Usia pantas menikah, adalah masa-masa terberat yang di alami gadis Berusia Dua puluh sembilan tahun itu.
Bahkan sudah lima tahun ia mengalami tekanan-tekanan seputar pernikahan hingga akhirnya ia di cap sebagai perawan tua.
Namun, gadis berwibawa tinggi itu hanya akan menikah ketika jodohnya sudah tiba😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tuti Alawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memarahiku
Pagi hari.... yang cerah.. Mata hari mulai memanaskan bumi.
Aku menyiapkan Sarapan untuk Ali.
Hari ini adalah Hari pertama ia bekerja kembali setelah Cuti Nikah Usai.
Hari ini Usia pernikahan kami sudah mencapai satu Minggu. Tidak ada Keharmonisan di Rumah tangga ini. Awal masuk Rumah ini. Ali masih Sering menyapa dan berbicara kepadaku.
Tapi belakang ini. Sikapnya semakin dingin dan tidak pernah menganggap ku ada.
Dia akan makan masakan ku kalau dia ingin saja. bahkan tak jarang ia Memesan makanan dari luar jika ia sedang lapar.
Sedangkan aku Ada...
Aku Istrinya
kalau hanya urusan memasak aku bisa melakukannya.
Aku Selalu diam saat Dia tidak menganggap ku sebagai Istrinya. Selagi aku berusaha memenangkan hatinya. semua akan baik-baik saja.
Hari ini aku tidak memiliki kegiatan Apapun hari ini Adalah hari Jum'at. Hari biasanya aku hengkang sementara dari dunia Disaen dan perkuliahan.
Aku merasa perlu bersih-bersih di rumah yang besar untuk dua orang penghuni Rumah ini.
Aku membersihkan kamarku, Kamar Ali, Ruang tengah, ruang tamu dan dapur.
Saat aku membersihkan Ruangan kerjanya..
Aku menemukan Foto seorang Wanita yang sangat cantik.
Di tancapi oleh Beberapa Anak panah kecil. Bukan beberapa sih.. bahkan sangat banyak.
Aku penasaran dengan wanita yang ada di foto itu.
Aku membandingkannya dengan Foto yang ada di kamar Ali yang juga ku temukan saat membersihka nya tadi.
Seorang Wanita dengan Kebaya putih di lengkapi dengan Hiasan pengantin adat Sunda.
Aku sangat penasaran. siapa Wanita ini. kenapa Ali memajang fotonya di ruang kerja. dan membidiknya dengan anak panah berulang-ulang.
Apa mungkin Dia wanita yang di cintai Ali. Tapi menikah dengan Pria lain?
Aku sangat penasaran.
Ckrekkk
Pintu Ruang kerja itu terbuka.
Aku menoleh ke arah Pintu. dan menemukan Ali dengan wajah Marah.
Ali menarik tanganku keluar ruangan kerjanya. melemparkan ku ke atas Sova ynag ada di ruang tengah..
Aku kesakitan. Ali memperlakukanku sangat kasar.
Aku ingin menangis. Tapi tidak..
Aku akan menahannya.
Aku tidak mau terlihat lemah Di hadapan Pria Ini.
“Kau...Apa Kau tidak di ajari Sopan santun oleh kedua orangtuamu!”
Ucapan Ali sungguh membuat telingaku sakit. kenapa dengan orang tuaku. kenapa masalah sepele seperti ini harus bawa-bawa Nama orangtua..
“Maaf Mas. Aku salah! Tidak ijin terlebih dahulu untuk membersihkan ruangan kerjamu” Tuturku kepadanya. mengharap dia mengerti aku ke ruangan kerjanya hnayalah untuk membersihkannya saja.
“Jangan membuat alasan Jika aku sedang bicara!”
Pria ini.. Dia membentakku. Padahal aku sudah mengatakan yang sesungguhnya.
“Kenaoa kau pergi ke ruangan kerjaku”
Suaranya semakin meninggi. aku tidak bisa berucap. jadi aku hnay diam saja. Menahan Tangis Yang semakin tidak terbendung lagi.
“Jawab...”..
“Maaf mas. Aku tidak sengaja” Ucapku pelan
“Oh tidak sengaja?!”
Ali menyeretku kedalam kamarnya. menghempaskan tubuhku di Atas Ranjang miliknya. danenindih tubuhku.
Aku takut.. dengar sorot mata elangnya yang tajam. dia seperti Hewan buas ingin menerkam mangsanya.
“Jika aku melakukan sesuatu padamu.. dan mengatakan Aku tidak sengaja..Apa kau akan memafkanku”
Ali Bicara. dan aku semakin tidak mengerti apa yang ia ucapkan.
Tiba-tiba Dia menciumku.
untuk pertama kalinya.
dalam Waktu yang cukup lama.
Aku di cium oleh pria.
Huh...
Nafasku tersengal...
Aku menangis. Kenapa dia seperti ini. aku Sangat takut.
Ibu.....
“Kau tahu.. Memangnya kenapa aku menyurumu untuk tidur di kamar terpisah?.
Karma tidak terbiasa?
Karena Tidak tertarik denganmu?
Kau salah...”
Ali terus membentakku dan mencengkram bajuku dengan kuat.
“Apa yang ingin kau ke tahui.. Katakan!
Kenapa kau Hanya diam saja”
Aku ingin bicara.. Aku ingin berontak.. tapi Ali yang seperti ini membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Baik aku akan mengatakannya kepadamu.
Anisa Rani.... Seorang desainer muda berbakat. Alu.engagumimu saat kita pertama kali bertemu.
Aku menghormatimu... karena kau gadis baik-baik.
Kau tahu..Atas dasar apa kita menikah.
Paksaan!
Ayolah Nisa. Jangan terlalu di pikirkan. jangan terlalu serius.
Pernikahan paksa tetap Adalah pernikahan paksa.
Tidak akan merubah apapun”
Aku Menagis..mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Ali itu menyakitiku. sangat menyakitkan.
“Hehhe.
Apa yang kau inginkan.. Kau berharap Bisa menaklukkan diriku?
Dengan Cara apa? Tidur dengan ku?
Anisa... Itu tidak akan berhasil.
Ku Katakan saja yang sebenarnya. Aku memiliki Wanita yang ku cintai.
Aku menyentuhmu bukan berarti aku tidak sanggup.
Tapi aku menghormatimu.
Saat kita berpisah nanti.. Kau masih sempurna untuk Pria yang menunggumu”
Deg
pengakuan Ali ini.
Membuatku Terkejut, Sangat sakit.. Seperti ribuan pisau menghantam perasaanku.
Aku hanya diam. dengan air mata ynga terus mengalir dengan derasnya.
“Atau.. kau ingine serahkan Mahkotamu kepadaku..
Baik.. Aku akan meladenimu”
Tangisku pecah saat Ali bicara senonoh seperti itu.Aku tidak akan rela. meski dia suamiku. dengan semua perlakuan dan pengakuannya sekarang.
Ku tarik kata-kata ku saat pertama kali memasuki Rumah ini.
Aku berniat mempertahankan pernikahan ini. karena aku yakin... suatu saat aku bisa menaklukkan hatinya.
Dan sekarang aku menyesal pernah berpikir seperti itu.
“Ummm...”
Ali menciumku bibirku.. Tangis Ku yang keras Seakan tidak jelas karena ciumannya.
Aku terus saja menagis.
Luka di hatiku sangatlah Perih. Rasa sakit karena perlakuan Ali ini sungguh tidak tertolong lagi.
“Pergilah...!”
Ali Mengangkat Tubuh kekarnya dari atas tubuhku.
“Pergi atau aku berubah pikiran...”
Dengan Tergesa-gesa.. ku seret Tubuhkueninggalkan kamar Ali.
Di dalam kamarku..
Aku memyelimuti Tubuhku yang ketahuan.
Aku tidakenyangka..Ali yang terlihat Dinginniyuemiliki sisi Semenanjung kan ini.
16:17 WIB
Aku mengiring koper ke dalam mobil yang terparkir di bagasi.
Ku tebarkan pandangan ke setiap sudut Rumah ini.
Sepi.. Mungkin dia keluar. kejadian beberapa jam yang lalu membuat diriku tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal lebih lama di dalam rumah ini.
Ku tinggalkan Rumah tanpa memberitahu Dia.
Mobilku melaju dengan kecepatan sedang menuju Rumah orangtuaku.
Tempat yang apling ingin aku temui. tempat Diaman Aku selalu mendapat keadilan dan kasih sayang.
Rumah Kediaman Ayah dan ibu
Mobil yang ku kendarai berhenti di halaman rumah Ayah dan ibu.
Aku keluar dari Mobil. Dan memencet bel Rumah yang pernah menjadi tempat persinggahan ku ini.
krekkk
Ibu membukakan pintu untukku.
Aku langsung memeluknya. air mataku berderai tak tertahankan.
Aku menangis bukan karena lemah.. seumur hidupku.. baru pertama kali ini aku menangis menghadapi masalah.
“Anisah..”
“Assalamualaikum Bu” Ku salam tangan ibu, lalu kucium.
“Waalaikum salam..... Nisa.. kenapa nak. kenapa kau menangis?”
Ujar ibu khawatir.
“Aku Rindu ibu,Ayah dan adik-adik”
“Putriku.. Masuklah.. kami juga sangat merindukanmu”
Ibu memelukku.
Mengusap Air mataku..
perasaanku jau lebih baik di dekat Ibu.