Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian
Setelah beberapa minggu kematian Alfred, Leon resmi diangkat menjadi penerus baru sang kakek sesuai rencana awal. Kenapa bukan ayahnya saja? Rafael yakin jika Leon yang memimpin perusahaan itu akan berkembang pesat dan keluarga mereka semakin kaya raya. Saat itu juga Leon mengurus perceraian dengan Alya tanpa memberikan uang sepeserpun kepadanya.
Alya membereskan semua barang miliknya ke dalam tas, kondisinya semakin mengenaskan karena hampir setiap hari menjadi sasaran KDRT Leon.
"Jangan sampai ada yang tertinggal! Aku tidak mau sampah mu berada di kamarku."
Alya hanya mengangguk saja sambil mengusap air matanya, setelah selesai ia pun melangkah pergi tanpa memperhatikan Leon yang berdiri di depannya.
"Kuharap kamu tidak muncul di hadapanku lagi," kata Leon.
"Semoga kamu yang tidak muncul dihadapan kami," gumam Alya sambil melangkah ke pintu keluar.
Sekarang ini Alya tidak tahu harus kemana, sebelumnya Leon memberikan pilihan kepada Alya untuk dikirim ke luar negeri yang kurang terjamah orang, tapi Alya tidak mau karena merasa tidak adil.
Dia hanya ingin bercerai tapi Leon jangan ikut campur urusannya lagi.
Hampir 3 bulan tinggal di rumah besar itu, Alya benar-benar tersiksa karena batin bahkan fisik. Dia tidak berani melaporkan kepada polisi karena Leon sudah mengancamnya berulang kali jika Alya akan kalah.
"Nak, akhirnya kita pergi dan kalian sudah aman," gumam Alya sambil mengelus perutnya.
Alya menuju ke sebuah stasiun bus dan menuju ke desa sang nenek. Di sana dirinya dibesarkan oleh orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia karena kecelakaan dan setelah itu diurus oleh neneknya.
Kehamilan yang menuju ke 3 bulan ini ia tidak merasakan apapun seperti mual atau muntah dan tidak ada gejala lain seperti ibu hamil lainnya. Saat ini pun dia juga menggunakan korset supaya perutnya tidak dicurigai oleh Leon.
"Sekarang kalian bisa bernafas lega dan tidak sesak lagi," ucap Alya sambil melepaskan korset tersebut. "Dan kalian tidak akan pernah bertemu dengan papa kalian lagi. Selamanya."
Setibanya di desa. Alya berjalan menuju ke rumah neneknya, rumah itu masih bangunan tua dengan dinding kayu yang menghangatkan rumah tersebut.
"Nenek?"
"Alya?! Kenapa kamu di sini?"
Alya ragu untuk menceritakan apa yang terjadi walau pun dia harus melakukannya, tapi dia tetap harus mengatakan yang sebenarnya.
"Kakek Alfred sudah meninggal dan beliau satu-satunya harapanku untuk bertahan di sana sudah tiada," jelas Alya.
"Apa maksudmu?" Nenek masih tidak paham."Banyak yang terjadi yang tidak kamu tahu, Nek. Sebenarnya aku korban pemerkosaan dari Leon dan Kakek Alfred memaksa Leon untuk menikah denganku. Selama ini aku mendapatkan kekerasan dari suamiku." Alya menunjukkan beberapa lukanya.
Nenek tentu saja terkejut, dia memeluk erat Alya . Dia pikir Alya sudah bahagia di sana, di keluarga mantan kekasihnya dulu yaitu Alfred. Namun, dia sudah salah besar mempercayakan Alya kepada keluarga Alfred.
"Sekarang bagaimana? Kamu harus lapor polisi!" ucap Nenek.
"Aku tidak mau, Nek. Jika aku melakukan itu maka Leon akan melakukan hal yang buruk kepada kita," jawab Alya .
"Oh, Nak. Nasibmu kurang baik, pantas saja kamu terlihat sangat kurus dan pucat. Kenapa dari awal tidak bilang kepada Nenek? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini?"
Alya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau Nenek khawatir kepadaku. Oh iya, Nenek, ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu. Kakek Alfred sebelum meninggal, dia mengatakan masih mencintaimu dan kamu adalah cinta pertamanya. Betapa beruntung sekali Nenek dicintai secara ugal-ugalan dengan Kakek Alfred."
"Sudahlah, itu hanya kisah masa lalu saja. Nenek sangat tidak terima kamu mendapat perlakuan ini dari cucunya."
Mata Nenek lalu tidak sengaja melihat ke arah perut Alya, dia merabanya dan terlihat keras serta agak besar.
"Aku hamil dan Leon atau keluarganya tidak ada yang tahu."
Nenek mengangguk dan air matanya menetes. "Semuanya akan baik-baik saja jika kita terus bersama."
"Nenek janji, ya! Jangan tinggalin aku." Alya memeluk neneknya dengan sangat erat.
**
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti dan sekarang kandungan Alya sudah menginjak 7 bulan. Dia sibuk membantu mengurus ladang sang nenek dan biasanya mereka jual di pasar untuk mendapatkan harga tinggi.
"Hari ini kamu periksa ke dokter 'kan?" tanya Nenek.
"Iya, sekalian ke pasar."
"Tidak usah, kandunganmu sudah sangat besar sekali apalagi kamu hamil kembar. Kamu di rumah saja dan beristirahat."
"Tapi keadaan Nenek juga sedang sakit."
"Nenek masih kuat berjalan dan Nenek memang sudah menua jadinya mudah sakit, tapi Nenek masih kuat berjalan ke pasar."
Alya mengangguk paham, Nenek lalu memberinya sebuah kalung dan beliau pakaikan di leher sang cucu.
"Hanya ini satu-satunya harta benda yang bisa Nenek bagikan kepadamu. Ini diberikan oleh Alfred saat dia hendak akan menikahi Nenek walaupun ujungnya batal. Itu emas asli dan kamu bisa jual jika memerlukan uang," jelas Nenek.
"Terima kasih, Nek. Aku tidak akan menjualnya," jawab Alya sambil tersenyum.
Kemudian, Nenek pergi ke pasar sambil membawa buah dan sayur hasil berladang. Sedangkan Alya di rumah sambil menunggu petugas pelayanan kesehatan di desa itu datang untuk memeriksa kehamilannya.
"Nenek akan baik-baik saja 'kan?"
Tiba-tiba perutnya terasa kesakitan karena ketiga kembar itu sangat aktif sekali, Alya tersenyum sendiri saat merasakan mereka yang terlalu lincah di dalam perut.
"2 bulan lagi kita ketemu ya, Nak? Mama belum menyiapkan nama untuk kalian. Kira-kira siapa, ya?" Alya terus berpikir walau belum bisa menemukan jawaban nya.
Tendangan terasa lagi dan kali ini membuat ulu hati Alya merasa kesakitan, dia pun lantas berjalan ke kamar untuk membaringkan dirinya. Sesaat dia malah teringat dengan Leon yang dulu sering menyiksanya, bekas lukanya sampai detik ini pun masih ada dan tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya.
"Kenapa orang yang jahat selalu bahagia? Kehidupan ini sangat tidak adil sekali dan justru orang kecil seperti kami selalu menderita."
Mata Alya yang mengantuk memutuskan untuk tidur, entah kenapa selama hamil besar ini dia merasa mudah lelah walau seharian tidak melakukan aktivitas.
Tibalah Alya masuk ke dalam alam mimpinya dan dia malah bertemu dengan Leon, di sana Leon bisa tertawa terbahak-bahak sambil melihat Alya yang disiksa habis-habisan olehnya. Gelak tawa itu membuat telinga Alya sampai kesakitan, pria itu juga menyiramkan bensin di sekitarnya dan menyulut api sampai terjadi kebakaran.
"Buahahaha... hahaha.... hahaha..."
Alya sangat ketakutan, dia terus berlari walau api itu mengejar dan gelak tawa itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Buahaha... hahaha...."
"Jangan ikuti aku! Pergi! Pergi!" teriak Alya. Saat bersamaan dia terbangun di alam nyata dengan nafas yang ngos-ngosan dan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Hah... hah... ternyata hanya mimpi tapi terasa seperti kenyataan," gumamnya.
Tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras, Alya dengan perlahan bangkit dari tempat tidur lalu membuka pintu rumah.
"Alya! Nenekmu!"
"Nenek?" tanya Alya.
"Nenekmu kecelakaan, dia tertabrak mobil di pasar."
Alya terkejut setengah mati.