Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Menikah
Dengan malas Raka menatap berkas yang terletak di atas meja. Antara ragu tetapi ia juga ingin mengetahui bio data wanita yang akan menjadi istrinya lusa. Akhirnya membuka lembar demi lembar membaca bio data tersebut.
Cukup menarik... tapi, dimana fotonya?
"Siitttt! kenapa tidak ada foto gadis itu di sini, bagaimana pak handoko bisa lupa, memasukan fotonya ke dalam sini." Raka meremas rambut kesal.
"Bagaimana kalo gadis itu buruk rupa? terserah lah, gadis itu mau buruk rupa atau tidak, lagi pula..., aku juga tidak akan mencintainya. Aku akan menyiksanya hingga membuatnya tidak tahan hidup bersamaku, dan dia akan pergi. Dan aku tidak perlu repot–repot lagi untuk menceraikanya.
Bagaimana seorang yang sebelum menikah sudah merencanakan sebuah perceraian. Itulah Raka orang yang berkuasa selalu ingin menjadi yang nomor satu.Baginya pernikahan yang akan ia langsungkan hanya sekedar menjalankan perintah almarhum Orang tuanya saja.
Pendirianya tetap sama ia akan selalu menganggap bahwa wanita hanya serangga yang datang saat lapar dan pergi saat kenyang. Kenangan pahit yang di torehkan Mantan kekasih dan Ibunya begitu sulit untuk dilupakan. Sehingga ia tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kalau bukan Ayahnya yang telah menjodohkan dirinya dengan anak mantan kariawanya.
**
Di ke esokan hari, Mentari terlihat begitu terang menyinari bumi. Ziara berlahan–lahan membuka matanya yang terkena pancaran matahari dari sela–sela jendela. Rasa berat yang menyelimuti hatinya. Tidak ingin rasanya ia beranjak dari tempat tidur. Matanya masih sembab akibat menangisi nasipnya semalam.
Sedih, bingung, tidak tau harus mengatakan apa, kepada Rio hatinya saat ini bagai tersayat-sayat, sangat berat penderitaan yang ia alami saat ini. Ziara akan mencoba menghubungi Rio, dia berpikir akan menceritakan semua tentang perjodohan ini.
Segera ia mencari ponsel di ranjang. Yang ia lempar semalam. Ziara berharap Rio bisa memberi jalan keluar, atau mereka berdua akan meminta restu. Ia menekan dan mencoba menelefon Rio, namun panggilan sedang dialihkan.
Kenapa nggak aktif sih, kamu kemana plies ... angkat, bantu aku, aku enggak mau menikah dengan orang yang tidakku kenal. Aku akan coba kirim pesan chat, mungkin saja setelah dia sibuk di balas.
[Sayang kamu dimana?]
[ Kenapa tidak menjawab panggilanku dari semalam? Apa kamu masih marah soal kejadian kemarin,]
Pada jam 08:22 Ziara mengirim pesan chat, namun tidak mendapat respon. Pikirannya menjadi semakin kacau balau, tak sanggup rasanya jika dia harus menikah, bukan dengan Rio.
Setelah lama Ziara menunggu jawaban dari Rio akhirnya membalas pesan chatnya.
[Maafkan aku, saat ini aku sedang sibuk, akan kuhubungi setelah aku selesai dengan urusanku.] balas Rio dari seberang sana.
Setelah membalas satu pesan dari Ziara. Ponsel Rio kembali tidak aktif. Entah apa yang terjadi Ziara saat ini tidak bisa berpikir. Kekasih yang seharusnya membantu ia keluar dari masalah ini, malah nggak bisa dihubungi.
Mungkin Arini bisa membantuku, aku akan coba hubungi dia.
Dengan semangat ia menghubungi Arini. Saat ini tidak orang yang bisa membantunya selain teman baiknya itu. Namun nasib tidak berpihak padanya, setelah cukup lama ia menunggu telefonnya diangkat, namun Arini nggak menjawab.
Aaaaaaaaaaaaaa!
Ziara melempar hpnya ke lantai, hingga pecah. Ia merasa lelah dengan semua ini. Saat ini sudah tidak ada jalan baginya, menjatuhkan diri ke kasur. Menangis mungkin ini jalan satu-satunya, mungkin dengan menangis bisa mengurangi sedih dihatinya.
Cairan bening tidak henti-hentinya membasahi matanya. Sumpah demi apapun ia nggak ingin diposisi ini. Posisi yang mengharuskan, memilih anatara Rio dan Ayahnya. Disatu sisi ia mencintai Rio tapi disisi lain ia harus memikirkan kesehatan Ayahnya. Ziara memiliki tanggung jawab terhadap orang tua yang telah membesarkanya.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara Ibu sedang mengetuk pintu. Yang membuat Ziara menyeka air mata yang membasahi kelopak mata. "Masuk nggak di kunci!" titah Ziara.
Ibu pun masuk mendekat kearah Ziara, memastikan kalau kalau semua baik-baik saja, "Ziara..., kamu kenapa?" ucap Ibu melihat mata putrinya sembab.
"Aku enggak apa-apa kok, bu." jawab Ziara menunduk menyembunyikan wajah dari ibu.
"Apa kami terlalu memaksakan, Nak?" ucap Ibu melihat wajah Ziara. Nalurinya mengatakan kalau putrinya sedang sedih, dengan perjodohan ini, namu apalah daya, bagaimanapun orang itu yang telah menyelematkan nyawa suaminya.
"Aku bingung bu, cowok yang akan menikah denganku, aku belum pernah ketemu sama sekali. Aku berusaha menjadi anak yang baik walaupun aku akan menikah dengan om,om sekalipun, demi nyawa Ayah.
"Maafkan Ibu Nak, tidak bisa bantu kamu. Oh ya lupa, di depan ada seorang permpuan utusan calon suamimu, ingin ketemu sama kamu, temui sana, kasihan dia menunggumu. Ibu mau lihat Ayahmu dikamar, sudah saatnya minum obat." ucap Ibu lalu keluar dari kamar.
Ziara segera menemui wanita tersebut. Saat ia sudah di ruang tamu, ia melihat sesosok wanita cantik berpenampilan seksi. Ia membandingkan dengan gayanya yang beda jauh.
"Kamu siapa?" tanya Ziara penasaran.
"Kenalkan, namaku Meysa. Aku sekertaris, Tuan Raka, calon suamimu.” ucap Meisya yang mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ziara. Dan dibalas oleh Ziara hingga kini mereka saling bersalaman.
"Jadi gini Nona, Tuan memerintahkanku mengirimkan, pakaian pernikahan untukmu." kata Meysa memandang sinis Ziara. "Tuan Raka berpesan, bahwa ia sudah menentukan pernikahan akan diadakan besok malam," kata Meysa
"Menikah??" Ucapn Ziara membulatkan mata lebar karena terkejut mendengar ucapan Meisya yang mengatakan pernikahan akan berlangsung dua hari lagi. "Kenapa secepat ini? Aku belum mempersiapkan apapun. Apa nggak bisa diundur?" balas Ziara.
"Tuan Raka nggak mau tau, kalau dia mengatakan besok, ya harus besok! Dia nggak suka kalau dibantah." Ucap Meysa yang bangun dari sofa.
"Dan, ada satu hal lagi, Tuan berpesan jangan herharap menjadi istrinya, karna itu hanya menikah untuk sementara," ucap Meisya lalu mendekat kedekat Ziara. "Pernikahan ini hanya untuk status, jadi jangan berharap lebih darinya.” ucap Meisya yang segera pergi dari hadapan Ziara yang berdiri kayak patung.
"Nyebelin banget sih, laki-laki itu, seenaknya dia mengatur-atur pernikahan. Aku akan pastikan akan menbuatmu menceraikanku, agar aku bisa kembali hidup bahagi dengan Rio.
"Maaf Nona, saya harus meletakanya dimana?" tanya sopir yang membawa barang-barang perlengkapan pernikahan masuk ke rumah.
"Tarok di sana pak...," tunjuknya kearah meja. Dan sopir tersebut memasukan satu-persatu hingga selesai meletakan ke atas meja yang diawasi Ziara.
Setelah sopir itu pergi, Ziara melihat barang-barang tersebut ingin rasanya ia langsung masukan kedalam tong sampah saat ini juga. Meski yang dihadapannya adalah emas dan kebaya disainer terkenal, namun bagi Ziara itu hanyalah sampah.
———Samar Jenny ———
Jangan lupa tinggalkan cinta kalian Vote like dan komen.