Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.
Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.
Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Senja 6, Sanjaya's wedding
"Lebih tua setahun dong, gw kelas X. Sekolah dimana Can?" kata Qisha.
"Depok.. SMA Negeri 123" jawab Candra singkat.
"Kok sama kita sekolah di Depok...tapi gw di salah satu sekolah swasta disana .. boarding school... sebenarnya bisa sih masuk negeri, tapi Ayah maunya kita sekolah disana, ya udahlah wong tinggal sekolah aja ga pake mikirin biaya" jawab Qisha dengan santainya plus bahasa ala anak muda yang sudah lama saling kenal.
"Sekolah dimana aja sama, yang beda tuh kita nya... mau sekolah buat apa? Ga ngejamin yang di negeri lebih pandai dari yang di swasta" Kata Candra diplomatis.
"Iya sih... eh tapi serius deh mukanya familier banget" ucap Qisha.
"Ya iyalah kita tinggal di kota yang sama, tingkat sekolah pun hampir sama, ada kemungkinan kita pernah ketemu saat acara-acara sekolah" jelas Candra.
"Lo itu ketua OSIS yang kemarin exchange student di sekolahan gw bukan ya?" tebak Qisha.
"Oh .. sekolah disana? Ya..salah satunya yang jadi exchange student" kata Candra antusias.
"Yang dapet penghargaan best of the best participant bukan ya? Yang speech didepan kita semua... Wah... Fans nya banyak tuh di sekolahan gw" jawab Qisha.
"Emang artis segala banyak fansnya. Bisa aja deh. Lagian itu mah speech biasa, ya jelek-jelek gini kan ketua OSIS" kata Candra sambil ketawa kecil.
"Muka kaya Lo jelek? gimana yang ganteng coba? Boleh tukeran no HP ga?" tanya Qisha.
"Boleh...nomer mah bebas disebarluaskan, namanya juga jualan jasa, biar pada tau kalo ada usaha.. hehehe" ucap Candra sambil menyebutkan nomer HP nya.
Ga lama kemudian Qisha misscall balik ke nomer HPnya Candra.
"Oke deh.. itu simpan ya nomernya, siapa tau kedepannya gw ada keperluan sama Lo. Ngomong-ngomong Lo jual jasa apa aja?" kata Qisha.
"Reparasi alat elektronik, ngecat rumah, jadi tour guide, pokoknya palugada.. apa lu butuh gw ada.. hehehe" papar Candra.
"Semuda ini Lo udah cari duit sampe segitunya?" tanya Qisha heran.
"Demi keluarga.. harus bertahan hidup karena Bapak udah ga ada" jawab Candra sambil meneruskan makannya.
"Sorry... oh ya makasih ya Can... Gw mau masuk dulu ke Resort, pasti lagi pada nyariin gw, maklumlah gw kan princess" pamit Qisha.
"Oke...see you" jawab Candra.
Candra melanjutkan makannya, sambil sesekali melihat HP nya, siapa tau ada yang menghubungi dan memakai jasanya buat servis alat-alat listrik.
Setelah makan, Candra mencoba untuk beristirahat sebentar sambil melihat tenda-tenda dan hiasan bunga dominan pink dan putih yang menghiasi hampir semua bagian Resort.
Lalu lalang di Dermaga juga sudah tampak ramai. Tamu-tamu dengan dandanan high class sudah banyak yang merapat dari semalam, bahkan sempat dia melihat beberapa artis yang cukup ternama datang ke Resort ini.
.
Kesibukan di Resort pun makin meningkat, semua seolah-olah sedang dikejar waktu. Apalagi para kru dari pihak Wedding Organizer yang mengecek kembali seluruh persiapan. Pak Sanjaya bisa dibilang klien VVIP mereka, dimana uang berapapun ga jadi masalah asal semua acaranya berjalan dengan lancar.
Candra yang duduk dibawah pohon pun akhirnya bisa tertidur pulas sambil terduduk. Sekitar jam sebelas siang, Candra terbangun dan langsung menuju Mesjid buat mandi dan menunggu waktu Dzuhur. Setelah sholat dia kembali menuju resort karena dicariin sama Mas Akmal.
"Udah makan siang belum Can?" tanya Mas Akmal.
"Belum Mas" jawab Candra.
"Makan dulu sana, tuh ada prasmanan atau nasi box, ambil aja" perintah Mas Akmal.
"Makasih Mas nanti saya ambil...oh ya rencananya saya akan pulang malam ini ba'da Maghrib, besok saya ada latihan gabungan buat persiapan PON jadi harus hadir, pemberitahuannya dadakan karena ada inspeksi dari pihak Pemda" kata Candra ke Mas Akmal.
"Ga tunggu pesta dulu Can? Lumayan kan makan gratis sama ada hiburan artis Ibukota" tawar Mas Akmal.
"Saya kan bukan tamu Mas, lagi pula besok juga harus kumpulnya pagi. Saya pamit dulu ya mau muter kampung, siapa tau ada rejeki disana" pamit Candra sambil berlalu.
"Udah ngantongin uang sejuta masih getol aja cari duit" ledek mas Akmal.
"Buat cari ongkos pulang Mas" sahut Candra sambil nyengir.
"Emang luar biasa Anda ini anak muda.. calon orang sukses dimasa depan" puji Mas Akmal.
"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Candra.
.
Rencananya senja ini akan dilaksanakan ijab kabul kemudian dilanjutkan dengan resepsi pada malam harinya. Para keluarga dan tetamu sudah duduk rapih sesuai tempat yang sudah diatur oleh pihak Wedding Organizer. Anak-anak Pak Sanjaya pun sudah siap berjalan dibelakangnya Pak Sanjaya buat mendampingi.
Pesta digelar hingga larut malam. Tapi anak-anak Pak Sanjaya malah duduk ditepi Dermaga. Mereka ga menikmati pesta sama sekali. Bertiga duduk memandang langit yang sama, masih dengan gaun pestanya.
"Sebentar lagi Mba akan berangkat keluar negeri buat lanjutin study, Tante Dinda sekarang udah jadi pendamping Ayah, kita harus makin kompak ya" ucap Mba Flo.
"Kompak gimana Mba?" tanya Qisha.
"Ya kompak ... kita kan ga tau niat Tante Dinda itu apa .. bisa aja kan dia mau kikis harta Ayah, secara dia tau kan Ayah siapa dan bagaimana. Pake logika ajalah, anak gadis dan beda usia sampe dua puluh dua tahun, cantik pula.. mau sama Ayah. Bisa aja kan cari yang masih muda dan ganteng. Kenapa harus Ayah? murni cinta atau ada embel-embel harta?" beber Mba Flo.
"Bener tuh Mba... kita harus waspada sama Tante Dinda" sahut Mba Qisha.
"Kalo dia macem-macem, langsung aduin ke Ayah atau Mbah aja. Pokoknya dia jangan dikasih celah buat bisa ngatur-ngatur Ayah atau kita bertiga" ucap Mba Flo dengan serius.
"Iya Mba... pokoknya dia yang harus nurut sama kita. Kalo ga nurut berarti dia ngibarin bendera perang sama kita bertiga" tegas Mba Qisha.
"Eh Lexa... bengong aja.. kenapa? Atau jangan-jangan Lo pendukung Tante Dinda ya?" duga Mba Flo.
Lexa ga menjawab, males sudah otaknya buat berpikir.
.
"Kalian abis dari mana? Tadi Ayah cari ga keliatan" tanya Pak Sanjaya saat lihat anak-anak baru masuk ke kamar disebelahnya.
"Cari angin Yah... biar ga stress" ucap Mba Flo sambil menatap sinis kearah Tante Dinda.
Mba Qisha dan Lexa mengikuti langkah Mba Flo yang sudah masuk kamar.
"Stress?" tanya Pak Sanjaya sambil memandang kearah Dinda.
"Mas... mereka kayanya masih belum bisa nerima kehadiran saya, kan dulu udah dibilang, anak-anak harus jadi pertimbangan utama kalo kita menikah" ucap Tante Dinda pelan.
"Udahlah... anak-anak pasti lambat laun akan nerima kamu, mereka hanya perlu mengenal kamu lebih dalam dulu. Ga usah dibawa pikiran ya, mereka kan masih labil, masih remaja dan masih belum bisa menerima kepergian Bundanya. Pelan-pelan aja semua kan butuh proses, toh kamu bukan orang baru dalam hidup mereka kan?" kata Pak Sanjaya bijak.
"Ya Mas.. bantu saya ya buat bisa ambil hati anak-anak. Semoga semua berjalan dengan baik. Biar kita bisa jadi keluarga yang harmonis" pinta Dinda.
"Aamiin" jawab Pak Sanjaya.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭