Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dev terdiam sejenak mendengar ucapan Lolitta. Tatapannya tidak lepas dari wajah gadis itu yang terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan masa lalunya sendiri.
“Karena rumor yang tersebar?” tanya Dev pelan, mencoba memastikan alasan di balik permintaan Lolitta.
“Benar,” jawab Lolitta tanpa ragu. “Keluargaku terancam bangkrut, nama baik keluarga Fang sudah tercemar. Seorang pengusaha memiliki putri yang adalah mantan narapidana akan berdampak buruk pada Ji Group.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar.
“Kalau sampai ada yang tahu hubungan kita, perusahaan kalian juga akan mengalami masalah besar. Semua orang akan mengatakan bahwa Direktur Zhang bertunangan dengan mantan narapidana. Apa kata orang? Dan bagaimana dengan kakek?”
Dev menatapnya tajam.
“TIdak ada yang bisa mempersulitku. Rumor itu sudah aku urus. Akan segera hilang dari media,” jawab Dev tenang namun tegas. “Apakah kau tahu siapa yang sengaja menyebarkan rumor itu?”
“TIdak tahu. Dan aku tidak perlu tahu,” sahut Lolitta. “Karena apa yang tersebar memang kenyataannya.”
Dev mengerutkan kening.
“Kau tidak khawatir dengan keluargamu? Selain itu kau juga akan menjadi bahan pembicaraan mereka,” tanya Dev.
Lolitta tersenyum tipis, senyum yang terasa hambar.
“Khawatir? Apa yang harus aku khawatirkan?” ucapnya pelan. “Bahkan menjalani kehidupan di penjara saja sudah aku alami. Jadi tidak ada lagi yang perlu aku takutkan.”
Dev terdiam.
Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang sama berulang kali.
"Kenapa Lolitta tidak cemas atau sedih? Ia terlihat terlalu tenang, seolah rumor itu bukan masalah baginya…"
Ia lalu mengalihkan topik.
“Sebelumnya kau mengatakan harus ada perjanjian. Bisa kau jelaskan perjanjian seperti apa yang kau inginkan?” tanya Dev.
Lolitta menatap Dev dalam.
“Dev Zhang, kau masih ingin melanjutkan rencana pertunangan ini? Kau tahu risikonya?” tanyanya balik.
“TIdak ada masalah yang tidak bisa aku selesaikan. Katakan saja apa permintaanmu,” jawab Dev mantap.
Lolitta tertawa kecil, namun tanpa kehangatan.
“Kau benar-benar cucu yang berbakti. Demi kakek, kau bahkan rela berkorban bertunangan dengan mantan narapidana,” ujarnya.
Dev terdiam menatap gadis itu.
Di dalam hatinya ia bergumam, "Aku tidak menyangka Lolitta sekarang sudah tidak seramah dulu. Bahkan dari setiap ucapannya, ia tidak ragu menyinggungku."
Tatapannya melembut tanpa ia sadari. "Lolitta, asal kau tahu… aku bertunangan denganmu bukan hanya demi kakek."
“Baiklah, kalau kau tetap ingin bertunangan denganku, aku tidak akan menolak. Tapi kalau kau menyesalinya, kau bisa membatalkannya secara langsung,” kata Lolitta pelan, tanpa sedikit pun menatap wajah Dev.
“Katakan saja, apa yang kau inginkan!” ujar Dev tegas, berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang Zhang.
Lolitta menarik napas pelan sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.
“Aku tidak ingin ada yang tahu hubungan kita,” ucapnya mantap. “Dan jangan ikut campur urusanku. Begitu juga aku tidak akan ikut campur urusanmu.”
Dev terdiam. Permintaan itu terasa seperti batas tebal yang sengaja ditarik Lolitta di antara mereka.
“Pertunangan ini hanya akan sampai dua tahun. Setelah itu kita akhiri.”
“Dua tahun?” Dev spontan mengulang, alisnya terangkat. “Kenapa dua tahun?”
Lolitta tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
“Karena hubungan ini hanya demi menyenangkan kakek. Setelah kakek sehat kembali, kita akhiri saja. Kau bebas memilih pasangan hidupmu. Dan aku bebas memilih jalanku sendiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, namun tetap tegas.
“Kita hanya perlu berakting di depan kakek agar beliau tidak sedih dan khawatir.”
“Baiklah,” akhirnya Dev berkata pelan. “Semua permintaanmu aku setujui. Tapi aku juga punya satu permintaan,” lanjut Dev.
“Katakan saja,” jawab Lolitta singkat.
Dev menatap Lolitta dengan tajam.
“Selama kita masih menjalani hubungan ini, jangan dekati pria mana pun. Dan jangan biarkan ada pria yang mendekatimu.”
Lolitta menatap Dev datar, tanpa emosi.
“Tenang saja. Aku bukan wanita yang suka bermain dengan pria,” ujarnya ringan. “Bahkan… aku sudah tidak berminat dengan yang namanya pria.”
Beberapa saat kemudian, Dev dan Lolitta melangkah keluar dari rumah mewah itu. Udara sore terasa dingin, namun suasana di antara mereka jauh lebih kaku daripada angin yang berembus pelan.
“Kau ingin ke mana? Biar aku mengantarmu,” tanya Dev, berjalan di sampingnya.
Belum sempat Lolitta menjawab, ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam genggamannya.
Ia melihat nama di layar, lalu segera mengangkatnya. “Halo!”
“Lolitta, pulang sekarang. Perusahaan kita mengalami masalah besar!” suara Alex Fang terdengar panik dari seberang sana.
Wajah Lolitta langsung berubah serius. Tanpa banyak kata, ia memutuskan panggilan itu.
Dev memperhatikan perubahan ekspresinya. “Apakah terjadi sesuatu? Ji Group?”
Lolitta tersenyum tipis, senyum pahit yang penuh makna. “Rumor itu memang tajam dan hebat. Hanya dalam hitungan detik, mampu menghancurkan Ji Group.”
“Aku bisa membantumu,” ujar Dev cepat.
Lolitta menggeleng tegas. “Tidak perlu. Jangan ikut campur. Biarkan keluarga Fang yang mencari jalan sendiri.”
Belum sempat ia melangkah pergi, Dev tiba-tiba menarik pinggang gadis itu dan memeluknya erat.
Gerakan yang spontan. Refleks. Tanpa izin.
“Lolitta,” ucap Dev di dekat telinganya, “aku adalah tunanganmu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu di sisimu. Asalkan kau meminta, aku pasti akan membantumu.”
Jantung Lolitta berdegup kencang. Pelukan hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya kini benar-benar ia rasakan. Tubuhnya menegang, bukan karena benci… melainkan karena perasaan lama yang selama ini ia kubur tiba-tiba mencoba bangkit kembali.
Untuk sesaat, ia hampir lupa cara bernapas.
Namun pikirannya segera berteriak keras, memaksanya kembali sadar.
"Lolitta, jangan percaya dengan kata-katanya…"batinnya bergetar. "Ingat ucapannya lima tahun yang lalu. Semua pria tidak bisa dipercaya."
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰