Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 Ingin Tinggal di Rumah Sendiri
Galih langsung merasa bahwa akan terjadi hal yang tak diinginkan kali ini bila ia tak berkeras membantah ibunya.
“Jangan lah, Bu. Biar Lana belajar, Ibu cukup berpesan mau makan apa hari ini biar Lana belanjanya disesuaikan sama keinginan Ibu, ya?” bujuk Galih kemudian.
Tapi, bukan Bu Tutik namanya bila tidak suka memperburuk keadaan. Ia mempertahankan keputusannya untuk berbagi tugas dengan Lana. Dia yang belanja dan Lana tinggal memasaknya. Beruntungnya kali itu Lana tak berkeberatan.
Meskipun rasa jengkelnya sudah memuncak karena hari itu ia tak jadi bepergian ke luar bersama suaminya, Lana tetap mencoba bersabar karena teringat nasihat ibunya bahwa memang seorang mertua biasanya akan cemburu kalau anak lelakinya pergi bersama istrinya saja.
Sama saja seperti ibunya yang dulu juga katanya sempat cemburu bila Mas Alan, abang Lana lebih perhatian kepada istrinya daripada kepada Bu Asih. Meskipun masalah tersebut tak berlangsung lama karena kini Mas Alan sudah berumah sendiri dengan keluarga kecilnya.
“Ah, jadi pengen bangun rumah sendiri, nih,” gerutu Lana yang terdengar oleh sang suami.
“Iya, Dek. Makanya kita sekarang hidup hemat dulu, ya. Ikuti semua saran Ibu biar bisa hidup irit seperti Ibu. Kalau tabungan kita sudah cukup, kita akan segera bangun rumah di sebelah rumah ini, ya?” hibur Galih sambil melingkarkan lengan ke pinggang ramping Lana, berharap istrinya luluh.
“Ih, kok tetep di deket sini, sih, Mas?” Protes Lana.
“Yah, kan dari awal Ibu sudah bilang kalau kita harus tetap di sini, Dek. Kasihan lho, Ibu sendirian di rumah,. Kalau di rumah sebelahan kan kita masih bisa jagain Ibu,” jawab Galih akhirnya. Hal mana mengingatkan Lana atas perjanjian pra nikahnya dahulu dengan sang ibu mertua.
“Oh, ya, Mas. Ngomong-ngomong, abang Indra sama istrinya kok jarang sekali ke sini, ya? Meskipun jauh, kan ya bisa telfon atau berkabar sering-sering, gitu?” tanya Lana saat ia mendadak ingat dengan kakak dari suaminya itu.
Ia sedikit heran melihat kenyataan bahwa selama menikah, ia hanya bertemu dua kali yaitu saat sesi lamaran dan resepsi pernikahannya.
“Agak ruwet masalahnya, Dek. Istrinya Mas Indra itu tidak begitu tahu aturan. Dia sangat tidak sopan kalau bicara sama Ibu. Karena itulah Ibu nggak begitu suka juga sama dia. Terlebih dia itu sepertinya melarang Mas Indra untuk sering ke sini.” Galih menjelaskan sepengetahuannya.
“Astaga! Kok bisa gitu, sih, Mas? Pantesan aja pas aku Mas kenalin ke Ibu dulu Ibu langsung kasih ultimatum kita harus tinggal di sini, ya?" tuntut Lana berspekulasi.
Galih mau tak mau menganggukkan kepalanya. Sementara Lana tertunduk dan menekur sendiri. Dalam hati berpikir, pantas saja kakak iparnya tidak mau tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Lah Bu Tutik nya seperti ini modelnya. Lana saja sampai tekanan batin dibuatnya.
Lana juga menyimpulkan jika ada sebab tentu jika sang menantu tak akur dengan mertua. Salah satunya ya mertuanya seperti Bu Tutik
Ia lantas membatin bahwa kakak iparnya pintar, sedari awal sudah mengambil ketegasan untuk tak mau tinggal serumah dengan mertua. Tapi, terlalu sarkastik juga kalau bahkan berkunjung sesekali pun rasanya sangatlah jarang. Hampir hanya satu tahun sekali di kala lebaran. Dan itu pun cuma untuk beberapa jam saja tanpa mau menginap atau bertahan agak lama.
Akhirnya Lana pun mengalah. Ia tak tega kalau terus menuntut suaminya hal yang tak dapat dikabulkannya. Mereka harus tetap bertahan di rumah itu selama belum dapat membangun rumah mereka sendiri tepat di pekarangan sebelah rumah Bu Tutik. Paling tidak, kalau sudah tidak seatap, akan jauh berbeda kondisi batin Lana, pikirnya membatin dalam diam.
***
"Bu, ada tamu," ujar Lana ketika ada seorang sanak keluarga dari almarhum ayah Mas Galih yang datang berkunjung. Lana yang belum begitu hafal dan mengenal semua sanak keluarga yang hanya bertemu saat resepsi saja itu pun merasa canggung sehingga segera memanggil sang ibu mertua.
Siapa sangka, ibu mertuanya malah berpura-pura tidur dan tak mau menemui sang tamu. Astaga! Jelas-jelas tadinya Lana melihat sendiri beliau duduk di depan TV sambil memindah-mindah channel. Masa' beberapa menit saja sudah tidur pulas, sih? pikirnya gusar sendiri.
Ia pun kembali ke ruang tamu setelah membuatkan dua gelas teh hangat dan membawanya untuk dihidangkan bersama sepiring kue lapis stok cemilan di kulkas.
Dua orang suami istri berusia sekitar lima puluh tahun dengan dandanan sepertinya orang dari dusun jauh itu pun mengulas senyum ramah mereka. Mengucapkan terima kasih ketika teh dan piring kue dihidangkan, pun kemudian menatap Lana seolah ingin lebih saling mengenal.
"Maaf, Pak Lik, Bu Lik. Mas Galih sedang ambil lembur hari ini. Dan Ibu sepertinya ketiduran. Saya bangunin nggak dengar," ucapku dengan nada tak enak hati.
"Oh, tak apa kalau begitu. Kami cuma mampir aja, kok. Ini kami bawakan sedikit hasil panen. Biar saudara juga ikut merasakan," ucap si pria berkacamata persegi dengan bingkai tebal itu sembari menyodorkan sebuah tas dari anyaman pandan besar.
"Ya Allah, kok repot-repot bawa segini banyak, Pak Lik. Duh, saya jadi tidak enak." Lana terperanjat melihat bawaan tersebut.
Tadinya ia tak memperhatikan karena begitu membukakan pintu dan mereka mengenalkan diri, Lana langsung mempersilakan duduk sambil bergegas ke dalam untuk memanggilkan sang mertua.
"Ah, tidak apa. Dulu ketika Kang Mas Priyo masih ada, beliau sering ke dusun, jadi kami titipkan. Kalau sekarang karena sudah tidak ada lagi, kami antar saja kemari, sambil ingin tahu kabar Mbak Yu Tutik. Sehat saja, kan?" Kali ini istrinya yang bertubuh agak tambun itu yang menjawab dengan sangat ramah.
"Alhamdulillah Ibu sehat aja, Bulik. Kalau begitu silakan mungkin Bulik dan Pak Lik mau istirahat dulu di kamar tamu? Nanti sebentar lagi pasti Ibu bangun jadi bisa mengobrol sendiri," saran Lana kemudian. Ia sudah akan bangkit mempersiapkan kamar tamu meskipun memang kamar itu biasanya selalu siap.
Suami istri tamunya itu tampak saling tatap. Dan kemudian seolah telah sepakat, mereka menjawab hampir berbarengan.
"Tidak perlu, Nak. Kami sudah senang bisa sampai di sini dan tahu keadaan keluarga di sini baik saja." Ucap salah satu dari mereka.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ya."
"Lho, kok buru-buru amat, Pak Lik, Bu Lik? Tidak di sini dulu sampai Mas Galih pulang? Mas Galih pulang sekitar jam lima sore nanti," ucap Lana sembari melihat jam di dinding yang sudah menunjuk angka tiga. Sisa dua jam.
"Atau sebentar biar saya coba bangunkan lagi Ibu, ya," lanjut Lana yang sangat segan kalau sampai kedua tamu tuanya itu langsung pulang setelah memberi banyak oleh-oleh sementara dirinya sedang tak punya apa pun untuk diberikan sebagai balasan.
"Eh, jangan. Kasihan, nanti malah pusing kalau tidurnya kurang," cegah si Bulik.
Akhirnya Lana terburu-buru ke dalam dan mengambil amplop, lalu diisinya dengan beberapa lembar uang. Lantas ia kembali dan menyelipkan itu sambil bersalaman ke tangan Bu Lik yang kemudian ditolak dengan sangat tegas oleh wanita tambun itu.
"Maaf, Nak. Kami ke sini mau bersilaturahmi saja, tidak usah seperti ini," jawabnya lantas berlalu dengan sang suami. Meninggalkan Lana yang termenung dan tak enak sendiri.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻