NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:132
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Katanya Kangen

Gagang pintu turun.

Laras mematikan layar ponsel kerja, menjatuhkannya ke dalam tas, lalu menggeser ponsel Tiara kembali ke halaman panggilan. Ia sempat menempelkan benda itu ke telinga tepat saat pintu terbuka.

"Iya, Mbak Ranti," katanya tenang. "Kirim revisinya ke email saya."

Tiara muncul dengan senyum tipis. Matanya menyapu meja, tas Laras, dan ponsel yang sedang digunakan.

"Maaf lama," ujar Laras sambil memutus panggilan. "Kami sedang membahas tanggal konser."

"Nggak apa-apa, Mbak."

Laras menyerahkan ponselnya. Tiara langsung melihat durasi panggilan, lalu ibu jarinya bergerak cepat memeriksa layar. Aplikasi terakhir tetap telepon. Tidak ada foto baru. Galeri masih tersusun seperti sebelumnya.

Wajahnya pun kembali manis.

"Sayang sekali ponsel Mbak mati," katanya. "Mau saya carikan charger?"

Nada itu terdengar seperti seseorang yang sedang menertawakan kebodohan lawan.

"Nggak perlu. Aku mau ke toilet dulu."

Di bilik paling ujung, Laras mengunci pintu dan mengeluarkan ponsel kerja. Semua bukti sudah tersimpan di cloud. Ia mengunduh satu foto sebagai uji, lalu menghapusnya lagi dari perangkat.

Kini Radit boleh membersihkan seluruh dunia digitalnya. Laras tetap memiliki salinan.

Ia membenahi riasan, keluar dari toilet, dan baru melewati pintu bertanda tangga darurat ketika sebuah tangan menarik lengannya.

Pintu baja menutup di belakangnya.

Bram berdiri di anak tangga pertama.

"Kamu gila?" Laras berusaha menarik tangan. "Ini kantor abangmu."

"Makanya lebih sepi."

"Lepaskan."

Bram tidak langsung menurut. Ia memandang wajah Laras seperti sedang memastikan perempuan itu benar-benar ada di depannya.

"Aku mau cium kamu," katanya.

"Mimpi."

"Tamparnya sebelum atau sesudah?"

Laras seharusnya membuka pintu dan pergi. Sebaliknya, ia menatap bekas samar di pipi Bram lalu mendengus. "Coba aja."

Bram menariknya mendekat.

Ciuman itu keras dan singkat. Laras membiarkannya selama dua detik sebelum mendorong dada lelaki itu. Begitu Bram mundur, telapak tangannya mendarat di pipi yang sama.

"Itu jawabanmu," katanya.

Bram mengusap rahangnya. "Katanya kangen."

"Siapa yang bilang?"

"Aku."

"Berarti kamu bicara sendiri."

"Kamu nggak kangen aku?"

"Nggak."

Bram meraih tangan yang baru menamparnya. Seperti di Nayaka Springs, ia membuka telapak itu dan mengusap bagian yang memerah.

"Anggap aja kamu kangen," katanya ringan.

"Logika macam apa itu?"

"Logika yang bikin aku nggak sakit hati."

Laras menarik tangannya. "Selesai?"

"Belum." Senyum Bram menipis. "Kamu ke rumah sakit dua hari lalu buat apa?"

Langkah Laras terhenti.

"Kamu menyuruh orang mengikutiku?"

"Bimo melihatmu di lobi laboratorium RS keluarganya. Dia pikir kamu sakit dan kebetulan cerita. Dia nggak buka rekam medismu."

"Tetap bukan urusanmu."

"Setelah malam itu, ini jadi urusanku."

Laras menatap pintu baja. "Pemeriksaan biasa."

"Tes IMS?"

Ia menoleh tajam. "Kamu tahu terlalu banyak."

"Ternyata benar." Bram tertawa sekali, tetapi tidak ada rasa lucu dalam suaranya. "Kamu pikir aku menulari kamu?"

"Aku tidak mengenal riwayatmu. Kita juga nggak pakai perlindungan. Dokter melakukan skrining awal dan menjadwalkan tes ulang setelah masa jendela. Itu langkah yang masuk akal."

"Riwayat apa?"

"Kamu mau aku menyebut satu per satu perempuan yang pernah terlihat bersamamu?"

"Mereka cuma terlihat bersamaku."

Laras menyilangkan tangan. "Dan aku harus percaya?"

Bram turun satu anak tangga sehingga posisi mereka sejajar. Nada main-mainnya menghilang.

"Sebelum kamu, aku nggak pernah tidur sama siapa pun."

Laras mengangkat alis.

"Serius," lanjutnya. "Paling jauh cuma pakai tangan. Aku lebih bersih dari air putih."

"Air putih di Jakarta juga belum tentu bersih."

"Nah, kamu mulai percaya."

"Aku sedang menghina perbandinganmu."

Bram menyandarkan kepala ke dinding. "Mau aku lompat ke kanal banjir biar sekalian kelihatan kotor?"

Laras hampir tertawa, tetapi ia menahannya. "Hasil tes akan menjawab."

"Tesku juga bisa."

"Aku nggak minta."

"Tapi aku akan kirim. Biar kamu berhenti menganggapku tempat penampungan penyakit."

"Hasil satu tes sekarang nggak menghapus masa jendela."

Bram menatapnya beberapa detik, lalu mengeluarkan ponsel. "Sebutkan jadwal tes ulangmu. Aku datang di hari yang sama."

"Aku nggak mau datang denganmu."

"Bukan kencan. Aku akan masuk dari pintu lain kalau itu bikin kamu tenang."

Laras tidak menjawab. Sikap itu terlalu serius untuk lelaki yang baru saja mencurinya dari koridor dan menciuminya di tangga darurat. Ia lebih tahu cara menghadapi Bram yang kurang ajar daripada Bram yang bersedia ikut menunggu masa jendela pemeriksaan.

"Aku sudah minum kontrasepsi darurat," katanya akhirnya. "Dokter menjelaskan efek samping dan kapan harus periksa lagi. Kamu nggak perlu ikut campur."

Rahang Bram mengencang. "Kamu pergi sendiri?"

"Dengan Mbak Ranti."

"Bagus."

Satu kata itu terdengar seperti kelegaan. Ia mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian menunjukkan layar berisi pemesanan pemeriksaan laboratorium atas namanya sendiri.

"Aku kirim hasil skrining awal malam ini. Tes ulang juga akan kulakukan sesuai jadwal. Bukan karena kamu minta. Karena memang tanggung jawabku."

"Kamu selalu memutuskan sendiri, ya?"

"Kalau aku menunggu izinmu, aku bahkan nggak akan punya nomor kamu."

"Aku juga mau kamu berhenti menganggap kita punya hubungan."

Bram mengulurkan tangan. "Ponselmu."

"Mati."

"Yang satu lagi ada di tas."

Laras menegang. Rupanya ia melihat lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.

"Untuk apa?"

"Biar aku kirim hasil tes."

"Kirim lewat merpati."

Bram meraih tasnya. Laras mundur, tetapi dinding tangga menghalangi. Mereka bergumul singkat sampai Bram berhasil mengambil ponsel kerja tanpa menjatuhkan tas.

"Kembalikan."

"Buka kuncinya."

"Nggak."

Bram mengarahkan layar ke wajah Laras. Pengenalan wajah membukanya.

"Curang."

"Efisien."

Ia membuka WhatsApp, memindai kode dari ponselnya sendiri, lalu menambahkan sebuah akun dengan foto profil awan dilihat dari jendela pesawat. Nama akunnya hanya satu huruf.

V.

Bram menyimpan akun itu sebagai kontak V, mengirim satu titik, lalu mengembalikan ponsel Laras.

"Jangan dihapus. Jangan diblokir."

"Kalau aku tetap blokir?"

"Aku datang langsung."

Laras menekan nama kontak, memilih blokir, lalu menunjukkan layar konfirmasi kepadanya. "Begini?"

Bram mengambil ponselnya sendiri. Beberapa detik kemudian, panggilan biasa masuk ke perangkat Laras. Nomor baru itu belum tersimpan, tetapi Bram jelas sudah menghafal nomornya.

"Aku punya nomor kantor, nomor rumah, jadwal konser, dan alamat manajermu," katanya. "Kamu boleh blokir satu. Aku masih punya jalan lain."

"Itu bukan romantis. Itu mengganggu."

"Aku juga nggak bilang romantis."

Ia mengambil ponsel Laras lagi, membuka blokir akun V, lalu menyimpan ulang kontak tersebut. Kali ini ia juga menyematkan percakapan di bagian paling atas.

"Kalau kamu hapus lagi, aku telepon Radit dan bilang calon istrinya meninggalkan satu sepatu di kamarku."

Laras membeku. "Kamu mengancamku?"

"Mengikat komunikasi." Bram mengembalikan ponsel itu. "Bahasa hukumnya beda."

Ancaman itu diucapkan begitu santai sampai terasa lebih serius.

Laras melihat satu titik di layar. "V itu singkatan apa?"

"Rahasia."

"Sok misterius."

"Kamu suka."

"Percaya dirimu penyakit yang lebih mengkhawatirkan daripada hasil tes apa pun."

Bram tertawa. Ia membuka pintu tangga darurat, tetapi sebelum Laras keluar, suaranya kembali menahan.

"Laras."

Perempuan itu menoleh.

"Malam itu kita nggak pakai perlindungan. Itu salahku." Tatapannya tidak lagi bercanda. "Obat daruratnya bikin kamu nggak enak badan?"

Laras tidak menjawab.

Bram mengangguk kecil, seolah diamnya sudah cukup.

"Lain kali," katanya pelan, "aku yang siapin."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!