karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persahabatan yang terjalin Kembali
Selama tiga hari Tenzin berlatih jurus yang telah di ubah oleh Bintang, ia bisa merasakan perubahan jurus yang ia latih semakin hebat dan tak ada celah
"Bintang... kau sebenarnya siapa?" tanya Tenzin pada malam ketiga, setelah ia berhasil membelah selembar kertas yang dijatuhkan dari langit-langit hanya dengan angin pedangnya.
Bintang hanya tersenyum sedih. "Saya hanya seorang anak yang ingin melindungi keluarga yang telah memberikan saya kehangatan di saat dunia terasa sangat dingin, Tuan. Jangan tanya lebih lanjut, demi keamanan Anda sendiri."
Tenzin mengangguk paham. Ia menyadari bahwa pelayan kecil ini adalah seorang anak keturunan pendekar besar yang sedang menyembunyikan diri
Siang tepat pada hari ketiga,Han Zi datang dengan langkah angkuh, golok kembarnya tersampir di bahu.
"Sudah waktunya, Tenzin! Mari selesaikan urusan lama ini agar aku bisa segera membawa kekasihku!" teriak Han Zi.
Tenzin keluar dari rumah dengan mengenakan pakaian latihan berwarna hitam yang sederhana. Wajahnya tenang, matanya jernih seperti telaga di pegunungan. Di belakangnya, Mey Lin dan Thia Eng memperhatikan dengan cemas, sementara Bintang berdiri di belakang mereka
"Kau terlihat berbeda, Tenzin," Han Zi menyipitkan mata.
" mungkin aku hanya mengenang persahabatan lama kita, majulah kita akhiri ini untuk selamanya" sahut Tenzin sambil menghunus pedangnya bersiap menghadapi Han Zi
" Hiaaaat"
" Wuuuut"
Han Zi langsung menyerang dengan jurus "Golok Pembelah Bumi". Serangannya sangat brutal dan penuh tenaga. Namun, kali ini Tenzin tidak menangkis secara langsung. ia menggeser kakinya hanya beberapa inci, membiarkan golok Han Zi lewat di samping telinganya.
"Wush!"
" Traaang"
suara benturan pedang terdengar nyaring, namun, Han Zi terkejut dan segera menarik tangannya karena tangannya bergetar,
" Hiaaaat"
" Traaang"
Ia kembali menyerang dengan lebih gencar. Namun, setiap serangan Han Zi seolah-olah membentur kapas. Tenzin bergerak dengan sangat luwes, menggunakan tenaga lawan untuk membalikkan keadaan.
"Kenapa kau hanya menghindar?!" Han Zi mulai frustrasi. Emosinya mulai mengacaukan aliran tenaga dalamnya.
" Belum waktunya" sahut Tenzin pelan
" Kurang ajar, Hiaaaat" Hanzi semakin marah dan menyerang dengan membabi buta
Tenzin dengan santai menghindari serangan Hanzi, saat serangan gencar itu terus menyerangnya, Tenzin melihat celah Saat Han Zi mengangkat kedua goloknya tinggi-tinggi untuk serangan pamungkas, Tenzin merendahkan tubuhnya. Ia melakukan putaran kaki yang sempurna, lalu melompat dengan pedang yang bergerak seperti kilat.
" Wuut"
Tuk
Tuk
Traaang
Hanya dalam satu gerakan yang tak terlihat mata awam, Tenzin sudah berada di belakang Han Zi. Pedang Tenzin menyentuh titik nadi di punggung dan menjatuhkan kedua golok lawan dengan ujung pedangnya.
Han Zi terpaku. Ia merasakan sekujur tubuhnya lumpuh sesaat. Kedua goloknya jatuh berdentang di tanah. Ia kalah telak. Benar-benar telak.
"Bunuh aku," gumam Han Zi dengan suara bergetar. "Kau sudah menang. Akhiri penderitaanku."
Tenzin menyarungkan pedangnya. Ia melangkah maju, namun bukan untuk menusuk, melainkan untuk mengulurkan tangan kepada Han Zi.
"Kita sudah terlalu tua untuk menyimpan dendam seperti ini, Sahabatku," ucap Tenzin lembut.
Han Zi mendongak, matanya merah karena amarah dan malu. "Jangan panggil aku sahabat! Kau mengambil Thia Eng dariku! Kau menghancurkan hidupku!"
Pada saat itu, Thia Eng melangkah maju ke pelataran. Wajahnya yang anggun terlihat penuh kesedihan.
"kak Han Zi... kau salah paham selama puluhan tahun ini," ucap Thia Eng pelan.
Han Zi terdiam melihat wanita yang selama ini ia puja sekaligus ia benci.
"Dulu, saat kita bertiga tumbuh bersama, aku selalu mengagumimu. Kau adalah orang yang paling kuat dan selalu melindungiku," lanjut Thia Eng. "Tapi, kak Han Zi, perasaanku padamu adalah kasih sayang seorang adik kepada kakaknya. Aku selalu menganggapmu sebagai kakak laki-lakiku yang hebat. Cinta tidak bisa dipaksakan, dan Tenzin tidak pernah merampas apa pun. Aku memilihnya karena hatiku yang menuntun, bukan karena ia mengalahkanmu."
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar hati Han Zi. "Kakak...?"
"Ya, kau kakakku yang paling baik dulu. Kenapa amarah membuatmu melupakan itu semua?" Thia Eng mendekat dan meletakkan tangan di bahu Han Zi yang masih terduduk di tanah.
Pertahanan Han Zi runtuh. Pria besar yang tadinya terlihat seperti serigala lapar itu tiba-tiba menunduk dan bahunya terguncang hebat. Ia menangis. Selama bertahun-tahun ia memupuk kebencian, berkelana mencari ilmu hitam, dan menyiksa dirinya sendiri demi sebuah pembalasan dendam yang ternyata didasari oleh kesalahpahaman hatinya sendiri.
"Maafkan aku... maafkan aku, Thia Eng... Tenzin..." Han Zi terisak.
Tenzin membantu Han Zi berdiri. "Pulihkan dirimu di sini. Rumah ini selalu terbuka untuk saudaraku."
Bintang melihat pemandangan itu dari belakang. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia merasa lega karena kekacauan ini tidak berakhir dengan tumpahnya darah.