NovelToon NovelToon
Enough

Enough

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:118.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru

Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.

Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.

Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Keesokan harinya Tari sudah kembali ke apartementnya, karena ia masih mendapatkan izin berkabung selama satu minggu, maka ia mengisi waktu senggangnya dengan merapihkan apartementnya.

Ia merapihkan sepatu-sepatu lama yang sudah tak ia pakai, sebagian sepatu yang masih layak pakai ia bersihkan dari debu yang menempel kemudian ia masukan ke dalam kotak untuk ia berikan kepada orang yang membutuhkan, sementara sepatu-sepatu yang telah usang, ia masukan ke dalam kantong pelastik hitam besar untuk ia buang.

Handphone Tari berdering ketika ia sedang memasukan sepatu yang telah ia bersihkan ke dalam kotak. Ia langsung merogoh sakunya dan melihat panggilan masuk dari bundanya. Tari berdeham mengontrol suaranya agar terdengar seperti habis menangis, barulah ia mengangkat panggilan dari ibundanya. "Halo Bund."

Lima detik hening, kemudian "Halo Nak."

"Apa bunda masih bersedih?" tanya Tari.

Surinala mendesah dramatis. "Sedikit." Jawabnya. "Semua keluarga besar kita sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, ini akan jadi malam pertama bunda tanpa....."

"Bunda akan baik-baik saja." ucap Tari dengan penuh keyakinan, ia selalu menguatkan ibundanya agar tidak terlarut dalam kesedihan.

Surinala kembali diam, namun kali ini lebih lama, baru sekitar dua menit ia kembali berkata. "Tari, kamu tidak perlu malu karena kejadian kemarin."

Tari tercengang mendengar ucapan bundanya, ia sama sekali tak malu. "Bund, semua orang pernah kehilangan kata-kata karena gugup berhadapan dengan banyak orang, begitu pula aku. Aku sangat sedih dan gugup hingga aku kehilangan kata-kata. Maafkan aku bund."

Tentu saja Tari berbohong, ia sama sekali tidak kehilangan kata-kata, ia memang tak punya kenangan yang indah bersama ayahnya, dan ia pun merasa pencapaian kesuksesan yang di raih ayahnya sama sekali tak membuatnya bahagia, justu menambah beban atas tuntutan ayahnya.

"Tidak apa-apa sayang, ya sudah bunda pergi ke kantor asuransi dulu ya. Nanti bunda akan menghubungimu lagi."

"Iya bun, I love you." Tari mengakhiri pembicaraannya kemudian ia mematikan handphonenya dan memasukannya kembali ke dalam sakunya.

Tari kembali meraih kotak sepatunya yang lain untuk memasukan sepatu yang terakhir ia bersihkan, ia membuka tutup kotak tesebut dan melihat ada beberapa surat, dan buku harian yang ia tulis sewaktu remaja, dimana Tari menjalin kasih cinta pertamanya bersama Ranu Laksana Samudra seorang preman pasar senen. Semuanya ia tuangkan dalam buku tersebut.

Sebenarnya dulu ia pernah bersumpah untuk tidak lagi membuka buku tersebut, namun karena ayahnya baru saja meninggal, ia merasa butuh mengenang masa remajanya. Tari pun beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah ruang keluarga dan merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari mulai membaca halaman tengah buku tersebut.

Dear diary,

Setelah dua minggu selalu berpapasan saat pulang sekolah, dengan pria misterius bermata coklat, rasa penasaranku kian membuncah, sehingga hari aku memutuskan untuk mengikutinya diam-diam, aku mengikutinya dari belakang melewati gang kumuh dan sempit yang berada tepat di belakang rumahku, langahku terhenti ketika pria itu masuk ke sebuah rumah kosong yang nampaknya tidak ada listrik dan saluran air bersih. Mungkinkah ia tengah menjalani sebuah tantangan?

Tari kembali membuka halaman berikutnya.

Dear diary,

Semakin hari, aku semakin tak bisa berhenti memikirkan pria misterius itu. Aku selalu berfikir bagaimana ia bisa hidup di rumah yang tidak ada listrik dan air bersih? Apa dia juga tidak punya makanan? Memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu membuatku hampir gila, aku memutuskan untuk kembali datang ke rumah kosong yang di tempati oleh pria misterius itu, dengan membawakan makanan yang ada di dapur.

Aku meletakan makanan yang aku bawa di beranda belakang di depan pintu. Aku tak yakin apa pria misterius itu mengetahui kedatanganku, jadi ku ketuk saja keras-keras pintu itu, kemudian aku berlari kembali ke rumahku.

Sesaat sebelum Tari membuka halaman berikutnya, ia tersenyum mengingat semua yang ia baca dalam buku hariannya.

Dear diary,

Siang ini sepulang sekolah aku kembali berpapasan dengannya, aku dan dia sama-sama berhenti dan saling pandang selama beberapa menit, sampai akhirnya ia menghampiriku dan mengucapkan "Terima kasih"

Sumpah rasanya canggung sekali mendengar suaranya yang membuat merinding, hingga aku tak bisa membalas kata 'sama-sama'. Kami sempat bersitatap namun aku cepat-cepat menuduk. Aku benci karena aku tidak pernah bisa percaya diri ketika berhadapan dengan seorang pria.

"Namaku Ranu." ia mengulurkan tangannya.

Dengan ragu-ragu aku menjabat tangannya. "Tari" ya akhirnya aku bisa berbicara dengan pria itu.

Ranu membuka tas ranselnya kemudian memberikan sebuah kotak makan milikku yang beberapa hari lalu aku gunakan untuk memberinya makanan. "Makannya sangat enak apa kau yang memasaknya?"

Aku menggeleng, karena pada kenyataanya Bik Nunung yang memasaknya. "Di rumahku masih banyak, apa kau mau lagi?"

Ranu mengangguk, aku dan dia berjalan bersama-sama menuju rumah. Di perjalanan, aku memberanikan diri untuk bertanya padanya "Mengapa kau tidak tinggal di rumah orang tuamu?"

"Mereka tidak menginginkan aku tinggal disana."

Aku menelan ludah sembari berfikir bagaimana mungkin orang tua mengusir anaknya dari rumahnya? Aku mengurungkan diri bertanya lebih lanjut mengenai masalah pribadi Ranu, lagi pula kami sudah tiba di depan rumah.

"Apa kau mau mandi di rumahku?" Ranu hanya terdiam menatapku. "Ma-maksudku selagi aku menyiapkan makanan untukmu, kamu bisa menungguku sambil membersihkan diri. Orang tuaku bekerja, pukul 18.30 biasanya mereka baru sampai."

Ranu menerima tawaranku, ia bersedia mandi di rumahku. Selagi pria itu mandi aku bergegas menarik tas ransel besar milik ayahku yang sudah tidak gunakan dari lemari belakang, aku masukan banyak makanan dari dalam kulkas seperti buah-buahan, minuman kaleng, roti dan lain-lain.

Tak hanya memasukan makanan, dengan lancangnya aku mengambil dan memasukan beberapa potong pakaian dan celana milik ayahku. Aku benar-benar tak tega melihat baju dan celana robek yang Ranu kenakan.

Jantungku berdebar sangat kencang, karena aku tahu aku akan terlibat masalah besar kalau sampai orang tuaku pulang dan mendapati ada preman di kamar mandi rumah dan aku menguras seluruh isi kulkas untuknya. Sepanjang Ranu di kamar mandi aku panik dan terus memandang ke arah jendela takut kalau-kalau mobil orang tuaku datang.

Tak lama kemudian Ranu keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, rupanya ia baru saja bercukur karena ia terlihat lebih muda dan tampan, aku kembali memandang ke arah jendela. "Sebaiknya kau keluar dari pintu belakang agar tak ada yang melihat." Aku memberikan tas ransel itu kepada Ranu.

Dia menerima ransel itu dan menatapku. "Terima kasih banyak Tari, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu." ia tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya pergi dari rumahku

Sungguh senyumannya manis sekali, lagi-lagi aku berfikir bagaimana seseorang dengan senyuman seindah itu bisa di usir oleh orang tuanya? Bukankah orang tua harusnya menyayangi anak-anaknya? Tidak perduli anaknya manis, jelek, kurus, gendut, pintar atau bodoh.

Tari baru saja mau membalik halaman selanjutnya, namun handphonenya kembali bedering. Ia merogoh sakunya dan melihat bundanya menghubunginya lagi.

"Halo" jawab Tari.

"Sayang, bagaimana jika bunda tinggal di apartementmu?" tanya Surinala tanpa berbasa-basi.

Seketika Tari membulatkan matanya, ia hampir berteriak 'Wow' untung saja ia bisa menahannya. "Apa bunda yakin?"

"Ini hanya pendapat bunda saja, nanti kita bicarakan lagi ya, bunda mau meeting dulu."

"Okay, bye bunda. Love you." Tari mematikan sambungan teleponnya.

Sekarang mendadak Tari ingin pindah dari Jakarta, namun ia teringat jika dirinya sebentar lagi akan menghadapi sidang tesisnya. Bukan karena ia tak menyayangi bundanya, tapi tinggal bersama bundanya membuatnya tak mandiri.

Ayahnya di vonis mengidap gagal jantung dua tahun yang lalu, jika Tara berada di sisinya saat ini, ia akan mengungkap kejujuran bahwa ia sangat senang dengan diagnosa tersebut, karena semakin parah sakit yang di derita ayahnya maka semakin tidak bisa ia menyakiti bundanya, hal itu tentu saja merubah 100% hubungan mereka, ayah bergantung sepenuhnya pada bunda, dan Tari merasa lega.

Sekarang ayahnya sudah tidak ada, Tari merasa tidak perlu lagi mencemaskan bundanya, ia mempersilahkan bundanya menikmati semua harta warisan ayahnya untuk bersenang-senang, sementara dirinya ingin segera bebas mengejar mimpinya yang sempat di tentang ayahnya. Namun sekarang bundanya justru ingin tinggal bersamanya, itu artinya ia harus bernegosiasi serius dengan bundanya, agar ia bisa tetap mewujudkan mimpinya.

1
RithaMartinE
luar biasa
RithaMartinE
yeyyy... Akhirnya🥰🥰🥰
RithaMartinE
Ranu 😭😭😭
Anonymous
tadinya kutebak ranu adalah tara....
~~𝓕𝓸𝓷𝓽𝓮𝓻𝓲𝓷𝓪~~
luar biasa karyamu,, sehat dan sukses selalu..
~~𝓕𝓸𝓷𝓽𝓮𝓻𝓲𝓷𝓪~~
hanya 1 kata untuk mu thor 𝙆𝙀𝙍𝙀𝙉!!!
👏👏👏👍
LALA LISA
betul Thor..perlu untuk diketahui hal2 itu ada di dunia nyata,,nambah wawasan juga/Rose//Heart/
ayu sukoco
next kisah Ranu, tari dan anak2nya ada gk Thor?
Kenn: ka bisa minta tolong spill ending novel k.u.n ga? tambahan nya 1 lembar aja, sayang banget kalo beli soalnya gaada bajakan nya 😭
total 2 replies
Aizivaishe Zaky
ter d best...makasih ya thor udh buat cerita ini...sukses selalu y..
Khairul Azam
Tari bertahan saja nanti dampaknya jg ke anak km seperti km benci ayahmu
Khairul Azam
aduh dududu mbak tariii Baru kenal udah mau aja diraba"
Safini Azizah
sampai akhir baru komen.. bagus banget cerita nya kak
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
Irma: Terima kasih telah membaca sampai akhir
total 1 replies
Mas Bagong
Bagus. pemilihan tema dan alur jelas
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Lek"A"
whohoho asli keren banget 👍👍👍👍
Lek"A": mungkin saking banyaknya penulis ,pihak NT jadi bingung,yg sabar dan tetap semangat untuk berkarya💪👍, mungkin lain waktu tiba" di promosiin, rejeki kita tidak ada yg tau, cuma bisa mendo'akan dan memberi semangat 😉😘
total 2 replies
Lek"A"
Semoga semakin banyak pembacanya,
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍
Irma: Terima kasih sudah membaca dan memberikan bintang 5nya😊
total 1 replies
Vthree Keisha
Cerita yang Amazing,lain dari yang lain..Sangat recommended,mengulik kisah yang sesungguhnya banyak terjadi dilingkungan sekitar kita.Tentang kdrt& pelecehan terhadap perempuan,banyak hal positif yang bisa diambil dari cerita ini.Good job buat penulisnya,sukses slalu👍❤️
Irma: Terima kasih sudah membaca, tulisan recehku🙏
total 1 replies
Lek"A"
wow ada sultan gabut🤭🤭,
adisty aulia
ide ceritanya kereeen🌺🌺🌺🌺
Irma: Terima kasih telah membaca karyaku yang ga pernah di lirik sama NT ini 😁🙏
total 1 replies
⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈
aku baru baca 2 karyamu ka
ㅤㅤ
hmmm sweet Tara tapi saat marah kamu bagai monster😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!