NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan yang Terlambat

Raka duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya yang masih berlumuran darah kering terkepal erat di atas lututnya. Tubuhnya tidak bergerak, seolah membeku dalam kepedihan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Bayi mereka tidak bisa diselamatkan.

Kalimat itu terus bergema di kepalanya, berulang-ulang seperti lagu yang rusak. Setiap kali ia mencoba memahami artinya, dadanya terasa semakin sesak, napasnya semakin sulit keluar. Anaknya. Anak yang ia tolak. Anak yang ia katakan tidak pernah ia inginkan. Sekarang... pergi. Selamanya.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Raka tidak mengangkat kepalanya. Ia tidak peduli siapa yang datang.

"Pak?"

Suara lembut seorang suster memanggilnya. Raka tetap diam.

"Pak... kami sudah mengeluarkan bayi dari rahim ibunya. Bapak... bapak ingin melihatnya?"

Raka mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah, bengkak, basah. Ia menatap suster itu dengan tatapan kosong. "Lihat?" ulangnya dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.

Suster itu mengangguk pelan. Ekspresinya penuh simpati, simpati yang tulus, bukan dibuat-buat. "Ya, Pak. Bayi sudah... sudah dibersihkan. Kalau Bapak ingin melihat untuk terakhir kalinya, kami bisa mengatur."

Terakhir kalinya. Kata-kata itu menusuk. Tapi Raka mengangguk. "Ya... saya ingin melihatnya."

Suster itu membawa Raka ke sebuah ruangan kecil di ujung lorong, ruangan yang sepi, dengan lampu redup dan tirai putih yang menutupi jendela. Di tengah ruangan ada meja logam, dan di atas meja itu tergeletak sesuatu yang dibungkus kain putih bersih. Sesuatu yang begitu kecil.

Raka berhenti di ambang pintu. Kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Ia tidak yakin apakah ia siap untuk melangkah lebih dekat. Tapi ia harus. Ia harus melihat anaknya, setidaknya sekali.

Dengan langkah gontai, Raka masuk ke dalam ruangan. Suster berdiri di samping meja, tangannya dengan lembut membuka sebagian kain putih yang membungkus tubuh kecil itu. Dan Raka melihatnya. Bayinya. Anaknya. Begitu kecil. Begitu rapuh. Kulitnya pucat, matanya tertutup, bibirnya mungil membentuk garis lurus yang tenang... seperti sedang tidur. Tapi ia tidak tidur. Ia tidak akan pernah bangun.

Raka merasakan lututnya hampir lemas. Ia berjalan perlahan mendekati meja, matanya tidak lepas dari wajah kecil itu. Wajah yang... mirip dengannya. Hidungnya. Garis rahangnya. Bahkan bentuk bibirnya. Semuanya mirip Raka.

"Laki-laki," bisik suster dengan suara lembut. "Bayinya laki-laki."

Anak laki-laki. Raka memiliki anak laki-laki. Atau setidaknya... pernah.

Air mata kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Raka mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh pipi kecil itu dengan ujung jarinya, sentuhan yang begitu hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang sangat berharga dan rapuh. Kulitnya dingin. Sangat dingin.

"Maafkan ayah..." bisik Raka dengan suara yang pecah. "Maafkan ayah, nak..."

Tiba-tiba kenangan menyerbu... kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, yang ia coba lupakan karena ia tidak mau menghadapinya. Ia teringat beberapa bulan lalu, saat Nadira duduk di sofa dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sebuah test pack, dua garis merah jelas terlihat di sana. Raka berdiri di depannya, menatap benda kecil itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Aku... aku hamil, Raka," ucap Nadira pelan waktu itu. Suaranya bergetar, antara takut dan berharap. "Kita... kita akan punya anak."

Raka diam. Tidak ada senyuman. Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat. Hanya keheningan yang membekukan.

"Raka?" panggil Nadira lagi, kali ini suaranya lebih lirih. "Kamu... kamu dengar aku, kan?"

Raka akhirnya angkat bicara. Suaranya dingin, datar. "Gugurkan."

Nadira membelalak. "Apa?"

"Gugurkan kandungannya," ulang Raka tanpa ekspresi. "Kita belum siap punya anak. Aku belum siap. Jadi gugurkan saja."

"Raka, ini anak kita..."

"Aku bilang gugurkan, Nadira!" bentak Raka dengan nada yang lebih keras. "Aku tidak mau punya anak sekarang. Kamu mengerti atau tidak!"

Nadira terdiam. Air matanya mulai jatuh perlahan. Tangannya memeluk perutnya yang masih rata, melindungi kehidupan kecil yang baru mulai tumbuh di sana.

"Aku tidak akan menggugurkannya," bisiknya dengan suara gemetar tapi tegas. "Ini anak kita, Raka. Aku tidak akan membunuhnya."

Raka menatap Nadira dengan tatapan dingin. "Terserah kamu. Tapi jangan berharap aku akan jadi ayah yang baik." Lalu ia berbalik dan pergi, meninggalkan Nadira yang menangis sendirian di sofa.

Kenangan itu berganti. Raka teringat Ben hari berikutnya saat Nadira bertanya, "Raka, besok aku kontrol ke dokter. Mau ikut?" sambil merapikan piring di dapur. Raka bahkan tidak mengangkat kepalanya dari ponselnya. "Nggak bisa. Aku ada meeting."

"Tapi ini pemeriksaan pertama. Kita bisa dengar detak jantung anak kita untuk pertama kalinya."

"Nadira, aku bilang aku nggak bisa. Kamu pergi sendiri saja."

Nadira menggigit bibirnya, menahan kekecewaan. "Baik." Keesokan harinya, Nadira pergi sendiri. Ia mendengar detak jantung bayinya untuk pertama kalinya... sendirian, tanpa Raka di sampingnya. Dan ia menangis di dalam ruang USG, bukan karena bahagia, tapi karena kesepian.

Lalu ada kenangan lain yang kembali berputar di kepalanya. "Raka, aku ngidam martabak manis. Bisa beliin?" pinta Nadira dengan nada penuh harap. Raka menatapnya sekilas, lalu kembali ke laptopnya. "Aku capek. Beli sendiri aja."

"Tapi aku juga capek, Raka. Perutku sudah besar. Susah jalan jauh."

"Kan ada ojek online. Pesan aja."

Nadira terdiam. Ia tidak meminta lagi. Ia keluar dari apartemen dengan perut besar dan langkah yang susah, mencari martabak sendiri di malam hari. Sendirian. Selalu sendirian.

Raka kembali menatap wajah anaknya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Semua kenangan itu kembali... semua penolakan, semua ketidakpedulian yang ia tunjukkan. Ia tidak pernah menemani Nadira ke dokter. Tidak pernah mendengar detak jantung anaknya. Tidak pernah melihat hasil USG. Tidak pernah bertanya bagaimana perkembangan bayi mereka. Tidak pernah. Karena ia tidak peduli. Atau lebih tepatnya ia memilih untuk tidak peduli.

Dan sekarang, anak itu ada di hadapannya. Tapi sudah terlambat. Terlambat untuk mendengar detak jantungnya. Terlambat untuk melihat wajahnya tersenyum. Terlambat untuk menggendongnya. Terlambat untuk menjadi ayah.

"Maafkan ayah, nak..." bisik Raka lagi, suaranya putus-putus. "Ayah bodoh... ayah sangat bodoh... Ayah tidak pernah ingin kamu... ayah menolak kehadiranmu... tapi sekarang... sekarang ayah sangat menyesal..." Ia menundukkan kepalanya, dahinya hampir menyentuh meja logam. "Ayah mencintaimu..." isaknya pelan. "Ayah mencintaimu, nak... Maafkan ayah..."

Suster yang berdiri di sudut ruangan mengusap matanya sendiri, terharu dan sedih melihat pemandangan di depannya.

"Pak," panggilnya pelan. "Kalau Bapak mau... Bapak bisa menggendong bayinya sebentar. Sebelum..." Sebelum dimakamkan. Kata-kata itu tidak perlu disebutkan. Raka sudah tahu.

Ia mengangguk pelan, tidak bisa bicara karena tenggorokannya tersumbat oleh tangis yang ia tahan. Suster itu dengan lembut mengangkat tubuh kecil yang masih terbungkus kain putih, lalu meletakkannya di tangan Raka dengan hati-hati.

Begitu ringan. Begitu kecil.

Raka menatap wajah anaknya yang berada di pelukannya... untuk pertama dan terakhir kalinya. "Maafkan ayah..." bisiknya lagi dan lagi, seperti mantra. "Ayah harusnya ada untukmu... harusnya ayah menemani ibumu saat periksa... harusnya ayah mendengar detak jantungmu... harusnya ayah mencintaimu dari awal..." Tapi semua "harusnya" itu tidak ada artinya lagi. Karena semuanya sudah terlambat.

Raka memeluk tubuh kecil itu erat, sangat erat seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan kehidupan ke dalamnya. Tapi ia tidak bisa. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Kecuali melepaskan. Dan membiarkan anaknya pergi. Untuk selamanya.

Beberapa jam kemudian, Raka berdiri di pemakaman umum di pinggir kota. Langit mendung, angin bertiup dingin. Tidak ada orang lain... hanya Raka, dua petugas pemakaman, dan jasad mungil yang terbaring di peti kecil kayu sederhana. Raka menatap peti itu dengan tatapan kosong. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

Petugas pemakaman menurunkan peti ke dalam liang lahat yang dangkal, liang yang terlalu kecil, terlalu sunyi, terlalu kejam. Raka ingin berteriak. Ingin menghentikan semuanya. Ingin meraih peti itu dan membawanya pulang. Tapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan tanah mulai menutupi peti kecil itu, menutupi anaknya... menutupi kesempatan yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi.

Ketika semua selesai, petugas itu pergi, meninggalkan Raka sendirian di depan gundukan tanah kecil. Raka berlutut. Tangannya menyentuh tanah basah itu dengan gemetar.

"Maafkan ayah, nak," bisiknya dengan suara serak. "Ayah janji... ayah akan menjaga ibumu. Ayah janji... ayah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama..."

Tapi janjinya terdengar begitu hampa. Karena penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan di bawah langit yang mendung itu, Raka menangis untuk anaknya yang tidak akan pernah ia kenal, untuk kesempatan yang tidak akan pernah kembali, dan untuk cinta yang baru ia sadari ketika semuanya sudah terlambat.

1
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!