Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kesan dari pertemuan
Tangan kuat itu memegang pinggang seorang gadis yang hendak jatuh dengan kuatnya, beberapa urat terlihat dengan warna kulit putih menyilau dengan tambahan cahaya matahari dari jendela. Wajah lelaki itu tak tampak. Jantung Rona berdegup kencang karena ia hampir saja terluka.
Beberapa gulungan kain itu berserakan di lantai, syukurlah tidak mengenai barang lain dan mengacaukan isi toko tersebut.
Rona menarik nafasnya dan menoleh pada seseorang lelaki tersebut.
“Terimakasih,”Ucapnya lalu menoleh.
Belum sempat lelaki itu menjawab Rona langsung memeluknya.
“Nathan. Aku merindukanmu.” Peluk hangat bagaikan melepas kerinduan yang bergemuruh lara di dada.
“Baiklah tenanglah Rona.” Nathan melihat sekeliling dari atas ke bawah tubuh gadis itu. Dalam ingatan Nathan gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang tidak pernah ia bayangkan.
Kesan terakhir dalam ingatannya, ia berpisah dan mengikuti kedua orang tuanya ke ibu kota untuk menjalani peruntungan bisnis baru.
“Syukurlah kau tidak terluka, aku sangat takut kau terus terluka sedari kau kecil.” Nathan kembali menatap Rona dan memegang kedua lengan gadis itu dengan tangannya.
“Aku baik-baik saja tapi sepertinya kita harus membantu pelayan tersebut.” Rona menunjuk dengan jempolnya kearah pelayan tersebut.
“Maaf kan atas keteledoran saya tuan dan nona.” Dengan cepat pelayan itu berdiri dan merapikan apa yang sudah ia kacaukan.
Wajah pelayan itu tanpa gugup dan pucat, seakan ia takut jika akan terjadi masalah yang lebih besar lagi yang membuatnya mendapatkan teguran keras dari pemilik toko tersebut.
“Tenanglah, ini tinggal di berdirikan dan di ikat saja.” Ucap Nathan tegas namun lembut.
“Baiklah tuan.” Tanpa bantahan pelayan tersebut menuruti perintah Nathan.
Dengan sigap pelayan tersebut merapikan dan mengambil beberapa tali dan bungkusan melapisi kain tersebut. Beberapa pelayan lain membawa kain tambahan pesona Rona dan menumpuknya jadi satu.
Walaupun ruangan tersebut sedikit kacau, dengan cepat Rona dan Nathan membantu pelayan lelaki tersebut dan mengapa beberapa kain yang ingin ia beli untuk Emily. Mata Rona tidak lepas dari Wajah Nathan yang sudah lama sekali tidak ia pandangi.
Kepala toko datang dengan tergesa mendengar kejadian barusan, namun Nathan menganggap masalah tersebut bukan masalah besar agar tidak mempersulit pelayan tersebut.
Kepala toko menyiapkan kereta barang untuk mengirim kain tersebut ke kediaman White. Rona berdiri di depan kasir menatap dari jendela lelaki itu masih membantu mengecek beberapa gulungan kain yang naik keatas kereta.
“Sejak kapan ia tumbuh setinggi dan setampan itu?” Rona menatap lekat lelaki itu sudah berbeda jauh dari ingatan yang selalu ia ingat. Pakaian prajurit biasa dengan mengenakan kaos putih dengan lengan panjang yang digulung sampai ke lengan. Celana hitam panjang dan sepatu boots biasa. Dan tatapan lelaki itu yang tidak pernah berubah.
Nathan melambaikan tangan dari luar menyatakan semua barang sudah di dalam kereta, Rona hanya termenung tanpa menyadari lelai itu sedari tadi melambai ke arahnya.
“Maaf nona, suami anda melambai kepada anda.” Ucap kepala toko yang menyadarkannya dari lamunan sementara.
“Ah baiklah ini uangnya. Tapi dia bukan suami saya.” Rona hanya membalas senyum dan melambai ke arah Nathan.
“benarkah nono, Ini faktur belanjaannya. Siang ini barang akan segera dikirim nona.” Menyerahkan kertas faktur tersebut.
“Baiklah saya permisi terlebih dahulu. Terimakasih.” Rona langsung keluar menghampiri Nathan.
“Padahal mereka terlihat seperti pasangan ksatria yang entah dari mana.” Tatap kepala tokoh kearah jendela menatap Rona dan Nathan dari kejauhan.
Pelayan lelaki itu juga bergumam dalam hati, “Ya mereka memang cocok sekali menjadi pasangan yang baik, tidak cantik dan tampan namun lelaki itu sangat menghargai sekali.” Pelayan itu pergi dan menatap satu keping koin emas yang diberikan Nathan padanya.
Perjalanan menuju rumah mereka hampir berpisah diujung desa, langkah kaki mereka melambat dengan menarik tali kuda masing-masing.
“Jadi akankah kita berpisah disini?” Tanya Rona penuh harap.
“Hmm tidak, beberapa hari lagi aku akan mengunjungi desa. Setelah urusanku disini selesai.” Natha mengelus lembut kepala Rona.
Gadis itu sedikit terpaku, Dan menatap lekat bola mata Nathan yang berwarna hijau.
“Baiklah, padahal banyak hal yang ingin aku bicarakan. Tapi ya sudahlah,” Rona berjalan kedepan dan berbalik menatap Nathan.
“Lihat kedepan, kalau berjalan mundur bukan hanya dirimu yang jatuh juda di sampingmu juga.” Tawa Nathan mengingat masa kecil mereka saat Rona sering sekal mengadu ia terjatuh dan datang mengaduh sakit padanya.
“Hahaha aku bukan anak kecil cengeng itu lagi.” EJeknya.
“Baiklah, sampaikan salamku pada Emily. Aku akan datang beberapa hari lagi. Hati-hatilah dijalan.” Lambai Nathan.
“Okey, aku dan kakak akan menunggu. Jaga diri baik-baik ya.” Pintanya penuh harapan.
“Kau juga Nathan. Dah.” Rona berbalik menaiki kudanya dan melambai.
“Ah rIndunya.” Ungkap Nathan menatap Rona sudah mulai menjauhinya.
Banyak hal yang telah terjadi bahkan membuat kami telah bertumbuh menjadi versi yang lebih baik lagi. Banyak hal senang hingga sakit yang harus diderita. Akan selalu ada pertemuan dan perpisahan diantara manusia.
Padahal aku menantikan pertemuan kembali yang sangat Romantis, apakah kejadian tadi terbilang cukup romantis? Tak lupa Nathan memberikan beberapa oleh-oleh untuk kedua gadis tersebut yang dititip bersamaan barang yang hendak dikirim kereta barang tadi.
“Para gadis ini cepat sekali dewasa dan wajah mereka sangat menawan. Sudah keluarkah untuk apa bersembunyi .” Ucap Nathan membuat dua orang lelaki yangs edari tadi mengikutinya keluar.
“Maaf tuan, nyonya meminta kami mengikuti anda.” Kedua lelaki itu menunduk dan menatap ke tanah.
“Baiklah mari kembali ke penginapan.” Nathan menaiki kudanya dan memacu nya sangat kencang.
Tak lama setelah melewati jalan yang tidak terlalu panjang Rona sampai pada kediamannya dan langsung menitipkan kudanya pada paman Bily. Terlihat Emily sudah menunggunya di taman bunga sambil menikmati teh sore itu dengan anggunnya.
walaupun keluarga mereka tidak sekaya dahulu namun kedua anak yatim piatu ini bisa mengembangkan usaha lau keluarganya dan memiliki wajah dari usaha baru.
Emily memakai gaun hijau dengan brokat putih di bagian tengahnya, gaun itu dipadu dengan hiasan bunga yang tidak banyak namun masih kelihatan mewah dan santai.
Emily menikmati tehnya sambil menjahit bagian lengan dengan perlahan. Menyusun manik kecil membentuk detail model yang ia mau. Dengan santai dan tenang Emily menikmati pekerjaannya di sore itu.
Rona melambai dari gerbang utama berterikkan nama “Emily … Emily…” Sampailah Rona di hadapan Emily yang menatap lembut gadis itu.
“Kenapa kau begitu tergesa-gesah? apakah kau menemukan jackpot atau hadiah besar di perjalanan pulang.” emily meletakkan jahitannya di kursi sebelah dan menuangkan teh di cangkir baru untuk Rona.
“Kakak… kakak.” Sambil duduk di depan Emily.
“Tarik nafasmu, minum ini lalu bicara.” Emily menyodorkan gelas kepada Rona.
Rona menarik nafas sesuai instruksi Emily lalu minum perlahan teh tersebut namun langsung habis segelas.
“Aku memiliki dua kabar baik. Ah bukan dua namu ada tiga, ya ada tiga.” Ungkap Rona.
“Baiklah hal apa saja itu?” Tanya Emily sambil mengambil kembali jahitannya.
“Pertama pengiriman produksi sudah lancar,” Sambil menunjukkan telunjuknya.
“Baiklah. lalu?” Sambil menunggu jawaban Emily menjahit satu hingga satu.
“Kedua kain yang kau inginkan aku memesannya semua.” Rona mengangkat kedua tangannya dan bahunya dengan senyuman.
“Ya Ampun kenapa kau beri semua? bagaimana dengan keuangan kita?” Tanya Emily sedikit ragu karena memperhatikan keuangan dari pengeluaran kediaman tersebut.
“Tenanglah, aku hanya menggunakan sedikit uangku untuk menanam saham pada kakak ku tersayang ini. Dan yang terakhir!” Rona tersenyum dan sedikit ragu mengatakannya.
“Kau ini benar-benar ya ingin mendapatkan keuntungan dariku juga. Lalu apa yang ketiga?” Tanya Emily menatap Rona yang masih terdiam menyusun beberapa kata.
“Yang ketiga aku, aku, aku ….?” Rona terdiam.
“Aku apa Rona?” Tanya Emily semakin penasaran.
“Aku bertemu dengan Nathan di toko kain.” Rona menggenggam ujung pegangan cangkirnya.
“Aduh…” Emily yang kaget menusuk jarinya dengan jarum.
“Ya ampun kau tidak apa-apa?” Tanya Rona spontan menarik tangan Emily dan membalutnya dengan sapu tangannya.
Pelayan yang berjalan ke arah mereka pun membawa nampan gelas dan ceret ke dekat mereka.
“Hei Lily tolong ambilkan P3K untuk kakak.” Pinta Rona pada Pelayan kakaknya tersebut.
“Baiklah nona.” Pelayan bergegas ke dalam kediaman.
“Aduh kau tertusuk.” Ucap Rona masih memegangi jari Emily dengan saputangan.
“Tenanglah, aku akan ke kamar sekarang. Kotak obat ada disana. Terimakasih atas kerja kerasmu hari ini adikku. Aku akan masuk terlebih dahulu.” Dengan cepat emily meninggalkan Rona.
Rona hanya menatap punggung Emily berjalan menjauh, Rona termenung dan menuangkan segelas teh kecangkirnta tersebut dan menyeduhnya perlahan.
“Apa yang terjadi dengan mereka berdua ya?” Tanya Rona pada dirinya memandangi pantulan dirinya dari dalam gelas beisikan teh tersebut.