NovelToon NovelToon
Adikku, Istri Kedua Suamiku

Adikku, Istri Kedua Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:612.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ridz

Dea dijebak oleh kakaknya yang berakhir dia harus ditiduri oleh suami kakaknya yang membuat dia harus mengandung anak dari suami kakaknya dan terpaksa menjadi Madu dari sang kakak hanya karena kebahagiaan sepihak.

Menceritakan Liku-Liku perjalanan kakak adik angkat, yang terjebak dalam hubungan rumit dimana mereka harus berbagi suami yang sama dengan keadaan saling mengikhlaskan.

Zara Aridda sesosok wanita tegar dengan rasa penuh perhatian harus menikahkan suaminya dengan adiknya dikarenakan adiknya telah hamil anak suaminya, namun dia menyimpan rahasia yang besar yang hanya dia yang tahu.

Dea Aninda sesosok wanita yang tak kala tegar nya terpaksa masuk kedalam hubungan pernikahan kakaknya dan menciptakan sebuah keadaan rumit dimana dia terjebak dalam keadaan terpaksa dan kenyataan bahwa dia mulai mencintai suami kakaknya yang kini menjadi suaminya

Siapakah yang akan dipilih Tirta dikala Kedua istrinya sama-sama ingin menyerah

Siapakah yang akan bertahan dalam pernikahan tersebut dan siapakah yang pada akhirnya menyerah

Dan jangan lupa sosok Danu yang selalu ada untuk Zara dan masih menanti cinta Zara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 06: Tegaskan Perasaan Abang

Setelah kejadian tempo hari yang mengakibatkan hubungan antara Zara dan Tirta kembali sedikit renggang, Tirta yang sudah mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Dea pun tetap mengunjungi Zara sekedar menanyakan kabarnya karena bagaimanapun Zara masih istrinya walaupun Tirta sudah hampir menyerah dalam mendapatkan Zara kembali.

Drttttt!

"Halo? Bang Hari ini aku ada jadwal USG aku izin ke rumah sakit bentar siang," Suara Dea terdengar diujung telepon tersebut.

Tirta memasang earphone-nya sebelum lanjut menyetir dan menjawab pertanyaan Dea. "Gak, kamu perginya sama Abang,"

"Tapi Bang, aku bisa pergi sendiri, Abang ada kelas kan hari ini?" jawab Dea yang membuat Tirta untuk menghela napas panjang.

"Abang jemput sekarang, jangan kemana-mana,"

Tirta mematikan sambungan telepon itu sepihak dan mengendari mobilnya kembali dengan kecepatan penuh menuju apartemennya, niatnya dia ingin menemui Zara sekedar memberi bunga karena beberapa hari lagi adalah Anniversary mereka yang ke-tujuh tetapi mendapat panggilan telepon dari Dea membuat ia seolah enggan menolak.

Tak lama kemudian Tirta sudah tiba di depan apartemennya dengan Aston Martin miliknya, setelah memarkirkan kendaraannya Tirta bergegas naik ke lantai atas untuk menjemput Dea yang sudah menunggunya.

"Sudah siap?" tanya Tirta pada Dea yang sudah memakai tas selempangnya.

Dea hanya mengangguk sekilas sebelum mengikuti langkah suaminya keluar dari apartemen menuju mobil yang sudah di parkir dibawah.

Sebenarnya Dea ingin pergi sendiri mengingat dia ingin membiasakan diri dengan anaknya untuk tidak terlalu bergantung pada Tirta karena Dea tidak bisa mempungkiri sifat suami seperti Tirta adalah dambaan sosok wanita seperti Dea.

Andaikan saja tidak ada fakta kalau Tirta adalah suami kakaknya dia tidak akan mau mengikhlaskan Tirta nantinya tapi dia tidak ingin disebut perebut suami orang cukup sekali dia menjadi orang ketiga dan tidak akan lagi.

"Mulai malam ini kita pindah ke rumah Abang yang lama di kawasan ciputat, kamu mau yah," ujar Tirta fokus menyetir.

"Emang Abang punya rumah disana? Tapi di apartemen juga nyaman kok, kenapa harus pindah?" tanya Dea menatap ke arah Tirta.

Tirta menghela napasnya, tangan kirinya fokus memegang setang sementara tangannya meraih tangan Dea dan mengamitnya t.

"Ini yang terbaik buat kamu dan anak kita nanti," jawab Tirta mengelus rambut Dea.

"Kurasa hanya terbaik untuk anak kita Bang, aku kan cuma tamu figuran dalam drama ini," batin Dea merasakan desiran berbeda saat Tirta memegang tangannya.

Merasakan hatinya nyaman dalam posisi itu Dea seketika mengingat apa sebenarnya statusnya disini sehingga ia mengambil tangannya berusaha menepis tangan Tirta yang berusaha memgamit tangannya kembali.

"M-maaf," ujar Tirta kembali mengarahkan kedua tangannya ke setang setir.

Setelah percakapan itu tidak ada lagi suara diantara mereka seolah obrolan tadi sudah menghilang mengembang diatas angin, Dea dan Tirta hanya terdiam dalam lamunannya sendiri.

Sesampainya dirumah sakit, Tirta dan Dea segera menuju ruangan dokter kandungan yang dimana hari itu cukup sepi pasien sehingga mereka berdua tidak harus menunggu lama.

"Bu Dea!"

Dea bangkit dari duduknya mana kala namanya dipanggil oleh dokter dari dalam ruangan, ia berjalan masuk ke ruangan tersebut disusul oleh Tirta.

"Siang Dok," sapa Dea rumah yang disambut anggukan ramah dari dokter tersebut.

Dokter tersebut yang sudah menjadi langganan Dea setiap check up ataupun USG segera menyuruh Dea berbaring di brankar rumah sakit tersebut sambil menyiapkan alat untuk USG Dea.

Sementara itu Tirta hanya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter yang menangani Dea.

"Janin nya sehat dan pergerakkannya lancar, biasanya di usia kandungan seperti ini rawan terkena morning sickness jadi suami ibu harus lebih siaga lagi ke depannya," jelas dokter tersebut memperlihatkan layar monitor berisi pergerakan janin Dea.

"Itu calon anak saya, Dok?" tanya Dea seiring dokter tersebut menggerakkan sesuatu diperut Dea.

Dea tampak bahagia melihat calon anaknya begitupun dengan Tirta yang sudah mengembang senyumnya karena inilah anak yang dia nanti-nantikan selama ini.

Setelah selesai Dea dan Tirta berpamitan kepada dokter tersebut dan berjalan keluar dari ruangan itu.

"Terima kasih," ujar Tirta pada Dea.

"Untuk?"

"Wujudin semua harapan Abang selama ini,"

"Tapi dengan cara terlarang," balas Dea pada Tirta.

"Kalau itu maafin Abang," jawab Tirta meraih tangan Dea sehingga langkahnya terhenti.

Dea membalikkan badannya dan tersenyum penuh arti seolah menyimpan sejuta perasaan kelumit rasa gundah dihatinya.

"Tidak ada yang perlu disesali Bang, semua sudah terjadi, dan saat akhirnya tiba, semua akan kembali seperti dulu lagi," jawab Dea. "Bang aku ke toilet bentar yah,"

"Abang temenin," tawar Tirta pada Dea.

Dea tersenyum dan menggelengkan kepalanya sampai akhirnya Tirta melepas tangannya dari tangan Dea.

Selepas kepergian Dea, Tirta memilih menunggunya dikursi tunggu mengingat kebahagiaannya nanti yang akan disebut seorang ayah tapi disatu sisi ia masih bingung menentukan perasaannya dan menegaskan semuanya terlebih dia bingung dia mencintai siapa sekarang.

"Pak Tirta? Suami Bu Dea yah?" sapa seorang suster pada Tirta.

Tirta langsung menolehkan kepalanya ke arah suster tersebut dan mengangguk padanya.

"Ini Pak saya ada titipan dari Bu Dok katanya foto USGnya lupa dibawa," lanjut suster tersebut memberikan amplop coklat.

Tirta menerima amplop tersebut dan berterima kasih pada suster tersebut kemudian kembali duduk di kursi nya.

Ia membuka amplop tersebut dan pandangan kembali tertuju pada gambar janin yang akan menjadi anaknya, setetes air mata jatuh di pipi nya mengingat semua keluh kesahnya pada tuhan tentang ini tapi satu hal yang ia keluhkan kenapa harus melalui Dea dan dengan cara yang begitu rumit.

"Ya allah apakah aku sanggup untuk meninggalkan Dea nantinya dan memilih Zara seperti permintaan Dea tapi sekarang aku sudah nyaman dengan Dea terlebih akan ada malaikat kecil kami nantinya, tapi Zara juga sudah berjuang selama nya ni, dan dia berhak untuk mendapatkan suami seutuhnya walaupun dia masih memaksa untuk ditalak, berikanlah aku petunjuk, aku sebenarnya mencintai siapa untuk saat ini, apakah aku sudah adil dalam berbagi cinta atau memang nanti aku harus memilih salah satunya?" batin Tirta mengusap air matanya.

Disaat larut dalam pikirannya tiba-tiba ia merasakan seseorang duduk disampingnya dan ketika ia membalikkan wajah Tirta melihat sosok Zara sedang memandang kosong ke depan tetapi ada disampingnya.

"Zara?"

Tirta hendak memeluk Zara namun segera ditolak dengan halus oleh Zara yang membuat Tirta mengurungkan niatnya.

"Tegaskan perasaan Abang," ujar Zara.

Kalimat yang sedang menjadi perdebatan didalam hati Tirta disaat dia nantinya harus memilih salah satu diantara kedua istrinya sedangkan kedua istrinya sama-sama ingin mengikhlaskan.

"Abang gak tau," jawab Tirta lemah.

"Dea itu sempurna Bang, aku gak mungkin mau mengikhlaskan abang jika Dea bukan wanita pilihan yang tepat untuk menggantikanku," jelas Zara menatap kosong Tirta.

"Tapi Abang cinta kamu, Abang rasa abang cuma kasian sama Dea karena abang ambil andil dalam kekacauan ini dan .... abang rasa abang cuma butuh Kamu Za," ujar Tirta asal.

"Abang gak seharusnya ngomong begitu, abang hanya perlu menegaskan perasaan Abang dan abang akan tahu jawabannya," sergah Zara.

Tirta hendak menjawab namun Dea keburu muncul dihadapan mereka yang membuat Tirta dan Zara melihat ke arahnya.

"Udah kak jangan dipaksa, disini aku yang akan menyerah nanti dan anak ini biarin aja tuhan yang tahu nasib akhirnya dan mungkin benar, Bang Tirta cuma kasian sama aku makanya dia memperlakukanku dengan baik bukan karena mencintai aku, toh aku gak berharap dicintai karena cintanya Bang Tirta cuma buat kak Zara,"

Setelah mengucapkan kalimatnya Dea segera berlari keluar dari rumah sakit tersebut membuat Tirta dan Zara tersentak.

"Dea!" teriak Tirta memanggil nama Dea.

"Kejar bang," pinta Zara.

Melihat itu Zara dan Tirta segera mengejar Dea yang sudah berderai air mata karena sakit hati dengan ucapan Tirta.

Hujan turun di siang itu ditambah mendung perasaan Dea atas fakta kehidupannya, menambah mendung kebimbangan hati Tirta dan menambah mendung keikhlasan hati Zara.

Dea berhenti di depan sebuah pembatas jalan dan meraih kedua pembatas tersebut sebagai pegangan, ia menangis sejadi-jadinya karena rasa bersalah terhadap kakaknya, rasa terkhianati oleh perhatian Tirta tapi kenapa dia harus bersedih toh ini yang dia inginkan yaitu melihat Tirta lebih mencintai Zara tapi kenapa harus terselit rasa sakit dihatinya melihat itu.

"Aku harusnya sadar, Bang Tirta itu milik kak Zara," monolog Dea yang sudah basah kuyup.

Bahkan air matanya sudah bercampur dengan tetesan air hujan yang membasahi kedua pelupuk matanya, sampai ia merasakan sebuah tangan hangat yang meraih kepalanya dan menyandarkannya di dada bidangnya.

"Maafin abang, dek," bisik Tirta berusaha menenangkan Dea. "Abang gak harusnya ngomong kayak gitu,"

"Udah bang, kalaupun abang punya pikiran seperti itu aku juga gak masalah, toh aku yang akan pergi," jawab Dea melepas pelukan Tirta.

"Harusnya aku milih jalan lainnya sebelum pernikahan ini terjadi dan biarkan aku yang menanggung beban ini sendirian," ujar Dea berjalan meninggalkan Tirta namun segera kembali dipeluk oleh Tirta dari belakang.

Dea berusaha melepaskan pelukannya namun Tirta semakin memperkuat nya membuat Dea menyerah untuk itu.

Sementara diujung sana siluet Zara dengan payung nya menghiasi momen itu, hatinya juga sakit melihat Tirta sebegitunya kepada Dea namun dia sadar bahwa ia juga yang mengharapkan semua ini.

- TBC

1
Puji Rahayu
nyong we milu mumet leh ngrasake lahh...
mubeng2 wae..ra uwis2...😃😃😃
Ibelmizzel
zara Danu hadeh....
Ibelmizzel
zara egois seolah dia yg korban disini seolah2 dia terluka dan yg paling tersakiti orang2 menyalahkan adiknya padahal dia yg menyusun sekanariony
Surabaya Honda
W.O.W wonderful Thor,, CHIAYOO 👍
Surati
bagus
Dyah Oktina
mertua thor... bukan menantu..
Dyah Oktina
bukannya mblnya aston martin ya???? apa dah d jual d ganti honda brio 🤭
Dyah Oktina
kayaknya hanya ada d dunia halu 🤭
Dyah Oktina
setuju zara sama danu... tapi zara harus terus terang dgn keadaannya... kla engak ... ngak setuju juga zara dgn danu... kasihan danu.. akhirnya terus aja akan seperti pernikahan pertama
Dyah Oktina
kla zara sama danu... kasihan juga danu ngak bakal punya anak dari zara
Dyah Oktina
kla zara sama danu... kasihan juga danu ngak bakal punya anak dari zara
Mega Mkf
yaaa,,, ush kebaca,ujung2nya zara bakalan sm danu,kompor jg si danu,ibaratnya ai danu pebinor,,, jd males lanjut bacanya.
Mega Mkf
mampus kau zara,egois dan ngk punya harga diri,,, demi bahagiaan suami adik sndri kau jd kan korban,,,,
Mega Mkf
seharusnya zara mendapatkan hukuman yg berat bgt itu,manusia munafix,hanya dalam khayalan sj si emg sptri ini novel2,yg pelakunya msh menemukan kebahagiaan,,, dan aku paling ngk suka yg selalu dan selalu mengatas namakan kebahagiaan bersama,kl ke bahagiaan knp mesti di awali dgn keburukan,bukan kah keindahan dan kebahagiaan itu di dasari dgn ke jujuran,,,,
Ana Susana
❤️👍
Yusnita Nenvawaty Sihombing
sidea sedikit2 lari aja kerjanya.. punya bakat jadi atlet lari x ya😁😁
Hera sasuwe
ceritanya bagus
Hera sasuwe
konfliknya puter2 dit4 itu ya cari bahagia n bahagiain orang kok gitu2 amat ya jalannya rumit sendiri jadinya
umi b4well (hiatus)
Hem
Mega
lama jd aneh kisahnya,di vonis mandul tp bisa hamil,emang hanya kuasa allah yg tau,tp mustahil shi,dulu sm tirta kemana aja mbak zara,,, pdhl tirta tokcer lho sm dea 1x lsg jd,,, dasar zara perempuan munafix,bilang aja udh bosen sm tirta dan mau nikah sm danu pakai embel2 ini lah itu lah,,, hanya ada di novel aja shi yg bisa bgni,di reall ngk bakal ada jg shi,,, maaf thorr aku berhenti bacanya udh sebel bgt sm zara wanita sok baik,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!