Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kopi Dingin dan Kejujuran Malam
Setelah Pesta: Pukul 00:30 Dini Hari
Acara pertunangan berakhir tepat pukul tengah malam. Meskipun secara profesional Claudia dan Ares terlihat sempurna, Natalie tahu bahwa acara itu hanyalah kesepakatan bisnis yang mengenakan tuksedo dan gaun berlian.
Natalie adalah orang terakhir yang meninggalkan Kediaman Sastrawan, setelah memastikan semua aset Ares—termasuk cash box untuk para kru keamanan—telah diamankan.
Ia kembali ke kantor utama Ares di tengah kota, karena Ares telah mengirim pesan kepadanya: 'Kembali ke markas. Ada hal yang harus dibereskan sebelum subuh.'
Saat Natalie masuk, kantor itu hening, hanya lampu meja di meja Ares yang menyala. Ares duduk di kursi kulitnya, tidak lagi mengenakan tuksedo, tetapi kemeja putih longgar dengan dua kancing teratas terbuka. Jasnya tersampir di sandaran kursi. Dia tampak lelah, tetapi matanya lebih hidup daripada di pesta.
Di depannya, ada sebotol scotch mahal dan dua cangkir kopi dingin yang sudah lama diletakkan.
"Kau lama," kata Ares, nadanya tanpa tuduhan.
"Saya harus memastikan tidak ada yang tertinggal, Tuan. Terutama vendor yang dibayar secara tunai," jawab Natalie, meletakkan tas laptopnya.
"Duduk, Natalie," perintah Ares, menunjuk ke kursi di seberang mejanya.
Natalie duduk. Dia merasakan keintiman yang aneh dalam kesunyian kantor yang besar ini setelah hiruk pikuk acara tadi. Ini adalah pertama kalinya mereka sendirian di ruangan yang sama untuk waktu yang lama tanpa membahas laporan pasar atau Kaleb Sanjaya.
Ares mendorong salah satu cangkir kopi itu ke hadapan Natalie. "Dingin, tapi kafein akan membantu. Ambil."
Natalie mengambil cangkir itu. Rasa kopinya sangat kuat, pahit, sama seperti suasana hati Ares.
Ares menuangkan sedikit scotch ke cangkirnya, tetapi tidak meminumnya. Ia hanya menatap cairannya.
"Semuanya berjalan sesuai rencana," kata Ares. "Claudia mendapatkan spotlight-nya. Ayahnya mendapatkan jaminan keamanan investasi. Dan aku mendapatkan... kepastian."
Natalie menunggu. Dia tahu Ares tidak memanggilnya untuk membuat laporan keberhasilan.
"Kau melihatnya, kan?" tanya Ares, suaranya sangat rendah. "Di bawah lampu kristal. Ekspresi di wajahnya. Bukan cinta, Natalie. Hanya kemenangan."
Natalie menyesap kopinya. "Dia bangga. Itu adalah warisan dan status, Tuan. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Dan kau," kata Ares, ia mengangkat kepalanya, tatapannya kini tertuju pada Natalie, intens dan tanpa penghalang. "Apa yang kau lihat di mataku saat aku memakaikan kalung itu?"
Pertanyaan itu terasa seperti jebakan. Natalie bisa berbohong dan mengatakan dia melihat kebahagiaan. Tapi dia tahu itu akan menghina kecerdasan Ares.
"Saya melihat kejenuhan, Tuan," jawab Natalie jujur, suaranya mantap. "Saya melihat kewajiban yang telah Anda penuhi, dan harga yang Anda bayar untuk kekuasaan."
Ares bersandar, senyum kecil dan suram muncul di bibirnya. "Jujur, seperti biasa. Itu sebabnya aku membutuhkanmu, Natalie. Karena kau tidak memberiku fasad yang disajikan semua orang padaku."
Ia mengambil tegukan kecil dari scotch-nya, ekspresinya berubah pahit. "Aku menghabiskan malam itu dengan bertukar basa-basi dan berjabat tangan, sementara Claudia menghabiskan waktu dengan mengancammu."
Natalie terkejut. "Anda tahu?"
"Tentu saja aku tahu," kata Ares, nada suaranya sedikit mencela. "Kau lupa aku punya mata di mana-mana. Rokok e-cigarette di tangannya, aroma parfum yang terlalu kuat, dan jeda yang panjang dalam pembicaraannya—itu semua adalah sinyal bahwa Claudia sedang marah. Dia mendatangimu saat aku sedang bicara dengan ayahnya. Itu bukan kebetulan."
Natalie menunduk. "Dia... dia hanya mengingatkan saya tentang masa lalu saya di Eclipse, Tuan. Dan dia bilang saya akan dipecat setelah pertunangan."
"Dan apa yang kau katakan padanya?"
"Saya mengatakan saya akan melakukan tugas yang diperintahkan Tuan Ares dengan loyalitas penuh, tidak lebih dan tidak kurang."
Ares tertawa kecil, suara tawa yang kering dan jarang didengar. "Tepat. Itu adalah jawaban yang sempurna. Itu menunjukkan bahwa kau tahu siapa pemilikmu, dan bahwa kau tidak takut pada 'Nyonya' masa depanku."
Ares berdiri, berjalan mengitari meja, dan berdiri di belakang kursi Natalie. Dia tidak menyentuhnya, tetapi kehadirannya terasa seperti energi listrik di punggung Natalie.
"Claudia benar, sebagian. Dia membencimu karena kau adalah mantan pelayan dari klub malam. Tapi bukan karena itu saja," bisik Ares, suaranya kini dekat di telinga Natalie. "Dia membencimu karena aku mempekerjakanmu. Dia membencimu karena kau adalah orang luar yang aku izinkan melihat kelemahan terbesarku. Dan dia benci bahwa kau melihat betapa membosankan hidupku di sampingnya."
Natalie menahan napas. Ini lebih dari sekadar pengakuan; ini adalah kepercayaan yang berbahaya.
Ares menjauh sedikit. "Dia akan menjadi masalah bagimu. Dia akan berusaha memecatmu, menyabotase kerjamu. Tugasmu sekarang bukan hanya soal logistik dan Sanjaya. Tugasmu adalah bertahan dari Claudia, dan membuktikan bahwa kau adalah aset yang lebih berharga daripada semua permata yang dibawa keluarga Sastrawan."
Ares kembali ke kursinya, matanya kini memancarkan cahaya baru—sebuah tantangan.
"Aku punya tugas baru untukmu, Natalie," katanya. "Tugas yang sangat berbahaya. Kau melihat bagaimana aku berurusan dengan Adrian. Sekarang, kau akan membantuku membersihkan kekacauan yang lebih besar dari Adrian, kekacauan yang akan membuat Claudia—dan bahkan keluarganya—merinding."
Ares mengambil tabletnya, membalikkan layar sehingga Natalie bisa melihatnya. Itu adalah foto sebuah gudang tua di pelabuhan.
"Kaleb Sanjaya berhasil menghubungi pesaingku sebelum aku menyelesaikannya. Sekarang dia berada di bawah perlindungan mereka, dan dia memiliki semua rahasia logistikku di tangannya," jelas Ares. "Aku tidak bisa bergerak secara terbuka. Aku butuh seseorang yang tidak ada di radar mereka."
Ares menatap Natalie. "Aku butuh kau untuk menyusup ke gudang ini. Kau akan mengambil semua hard drive dan dokumen yang disimpan Sanjaya di sana. Jika Sanjaya ada di sana, jangan sentuh dia. Ambil informasinya, dan tinggalkan dia untuk kubereskan nanti."
Natalie menelan ludah. Ini bukan lagi menyusun jadwal atau memesan bunga. Ini adalah operasi penyusupan tingkat tinggi.
"Ini berbahaya, Tuan," kata Natalie, suaranya tercekat.
"Tentu saja berbahaya. Aku tidak mengirim asisten analis ke sana. Aku mengirim seseorang yang tahu cara bergerak dalam bayangan, seseorang yang pernah bekerja di lingkungan yang keras dan penuh bahaya," kata Ares. "Seseorang yang kubayar sepuluh kali lipat. Apakah kau akan melakukannya?"
Natalie melihat kembali ke masa lalunya di Eclipse, di mana dia harus berjuang untuk kebebasan pribadinya. Kini, dia memiliki kesempatan untuk membeli kebebasan itu dengan kekuasaan.
"Saya akan melakukannya," kata Natalie, mengambil cangkir kopi dingin itu, meminumnya hingga tandas. "Kapan dan bagaimana?"
Ares tersenyum. Senyum itu tidak hangat, tetapi menunjukkan pengakuan dan kemenangan.
"Malam ini juga. Semuanya sudah siap. Rook akan mengantarmu ke lokasi. Natalie," kata Ares, nadanya kini menjadi sangat serius. "Aku mempertaruhkan banyak hal padamu. Jangan pernah sekali-kali membuatku menyesal telah membiarkanmu melihat ke dalam kerajaanku."