Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Wiksa aneh
Bab 6. Wiksa aneh
"Ada apa, Bu?" Airin bertanya bingung, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban. Airin terpaku melihat tingkah aneh sang ibu mertua, menatapnya lekat tanpa berkedip untuk beberapa saat.
Sang ibu mertua flashback on
Sang ibu merasa heran selepas kepergian Airin, ada yang aneh dengan sikap Wiksa selama dua jam tidak melihat Airin, wajah Wiksa mulai terlihat gusar, tidur tidak tenang, badannya sering berpindah posisi terkadang manik matanya terlihat sesekali melirik ke arah pintu. Sang ibu yang melihat gelagat dari Wiksa hanya tersenyum kemudian berdiri dan mendekati Wiksa.
“Kenapa, gelisah?” tanya sang ibu menelisik.
“Mmm ... ke mana perginya asisten itu, Bu?” tanya Wiksa ragu.
“Oh ... Airin. Istrimu, ia pulang,” bohong sang ibu, menegaskan kata istri pada Wiksa.
“Pulang?” tubuhnya terlihat gusar tidak nyaman.
“Betul,” jawab sang ibu, terus memperhatikan tingkah Wiksa.
“Ibu, yakin?” tanya Wiksa ulang.
"Ibu, yakin dan memang istrimu pulang," jawab sang ibu lagi-lagi menegaskan kata istri pada anaknya.
Wiksa terdiam mendengar jawaban sang ibu, kembali menoleh ke arah pintu. “Apa, pulangnya lama?”
“Mungkin ... bisa jadi, bisa lama atau cepat," jawab sang ibu menelisik.
Mendengar jawaban sang ibu, Wiksa terdiam, terpaku menatap ke arah pintu tanpa putus. Tangannya tidak berhenti mengusap dadanya, entah apa yang saat ini Wiksa rasakan. Wiksa tiba-tiba berteriak keras, mengumpat Airin dengan kata-kata kasar, wajahnya memerah, tangannya mengepal penuh amarah.
Sang ibu yang semakin bingung dengan sikap anaknya. “Wiksa! Ada apa? kenapa berteriak? Wiksa merasakan atau mengingat sesuatu?” tanya sang ibu hati-hati.
Wiksa hanya menggeleng, bagaimanapun juga saat ini ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang sangat dirinya tidak mengerti. “Wiksa pusing Bu,” jawabnya tiba-tiba sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tetapi badannya menghadap ke arah pintu.
“Biarkan Wiksa dengan posisi seperti ini Bu. Jika asisten itu datang ....” Wiksa menghentikan ucapannya dan langsung menutup matanya.
Sang ibu yang melihat kondisi Wiksa berusaha untuk tetap tegar, perubahan emosi yang sangat cepat berganti, sang ibu hanya bisa menghela napas panjang, menatap iba pada Wiksa. Kenyataannya saat ini bukan hanya Wiksa saja yang sakit, tetapi Airin menantunya juga sedang mengalami sakit yang sama, perang batin yang begitu berat. Penolakan dan di lupakan oleh suaminya sendiri.
“Ibu akan keluar sebentar,” pamit sang ibu pelan, melihat Wiksa sedikit tenang.
Wiksa hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan kepergian sang ibu. Langkah sang ibu terhenti melihat Airin berdiri di luar kamar, menatap kosong seakan menanti sesuatu yang tidak pasti. Mengikis cepat air matanya yang tiba-tiba sudah mengembun begitu saja, rasa bersalah yang kini semakin menjadi ketika mendapati posisi Airin yang semakin sulit.
Sang mertua flashback off
"Ada, apa? Bu." Airin menegur bingung saat melihat ibunya hanya diam menatapnya.
Sang ibu mertua sedikit terlonjak mendengar teguran Airin untuk yang kedua kalinya, seakan sadar dari lamunannya, percakapan singkat dengan Wiksa beberapa menit yang lalu. "Airin, Ibu minta maaf," jawab sang ibu mertua, tangannya kini sudah menarik lengan Airin untuk mendekat.
"Ash ... kamu dengar teriakan Wiksa tadi?"
“Ibu minta maaf, jika suami kamu memperlakukan kamu seperti itu, maaf Airin,” ujar sang ibu pelan.
Airin tak menjawab, hanya memeluk erat sang ibu, tetapi Airin masih juga memaksakan bibirnya untuk tersenyum menanggapi semua perkataan sang ibu mertua.
“Airin, baik Bu. Airin akan merawat Mas Wiksa sampai sembuh, Airin ...." Airin tidak melanjutkan ucapannya hanya menatap siluet wajah sang ibu mertua sendu.
“Kamu memang baik Airin, terima kasih,” balas sang ibu semakin mengeratkan pelukannya.
“Ayo, masuk," ajak sang ibu pelan.
Mengekor langkah sang ibu mertua, hingga di depan pintu Airin menghentikan langkahnya ragu. Saat melihat Wiksa menatapnya tajam dengan wajah kesalnya. Airin yang menyadari tatapan tak suka dari suaminya, hanya tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaan terbesar dalam hatinya.
“Airin, kenapa masih berdiri di situ, masuklah,” ajak sang ibu heran dengan sikap Airin.
“Eh. Iya, Bu,” jawab Airin cepat.
Namun, baru tiga langkah Airin berjalan. “Kamu!” teriak Wiksa marah.
“Wiksa ....” Tegur sang ibu pelan.
Wiksa seketika terdiam menatap Airin penuh amarah. Matanya menatap tajam, napasnya terdengar mendengus penuh kekesalan. "Wiksa ...." Sang ibu mendekat berusaha untuk menenangkan.
“Argh ... melihat wajahnya saja aku muak,” semprot Wiksa tiba-tiba.
Airin yang mendengar ucapan sang suami hanya menepuk dadanya yang tiba-tiba merasa sesak, berulang kali berusaha untuk tenang, tetapi tak urung air matanya luruh juga, menatap suaminya penuh iba. Airin tak menyangka jika kecelakaan yang mereka alami akan memberi dampak yang begitu besar. Hilangnya ingatan sang suami dan melupakan dirinya.
“Airin ....” Panggil sang ibu mengejutkan.
“Ya, Ibu,” jawab Airin sembari mengikis air matanya.
“Istirahatlah, Ibu yang akan menjaga Wiksa,” tutur sang ibu lirih.
“Tidak, Bu. Airin ingin terus menjaga Mas Wiksa, Airin ....” Airin lirih.
“Bu ... hanya ini yang bisa Airin lakukan, meskipun Mas Wiksa tak mengingat Airin, Airin ingin lambat laun Mas Wiksa bisa mengingat siapa Airin,” jawab Airin tulus.
“Airin, Ibu minta maaf untuk yang ke sekian kalinya mewakili Wiksa,” tutur sang ibu mertua.
Airin hanya mengangguk, duduk sedikit menjauh dan menghindari tatapan Wiksa yang tajam ke arahnya. Malam semakin larut, Wiksa sudah terlelap dan sang ibu mertua sendiri sudah pulang sejak sore tadi. Airin masih terjaga, masih duduk di tempatnya tadi, menatap dari jauh sang suami yang sedang terbuai mimpi. Airin hanya bisa mengambil napas panjang dan bibirnya terus berdoa untuk kesembuhan suaminya.
Namun, Airin tak mengira jika dirinya akan tertidur di kursi. Tubuhnya seketika terjingkit terkejut saat ada benda yang melayang dan mendarat dengan sedikit keras di badannya. Airin yang terbangun segera mencari benda yang menimpuk tubuhnya, mengambil benda yang di maksud dengan heran, tak urung netranya langsung menatap ke arah Wiksa penuh tanya, belum juga bibirnya mengatakan sesuatu.
“Bangun! Tukang tidur, tidak ada gunanya kamu berada di ruangan ini keluar!” usir Wiksa keras di tengah malam.
“Mas ... ada apa? Apa Mas, memerlukan sesuatu?” Airin bingung.
“Kamu! Aku sudah memanggilmu sedari tadi!” ketus Wiksa lagi.
“Ma-maaf, Mas. Airin ketiduran,” jawab Airin pelan.
“Argh ... alasan, kamu hanya asisten dan ingat itu!” sergah Wiksa sengit, "oh. ya, jaga ucapan kamu! Aku, bukan suami kamu! ingat itu!" teriak Wiksa penuh emosi.
Airin kembali menghela napas panjang saat mendengar ucapan Wiksa suaminya. “Maaf,” Airin sopan.
Malam ini, merupakan awal di mana perangai Wiksa berubah, setiap perkataan yang ditujukan pada Airin, suaminya akan berbicara dengan ketus dan memerintahnya dengan arogan. Melihat perubahan pada diri suaminya Airin terus bertahan dan berusaha melayani Wiksa dengan sepenuh hatinya.
Waktu terus berjalan sudah hari ketiga belas, sejak kecelakaan itu terjadi sikap kasar dan arogan Wiksa semakin menjadi, tetapi tekad Airin tidak pernah surut, berbagai cara Airin lakukan untuk kesembuhan suaminya. Sore ini tepat di hari kelima belas. “Tuan," panggil Airin pelan dan langsung mendapat tatapan tidak suka dari Wiksa.
“Lihat ini.” Airin sembari menunjukkan foto pernikahan mereka, “Tuan, ingat foto ini?” Airin hati-hati.
Wiksa yang awalnya merasa tidak suka, mulai sedikit berubah, matanya sedikit melunak dan langsung menerima foto yang diberikan oleh Airin. Wiksa menatap foto itu sekilas kemudian bergantian menatap ke arah Airin bergantian. Wiksa mengulang hingga beberapa kali dan kemudian meremas foto yang di pegangnya dengan penuh amarah.
“Kamu! Jangan mengada-ada, foto ini palsu dan editan. Bagus ... jadi ini cara kamu untuk menjebak!” tuduh Wiksa asal.
“Tidak Tuan, foto pernikahan itu adalah milik kita dan itu asli,” jawab Airin kecewa.
“Omong kosong, selama kita di rumah sakit, kamu terus berusaha meyakinkan jika kita sepasang suami istri dan sekarang ... ash ... kepalaku!” teriak Wiksa sembari memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit.
“Tuan ... maaf.” Airin mendekat dan berusaha mencegah tangan Wiksa yang terus memukul kepalanya.
Wiksa yang begitu kesal dengan Airin langsung mendorong tubuh Airin keras, bentuk penolakan dari Wiksa. “Agh ... Tuan!” teriak Airin keras saat tubuhnya jatuh di lantai kamar.
Wiksa hanya tersenyum saat melihat Airin yang jatuh dengan tatapan kesalnya. “Jaga sikap kamu dan malam ini kamu tidur di luar kamar!” teriak Wiksa keras.
"Tuan, tapi ....” Airin memutus ucapannya saat melihat Wiksa turun dari ranjang, berjalan tertatih menghampirinya, Wiksa langsung menarik tangan Airin kasar dan mendorongnya ke arah pintu. “Keluar!” usir Wiksa.
Airin masih berdiri di depan pintu, melihat sekilas ke arah Wiksa seakan ingin memastikan satu hal tentang perasaannya, kemudian Airin menggeleng begitu saja dan tak lama pergi dengan diamnya.
Di luar kamar Airin hanya bisa mengusap dadanya yang serasa sesak, menghela napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. ‘Mas, kenapa kamu berubah dan apa aku bisa menghadapi sikap Mas Wiksa jika terus seperti ini,’ batin Airin sembari terus menghela napasnya kuat-kuat.
“Huuufff ... sabar Airin, sabar,” gumam Airin sembari mengatur napasnya agar sedikit tenang.
Cukup lama Airin berdiri di depan kamar. Airin akhirnya memutuskan untuk menuju taman terdekat, berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, membuat Airin sedikit merasa lega, paling tidak untuk malam ini hingga esok pagi Airin tidak melihat wajah ketus Wiksa. Duduk sendiri di taman membuat Airin beberapa kali menguap, rasa kantuk yang tiba-tiba datang.
“Sebaiknya aku pejamkan mataku sejenak,” gumamnya sembari membaringkan tubuhnya di kursi taman yang panjang.
Namun, belum juga matanya terpejam, Airin kembali bangkit dari duduknya, mengingat akan satu hal yang membuatnya gelisah. “Argh ....” Airin langsung berdiri dan melangkah sedikit tergesa meninggalkan taman.
Dengan sedikit berlari Airin kembali melewati koridor rumah sakit, langkahnya terhenti tepat di depan ruangan di mana suami di rawat. Napasnya masih tersengal saat mendengar benda jatuh tak berselang lama Airin berhenti. Perlahan Airin membuka pintu, Airin tak menyangka jika Wiksa, suaminya akan marah sebesar itu, membuang semua barang yang ada di dekatnya.
“Tuan ....” Airin menegur kemudian membuka pintu sedikit lebar.
Wiksa, menghentikan amarahnya, menatap tajam ke arah Airin lalu membuang mukanya begitu saja saat Airin menghampiri. “Tuan, tenang ... kenapa, Tuan membuang barang-barang ini.” Airin memungut satu persatu barang yang tercecer di lantai dan kembali menyimpannya dengan rapi.
Wiksa masih dengan diamnya, hanya sesekali matanya melirik ke arah Airin sekilas. Melihat reaksi aneh dari sikap Wiksa, Airin hanya menepuk dadanya pelan, bagaimana juga dia harus sabar menghadapi perubahan sikap dan temperamen suaminya. “Sebaiknya Tuan istirahat, ini hampir tengah malam,” Airin sembari duduk di sofa.
Pandangan Airin terus tertuju pada suaminya yang terus memegang kepalanya, hingga beberapa menit kemudian Wiksa menatapnya cukup lama dengan tatapan yang sulit Airin artikan. “Apa, kamu benar-benar istriku?”