Alissa Moon seorang yatim piatu yang tumbuh di sebuah panti asuhan, ia memiliki kecerdasaan yang luar biasa hingga mampu menghidupkan dirinya sendiri semenjak remaja, berkat beasiswa yang di dapatkan, Alissa telah menyelesaikan pendidikan diusia dini. Selain itu, Alissa memiliki kelebihan berbeda, gadis itu bisa membaca masa lalu dan mengetahui masa depan seseorang.
Hingga suatu waktu, Alissa di hadapkan pada hubungan sepasang kekasih yang pelik, Alrescha Nero sangat mencintai Arabella Kalista, kekasihnya. Sayangnya gadis itu tidak mencintai Alrescha, ia menyukai saudara tirinya bernama Georgi Nero, membuat Alissa percaya di dunia ini manusia adalah makhluk yang tidak tahu diri dan paling egois.
Namun hal tak terduga terjadi, Alissa tidak bisa melihat dan membaca masa depan serta masa lalu Alrescha, namun anehnya setiap kali pria itu berada dalam bahaya, Alissa selalu ada disana, terjerat di dalam takdir yang membuatnya terjebak untuk melindunginya, hingga akirnya Alissa mencinta Alrescha sekalipun ia sadar, jika pria itu masih bertahan pad Arabella yang sudah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon della meyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Bos, I Love You Episode : 06] Mangsa Emas untuk Alrescha.
“Apa wanita itu akan bekerja hari ini?” tanya Alrescha kepada Carlos yang saat ini berdiri hormat sambil menunggu berkas yang di tanda-tangani oleh bosnya.
“Iya Bos, saya akan menemuinya nanti siang, dan menjelaskan pekerjaan yang akan ia lakukan” sautnya dengan segera atas pertanyaan yang diajukan Alrescha.
Tangan pria itu terhenti setelah selesai menyelesaikan berkas yang Carlos berikan, sebentuk senyum puas mengambang di wajahnya sembari menganggukan kepala seolah mengerti.
Alasan Alrescha menahan Alissa di perusahaan ini, tentu saja ia perlu mengontrol orang lain dibawah kakinya, jika di lihat wanita itu memiliki kemampuan yang cukup untuk menjadi orang kepercayaan Alrescha, hanya saja Alrescha tidak ingin memberikanya tempat yang baik, selain menjadikan wanita itu staff biasa yang sesuai dengan bidangnya.
“Tapi apa anda yakin, akan mempekerjakanya sebagai Staff biasa?” timlal Carlos tanpa disadari, membuat Alrescha mengangkat kepala dengan sinar tajam yang ia pancarkan atas tatapan mengancam. “Bos, jika di lihat ia lulusan dari Universitas terbaik sebagai penerima beasiswa dari pemerintah, wanita itu juga menjadi lulusan yang meraih peringkat pertama di angkatanya, bahkan jika ia di berikan tempat sebagai Manager sebuah divisi itu sangat pantas, bukankah kita memerlukan Menager keuangan, jika kita menerima wanita ini, mungkin sangat membantu sekali” terusnha sambil mengamati data-data Alissa yang ada di tanganya.
Hanya saja Carlos mengabaikan singa pemangsa yang sudah siap untuk menampakan taringnya.
"Lalu bagaimana apa aku harus menerimanya?"
"Tentu saja Bos!"
"Baiklah...... kalau begitu persiapkan dirimu untuk berangkat ke Afrika sebagai orang yang akan beramal disana, biar dia saja yang mengantikan posisimu” balas Alrescha dengan nada dingin, membuat Carlos menelan salivanya dengan susah payah, sembari tersenyum getir melihat Bos dingin dengan sejuta kekejaman ini.
Bahkan tatapan mata Alrescha Nero lebih mengerikan dari yang ia bayangkan, tanpa sadar tubuh Carlos menghidupkan reaksi peringatan untuk menjaga jarak waspada agar tetap aman, pria itu memberikan senyuman bodoh sembari menarik berkas yang sudah selesai ditanda tangaani Bos-nya.
“M-Maafkan saya Bos, saya hanya asal bicara” lirihnya dengan takut, saat tubuhnya bergindik ngeri, untuk kabur dari ruangan sesegera mungkin, tanpa mampu membuang waktu lagi, meningalkan Alrescha yang harus meredakan emosinya yang hampir saja kehilangan batasan.
*
Beberapa pelamar yang sama-sama diterima di perusahaan ini, mendudukan diri dengan gugup diruangan yang disediakan oleh staff, bahkan terlihat sekali bagaimana tegangnya mereka, hingga Alissa dapat merasakan jika apapun yang terjadi mereka tengah mengantungkan hidup atas seleksi yang harus dilakukan sesuai prosedur, sebagian orang yang dilihatnya akan mendapatkan posisi yang sesuai dengan mereka minati hingga harapkan, namun ada beberapa orang yang akan kecewa atas pilihan perusahaan, bahkan ada dari mereka yang nantinya akan terkena masalah dengan senior hingga Alissa merasa, dunia pekerjaan terlalu mengerikan jika disepelekan.
Di dunia yang seperti ini, semua orang yang mengaku sebagai teman akan berbalik haluan menjadi musuh hanya masalah pekerjaan, tidak ada yang namanya kebenaran selain menyelamatkan diri masing-masing, hingga siapa yang kuat dia yang akan bertahan, siapa yang lemah ia yang akan hancur, jadi perusahaan memang mendidik mereka untuk saling bersaing tanpa harus memikirkan masalah sampingan, bukan kinerja saja yang di perhitungkan, melainkan mental seseorang juga berhubungan kuat dalam bertahan, bukankah ini sangat aneh, uang yang dikejar dengan kerja keras malah menimbulkan masalah-masalah baru bagi seseorang, membuat mereka seperti peliharaan yang harus mendapatkan makanan dengan mendogakan wajah kepada sang Tuan.
“Nona Alissa Moon” lirih seorang wanita cantik hingga memutus nalar Alissa yang tadi merambat kemana-mana, bahkan membuat dirinya tergugu tanpa mampu bicara tegas.
“S-Saya...” sautnya dengan spontan, membuat wanita itu tersenyum simpul untuk bersikap tenang.
Semua orang memandang kearah Alissa dengan binggung, hingga raut wajah tidak suka dari mereka dapat terbaca oleh matanya, bukankah ini situasi yang sangat mengerikan, Alissa bisa melihat kejadian apa saja yang dialami orang lain dimasa depan, tapi ia tidak bisa melihat masa depan dirinya sendiri, selain melihat hal itu dari kehidupaan orang lain, dari tatapan itu sudah ada beberapa prediksi yang akan dialami Alissa nantinya.
Selain itu siapa wanita yang berpakaian formal, lengkap dengan beberapa orang di belakangnya, bahkan nampak sekali bagaimana dirinya tengah menatap Alissa sambil mencermati baik-baik. "Silahkan ikut saya Nona Moon, Tuan Carlos sudah menanti anda di ruangan" terusnya untuk mempersilahkan Alissa pergi.
"Baik, terimakasih Nona"
Sungguh Alissa tidak mengerti kemana ia akan dibawa, memangnya siapa Tuan Carlos itu hingg Alissa perlu menemuinya secara personal.
Gadis itu menapakan kaki memasuki ruangan yang cukup luas dan megah, ia melihat seorang pria duduk dimeja kerjanya, dengan beberapa wanita di sekitar pria itu, apakah pria itu Direktur perusahaan ini, hingga semua orang sangat hormat dan juga menjilat pada hidupnya, secara spontan Alissa memberikan sapaan kepada pria berwajah ceria dengan tampilan cerah disiang hari yang mengerahkan.
“Selamat datang Nona Alissa" sapa Carlos untuk beranjak dari duduknya, hingga menyingkirkan pada wanita itu dengan segera. "Tidak perlu sesopan itu, anda bisa bersikap santai agar tidak terlalu tegang” terusnya dengan untaian kata menenangkan diatas senyum menyenangkan yang membuat Alissa semakin cangung disana. "Mari ikut saya" paksa Carlos untuk memberikan jalan.
“Maaf Tuan, tapi saya tengah melakukan wawancara penerimaan” saut Alissa ketika ia menyadari jika dirinya tidak sedang di ruang wawancara, bahkan ia bicara penuh sungkan pada Carlos.
Membuat senyum pria itu melembut.
“Anda tidak perlu khawatir Nona Moon, penerimaan anda sudah saya setujui, jadi anda hanya perlu berhadapan dengan saya saja, Jika boleh apa kita bisa pergi dari sini” ucapnya dengan penuh tawaran, seolah pria itu sedikit risih atas tatapan mata wanita yang mengoda meliriknya, sekali lagi pria itu mendekati Alissa untuk mendekatkan suaranya agar tidak diakses oleh siapapun kecuali mereka berdua.
“Nona Alissa, anda tahu sendiri, saya sangat tampan. Untuk keselamatan saya, saya harap kita harus pergi dari sini sesegera mungkin”
Sontak Alissa sedikit tertegun atas sikap pria tidak tahu malu itu, Tuan Carlos sangat berwibawa dengan sikap tenang dan juga menawan, namun nada yang ia ucapkan barusan meragukan Alissa tentang kepribadian yang di milikinya, sesegera mungkin, gadis itu melangkahkan kaki sambil mengikuti langkah pria itu, hingga semua orang melirik panjang dengan tatapan tidak suka kearahnya.
“Siapa wanita itu, apakah dia wanita Tuan Carlos selanjutnya?"
"Apa dia masuk mengunakan orang dalam?Tapi nampaknya pakaian yang dikenakan, sangat dibawah standar”
Gibah mereka dengan penuh kekesalan, seolah api cemburu menyulut semuanya, bahkan dari semua kariyawan wanita di perusahaan, gadis barusan sangatlah memalukan, dengan tampilan jelek yang tidak sesuai dengan standar, siapa yang memasukinya kesini? Orang dalam seperti apa yang ia miliki? Sebab diperusahaan bergengsi seperti ini, apakah masih ada orang rendahan yang di terima, jika tidak mengunakan koneksi.
*
Alissa duduk dengan canggung, disebuah ruangan yang terlihat sedikit nyaman, sepertinya ruangan ini bukan milik Staff biasa, melainkan seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi, bahkan saat Alissa memasukinya saja terlihat sekali bagaimana dirinya terpana atas pemandangan indah yang di suguhkan, jika benar ini ruangan milik sang pemimpin perusahaan, lalu kenapa Alissa bisa berada disini, dan secara langsung di undang menduduki sofa empuk yang lebih nyaman dari kasur di kontrakan kecilnya.
“Nona Alissa, anda sudah diterima di perusahaan kami sebagai staff di divisi pemasaran dan perencanaan. Nanti saya akan memanggil orang HRD untuk menjelaskan pekerjaan yang akan anda lakukan diperusahaan kami” jelas Carlos saambil menyuguhkan teh organik yang terasa nikmat di indra penciuman Alissa.
Bahkan nampak sekali bagaimana indahnya cangkir itu hingga Alissa menyadari jika cangkir yang ada dihadapanya adalah barang mahal yang mungkin saja membebaskan biaya kontrakanya selama satu tahun.
“Terimakasih Tuan” baas Alissa dengan sungkan, ia masih saja terpaku atas pemandangan di depanya, tidak ada barang yang tidak mewah disini, semuanya tampak memiliki kualitas tinggi, dan sudah dipastikan ini adalah tempat Sang Pemimpin Perusahaan, jika benar, apakah ia tengah berhadapan dengan Sang Pemimpim, tapi apa yang membuat dirinya berada di posisi ini, hingga berada dikeadaan yang sangat cangung sekali.
“Perkenalkan nama saya Carlos Kidson, saya sekretaris utama di perusahaan ini. Mungkin anda sedikit binggung atas situasi ini, hanya saja Bos tengah menuju keruanganya, dia ingin menyampaikan sesuatu kepada anda secara langsung” imbuh Carlos dengan pembawaan damai, membuat siapa saja akan terkesan dengan sikap manisnya, bahkan Alissa sendiri yang tidak pernah merasakan jatuh cinta pada seorang pria, sedikit tertegun dengan sikap diam, jika di dunia yang kejam ini, ada pria yang periang dengan segala sikap ramah tamah, mungkin Tuan Carlos adalah salah satunya.
Tapi bukan itu yang harus di pedulikan Alissa, melainkan siapa Bos yang dimaksud pria itu, apakah Alissa telah menyinggung seseorang hingga ia harus ditemui oleh pemimpin perusahaan untuk di eksekusi, bahkan ia mencoba mengunakan kemampuan, tapi tidak bisa melihat apapun dari pria itu, sebenarnya ada apa dengan Alissa akir-akir ini, kemampuanya sedikit berkurang setelah dirinya mendapatkan kecelakaan, apakah karna kondisi fiksik yang tidak memadai hingga Alissa sulit mendapatkan kekuatanya.
“Tapi Tuan, kenapa saya harus bertemu dengan Bos anda, bukankah saya hanya sebagai Staff biasa, apa saya sudah membuat kesalahan sebelumnya?” tanya Alissa dengan gugup, sembari menatap kedua mata Carlos yang begitu panjang melirik dirinya.
“Entahlah, saja juga penasaran kenapa Bos sebegitu pensaran dengan anda Nona” kali ini kalimat itu terdengar dingin, hingga Alissa terdiam menerimanya.
Ada apa dengan pria itu, kenapa di bisa berbeda sekali dengan sikap yang ditampilkan tadi, pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, dengan suara dingin yang bertolak belakang dengan pembawaan biasa, hingga ada sedikit takut yang hampir saja menguasai Alissa.
“Tapi, tidak perlu khawatir, Bos tidak akan melakukan pembunuhan” terus Carlos dengan kalimat bodoh yang hampir berubah 180 derajat dari suasana sebelumnya.
Membuat Alissa melepaskan kerutan bingung di dahinya, Alissa benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan pria seperti apa yang saat ini berada di hadapannya, hingga sulit sekali untuk Alissa memprediksikan Carlos Kodson ini.
Seketika suasana menjadi hening, pria itu masih saja memasang wajah ramah penuh cahaya terang, bahkan ada kilauan bening saat dirinya menatap Alissa, hanya saja Alissa sangat mengerti akan kondisinya saat ini, ia tidak bisa mempercayai seseorang begitu saja, karna selama ini Alissa telah mengenali maksud dan tujuan semua manusia, jika mereka tiba-tiba bersikap baik, dan tiba-tiba bersikap asing, pasti ada sesuatu yang di inginkan, begitupun dengan pria dihadapanya, Alissa tidak bisa melonggarkan pertahananya hanya perkara pria itu memiliki tampilan ramah dalam wujud ragawi sempurna.
Dering ponsel Carlos membelah kesunyian, membuat mata mereka teralihkan kesana, hingga pria itu bicara. “Permisi nona Alissa, saya ingin mengangkat panggilan dari Bos”
Membuat Alissa menganggukan kepala seraya memberikan ruang untuk bicara.
Carlos mengotak atik ponsel yang ada di genggamanya, membuat Alissa mengamati gerak geriknya untuk keluar dari ruangan, hingga pria itu menghilang dibalik pintu kokoh, seraya mengangkat pangilan dari Alrescha.
Rasanya, Alissa merasa dirinya pernah melihat ruangan ini dengan samar-sama, tapi ia tidak tahu dimana dirinya melihat, karna sudah banyak yang ia lihat dimata semua orang, membuat Alissa sedikit keliru jika menyimpulkan.
Mata itu tergerak pada bingkai foto yang ada dimeja kerja seseorang, bingkai foto itu tentu tengah membelakangi dirinya, hingga Alissa tidak bisa melihat selain menghampiri meja tersebut, tapi apakah boleh dirinya bersikap lancang di ruangan orang asing, ditambah ini adalah ruangan pimpinan di perusahaan tempat dirinya akan bekerja.
Rasanya tidak boleh.
Secara cepat Alissa memalingkan wajah untuk menolak fikiran kurang ajarnya, bahkan Alissa mendudukan diri dengan tenang untuk membuang jauh rasa penasaran, tapi lagi-lagi ia melirik kearah bingkai foto itu, hingga rasa penasaran menganggunya, mau tak mau Alissa bangkit dari sana untuk menuntaskan rasa penasaran.
Toh dirinya hanya sekedar melihat bukan untuk mencuri, untuk apa Alissa merasa terganggu dengan semua perasaan itu.
Dengan cepat, ia melangkahkan kaki agar menghapus rasa penasaranya, tangan gadis itu meraih vas foto kecil yang ada dimeja kerja seseorang, baru saja dirinya ingin membalikan bingkai itu, suara pintu langsung menyergap Alissa dengan perasaan bersalah, hingga tanpa sadar tanganya menjatuhkaan bingkai foto itu dari meja.
Sungguh Alissa tidak percaya dirinya membuat kesalahan, bahkan Carlos yang mendegar suara dari meja Alrescha Nero menajamkan mata penuh peringatan atas tindakan lancang yang di lakukan wanita itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Carlos dengan nada tidak ramah, bahkan hampir saja membuat Alissa salah tingkah dengan seluruh rasa bersalah, tapi mengigat ucapan Alrescha barusan, membuat Carlos perlu menjaga sikap.
“Nona Alissa, saya rasa anda tidak boleh bersikap lancang di ruangan orang lain, sekalipun anda ingin melihat-lihat, tapi ini bukan ruangan teman atau kenalan anda, saya mohon jaga sikap anda dengan baik” ucapnya dengan nada menyududkan, meskipun ada aplikasi senyum yang diberikan, namun tidak menghilangkan maksdu dan tujuan atas kalimat yang ingin disampaikan, membuat Alissa sedikit merinding atas sikap bodoh tersebut.
“Maafkan saya Tuan, saya benar-benar minta maaf” balas Alissa dengan sungguh-sungguh, bahkan tubuhnya hampir gemetar hingga sulit di kembalikan seperti semula, dengan gugup Alissa berbalik badan untuk meraih bas foto yang tidak sengaja ia jatuhkan, tapi Carlos mencegat dirinya, untuk kembali saja ke kursi semula, mau tak mau Alissa terpaska mendudukan diri dengan canggung.
Pria itu mengangambil pecahan kaca dengan foto seseorang di dalamnya, ia meletakan foto itu diatas meja Alrescha sambil membiarkan pecahan itu tegelatak dilantai.
“Anda menjatuhkan foto wanita kesayangan Bos, jika dia mengetahui hal ini, mungkin anda akan dipenggal hidup-hidup. Lain kali jangan bertindak kurang sopan d tempat orang lain” ucap carlos saat memandang foro Arabella dengan tersenyum manis, bahkan kilauan matanya tampak sekali tidak suka atas sikap Alissa, hingga kata nyelekit yang gadis itu terima sungguh menyakitkan.
“Maafkan saya Tuan, saya sungguh-sungguh minta maaf atas kebodoh barusan” lirih Alissa dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa saya hanya bercanda. Jangan terlalu gugup, Bos tidak akan membunuh kariyawanya” sambung Carlos dengan permbawaan santai, bahkan ia seperti bicara pada anak kecil yang bodoh, seolah memperlakukan Alissa seperti tidak sadar akan apapun.
Meskipun begitu, Alissa merasa ucapan pria itu amat mengerikam, bahkan sudah berulang kali mulutnya melirihkan kata pembunuhan dengan nada bercanda, tentu sebagai orang biasa, Alissa tidak bisa menerima ini.
Mereka berdua berbincang-bincang tentang masalah pekerjaan, hingga Carlos megajukan surat kontrak Alissa dengan perusahaan Nero, bahkan membuat gadis itu semakin tidak percaya, jika gaji yang ia terima berbeda dengan gaji seharusnya, bahkan hampir 5 kali lipat, apakah perusahaan ini ingin membunuh dirinya hingga memberikan keuntung besar, bahkan Alissa masih saja mempertimbangkan semuanyanya tanpa harus menandatangani.
“Saya menolak” ultimatum Alissa kali ini sangat jelas, bahkan dia tidak ingin ada bantahan dari pria itu, Alissa tidak bisa menerima semuanya secara cuma-cuma tanpa tahu alasan.
Sekalipun Alissa membutuhkan uang, dirinya bukan gadis bodoh yang menerima kebaikan orang lain tanpa ada pertimbangan, dengan pengalamanya tentang memahami seluruh manusia, Alissa dapat mengambil kesimpulan, semua orang saling mengambil keuntungan atas apa yang mereka berikan, jadi jika saat ini perusahaan menawarkan Alissa gaji diatas standar perusahaan, berarti ada hal lain yang di inginkan perusahaan darinya, apalagi yang bisa Alissa pikirkan selain organ tubuhnya yang berharga.
“A-Apa yang anda bilang barusan?” gagap Carlos untuk memastikan, ia tidak percaya gadis itu akan menolak tawaranya, bahkan ia berfikir jika Alissa akan segera menandatangani kontrak tanpa pertanyaan apapun, tapi kali ini secara lantang dirinya menolak, membuat Carlos tidak bisa berkata apapun.
“Saya tidak mengerti kenapa perusahaan memberikan keuntungan gaji yang lebih besar dari seharusnya, padahal saya belum melakukan pekerjaan, bahkan ini kali pertama saya akan bekerja di suatu perusahaan, saya tidak mempunyai pengalaman kerja, dan saya masih belum mengetahui kemampuan yang saya miliki, dengan alasan seperti itu sangat logika jika saya berfikir ada sesuatu yang perusahaan inginkan dari saya hingga saya sendiri tidak mengerti hal apa itu. Jika kalian ingin menerima saya bekerja dengan alasan lain, selain pekerjaan sebagai Staff biasa saya menolaak tawaran ini Tuan” bantah Alissa dengan tegas, membuat Carlos tertegun mendengar sikap kritisnya.
“A-Alasan lain? Apa maksud mu?” tanya Carlos dengan tidak mengerti, bahkan ia hampir kehabisan kata-kata menjawab argumen gadis itu.
“Tentu saja alasan lain itu adalah pertanyaan yang saja ajukan kepada anda, apa alasan anda memberikan gaji sebesar ini pada saya yang masih belum melakukan pekerjaan dan tidak memiliki pengalaman?” ancamnya dengan tegas, membuat Carlos menyandarkan diri disofa yang ia duduki sambil mengamati Alissa lekat-lekat, nampaknya gadis ini lebih rumit dari yang difikirkan, bahkan ia selalu memberikan kesan mengejutkan setiap kata-katanya.
“Nona, anda benar-benar luar biasa, bahkan kami menawarkan keuntungan tapi anda malah meragukan perusahaan, apa anda tidak sadar sikap yang anda berikan adalah sebuah penghinaan” baru saja Alissa membuka mulutnya untuk membantah, pria itu mengangkat tangan untuk menghentikan, seolah ia mengatakan jika pembicaraanya belum selesai. “Saya harusnya mempertanyakan, kenapa anda memilih perusahaan ini, jika anda tidak percaya dengan perusahaan kami! Saya tidak tahu apa yang saat ini anda fikirkan, tapi berprasangka buruk tanpa mengetahui maksud itu disebut kejahatan” hina Carlos dengan tatapan dalam, bahkan nada tajamnya merujuk pada Alissa sebagai seorang penjahat.
Apakah maksud pria itu, apakah ia sungguh-sungguh mengatakan Alissa sebagai seorang penjahat karna tidak menghargai perusahaan, bukakah hal yang wajar jika seseorang mempertanyakan alasan terhadap sesuatu hal yang tidak wajar padanya.
Bahkan Alissa masih binggung, kenapa sekretaris utama yang mengurusnya saat menerima lamaran ini, padahal ia bukanlah siapa-siapa, dan sekarang mereka menyiram bensin kecurigaan atas gaji yang dinaikan lima kali lipat, lalu kenapa harus Alissa yang harus di sudutkan.
“Ck…” sebuah tawa hinaan melucur dari sudut bibir Alissa, hingga Carlos menajamkaan mata melirik wanita itu, bahkan matanya saja tiba-tiba melebar saat Alissa berpangku tangan dengan sikap kurang ajar sambil mengangkat kaki seolah menantang, tentu saja ia tengah mengeluarkan dirinya yang asli setelah bersembunyi di balik Alissa yang sopan santun.
“Kau mempertanyakan alasanku kenapa memilih perusahaan ini? Tentu saja karna aku percaya perusahaan membutuhkan kemampuan yang aku miliki, aku percaya diri karna itu. Jadi setelah aku pikir- pikir lagi, sepertinya aku terlalu menganggap tinggi perusahaan ini, hingga kalian menunjukan kualitas sendiri. Apakah seperti ini kalian menerima kariyawan? Menyudutkan, memojokan, bahkan mengintimidasi seolah kami rendahan, apa kau tidak sadar jika bukan tanpa kariyawan yang kau anggap rendah ini, para pimimpin yang brengsek itu mungkin tidak akan bisa mengoperasikan perusahaan dengan baik, dan kalian tidak akan berarti apapun selain dari sampah masyarakat yang sibuk dengan wanita dan dunia malam hingga obat terlarang” hina Alissa dengan habis kesabaran, membuat Carlos tidak percaya jika dirinya tidak mampu membalasnya.
Bagaimana tidak, baru kali ini Carlos melihat wanita aneh seperti ini, bahkan sekarang dengan berani wanita itu berkata dengan kalimat tidak formal dihadapanya, baru saja Carlos ingin membantah, Alissa dengan cepat menekan.
“Dan perlu kau ingat, aku bukan orang bodoh yang menerima kebaikan orang lain begitu saja! Aku tidak tahu apa yang di inginkan perusahaan ini dariku, tapi aku bukan orang yang bisa di kendalikan dengan uang, apa kau fikir aku tidak tahu alasan gaji dinaikan untuk mengugah akal sehatku, biar aku tebak, apakah gaji yang kalian berikan bertujuan mengendalikan otoritasku. Tapi bagiku, otoritasku sebagai manusia, tidak sebanding dengan kenaikan 5 kali lipat ini. Jadi aku tidak membutuhkan perusahaan payah seperti ini, katakan pada pimpinanmu untuk tidak mengusik diriku” bentak Alissa dengan geram, ia bahkan meraih tas yang ada di sampingnya lalu mempersiapkan diri untuk pergi dari sana, bahkan Alissa tidak tertarik lagi dengan perusahaan seperti ini.
Carlos yang tertegun dengn binggung, hanya mampu menatap kertas kontrak tanpa hasil apapun, baru kali ini ia menemukan wanita gila yang hampir tidak logika bagi dirinya, Alissa membanting pintu kantor dengan sikap kasar, seolah dirinya tidak puas atas apa yang di lakukanya barusan, seharusnya Alissa mematahkan kedua tulang kaki pria itu hingga berakir di rumah sakit, agar dirinya bisa puas atas penghinaan yang diberikan padanya.
*
Alrescha yang mendengar perkataan Alissa dari alat pendengar di telinganya sedikit menyunggingkan senyum penuh kepuasan.
Tentu saja Carlos tidak mematikan telfon Alrescha karna dirinya ingin mendengar diskusi dengan wanita gila itu, tapi semuanya diluar dugaan Alrescha, bahkan Carlos yang bodoh itu tidak mendapatkan wanita gila tersebut untuk menjadi Staff biasa.
“Keluarlah” perintah Alrescha kepada seluruh orang yang ada dibelakang dirinya..
Tentu saja membuat mereka saling bertatapan dengan enggan untuk meninggalkan lift tersebut.
Kali ini Alrescha ingin menemui wanita itu seorang diri tanpa Alissa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Semuanya turun dilantai yang ada dibawah kantor Alrescha, sehingga hanya pria itu yang berada di lift menuju Alissa, sebab Alrescha ingin mengetahui sesuatu, ia ingin memastikan apakah benar gadis itu membawa kutukan atau tidak.
Lift berdenting dan bilik itu terbuka, Alissa terdiam memandang pria yang tidak asing di kedua matanya, bahkan langkahnya saja terhenti tanpa mampu mengendalikan tubuh.
“Kita bertemu lagi” sapa Alrescha dengan sebentuk seringai tajam yang tertampil diwajah dinginya.
Up dong thor🙏🙏🙏
semangat Thor aku padamu🤗