Dekat dengan calon mertua sejak SMP, membuat Syifa bermanja-manja pada Papa sang pacar. Siapa sangka pria itu malah mencintainya.
Syifa gadis berusia 25 tahun, terkejut dan menolak cinta papa sang pacar, karena dia sangat mencintai pria yang sudah bersamanya sejak SMP.
Sehingga Syerkhan, menanamkan benih kepemilikan di rahim Syifa agar gadis itu menjadi miliknya. Tanpa memikirkan anak dan istrinya.
Seperti apakah kisahnya? Yuk simak sampai Tamat.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cinta Terindah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Mentari pagi menyinari kamar Anggi, menembus celah gorden tipis. Syifa terbangun, mata memandang sekeliling kamar. Napasnya lega, ia masih mengenakan pakaian lengkap. Kejadian semalam terlintas dalam benaknya, membuatnya bergidik ngeri.
"Anggi," panggil Syifa dengan suara lembut, mencoba mengusir rasa takutnya.
Anggi terbangun dari tidurnya di sofa, menatap Syifa dengan senyum hangat. "Kamu sudah bangun?"
Syifa bangkit dari ranjang, mendekati Anggi. Ia ingin duduk di pangkuan kekasihnya, seperti yang biasa ia lakukan. Namun, Anggi langsung berdiri dan menjauhkan diri.
"Ada apa?" tanya Syifa, kebingungan.
"Jangan seperti itu, kita belum menikah. Seharusnya menjaga jarak," jawab Anggi dengan lembut, namun tegas.
Syifa tersenyum, merasa sedikit kecewa. Anggi memang selalu bersikap sopan padanya, tidak pernah menyentuhnya secara berlebihan, walaupun seringkali ia menggoda sang kekasih.
"Sekarang mandilah, aku akan membawamu jalan-jalan ke taman bersama Papa dan Mama," ucap Anggi.
Syifa sangat bahagia mendengarnya. Mereka sudah lama tidak pernah pergi bersama lagi. "Baiklah, aku akan bersiap-siap," jawabnya.
Syifa bergegas meninggalkan kamar Anggi, menuju kamar calon mertuanya untuk meminjam baju. Ia tidak mungkin pulang ke rumahnya.
Tok! Tok!
Syifa mengetuk pintu kamar Dila. Pintu terbuka, menampakkan Dila dengan balutan lingerie merah yang seksi.
"Ada apa, sayang?" tanya Dila dengan lembut.
Syifa menjelaskan maksud kedatangannya, dan Dila mengizinkannya masuk.
"Tante, di mana Papa?" tanya Syifa. Ia tidak melihat Syerkhan di dalam kamar.
"Mungkin dia ada di dalam ruangan kerjanya. Dari semalam dia tidak tidur bersama Mama di sini," jawab Dila.
Syifa mengangguk, menerima baju dari Dila dan bergegas pergi menuju kamar tamu. Ia langsung masuk ke dalam.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Syerkhan tertidur pulas di ranjang. "Astaga! Aku lupa kejadian semalam," batin Syifa.
Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, berharap Syerkhan belum bangun. "Semoga dia belum bangun. Sebab, aku masih saja takut padanya akan kejadian semalam," gumam Syifa.
Setelah selesai mandi, Syifa keluar dari kamar mandi, mengenakan baju dari Dila yang sangat cocok untuknya. "Aku cantik sekali," ucapnya dengan lembut.
Ia membuka mata lebar-lebar saat melihat Syerkhan sudah bangun dan duduk di bibir ranjang, menatapnya. "Mampus ini namanya," batin Syifa.
Syerkhan memberikan isyarat pada Syifa agar duduk di sampingnya. Syifa langsung duduk, merasa takut.
"Semalam tidak terjadi apapun bukan? Sebab, Papa sama sekali tidak ingat?" tanya Syerkhan.
Syifa bernafas lega. Pertanyaan Syerkhan bukan tentang kejadian semalam. "Tidak ada Om, semuanya aman. Tapi, kenapa Om mabuk?" jawab Syifa, mencoba mengalihkan perhatian.
Syerkhan mengerutkan keningnya, mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Namun, sayang, kepala masih terasa pusing. "Entahlah, karena Papa sama sekali tidak ingat apapun. Bangun sudah ada di sini, juga kamu sedang mandi," jawab Syerkhan jujur.
Syifa senang. Syerkhan masih lupa akan kejadian semalam. Ia langsung menutupi kejadian itu. "Om, kita akan pergi ke taman bersama-sama. Sebaiknya Om bersiap sekarang," ucap Syifa dengan lembut.
Syerkhan mengangguk dan bergegas pergi dari sana.
"Baguslah kalau dia lupa, aku jadi lega dan aman. Sudah pasti Om Syerkhan tidak akan bersikap mesum padaku," ucap Syifa dengan pelan, mencoba mengusir rasa takutnya.
Syifa bergidik ngeri saat mengingat kembali kejadian saat bersama Syerkhan kemarin, karena pria itu sangat mesum padanya. Padahal, selama ini dia berpakaian sopan dan tidak pernah terbuka, hanya kemarin itu pun, sebab ulah Syerkhan juga.
"Sudahlah lupakan saja, lebih baik aku bersiap-siap saja berangkat ke taman," gumam Syifa sambil menyiapkan dirinya.
. . .
Syerkhan masuk ke dalam kamarnya dan langsung mandi, tanpa menyapa sang istri yang tengah menyiapkan segala keperluan mereka di taman.
"Ada apa dengannya?" tanya Dila dengan heran. Sebab, Syerkhan selalu menciumnya dalam keadaan apa pun. Namun, tadi pria itu sama sekali tidak memperdulikan dia.
"Sudahlah, sekarang aku harus mengisi bekal untuk semuanya," gumam Dila sambil bergegas pergi dari dalam kamar.
. . .
Syerkhan mulai mengingat satu persatu bawa dia hampir saja melecehkan Syifa, dan ia menyesali perbuatannya. Pria itu berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi.
"Bodohnya aku, hampir saja membuat anakku sedih, karena perlakuan aku," ucap Syerkhan dengan sangat menyesal.
Setelah selesai bersiap-siap, Syerkhan langsung turun dan duduk di sofa sambil bermain ponselnya.
"Syifa!" panggil Syerkhan.
Sebab, dia ingin memperlihatkan sesuatu pada gadis itu. Syifa langsung datang dari dapur karena tadi dia membantu Miranda.
"Ada apa, Om?" tanya Syifa dengan sangat penasaran.
Sebab, dia takut Syerkhan memintanya untuk duduk di pangkuan pria itu di keramaian orang.
"Tidak ada, hanya ingin menunjukkan ini." Syerkhan memperlihatkan foto seorang pria pada Syifa.
"Siapa dia, Om?" tanya Syifa dengan sangat penasaran. Sebab, dia sama sekali tidak pernah melihat wajah yang ada di ponsel Syerkhan. Sedangkan pria merasa heran. Tidak mungkin saja, Syifa tidak mengenal pria yang ada di ponselnya. Sebab, orang tersebut pernah ke kantornya.
"Benar, mana mungkin Syifa berkata bohong," ucap Syifa dengan lembut.
Syerkhan percaya. Namun, masih mengganjal sekali di dalam hatinya, ada pria itu datang ke rumahnya saat malam.
'Apa mau dia, kenapa dia selalu memantau rumah dan kantor, tanpa alasan jelas,' batin Syerkhan.
"Sudahlah Om, mungkin dia salah alamat," ucap Syifa dengan lembut.
Syerkhan tersenyum, karena dia senang Syifa mau menasihati dia, walaupun tidak akan menyelesaikan masalah.
"Ada masalah, Papa?" tanya Dila dengan cemas. Sebab, Syerkhan sampai bertanya pada Syifa berulang-kali. Pria itu menggelengkan kepala, karena memang tidak ada masalah yang serius.
"Baguslah, karena semua baik-baik saja! Sebab, mama takut ada masalah, karena kita akan pergi ke taman," ucap Dila dengan lega.
Syerkhan tersenyum dan memeluk Syifa juga Dila secara bersamaan, seperti tengah memeluk kedua istrinya.
Bersambung...
emang bisa Syifa menikah dengan Anggi sedangkan dia sudah tidur dan hamil anaknya syerkhan
walaupun nikah sama Anggi tetap saja Anggi tidak bisa menyentuh Syifa mereka haram untuk disentuh
ya emang baiknya cari wanita lain dinikahi...
beda cerita kalau Syifa tidur dan hamil anaknya BPK tiri masih ada kemungkin merak bersatu..
dan cintanya Juwita yang obsesi
sebenarnya kedua orang ini mempunyai cinta yang benar gk tulus soalnya aku suka banget tipe² orang² mencintai seperti mencari celah..
lebih prihatin sama nasip Dila dan Anggi lebih disakiti hatinya