Sisilia Maharani awalnya adalah seorang gadis yang cantik, ceria dan baik hatinya. Walaupun Sisilia anak tunggal tapi tidak membuat dia jadi manja.
Setahun lalu Sisilia baru ditinggal mamanya karena sakit. Inilah titik awal kesengsaraan dalam kehidupannya dimulai. Keluarga yg dulunya cukup harmonis mulai terganggu dengan adanya perempuan laen dalam kehidupan papanya. Satu per satu masalah mulai timbul dalam hidup Sisil, baik masalah pribadi dengan pacarnya, Handoko juga masalah dengan papanya.
Bagaimana dengan pacarnya yg bernama Handoko?
Apakah Handoko seorang laki-laki yg bertanggungjawab dan bisa diharapkan?
Apakah papanya Sisilia akan menikah lagi? Bagaimana nanti dengan mama tirinya?
Akankah Sisil menemukan kebahagiaan?
Yuukk kita ikuti saja kisahnya yaa.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Dhenok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Senyum penuh arti
"Mama darimana? Johan telpon ke ruangan mama gak diangkat. " Johan bertanya begitu melihat Mama nya memasuki ruangan nya.
Cowok tinggi tampan berpenampilan sederhana dan cool sambil tetap duduk di meja kerjanya menatap Mama nya yang baru masuk ke ruangan nya. Dia adalah Johan Pratama, anak bungsu dari pasangan Herry Pratama dan Widiastuti (biasa dipanggil Wiwid) yang belum lama ini baru balik dari luar negri. Saat sekarang dia sedang ada di kantor cabang di kota S. Dan Mama nya, bu Wiwid ikut menemani anaknya.
Pak Herry Pratama adalah seorang pimpinan perusahaan yang disegani di kantornya. Beliau adalah seorang yang pintar, bijaksana dan berwibawa. Pratama group yang di pimpin pak Herry bergerak di bidang food/makanan kaleng. Sedangkan group lainnya yang bergerak di bidang teknologi komputer sudah dia serahkan ke anaknya, Johan Pratama.
Istilah benih jatuh tidak jauh-jauh dari induknya, seperti itu pula gaya kepemimpinan Johan yang tidak jauh berbeda dari papanya. Baru enam bulan Johan memimpin tapi hasilnya tidak main-main dan dia sudah meluaskan usahanya dengan membuka anak cabang. Disinilah saat ini Johan berada, di kantor anak cabangnya di kota S yang belum lama diresmikan.
Johan belum mendapatkan seseorang yang bisa dipercaya untuk menghandle kantor anak cabang nya di kota S ini, makanya dia masih turun tangan sendiri. Sementara di kantor pusatnya ada Danu, asisten kepercayaan nya yang menghandle. Tapi dia sudah menyuruh Danu untuk membuka lowongan kerja.
Ibu Wiwid sangat bangga dengan anak cowok nya ini. Yang memang dari kecil sudah menunjukkan kepintaran nya dan semakin besar semakin menonjol kepintaran nya dan bakatnya.
"Mama jangan pergi kemana-mana lagi ya....sebentar lagi kita mau ke airport, pulang ke Jakarta. " Johan memberitahu Mama nya.
"Sebentar Johan ngerjain kerjaan dulu, dikit lagi selesai. "
"Iya... Mama duduk disini kok. " sahut bu Wiwid yang sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kerja Johan.
Ibu Wiwid membaca majalah yang ada di meja. "Han....kamu jangan terlalu fokus ke kerjaan terus.... cari teman dong! " bu Wiwid bicara sambil tetap membaca majalah.
"Maksud Mama gimana? Bukannya teman Johan ada, banyak malah.. " Johan bingung apa maksud omongan Mama nya itu. Bu Wiwid tertawa kecil, mentertawakan omongannya yang gak jelas.
"Maksud Mama tuh kamu cari teman perempuan alias cari pacar nak! Cari pacar......cari istri.....jangan kerja mulu! " bu Wiwid menatap anaknya yang masih sibuk membaca berkas-berkas.
"Ohh...iya Ma" Johan menjawab sekenanya.
Bu Wiwid cuma geleng-geleng kepala melihat respon anak nya yang biasa-biasa saja.
"Atau kalau perlu Mama kenalin sama anaknya teman-teman Mama yang punya anak cewek. Kamu mau Han? "
"Gak perlu kah Ma. Johan masih bisa cari sendiri kok! Lagipula Johan masih muda Ma! " sahut Johan sambil membereskan meja kerjanya. Sepertinya sudah selesai pekerjaan nya.
"Tenang Ma..... perempuan kalau lihat cowok pintar dan mapan pasti tertarik. Apalagi jaman sekarang begini, gak boleh maen asal comot aja Ma! " Johan terkekeh.
Bu Wiwid juga ikut terkekeh mendengar ucapan anaknya. "Emang kamu kira kue apa....maen comot aja... "
"Yuk Ma siap-siap, Johan udah selesai nih! " Johan memberitahu Mama nya kalau pekerjaan nya sudah selesai.
Kemudian bu Wiwid dan Johan berjalan keluar kantor. Di depan sudah menunggu mobil beserta pak Sugiono, sopir kantor. Dengan cepat di bawanya mobil menuju bandara.
*
*
Di dalam pesawat Johan mengirim pesan kepada Danu, asistennya untuk menjemput nya nanti di bandara.
Tak lama berselang pesawat pun lepas landas meninggalkan kota S. Bu Wiwid memejamkan matanya, tidur. Badan nya terasa cepat lelah, mungkin karena sudah berumur.
Sedangkan Johan yang duduk di sebelah Mama nya, ikut memejamkan matanya juga. Tapi dia tidak tidur. Malah terbayang wajah Sisil yang sudah menempati relung hatinya.
"Sedang apa ya dia jam segini? Mungkin sudah mau pulang kerja"gumam Johan dalam hati. Membayangkan wajah Sisil nan cantik, tinggi, hidung mancung.... tanpa disadarinya bibirnya tersungging senyuman. Johan telah menyusun suatu rencana. Bibirnya tersenyum penuh arti.
Hanya membayangkan saja sudah membuat hatinya bahagia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yang sedang dibayangi Johan ternyata baru saja tiba di rumah. Dibukanya kulkas, diambilnya air es yang ada dalam botol minumnya. Dilihatnya ada semangkok puding.
"Paa...... ini puding darimana? Papa beli atau bikin? " teriak Sisil ke Papa nya.
"Dikasih sama teman Papa. Kamu mau makan aja Sil! " Ridwan menjawab sambil tangan nya tetap membaca koran.
Papa masih senang langganan koran buat baca berita-berita yang beredar. Sebenarnya kondisi sekarang yang semua berita sudah ada di hp. Semua bisa dibaca di hp. Tapi Papa malah gak bisa pake hp yang terlalu canggih menurutnya, hp nya cuma hp jadul yang hanya bisa telpon masuk dan telpon keluar. Sisil memaklumi nya, tidak masalah Papa nya langganan koran.
Sisil tidak menjamah puding yang ada di kulkas. Dia gak pernah mau makan makanan yang gak jelas siapa yang ngasih. Biar itu untuk Papa nya saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di tempat Handoko, dia baru saja menerima telpon dari seseorang yang namanya tidak tertera dalam hp nya.
"Hallo" tumben Handoko menjawabnya, biasanya jika nama tidak terdaftar tidak akan diangkat atau dijawab.
"Handoko?? Dengan Handoko ini? " suara seorang perempuan.
"Degh!"
Jantung Handoko berdegup kencang. Handoko mengenali suara itu. Suara yang sangat dihafalnya. Suara yang sangat dirindukannya.
"Lila?? Bener ini Lila? " Handoko bertanya dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Iya Han. Ini Lila. Gimana kabar mu? Maaf lama tidak mengabari... " suara Lila terdengar agak mengambang seperti ragu. Lila ragu apakah Handoko masih mau menerima nya seperti dulu lagi atau tidak. Sebab dia yang telah memutuskan hubungan terlebih dahulu. Dikarenakan tugas keluar kota. Lila gak yakin bisa berhubungan jarak jauh, makanya dia yang mengambil sikap saat itu untuk memutuskan hubungan. Walau hatinya dulu terasa sakit, tapi tetap harus dijalani.
Dan sekarang masa tugas nya sudah selesai. Lila akan balik ke Jakarta lagi. Sebenarnya di sudut hatinya senang sekali, berharap bisa ketemu Handoko dan menjalin hubungan kembali. Tapi Lila tidak mau terlalu berharap.
Sedangkan Handoko yang hatinya berdegup kencang tidak menyangka kalau Lila akan menelpon nya.
"Gapapa Lila. Kabar ku baik. Kabar mu gimana? Apakah sudah balik? " Handoko berharap Lila sudah di Jakarta.
Lila senang Handoko masih mau menerima telpon nya.
"Belum Han, rencana lusa baru bisa pulang." Lila memberitahu. Sebenarnya ini semua sudah diatur Meiske, mama Handoko.
##Flashback on##
Kemarin Meiske, mama Handoko ada menelpon Lila. Tentu saja tanpa sepengetahuan Handoko.
"Hallo Lila.. " Meiske menyahut setelah mendengar seseorang menjawab hallo.
"Dengan siapa ya ini? "
"Ini dengan mama Meiske, Lila sayang.. " Meiske menyahut dengan lembut. Lila dari dulu memang memanggil Meiske dengan sebutan Mama. Meiske sangat menyayangi Lila. Dimatanya Lila itu seorang calon mantu yang sempurna. Yang bisa memanjakan mertuanya. Karena selama berhubungan dengan Handoko, Lila suka memberikan barang-barang mewah yang harganya cukup mahal. Hal ini membuat Meiske sangat menyayangi nya.
"Ohh Mama...... apa kabarnya Ma? Waahh Lila seneng sekali Mama hubungi Lila" sahut Lila disana dengan sumringah.
"Kapan kamu pulang nak? Biar nanti Handoko yang jemput di bandara ya! " Meiske langsung to the point.
"Tapi Ma..... gak usahlah, biar Lila pulang sendiri aja nanti dari bandara. Gak enak Ma, kan Lila udah lama gak pernah ketemu. Gak pernah kontek lagi. " sahut Lila khawatir.
"Udah gapapa. Nanti Mama suruh Handoko jemput kamu ya! Tenang aja biar nanti Mama yang ngomong sama Handoko, oke sayang? " Meiske berbicara sambil tersenyum.
"Oya Lila, ini nomor telpon Handoko....coba besok kamu telpon say hello sama dia ya! " Meiske memberitahukan nomor telpon hp Handoko.
"Oke Mama, besok Lila telpon ya. Makasih banyak ya Ma! " suara Lila terdengar senang. Gimana tidak senang, rupanya Meiske, Mama Handoko masih respek terhadap dirinya.
##Flashback off##
"Besok lusa kamu bisa jemput di bandara Han? Kalau gak bisa gapapa, jangan dipaksa. " Lila gak enak hati jika terlalu memaksa. Meskipun maunya dijemput Handoko. Handoko sudah diwanti-wanti oleh Mama nya supaya mau menjemput Lila di bandara.
"Ohh bisa..... bisa Lila. Dengan senang hati. Nanti kamu kasih tau aja jam berapa mau di jemputnya. Oke? " Handoko buru-buru menjawab.
"Oke Han. See you..... bye.... " Handoko mematikan hp nya setelah Lila memutuskan sambungan nya.
Sebenarnya tanpa disuruh oleh Mama nya, asalkan Lila meminta, pasti Handoko akan menurutinya. Bahagia sekali hati Handoko. Tanpa disadari tersungging senyuman di bibirnya. Senyuman penuh arti.