NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Suanggi

​Lantai dua rumah mewah itu terasa jauh lebih dingin dibanding lantai dasar, namun bagi Sugeng, udara yang berembus dari pendingin ruangan yang tersembunyi di balik plafon terasa seperti embun surga. Karpet bulu yang tebal meredam suara langkah kaki mereka, menciptakan kesunyian yang intim dan berbahaya. Ratri berjalan di depannya, pinggulnya berayun dengan irama yang menghipnotis, sementara jubah sutra tipisnya berkibar pelan, memperlihatkan bayangan kulit mulusnya yang terpantul cahaya lampu dinding yang temaram.

​"Ini kamar tamuku, Mas Sugeng. Bagus, kan?" Ratri membuka sebuah pintu kayu jati berukir.

​Sugeng melangkah masuk dan nyaris menahan napas. Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king size yang dibalut seprai sutra berwarna krem. Di ujung ruangan, terdapat balkon besar dengan pintu kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan hijau Desa Sukomaju dari ketinggian. Namun, perhatian Sugeng tidak tertuju pada kemewahan ruangan itu. Matanya terpaku pada Ratri yang kini sudah berdiri di samping ranjang.

​"Ratri... kamu benar-benar luar biasa," bisik Sugeng, suaranya serak karena gairah yang sudah mencapai ubun-ubun.

​Ratri tersenyum, sebuah senyuman yang tampak sangat manis namun menyimpan racun di baliknya. Ia melangkah mendekat, jemarinya yang lentik menyentuh dada Sugeng, membelainya pelan hingga ke arah perut. Dengan gerakan tiba-tiba yang bertenaga, Ratri mendorong bahu Sugeng hingga pria itu terjatuh ke atas kasur yang sangat empuk.

​Sugeng mengerang pelan, tubuhnya seolah tenggelam di dalam kelembutan ranjang itu. Sebelum ia sempat bangun, Ratri sudah naik ke atas ranjang. Ia menaruh satu kakinya di antara selangkangan Sugeng, menggesekkan lutut dan pahanya yang halus ke arah "kejantanan" Sugeng yang sudah menegang keras di balik celana batiknya.

​"Ah... Ratri..." Sugeng memejamkan mata. Sensasi itu seperti sengatan listrik ribuan volt yang langsung membakar syaraf-pusatnya. Ia merasa ingin melayang, seolah gravitasi tidak lagi mengikat tubuhnya.

​Ratri tertawa rendah, suara yang terdengar sangat menggoda di telinga Sugeng yang sudah terhipnotis. Dengan gerakan anggun, Ratri melepas jubah sutra tipisnya, membiarkannya jatuh ke lantai seperti kulit ular yang mengelupas. Kini, ia hanya mengenakan baju tidur satin merah hati dengan potongan dada yang sangat rendah. Ratri dengan sengaja menurunkan satu tali bajunya di bahu kiri, memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang sempurna.

​Sugeng sudah tidak tahan lagi. Tangannya gemetar ingin meraih tubuh itu, ingin mengulang "pesta" dua tahun lalu namun dengan cara yang berbeda—kali ini ia ingin menjadi pemenang yang sesungguhnya. "Barang" Sugeng berkedut hebat, siap untuk segera maju berperang.

​Namun, di tengah gelombang nafsu yang memuncak, pikiran Ratri tetap jernih sebeku es. Ia menatap wajah Sugeng yang memerah dengan tatapan meremehkan.

​Jangan sekarang, Suanggi... bisik Ratri dalam batinnya. Kalau aku menghabisinya sekarang, Pak RT akan curiga. Biarkan dia pulang membawa berita kemenangan palsu. Aku ingin mereka semua berkumpul dalam rasa percaya diri yang tinggi, sebelum akhirnya aku menjatuhkan mereka ke dasar neraka bersama-sama.

​Ratri tersenyum licik. Ia memutuskan untuk bermain-main sedikit. Ia tahu bahwa Suanggi, jin yang bersemayam di susuk emasnya, sudah sangat lapar. Roh itu mulai menggeliat di dalam rahimnya, menuntut "sari pati" dari pria di depannya.

​Perlahan, kepulan asap hitam yang tipis dan tak terlihat oleh mata manusia mulai keluar dari area sensitif Ratri. Kabut hitam itu perlahan memadat, membentuk sosok makhluk berbulu hitam dengan mata merah yang menyala, namun berukuran lebih kecil dari aslinya. Suanggi itu keluar sepenuhnya dari "rumahnya" dan menuruti kehendak Ratri.

​Sugeng, yang matanya sudah dikaburkan oleh sihir dan pengaruh minuman tadi, melihat sosok Ratri sedang mendudukinya, menciuminya dengan liar, dan memberikan kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Dalam pandangan Sugeng, Ratri sedang bermain panas dengannya di atas ranjang itu.

​Padahal, kenyataannya sangatlah mengerikan.

​Ratri yang asli sudah bangkit dari ranjang. Ia kini duduk dengan tenang di sofa tunggal di sudut kamar, menyulut sebatang rokok premium yang aromanya memenuhi ruangan. Ia menonton dengan tatapan puas saat Suanggi—dalam wujud bayangan hitam yang menyerupai Ratri di mata Sugeng—sedang "bermain" dengan pria itu.

​Suanggi itu menjilati tubuh Sugeng dengan lidahnya yang kasar dan panjang. Sesekali, makhluk itu menggigit pelan "barang perkasa" Sugeng, mengisap sedikit demi sedikit energi hidup dari sana, namun tidak sampai membuatnya mati total seperti Karno. Ratri sengaja menyuruh Suanggi hanya mencicipi, bukan melahap.

​Sugeng mengerang hebat, punggungnya melengkung. Ia merasa sedang berada di puncak kenikmatan tertinggi. Di matanya, ia melihat wajah cantik Ratri yang sedang mendesah di atas tubuhnya. Ia tidak tahu bahwa yang sedang menjamahnya adalah iblis peliharaan yang air liurnya mengandung racun ghaib.

​Krak... slruppp... Bunyi halus itu terdengar di telinga Ratri, namun bagi Sugeng, itu hanyalah suara desahan cinta.

​Selepas pelepasan yang sangat hebat dan menguras seluruh tenaganya, Sugeng langsung terkulai lemas. Matanya terpejam, dan ia jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap, nyaris menyerupai pingsan. Suanggi kembali masuk ke dalam tubuh Ratri melalui susuk emasnya, memberikan rasa hangat dan kekuatan baru bagi wanita itu.

​Ratri berdiri, melangkah mendekati tubuh Sugeng yang terkapar telentang dengan sisa-sisa nafsu yang masih menempel di kulitnya. Ia meludahi dada Sugeng dengan jijik.

​"Nikmatilah kemenangan palsumu, Sugeng. Laporkan pada tuanmu bahwa kamu adalah pemenang malam ini," bisik Ratri dingin.

​Beberapa jam kemudian, Sugeng terbangun karena guncangan di bahunya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, bingung menemukan dirinya sudah tidak lagi berada di kamar atas, melainkan berbaring di sofa ruang tamu lantai bawah.

​"Mas... Mas Sugeng, bangun. Sudah malam," suara Mbok Nah, pembantu Ratri, terdengar datar.

​Sugeng tersentak duduk. Ia meraba celananya, semuanya sudah rapi. Kepalanya terasa sedikit pusing, namun memori tentang pergulatan panas di lantai atas tadi masih terekam sangat jelas di otaknya. Rasa nikmat itu masih membekas, membuat jantungnya berdebar kencang.

​"Mana... mana Nyonyah Ratri?" tanya Sugeng dengan suara serak.

​"Nyonyah sudah tidur di kamarnya sejak tadi , Mas.Katanya lelah, Dia pesan supaya Mas Sugeng segera pulang karena hari sudah gelap. Satpam di depan sudah menunggu untuk membukakan pagar," jawab Mbok Nah tanpa ekspresi.

​Sugeng berdiri dengan sedikit limbung. Ia merasa tubuhnya sangat enteng, namun ada rasa panas yang aneh dan berkedut di bagian kemaluannya. Ia meraba bagian itu di balik sarung, merasakan denyut yang tidak biasa, namun ia menganggapnya sebagai efek karena "perang" hebat tadi sore.

​Ia berjalan keluar rumah dengan langkah tegap dan dada membusung. Kebanggaan yang luar biasa menyelimuti hatinya. Ia merasa telah berhasil menaklukkan kembali Ratri, sang primadona yang kini kaya raya.

​"Gila... benar-benar liar dia sekarang," gumam Sugeng sambil menyalakan motor bebeknya di depan gerbang.

​Sepanjang jalan pulang menembus kegelapan Hutan Weling menuju Desa Karang Jati, Sugeng membayangkan wajah Pak RT Hardo dan Bambang. Ia tidak sabar ingin menceritakan bahwa ia baru saja menikmati kembali tubuh Ratri, dan menurutnya, Ratri tidak menyimpan dendam apa pun. Ia akan meyakinkan Pak RT bahwa Ratri hanyalah wanita haus nafsu yang bisa mereka kendalikan lagi.

​Sementara itu, di lantai dua rumah gedong itu, Ratri berdiri di balik jendela besar kamarnya. Ia menatap lampu belakang motor Sugeng yang perlahan menghilang di kejauhan. Sebuah senyuman puas terukir di bibirnya yang merah.

​Suara jangkrik di luar terdengar bersahutan, seolah merayakan rencana jahat yang mulai berjalan mulus. Namun, di tengah kepuasannya, sekelebat memori masa lalu mendadak menyerang pikirannya seperti sembilu yang menyayat luka lama.

​Ia teringat Bayu.

​"Aku akan melindungimu, Ratri. Di kampung, kita akan aman," kata-kata Bayu saat itu terngiang kembali, terdengar sangat ironis sekarang.

​Lalu, memori itu berpindah ke malam di mana Bayu menyeretnya ke depan rumah setelah melihat video jahanam itu. Ratri ingat rasa sakit saat tangan Bayu menampar pipinya hingga berdarah. Ia ingat hinaan yang keluar dari mulut pria yang sangat ia cintai itu.

​"Lonte! Ternyata kamu menikmati digilir orang-orang desa! Kamu memalukan! Pergi kamu dari rumah ini sebelum aku membunuhmu!"

​Suara teriakan Bayu dan sorak-sorai warga yang menelanjanginya malam itu membuat tangan Ratri mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Air mata yang sudah lama kering kini terasa panas di sudut matanya, namun bukan air mata kesedihan, melainkan air mata murka.

​"Kamu yang memulai ini semua, Bayu," desis Ratri. "Kamu yang membuangku ke mulut anjing, dan sekarang, anjing itu telah menjadi bagian dari diriku. Kamu akan menjadi hidangan penutup yang paling pahit untuk Suanggi."

​Ratri berbalik, meninggalkan jendela. Ia berjalan menuju cermin perunggunya. Di sana, pantulan wajahnya tampak memudar, digantikan oleh bayangan gelap yang besar dengan mata merah menyala yang seolah tertawa melihat kehancuran manusia-manusia di Desa Karang Jati.

​Malam itu, Ratri tidur dengan sangat nyenyak, sementara di Desa Karang Jati, Sugeng mulai merasakan rasa perih di selangkangannya berubah menjadi rasa panas yang membakar, seolah ada hasrat yang sedang tumbuh untuk terus dan terus menyetubuhi Ratri.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!