Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Mantu Ya, Bu?
Mobil yang dikendarai Bima berhenti di depan sebuah rumah bercat warna abu-abu. Bima memang meniatkan diri datang ke rumah Citra seperti janjinya. Rasa penasaran pada wanita itu membuatnya ia nekat datang, meskipun ia tidak tahu apakah Citra ada di rumah atau tidak? Sebab, dia tak memberitahu Citra terlebih dahulu kalau sore ini dia akan berkunjung ke rumahnya.
Ini kedua kalinya dia mengejar wanita, setelah pertama kali dengan Angelica, mantan kekasihnya masa SMA dulu. Sayang, hubungan mereka kandas karena perbedaan keyakinan.
Bima melihat nomor yang terpasang di dinding rumah itu sama seperti alamat yang Citra beri ketika ia meminta tempat tinggal wanita itu.
Pintu pagar rumah tampak tertutup. Sementara di rumah sebelah terlihat beberapa ibu mengobrol sambil mengasuh anak-anak mereka.
Bima mematikan mesin mobilnya dan keluar untuk bertanya pada ibu-ibu yang kini sedang memperhatikannya. Mungkin dalam pikiran mereka sedang bertanya-tanya siapa dirinya? Sikap yang biasa ia terima ketika bertemu para wanita.
Bima melangkah menghampiri para ibu itu untuk bertanya tentang rumah Citra. Tidak enak rasanya jika ia mengabaikan warga sekitar, sekaligus menyapa agar tak dianggap sombong.
"Permisi, Ibu. Mau tanya, apa benar rumah itu rumahnya Citra yang kerja di kantor Vista Ceramics?" tanya Bima seraya melepas kaca mata hitamnya dan menunjuk rumah Citra.
"Oh, benar, Mas. Sebelah memang rumahnya Citra," jawab salah seorang ibu yang mengenakan hijab.
"Baik, Bu. Terima kasih informasinya." Bima berterima kasih setelah mendapatkan kepastian jika rumah yang ia maksud memang benar rumah Citra,
"Mas siapanya Mbak Citra? Calonnya?" Seorang ibu yang lain kepo ingin tahu, sehingga ia bertanya dengan terkikik malu-malu.
"Hush! Bu Dani ini kepo, ya!?" sindir ibu lainnya.
Bima hanya tersenyum tipis, sebab dia belum punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ibu tadi. Dia pun lalu berpamitan sebelum akhirnya meninggalkan ibu-ibu tetangga rumah Citra.
"Ganteng banget kayak artis di TV."
"Mbak Citra cantik, nggak heran yang datang juga ganteng, biarpun janda."
"Sepertinya orang kaya juga kalau lihat mobilnya."
Komentar tetangga rumah Citra sempat terdengar di telinga Bima, membuat senyumnya makin melebar mendengar mereka bergosip tentangnya.
Bima lalu menekan bel yang ada di dekat pagar rumah Citra, menunggu ada yang membukakan pintu untuknya.
"Biasanya Ibu Nurul lagi di dapur, Mas. Mbak Citra kayaknya belum pulang kerja, deh!" Ibu yang berhijab tadi memberitahu Bima.
"Baik, Bu. Terima kasih," sahut Bima.
Sekitar lebih dari dua menit menunggu, akhirnya pintu gerbang rumah pun dibuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya berhijab muncul di hadapan Bima, yang Bima duga ibu dari Citra.
"Assalamualaikum, selamat sore, Bu. Citra-nya ada?" Meskipun dia sudah mendapat informasi jika Citra belum tiba di rumah, tapi Bima tetap bertanya mencari Citra.
"Waalaikumsalam, Citra belum pulang, Mas. Maaf, Mas ini siapa dan dari mana, ya?" Ibu Nurul, orang tua Citra memang tak mengenal dekat Bima. Mereka hanya bertemu sepintas di acara resepsi pernikahan Citra dan Bayu, itu pun tidak ia ingat jelas.
"Saya Bima, Ibu. Saya dari kantor developer yang bekerja sama dengan kantor Vista Ceramics." Bima sengaja tak mengenalkan dirinya sebagai mantan ipar Citra, khawatir respon tak enak orang tua Citra kepadanya jika tahu dia adalah kakak tiri Bayu.
"Oh, tapi Citra masih di kantor, Mas. Apa ada masalah, Mas?" Mengetahui Bima adalah relasi kantor putrinya, Ibu Nurul khawatir anaknya melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.
"Oh, tidak, Bu. Tidak ada masalah, semua aman-aman saja." Melihat kecemasan Ibu Nurul, Bima langsung menjelaskan kalau kedatangannya tak ada kaitan dengan kinerja Citra. "Saya hanya ingin berkunjung saja, kebetulan lewat dekat sini." Bima berdalih, padahal dia memang niat datang ke rumah itu.
"Apa saya boleh masuk, Bu?" Tak segera ditawari untuk masuk ke rumah, Bima pun bertanya meminta izin, karena tak enak berbincang di pintu gerbang.
"Oh, maaf, silakan masuk ...!" Ibu Nurul membuka pintu gerbang lebih lebar dan mempersilakan Bima masuk ke rumahnya.
"Calon mantu ya, Bu Nurul?" Suara terdengar dari ibu-ibu yang tadi dihampiri Bima.
"Bukan kok, Bu. Relasi kantor Citra." Ibu Nurul mengklarifikasi, dia juga merasa tak enak hati pada Bima karena celetukkan tetangganya tadi pasti terdengar Bima. "Maaf, ya, Mas. Biasa, tetangga di sini senang ngerumpi." Segera Ibu Nurul meminta maaf pada Bima.
"Tidak apa-apa, Bu," sahut Bima
seraya melepas sepatunya di depan pintu rumah sebelum masuk ke ruangan tamu setelah dipersilahkan oleh Ibu Nurul.
"Sebentar Ibu ambilkan minum dulu." Seperti layaknya tuan rumah, Ibu Nurul berniat menyuguhkan minuman untuk tamunya.
"Tidak usah repot-repot, Bu! Cukup ini saja." Melihat ada cup mineral di meja tamu, Bima menolak tawaran Ibu Nurul yang ingin menyediakan minuman dari dapur, sehingga Ibu Nurul pun mengurungkan niatnya meninggalkan Bima.
"Biasanya Citra pulang jam berapa, Bu?" tanya Bima setelah Ibu Nurul duduk.
"Biasanya jam segini sudah pulang, Mas. Tapi, sepertinya hari ini dia lembur, biasanya kalau Senin suka lembur," jawab Ibu Nurul teringat jadwal lembur kerja Citra.
"Kalau lembur, Citra sampai jam berapa di kantor?" tanya Bima kemudian,
"Biasanya selepas Isya atau sampai jam delapan, Mas," jawab Ibu Nurul.
"Apa dia sering kerja lembur?" Bima ingin tahu lebih banyak seputar aktivitas Citra.
"Biasanya sih setiap Senin, tapi kadang kalau lagi banyak kerjaan atau ke luar Jakarta terpaksa pulangnya agak malam," papar Ibu Nurul, "Ya, mau gimana lagi?! Sudah jadi tugasnya. Apalagi dia tulang punggung keluarga." Sebenarnya Ibu Nurul merasa kasihan pada anak pertamanya itu. Harus menanggung keluarga selepas suaminya meninggal dunia sepuluh tahun silam.
"Maaf, kalau Bapak?" Bima memang tidak tahu seluk beluk keluarga Citra. Hanya saja dia menduga jika ayah Citra tidak ada, entah meninggal atau bercerai, karena Citra menjadi tulang punggung keluarga saat ini.
"Ayahnya Citra sudah meninggal sewaktu Citra baru lulus SMA, karena itu dia jadi bekerja keras untuk menghidupi keluarga terutama adiknya yang saat ini melanjutkan kuliah." Ibu Nurul menghempas nafas panjang. Dia merasa, sebagai orang tua, dia tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Citra, karena Citra yang harus membiayai hidupnya juga Ambar, adik Citra.
"Kadang Ibu kasihan juga, dia sampai harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi membiayai Ibu dan juga adiknya." Mengorbankan kebahagiaan yang dimaksud, tentu saja karena dengan bekerjamembuat pernikahan putrinya dengan Bayu kandas.
Ibu Nurul terbawa perasaan, saat menceritakan pengorbanan putrinya, sampai dia lupa kalau orang yang diajak bicara saat ini adalah orang yang baru dikenalnya.
"Oh, maaf, Ibu. Saya tidak tahu jika ayah Citra sudah meninggal." Dari cerita Ibu Nurul dan Bi Siti, Bima semakin yakin kalau Citra memang wanita yang baik. Dia juga merasa kasihan pada Citra karena kurang beruntung dalam urusan asmara karena menganggap telah dicampakkan oleh Bayu.
Menurutnya, wanita seperti Citra seharusnya mendapatkan pria yang bertanggung jawab dan bisa menjadi tempat bersadar seperti dirinya, bukan pria pengecut dan anak Mama seperti Bayu. Dia yakin, dia bisa memperlakukan Citra jauh lebih baik Bayu, jika dia menjadi suami Citra.
Bima mengerjapkan matanya, karena dia sudah jauh berangan-angan akan menjadi suami Citra.
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best