Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelumpuhan Daley Jamiko
Aston Jamiko sangat syok, ia harus kehilangan putri satu-satunya dan juga menantunya dalam kecelakaan tunggal tersebut. Kini keadaan cucu semata wayangnya masih belum diketahui karena masih dalam perawatan di ruang UGD rumah sakit terbesar di kota Velos tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan pada cucuku," ucap Aston kepada asistennya.
"Anda harus sabar pak Presdir, jika anda jatuh sakit maka tuan muda Daley akan semakin terpuruk. Kini hanya anda satu satunya keluarga yang ia miliki, dan tuan muda juga satu satunya penerus perusahaan Jamiko Grup," ujar Malik (Asisten Aston).
"Bagaimana hasil penyelidikan kepolisian saat ini? Aku yakin ini bukanlah kecelakaan biasa, menantuku tidak pernah membawa mobil dengan kecepatan tinggi, ia selalu berhati-hati apalagi sedang membawa keluarganya. Jika ada sesuatu yang salah, aku tidak akan pernah melepaskan siapapun pelakunya. Ia harus membayar nyawa anak dan menantuku dengan nyawa."
"Anda tenang saja pak Presdir, saat ini pihak kepolisian sedang terus mendalami kecelakaan tunggal ini. Sekarang tuan muda Daley prioritas utama kita."
"Kau benar, aku harus kuat menghadapi masalah ini. Jika Ley tersadar nanti, aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Ini sangat menyakitkan bagi keluarga Jamiko terutama Ley sendiri. Lalu bagaimana persiapan pemakaman putri dan menantuku itu Malik?"
"Semuanya sudah siap pak. Tapi... apakah kita harus menunggu tuan muda sadar sebelum melakukan prosesi pemakaman orang tuanya?"
Aston Jamiko mencengkeram tongkatnya dengan erat, "aku tidak yakin jika cucuku bisa menghadapi kenyataan ini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, lebih baik kita tunggu kabar dari dokter terlebih dahulu."
Malik menganggukkan kepalanya, ponsel pria itu berbunyi, ia pun berpamitan pada Aston untuk menjawab telepon tersebut. Cukup lama Malik menanggapi seseorang dari balik teleponnya. Setelah ia selesai berbicara, ia pun kembali mendekati Aston Jamiko.
"Pak Presdir, ada masalah di perusahaan," ucap Malik.
Aston mendongakkan kepalanya, "apakah mereka tak bisa bersabar sedikit?"
"Anda sudah bisa menebaknya?"
"Tentu saja. Posisi CEO saat ini kosong karena kematian menantuku itu. Tapi mereka benar benar keterlaluan, Darwin bahkan belum dimakamkan. Dan cucuku masih belum diketahui keadaannya. Inilah keserakahan manusia, keserakahan bisa mengalahkan hati nurani mereka."
"Apa tindakan anda soal ini pak?"
Aston menghela nafas panjang, "aku tak bisa meninggalkan cucuku sendirian di sini. Kau atasi lah masalah perusahaan, posisi CEO tentu saja akan digantikan oleh satu satunya pewaris utama perusahaan Jamiko."
"Tuan muda Daley masih..."
"Ikuti saja perintahku Malik. Daley Jamiko akan menempati posisi itu saat usianya tepat 20 tahun. Jadi selama 2 tahun kedepan, tidak ada satupun yang boleh mengisi posisi CEO itu. Jika mereka keberatan, mereka bisa meninggalkan perusahaan Jamiko dan mengambil bagian saham mereka," ucap Aston tegas.
"Baik pak," jawab Malik seraya berpamitan untuk kembali ke perusahaan.
Aston menatap asistennya yang akhirnya menghilang dari pandangannya.
"Jika kecelakaan ini ada unsur kesengajaan, artinya posisi CEO memang sedang diincar mereka. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut posisi itu. Jika Darwin tak ada, maka Daley lah yang akan menggantikannya. Perusahaan Jamiko tidak akan pindah ke tangan orang lain. Daley... bertahanlah nak, jika kecelakaan ini dibuat oleh mereka, kau harus bertahan lebih lama untuk membalaskan dendam orang tuamu," pikir Aston.
Beberapa dokter yang menangani Daley pun akhirnya keluar dari ruang UGD. Seketika Aston mendekati mereka.
"Bagaimana?" tanya Aston pada dokter.
Dokter tersebut tentu saja mengenal Aston Jamiko, karena keluarga Jamiko juga memiliki saham besar di rumah sakit tersebut.
"Pak Jamiko, tuan muda Daley sudah melewati masa kritisnya. Tapi..." (dokter Marlon).
"Tapi apa Marlon?" tanya Aston mulai ketakutan.
Dokter Marlon menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali berbicara, "kemungkinan tuan muda akan lumpuh selamanya. Tulang kedua kakinya terluka cukup parah. Beruntung kami tidak sampai mengamputasinya."
Aston terbelalak, ia bahkan nyaris terjatuh mendengar kabar tersebut. Dokter Marlon langsung menangkap tubuh pria tua itu dan membawanya ke kursi.
"Bagaimana ini bisa terjadi pada cucuku Marlon? Ia kehilangan kedua orang tuanya dan kini ia harus hidup tanpa bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Bukankah ini tidak adil untuknya? Mengapa Tuhan melakukan ini pada keluarga Jamiko?"
"Pak Jamiko, anda harus tenang. Saat ini tuan muda butuh kekuatan dari keluarganya."
"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan kakinya? Tolonglah Marlon, ini akan menghancurkan hidupnya," pinta Aston.
Dokter Marlon berpikir sejenak, "aku akan memperkenalkan dokter tulang di Amerika. Kasus ini sudah sering ia tangani, tapi..."
"Tapi apalagi?"
"Melihat keadaan kaki tuan muda, kemungkinan untuk sembuh hanya sekitar 20% saja. Dan itupun butuh waktu sangat lama, setidaknya ia harus berada di Amerika selama 3 sampai 5 tahun untuk melakukan pengobatan di sana."
"20% sudah cukup untukku. Tolong bantu aku mengurus semuanya, aku akan mengirimnya ke Amerika. Aku tidak perduli berapa lama pun ia berada di sana, ia harus sembuh. Ia harus tumbuh menjadi seorang pria yang normal pada umumnya. Jika ia harus hidup dalam kelumpuhan, sama saja ia hidup di dalam neraka. Marlon... aku percaya padamu."
"Apakah anda sudah memikirkan semuanya dengan matang pak Jamiko?"
"Lakukan Marlon, aku harus melakukannya."
"Baiklah, aku akan segera menghubungi dokter James," ujar dokter Marlon sambil menepuk pundak Aston.
"Terima kasih," jawab Aston.
Dokter Marlon pun meninggalkan pria itu, sedangkan Aston menunggu cucunya dibawa keluar menuju ruang perawatan. Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya saat ranjang Daley didorong keluar.
Dengan langkah tertatih, Aston mengikuti Daley menuju ruangan perawatannya. Air mata Aston seketika tumpah saat melihat keadaan cucunya. Daley masih terbaring tak sadarkan diri, tubuh pria remaja itu dipenuhi luka dan kedua kakinya diperban penuh.
"Mulai sekarang kakek akan menjagamu Ley. Kakek tidak akan pernah membiarkanmu terluka. Kau adalah satu satunya yang kakek miliki sekarang. Bertahanlah nak, kita akan melewati semua cobaan ini," kata Aston sambil menggenggam tangan cucunya.
"Jika anda membutuhkan sesuatu, tekan saja tombol panggilan di samping ranjang ini pak," ujar salah satu perawat.
"Terima kasih sus," ucap Aston sambil menganggukkan kepalanya.
Para perawat pun mulai meninggalkan mereka di dalam ruangan. Aston terus menatap cucunya, ia tak tahu apakah Daley bisa menerima kenyataan bahwa orang tuanya benar benar tidak bisa diselamatkan. Dengan tangan gemetar, Aston terus menggenggam tongkatnya dengan erat sambil menunggu cucunya sadar.
Cukup lama pria tua itu menanti kesadaran Daley, setelah setengah jam akhirnya Daley membuka matanya.
"Ley... kau sudah sadar nak. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Aston.
Daley kebingungan, ia menatap seluruh ruangan dengan tatapan kosong.
"Dimana Ley, kek?"
"Ini rumah sakit Ley, apa kau tidak ingat apa yang terjadi padamu?"
"Papi, mami... dimana mereka? Ley ingin bertemu dengan mereka. Kakek... mereka masih di dalam mobil, mobil itu meledak dan terbakar. Kakek... mereka baik baik saja kan? Aku ingin melihat mereka..."
"Ley... tenanglah nak..." pinta Aston.
Daley justru memaksakan diri untuk bangun, pria remaja itu terkejut saat tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Ia membuka selimutnya dan menatap kedua kakinya yang diperban.
"Ley..."
"Kakek... kenapa kakiku tidak bisa bergerak? Aku tidak bisa merasakan apapun kek, kakek... ada apa ini?"
"Ley... nak... tenanglah..."
"Kakek... Ley kenapa?"
Daley terus memberontak hingga membuat Aston kesulitan. Pria tua itu langsung menekan tombol yang ada di samping ranjang, dengan cepat seorang dokter masuk diikuti oleh beberapa suster. Mereka langsung menangani Daley yang masih belum bisa menerima keadaannya. Dokter itu menyuntikkan obat penenang hingga akhirnya Daley kembali tertidur.
Salah satu suster membantu Aston untuk duduk di sofa ruangan dan berusaha menenangkan pria tua itu.
"Bagaimana cucuku?" tanya Aston.
Dokter yang menangani Daley tadi mendekatinya, "anda tak perlu khawatir, tuan muda hanya syok saja. Anda akan kesulitan beberapa hari ke depan untuk menjelaskan keadaannya. Tapi kami akan selalu membantu anda."
Aston hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menatap cucunya dengan sedih.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣