktunya klan kalian dihapus dari peta."
Pusaran Ketiadaan.
Daya hisap yang luar biasa buas dan rakus meledak tanpa ampun. Shen Wuya, sang Leluhur Klan Shen, menggelepar di udara. Ratusan tahun kultivasi, pemahaman hukum, dan saripati kehidupannya ditarik paksa. Jeritan parau keluar dari tenggorokannya, namun tidak ada yang bisa menyelamatkannya.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, Leluhur yang paling ditakuti di Kota Bintang Jatuh itu menyusut menjadi sekam kering, lalu hancur menjadi debu yang tersapu angin.
Chu Chen menyingkirkan debu di tangannya dan menangkap Cincin Penyimpanan berwarna emas tua yang jatuh dari jari sang Leluhur.
Keheningan yang mematikan turun menyelimuti seluruh Markas Klan Shen. Sisa-sisa anggota klan yang masih hidup, dari pelayan hingga Penatua rendahan, berlutut di tanah, tidak berani bernapas. Leluhur mereka... pelindung mutlak mereka... dibunuh seolah sedang mencabut rumput liar.
Chu Chen tidak memedulikan mereka. Ia meremukkan segel jiwa pada cincin emas tersebut dengan Niat Spiritualnya, lalu mengobrak-abrik isinya.
Selain tumpukan Batu Roh Tingkat Atas yang menggunung dan berbagai pusaka, matanya tertuju pada sebuah plakat giok berbentuk bintang tujuh sudut yang memancarkan pendaran cahaya suci.
Plakat Bintang Surgawi.
"Sayembara Berdarah?" Chu Chen mendengus pelan, menyimpan plakat itu ke dalam cincinnya sendiri. "Hanya orang bodoh yang mau membuang waktu bertarung di gelanggang fana jika kau bisa langsung mengambil hadiahnya dari saku pembuat aturannya."
Chu Chen menarik sayap tulangnya kembali ke bawah kulit. Ia melayang turun dengan santai, mendarat di depan gerbang utama yang telah hancur lebur.
Bai dan Meng Fan masih mematung di sana, jiwa mereka terguncang oleh pemandangan runtuhnya sebuah klan raksasa dalam waktu kurang dari satu jam.
Chu Chen melemparkan Plakat Bintang Surgawi itu ke arah Bai. Wanita berkerudung salju itu menangkapnya dengan gerakan naluriah, matanya membelalak menatap benda yang selama ini diperebutkan oleh ribuan jenius.
"Kita punya plakat izinnya," ucap Chu Chen datar, mengusap sedikit debu dari lengan jubah abu-abunya. "Ayo pergi ke Gerbang Pemindah Dimensi. Aku sudah muak menghirup udara di kota pinggiran ini."
Tanpa menoleh lagi ke arah reruntuhan Klan Shen, Sang Naga Pemakan Langit melangkah pergi, membelah lautan penduduk kota yang segera berlutut memberinya jalan, takut bahwa satu tatapan saja akan mendatangkan kiamat pada keluarga mereka.