NovelToon NovelToon
Nuha Istri Tersayang

Nuha Istri Tersayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Pelakor / Romansa / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Menikah? Yeah!
Berumah tangga? Nanti dulu.

Begitulah kisah Inara Nuha (21 tahun) dan Rui Naru (25 tahun). Setelah malam pertama pernikahan mereka, kedatangan Soora Naomi mengguncang segalanya. Menghancurkan ketenangan dan kepercayaan di hati Nuha.

Amarah dan luka yang tak tertahankan membuat gadis itu mengalami amnesia selektif. Ia melupakan segalanya tentang Naru dan Naomi.

Nama, kenangan, bahkan rasa cinta yang dulu begitu kuat semuanya lenyap, tersapu bersama rasa sakit yang mendalam.

Kini, Nuha berjuang menata hidupnya kembali, mengejar studi dan impiannya. Sementara Naru, di sisi ia harus memperjuangkan cintanya kembali, ia harus bekerja keras membangun istana surga impikan meski sang ratu telah melupakan dirinya.

Mampukah cinta yang patah itu bertaut kembali?
Ataukah takdir justru membawa mereka ke arah yang tak pernah terbayangkan?

Ikuti kisah penuh romansa, luka, dan penuh intrik ini bersama-sama 🤗😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06 Dulu...

Dulu...

Ada seorang pria yang mencintai gadisnya begitu dalam. Begitu tulus, hingga cintanya tumbuh bahkan di tengah jarak dan waktu.

Cintanya begitu ugal-ugalan.

Anak kuliahan yang niat nyamar jadi siswa SMA demi menjadi stalker manis di balik layar kehidupan gadis itu. Ia memberanikan diri untuk mendekat, lalu memacarinya selama satu tahun penuh kenangan. Menumbuhkan benih bunga cinta di hati gadis itu. Namun takdir memisahkan mereka. Ia pergi jauh, menelan rindu selama tiga tahun panjang yang terasa seperti selamanya.

Tiga tahun itu bukan waktu yang hilang. Di setiap kota yang ia singgahi, di setiap etalase toko yang ia lewati, wajah gadis itu selalu hadir di benaknya. Ia membeli benda-benda kecil yang mengingatkannya pada sang pujaan. Pakaian berwarna kalem, hiasan rambut, aksesories, sepatu boot docmart kesukaannya, hingga tas kecil berhiaskan pita yang tampak cocok jika gadis itu memakainya.

Semua ia simpan di sebuah ruangan rahasia. Tempat di mana cinta tidak pernah pudar, hanya menunggu waktu untuk kembali hidup.

Dan kini...

Gadis itu telah menjadi istrinya. Saat ia membuka pintu ruang rahasia itu, udara di dalamnya seolah berdesir pelan. Setiap benda yang dulu dibeli dengan kerinduan, kini berbisik lembut, "Selamat datang pulang, cinta yang tak pernah pergi."

Nuha masih tak habis pikir setiap kali masuk ke ruang walk-in closet di kamar Naru. Semua benda di sana, mulai dari pakaian, sepatu, hingga aksesoris seolah dibuat khusus untuknya. Semuanya pas. Semua versinya, dari feminin lembut sampai kasual santai, tersusun rapi di lemari itu.

Kadang Nuha merasa malu sendiri. Kalau dilihat dari cara penyusunan dan detailnya, Naru hampir seperti pemuja rahasia dirinya.

Yang paling aneh, ada bangku kayu kecil di sudut ruangan. Step stool mungil yang jelas bukan milik Naru, karena pria itu tinggi dan tak butuh alat bantu untuk menjangkau rak atas. Tapi untuk Nuha? Sempurna sekali. Kalau bukan dipersiapkan untuknya, lalu untuk siapa?

Selesai berdandan, Nuha keluar dari ruangan itu. Tepat saat ia melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan handuk hanya melilit setengah badan, "Aaaah!" ia menjerit. "Apa yang kamu lakukan?! Kenapa mandi di kamar ini?! Sudah kubilang jangan masuk sembarangan!" paniknya dengan gerakan aneh.

Naru yang masih mengusap rambutnya hanya bisa menghela napas. "Astaga, Nara. Ini kamarku. Berapa kali lagi aku harus bilang? Ini kamar putra Bunda Maya dan Ayah Rudi."

"Dan aku bilang, mereka nggak punya putra!!" sahut Nuha spontan, nada suaranya tinggi karena yakin betul dengan ingatannya yang keliru. Dalam pikirannya, Bunda Maya hanya punya seorang putri, yaitu Rui Dina.

Naru menatapnya tak percaya, mencoba menahan senyum getir. “Kalau begitu, menurutmu ini kamar siapa?”

“Menegetehe!” jawab Nuha cepat, lalu menatap ke arah lain sambil manyun seperti anak kecil yang ngambek.

Nuha masih manyun di tempatnya, sementara Naru melangkah masuk ke walk-in closet sambil bergumam kesal. “Gimana bisa dia nggak tahu kalau ini kamarku? Jelas-jelas semua bajuku ada di sini. Konsep kamarnya juga udah kayak kamar cowok banget.” Ia mengibaskan rambut basahnya dengan gerakan asal. “Aku nggak ngerti gimana cara kerja amnesianya Nuha…”

Nuha hanya bisa menatap dari luar, diam-diam tertegun. Pria yang ia sebut Naruto bodoh itu kini tampak luar biasa tampan. Luar biasa tampan yang membagongkan, menurutnya. Rambut basah, wajah santai, dan senyum tipis yang muncul di sela napasnya membuat jantung Nuha berdebar tanpa aba-aba.

“Dia itu… sebenernya siapa?” batinnya.

Lalu berbisik lirih, “Aku pengen pulang, tapi… aku juga terlalu nyaman di sini. Bunda terlalu baik padaku. Dan kamar ini… entah kenapa aku nggak bisa bohong, aku nggak bisa lepas dari tempat ini.”

Suara berat Naru memecah lamunannya. “Nara, nanti setelah aku nganter kamu ke kafe Asa, aku nggak bisa nemenin lama, ya. Ada hal lain yang harus aku selesaikan.”

Nuha menggembungkan pipinya kesal. “Kenapa dia bicara sok penting banget, sih? Aku juga nggak butuh diantar. Naik bus juga bisa, huh.” dengusnya.

Naru mendengar itu “Janganlah,” sahut Naru ringan tanpa menoleh, sambil memilih kemeja. “Kamu kan istriku.”

Istriku.

Kata itu meluncur begitu santai, tapi sukses membuat Nuha membeku di tempat. “Kenapa dia bisa sesantai itu ngomongnya…” pikirnya. Di kepalanya cuma ada satu kata yang terus berulang: kenapa… kenapa… kenapa.

“Terserahlah,” akhirnya ia memilih pergi. Tapi baru beberapa langkah, suara itu kembali memanggilnya.

“Eh, tunggu, Nara… kemarilah.”

“Apa lagi?” sahut Nuha malas, tanpa menoleh.

“Coba deh lihat di mejaku. Ada apanya?” Niat hati Naru ingin menunjukkan ponsel baru untuk istrinya. Tapi…

Nuha terpana dengan buku-buku dongeng yang tertata rapi di rak meja. Mulai dari dongeng lokal hingga dongeng dari luar negeri. "Lagi-lagi kesukaanku, huh." antara senang dan dibuat kesal.

Dan yang menarik perhatiannya justru benda kecil di atas meja. Sebuah bouncing ball LED bening yang berdiri di atas tatakan kayu. Ia mengambilnya dengan rasa ingin tahu.

“Kamu juga punya mainan kayak gini?” tanyanya sambil mengguncangnya pelan.

Cahaya warna-warni pun berpendar lembut di dalam bola itu, menari di dinding kamar seperti bintang-bintang kecil yang berputar. “Lihat, lucu banget, kan,” ujarnya polos, senyum kecil terbit di wajahnya.

“Lucu, ya?” kata Naru. Ia melangkah mendekat menatap wajah Nuha yang diterangi cahaya warna-warni seperti dulu. “Dulu benda itu pertama kali aku kasih buat kamu, lho.”

Mata Nuha sedikit melebar. “Aku?”

Naru mengangguk. “Iya. Aku nemuin itu di bazar. Waktu lihat bola ini nyala, entah kenapa langsung keinget kamu. Jadi aku beli dua. Satu buatku, satu buat kamu. Terus aku kasih waktu di sekolah.”

Nuha memandangi bola itu lama. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Rasa yang tak ia kenali, tapi terasa akrab. “Mirip banget sama punyaku,” gumamnya lirih. “Aku juga punya satu di rumah. Apa bener… itu darimu?”

Cahaya dari bola itu terpantul di matanya. Membuat dua dunia, masa kini dan kenangan lama seolah saling berusaha mengingat.

“Kamu ingat sesuatu?” tanya Naru lembut.

Nuha menggigit bibir bawahnya. “Nggak tahu. Cuma… kayak ada suara kecil di kepala aku. Samar banget.”

Naru tersenyum sendu. “Berarti bola itu masih bekerja dengan baik.”

Nuha perlahan memalingkan wajah, tapi pipinya merona terang seperti warna cahaya di bola itu. Ia memeluk benda mungil itu di dada dan bergumam lirih, “Cahaya ini… hangat sekali.”

Naru membatin, "Nuha, aku bahagia melihatmu sehat. Tapi… melihatmu begini, hatiku tetap teriris. Kenapa kamu harus melupakanku gara-gara Naomi? Kenapa kamu bisa sehancur ini..."

Tangan Nuha perlahan terangkat, mencengkeram kepalanya. Wajahnya menegang, seperti sedang menahan sakit yang tak terlihat.

"Nuha? Hei, jangan dipaksain ingatnya." Naru langsung panik, suaranya bergetar. "Kalau mengingat cuma bikin kamu sakit, aku rela... aku rela kamu lupakan semuanya. Asal kamu nggak kesakitan lagi."

Ia buru-buru mengalihkan topik, pura-pura ceria. "Nara, sebenarnya bukan itu yang mau aku tunjukin. Aku beliin kamu ponsel baru, lho! Lihat ini, lihat." Ponsel Z fold lengkap dengan pen.

"Heh? Ngapain beliin aku ponsel baru?"

"Karena kamu is-- ehm, karena aku tahu kamu mau kuliah di bidang desain fashion. Jadi aku belikan untuk memudahkanmu nantinya," ia tertawa kikuk, mencoba menutupi slip lidahnya.

"Lalu ponsel lamaku mana? Semua kenanganku ada di sana, kamu tahu nggak sih?!" suara Nuha naik, emosinya meluap.

Dan bagi Naru… setiap kata kenangan terasa seperti belati kecil yang menusuk. Karena satu-satunya kenangan yang hilang… adalah dia.

Ia kembali tersenyum pahit, menatap lembut wajah itu tanpa menghiraukan omelannya. "Aku akan tetap bertahan. Sekalipun kamu nggak ingat aku, sekalipun aku cuma jadi orang asing di hidupmu sekarang… aku akan terus mencintaimu, Nuha."

"Mmmoo, Naru! Aku nggak mau ponsel baru. Mana ponsel lamaku! Mana?!"

"Sudahlah. Ponselmu tuh jatuh ke kloset, gara-gara kamu mainan HP sambil beol."

"Ha? Masa iya?"

"Iya banget. Clumsy girl!" Naru cepat-cepat mencium pipinya lalu kabur sebelum sempat dipukul.

"Kamu ini ya!! Kurang ajar banget! Suka banget cium sembarangan! Dendaaa! Denda seratus jutaaaa!!"

Naru yang sudah berdiri di ambang pintu menoleh sambil nyengir. "Boleh dicicil nggak, Bu? Soalnya suami kamu miskin cinta tapi kaya keberanian."

.

.

.

. Huh! Bersambung~

1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
nuha kenapa lagi?
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
jangan bilang kalau tes DNA itu akan mereka manipulasi juga. 😏
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sari & naomi semakin memuakkan
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kuatlah semuanya ya
Aksara_Dee
wareg banget deh ini sih 😂
Aksara_Dee
ktika emosi sdh tdk bisa lagi dilakukan dengan marah
Aksara_Dee
nah bapaknya aja. ngaku.
Teteh Lia
minimal masih ada yang bener lah ya...
Teteh Lia
Udah level buncin ya🤭
Teteh Lia
ini masih pagi. udah baca yang bikin traveling aja 😫.
Aksara_Dee
ih dasar ibu sama anak ini
Aksara_Dee
kenapa aih Muha tuh nyebelin, seenaknya aja ngomong tuh
Aksara_Dee
lagi senangnya main sama temen punya adik itu gak enak bgt gan 🤣
Ame Ricka
cara Naru ngatur napas buat ditiru Nuha?
Itu teknik grounding real-world. Super accurate 🥰❤❤❤
Ame Ricka
Kadang orang anxiety tuh pengen melakukan hal, tapi badannya nolak. Harus kuliah… tapi aku takut… itu adalah dualisme mental health yang beneran terjadi
Ame Ricka
Ini aesthetic… AND painful.
bumil beneran ngalamin mental fatigue kayak gini, huhu syedih 🤧🤧🤧
Ame Ricka
ALAMAKK ini Indonesia banget.
Tetangga: “Dek sehat? Rumornya…”
Padahal sambil mata ngintipin realita kayak CCTV 😒😒😒 Mereka tuh kayak “concern” tapi sebenarnya update timeline duluan 😩
Ame Ricka
100% cowok dewasa yang ngerti boundaries. Green flag maximal 🥰❤
Ame Ricka
Rumah = zona aman.
I just need my comfort place pls 🥺
Ame Ricka
Yessss lanjuttt 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!